
"Bisakah kamu menjaga jarak dengan istriku? "
Mata Medina membulat mendengar suaminya berkata seperti itu kepada Niko adiknya.
Bukankah dia adalah adiknya kenapa Firo sampai begitu berlebihan sikapnya.Medina menarik napas panjang sementara Niko hanya di buat tersenyum menanggapinya.
"Kakak tak perlu khawatir, Kak Medina adalah wanita yang paling aku sayangi," ujar Niko semakin memanasi.
Firo menatap tajam Niko, "Maksudmu?" ucapnya marah.
"Ha.. ha... kakak jangan terlalu berlebihan, Tentu saja aku hanya menganggapnya kakak ngga lebih" Niko terkekeh melihat raut wajah Firo yang begitu cemburu kepadanya.
"Kak, Aku permisi masuk dulu mau ganti baju," Niko meninggalkan mereka berdua.
Medina menatap Firo yang masih di sebelahnya, "Sayang aku dan Niko adalah kakak adik, Tak seharusnya berkata seperti itu," ucapnya.
"Aku tak peduli dia siapa, Aku ngga suka lelaki manapun mendekatimu, walaupun itu adikmu. Lagi pula dia bukan adik kandungmu." ujarnya.
Medina tidak mau berdebat lagi dengan suaminya di rumah orang tuanya. Ia lebih memilih mengalah walaupun kesal, " Baiklah terserah kamu saja" sahutnya.
Pak Joko muncul dari balik pintu ketika mereka berdua duduk di ruang tamu. Pak Joko mengusap matanya tak mempercayai Medina pulang ke rumahnya. Dilihatnya orang yang di sebelah Medina, ia tak mempercayai bahwa yang di sebelahnya itu menantunya Firo.
Medina menyalami punggung tangan bapaknya, " Bapak baru pulang dagang?" tanyanya kepada Pak Joko yang baru pulang.
"Ya, Nak! apakah dia Firo suamimu," mata Pak Joko memang rabun sehingga ia tak begitu jelas melihat wajah Firo.
Medina menyuruh bapaknya duduk dulu untuk istirahat, " Iya pak, ini suamiku Firo. Kenapa bapak masih berdagang? bukankah aku sudah mengirim bapak uang setiap bulannya pak,"
Pak Joko tersenyum ke arah Firo yang duduk di depannya, " Bapak tidak mau diam terus di rumah nak! Bapak ingin mencari kesibukan" ujarnya.
Firo menanggapi senyuman mertuanya. Ia sudah lama mengenal Pak Joko dari kecil. Pak Joko sangat baik kepadanya, ia sering di beri makanan dari Pak Joko ketika Pak Joko bekerja di rumahnya.
"Bagaimana kabarmu nak?" tanya Pak Joko kepada Firo.
"Aku sudah cukup baik Pak," sahutnya.
"Syukurlah kalau begitu, bapak senang mendengarnya, semoga kalian bisa hidup langgeng seperti bapak dan ibu," ucap Pak Joko memegang bahu Medina.
Pak Joko terlihat sangat tua di usia hampir tujuh puluh tahun. Matanya sudah rabun dan cara jalannya sudah tidak cepat seperti dulu.
**
Makanan sudah selesai di hidangkan di meja makan, Bu sari memanggil mereka untuk segera makan malam.
Suasana makan malam yang begitu berbeda karena kedatangan Medina dan Firo, Biasanya mereka hanya makan malam berdua. Niko dan Niki makan sendiri sendiri, karena tidak enak dengan kakaknya mereka berdua ikut makan bersama.
__ADS_1
"Masakan ibu sangat enak, dulu Pak Joko juga sering memberi makanan ibu kepadaku" puji Firo kepada Bu Sari.
"Tentu saja makannya sangat enak, sampai sampai dulu Medina sempatin membawa makanan buatan ibu waktu bapak bekerja di rumahmu," sahut Pak Joko mengingatkan masa kecil Medina.
"Firo juga pandai memasak bu," ujar Medina.
"Benarkah itu nak Firo?" tanya Bu Sari kepada Firo.
"Tapi belum seenak masakan ibu," jawab Firo sambil melahap makanannya.
Bu Sari tersenyum mendengarnya.
"Kapan kalian akan memberi kami cucu?" tanya Bu Sari kepada Medina.
Medina hampir tersedak mendengar pertanyaan ibunya.
Firo segera memberikan istrinya minum.
"Secepatnya bu," jawab Firo cepat.
Bu sari dan Pak Joko tertawa dengan jawaban Firo.
"Jangan menunda mendapat momongan nak! " ucapnya lagi kepada Medina yang terlihat malu.
"Aku juga sudah ngga sabar di panggil uncle sama anak kakak," tambah Niko.
Bu Sari melihat satu persatu anaknya.
Niko menambah makanan di piringnya, sedangkan Niki nampak tidak berselera dengan makanan di depannya.
"Makan yang banyak, biar ngga sakit lagi, biar cepat masuk sekolah" ucap Niko kepada Niki.
"Ya betul, nak! Cepat makan yang banyak biar badan kamu ngga nambah kurus," tambah Pak Joko.
Niki hanya mengiyakan omongan mereka lalu Bu sari menambahkan lauk di piring Niki.
Niki hanya melihat tidak berselera makanan di depannya tidak seperti yang lainnya dengan lahapnya memakan makan malam mereka.
"Bu ini kebanyakan," ujar Niki.
"Makanan di piring mu paling hanya lima sendok masuk di mulutmu, tambah nasinya biar kamu cepat sembuh," ucap Medina kepada Niki.
Karena semua keluarganya melihatnya terus akhirnya mau tak mau Niki mulai memasukkan sesuap nasi di mulutnya. Perutnya seakan tak menerima kehadiran nasi masuk ke dalamnya. Berkali kali Niki mencoba memaksanya masuk namun tak berhasil, ia harus memuntahkan kembali.
"Hoek.... hoekkk.. " Niki berlari ke belakang wastafel memuntahkan kembali makanan di perutnya.
__ADS_1
Medina mengikutinya dari belakang, Medina mendapati adiknya sedang muntah muntah ia lalu membantu adiknya memijat leher Niki yang masih muntah muntah agar segera baikan.
Semua keluarga tampak khawatir melihat kondisi Niki, mereka menunggu di meja makan.
"Sebaiknya kamu periksakan ke dokter," ucap Medina kepada Niki.
Wajah Niki sangat pucat. Ia tak bisa menahan tubuhnya berdiri. Pandangannya sedikit kabur.
Tiba-tiba Niki pingsan, beruntung Medina segera menopang tubuh Niki yang tak sadarkan diri.
**
Dengan di bantu Niko Medina membawa Niki ke rumah sakit.
Tak lama ketika Niki pingsan Firo pamit pulang ke rumahnya karena telepon dari Tuan Bram menyuruhnya segera ke kantor karena ada klien yang ingin menemuinya.
Setelah selesai memeriksa Niki dokter memanggil Medina dan Niko.
"Kalau boleh tahu dengan siapa ya saya berbicara? " tanya Bu Dokter kepada Medina.
"Saya kakaknya dok!" sahut Medina.
Dokter tersenyum menyalami Medina.
"Selamat ya adik anda sedang mengandung, usia kehamilannya sudah memasuki sepuluh minggu" ujarnya.
Niko dan Medina di buat terkaget mendengarnya, bagaimana mungkin adiknya hamil sementara ia masih sekolah dan belum menikah.
Tangannya membalas uluran tangan dokter di depannya, "Apakah kondisi adik saya baik baik saja?" tanyanya kepada dokter. Ia sangat mengkhawatirkan kondisi adiknya.
"Adik anda baik- baik saja, mungkin karena hamil muda membuatnya sering mual mual dan sering merasa pusing, ini wajar di alami wanita hamil pada tri semester pertama," jelasnya kepada Medina.
Niko menanggapinya hanya melongo karena masih belum percaya bagaimana mungkin adiknya bisa hamil.
"Nanti saya kasih vitamin agar kandungan adik anda bisa kuat dan kondisi ibunya sehat " ujar dokter itu lagi.
"Terima kasih ya, Dokter" ucap Medina.
**
Wajah Niki mendadak sendu ketika kedua kakaknya menemuinya.
Sudah banyak pertanyaan di pikiran Medina dan Niko. Mereka ingin sekali segera mencecar pertanyaan kepada Niki.
Mereka memesan taksi online menuju rumahnya. Niki terus menangis di perjalanan sambil memeluk kakaknya Medina.
__ADS_1
Niko yang duduk di sebelah sopir tak bisa menahan amarahnya, "Katakan siapa yang menghamili mu? " ucap Niko marah melihat saudara kembarnya menangis.