
Semilir angin begitu menusuk tulang
tapi tak sedikitpun di hiraukan Medina karena saking senangnya bahkan hari sudah menjelang petang pun mereka masih menapaki diri di bibir pantai sambil sesekali bersenda gurau. Setelah cukup capek mereka duduk santai di tepian pantai.
"Aku selalu membayangkan betapa menderitanya kamu selama ini terkurung di rumah itu, aku saja yang baru beberapa bulan sudah sangat tersiksa," ucap Medina.
Mereka duduk di atas pasir saling bersebelahan. Karena hembusan angin yang sangat kencang. Firo melepas hoddie yang hanya menyisakan kaos di badannya.
"Pakailah, tubuhmu bisa masuk angin kalau lama-lama terkena angin"
Dengan pelan Firo memakaikannya ke badan Medina.
"Agak kebesaran, Tapi ini lebih baik dari pada kalau kamu sakit"
Tubuh Medina tak menolak sedikitpun dengan perlakuan manis Firo.
"Terima kasih, Bagaimana denganmu? Kalau begini kamu juga bisa sakit," kata Medina.
"Aku tak apa, lebih baik aku yang sakit dari pada kamu," ucap Firo Sembari membetulkan hoddie.
"Sebenarnya aku muak dengan sandiwara ini," lirih Firo terdiam.
"Kenapa kamu tak mengakhiri saja kebohongan mu? Mulailah hidup seperti orang biasa, lupakan semua masa lalu mu!" Medina mulai menatap intens Firo.
"Tidak semudah itu, Ada hal yang harus aku selesaikan. Aku tidak akan keluar dari rumah itu sebelum kematian ibuku terungkap"
"Baiklah mulai sekarang aku akan mendukung semua caramu" Medina menggenggam tangan Firo menguatkan.
Dia sekarang lebih mengerti Firo.
"Terima kasih, Honey"
Firo tersenyum ke arah Medina.
"Sepertinya poni mu sudah agak panjang, aku lebih suka kalau rambutmu tanpa poni. Kamu terlihat lebih dewasa"
__ADS_1
Dengan lembutnya tangan Firo merapikan poni yang sudah agak panjang ke samping telinganya. Baru kali ini perasaan Medina berasa seperti kesetrum oleh perlakuan halus Firo, dengan reflex matanya tertutup seakan menerima apa saja yang akan terjadi selanjutnya.
Firo tersenyum miring melihat reaksi Medina di depannya.
"Apa kamu ingin aku cium," goda Firo berbisik ke telinga Medina.
Medina yang tersadar langsung membuka mata wajahnya di buat merah padam dengan perkataan Firo barusan.
Bug..
Medina memukul dada Firo, karena malu akhirnya dia meminta pulang duluan.
"Ayo kita pulang" Medina sangat malu tak menoleh kepada Firo di sebelahnya. langsung berdiri dan berjalan.
Ah, ngga peka banget si jadi lelaki! mau di taruh dimana muka aku! Batin Medina.
Tapi tak berapa lama tangan Firo menarik Medina hingga mereka saling bertabrakan.
"Apa yang kamu.. " Belum sempat berucap, Firo sudah membekapnya.
"Aku sayang kamu, Honey" Suara serak Firo begitu terasa sampai ke hati.
Medina tersipu malu.
***
Setetes demi setetes hujan turun satu persatu membasahi bumi, Beruntung mereka yang sudah sampai di belakang rumahnya langsung berlari menuju pagar tembok pintu keluar rahasia mereka.
Satu pagar bisa mereka lewati, kini mereka melewati lagi taman samping yang terlihat begitu mengerikan malam itu. Karena itu satu-satunya pintu menuju kamarnya, akhirnya tampa mundur mereka melanjutkan kembali perjalanan mereka.
Di tengah perjalanan ketika sampai Taman samping, Medina seperti mendengar suara dua orang berbicara. Suaranya tampak dari ujung tempat mereka berjalan. Karena tanaman yang begitu tinggi, dan hujan yang rintik-rintik,mereka tidak melihat siapa saja yang sedang berbicara.
"Tuan sepertinya tanamannya sudah cukup banyak, apa perlu kita panen sekarang"
"Baiklah kamu atur saja,kalau bisa tengah malam ini, pastikan tidak ada seorangpun yang melihat"
__ADS_1
Suara itu seperti Medina mengenalnya,Ya itu suara Tuan Bram. Medina tidak berani mendekat karena sebelumnya dia dilarang masuk ke area taman samping.
Kenapa Tuan Bram ada di sini? Lalu mengapa dia menyuruh pegawainya memanen tanaman tengah malam, sebenarnya tanaman apa ini? sampai-sampai Tuan Bram tidak boleh seorangpun sampai melihatnya. Pikir Medina.
Firo menempelkan telunjuk di bibirnya agar Medina tidak bersuara.
Dia terus menuntun tangan Medina agar cepat berlalu sampai ke kamarnya. Tapi karena tak fokus Medina menginjak sampah kaleng minuman di sana.
Kreekkkk
Suaranya terdengar begitu nyaring karena suasana taman itu sangat hening dan sepi.
"Siapa di sana!" Suara teriakan pegawai Tuan Bram memecah kesunyian.
Firo menarik tangan Medina segera berlindung di balik pohon yang cukup besar agar cahaya senter yang berlalu lalang di depan tidak mengenai mereka.
Medina sangat ketakutan, takut Tuan Bram akan memarahinya kalau ketahuan.
Tuan Bram dan pegawainya masih berusaha mencari sumber suara, karena kondisi taman yang gelap dan tanaman yang tinggi dan rimbun, mereka tak bisa menemukan Firo dan Medina.
"Sepertinya hanya suara tikus Tuan," ucap pegawai Tuan Bram masih mencari-cari dengan senternya.
Tuan Bram masih terus mengamati.
Karena mereka tak menemukan apapun. Akhirnya Tuan Bram memutuskan untuk keluar.
"Karena hujan semakin deras, Baiknya kita teruskan Besok" ucap Tuan Bram.
Pegawai itu mengikuti Tuan Bram di belakangnya dan keluar dari taman lewat gerbang taman.
Suasana kembali hening, Firo memastikan posisi mereka aman agar bisa keluar. Ketika mengetahui ayahnya sudah keluar mereka berdua berjalan cepat menuju dinding kayu perbatasan taman.
Setelah melewati pembatas kayu dengan berlari kecil dan masih mengamati sekelilingnya mereka akhirnya bisa sampai di depan kamar mereka.
Tetapi mereka tak sadar sepasang mata sedang memperhatikan mereka dari jauh.
__ADS_1