
Dua puluh tahun yang lalu.
Jovan dan anaknya mengalami kecelakaan. Mobilnya terjatuh dari jembatan yang ada sungai di bawahnya. Beruntung mereka masih bisa selamat. Meysa anaknya mengalami luka ringan sedangkan Jovan mengalami luka serius yang mengakibatkan tulang belakangnya patah.
Setelah sekian menit mereka di tepian sungai tak ada satupun orang yang menolong, dari jauh Jovan melihat sahabatnya berjalan ke arahnya.
"Bram," seru Jovan kepada sahabatnya.
Seakan mendapat angin segar Jovan tersenyum, akhirnya ada yang akan menolongnya.
Mata Jovan berbinar ketika melihat sahabatnya mendekat kearahnya. Jovan tidak bisa bangun akibat kecelakaan mobil barusan yang menimpa dia dan anaknya, Meysa.
Bram bersama seorang pengawal pribadinya turun dari pinggir jembatan menuju sungai tempat terjatuhnya mobil Jovan.
Di tepian sungai,
"Tolong kami, Bram" tangan Jovan ia arahkan kepada sahabatnya.
Bram mendekati Jovan yang sedang terbaring lemah.
Disebelah Jovan ada seorang gadis kecil sedang memeluk bonekanya. Gadis kecil itu tampak menangis kesakitan karena kakinya berdarah.
"Ayah, kakiku berdarah" ucap Meysa menangis di sebelah Jovan.
Jovan tak berdaya jangankan menolong anaknya, menolong dirinya pun ia tak sanggup. Akibat terjatuh dari atas jembatan tubuhnya sulit digerakkan. Beruntungnya Meysa gadis kecil berumur lima tahun itu terluka tak cukup parah.
"Maafkan aku,Jovan. Aku tak bisa menolong mu," ujar Bram kepada Jovan.
Jovan kembali menurunkan tangannya. Bibir yang semula tersenyum kini berubah pias.
"Apa maksudmu, Bram?" ucap Jovan kecewa.
"Maaf!" ucap Bram, "Aku tak bisa menolong mu, justru aku berdiri di sini karena ingin...menghabisi mu" bisik Bram pelan di telinga Jovan.
Deg,
Seketika waktu berhenti sesaat ketika Jovan mendengar bisikan dari sahabatnya.
"Bram," ucap Jovan sangat pelan. Ia menatap sendu sahabatnya.
Meysa yang mendengar itu duduk ketakutan meringkuk mendekati ayahnya yang sedang terbaring.
"Ayah, aku takut" ucapnya sambil menangis.
Jovan memeluk Meysa agar tak merasa ketakutan.
"Apa salahku?" pungkas Jovan.
"Kamu tidak bersalah, Jovan! Justru aku yang salah telah membawamu ke dalam masalah ini," ucap Bram duduk di sebelah Jovan yang sedang terbaring.
"Maafkan aku, aku yang menaruh barang terlarang itu di kantormu. Aku tak sengaja menaruhnya karena polisi sedang mengincar ku," ujarnya lagi.
Tangan Jovan sudah mengepal keras. Kalau saja ia tak berdaya seperti sekarang, Sudah jelas Jovan pasti memukul habis lelaki di depannya.
__ADS_1
"Keparat kamu, Bram! Kenapa harus aku... Bukankah aku sudah menganggap mu sahabatku," teriak Jovan.
Bram menggeser posisinya.
"Maaf Jovan, Aku tak sengaja menaruh barang itu di tempatmu, Posisiku saat itu terdesak," ujar Bram.
Meysa, gadis kecil itu menatap takut kepada Bram sahabat ayahnya. Seingat Meysa beberapa kali ia sering melihatnya bersama ayahnya.
"Aku tak habis pikir, Bram. Ternyata kamu adalah pengedar ganj* , Banyak orang di luaran sana yang sudah kamu rugikan, apa kamu tidak peduli dengan korban mu, Hah" teriak Jovan.
"Apa? Peduli? lalu siapa yang memperdulikan aku? Ketika aku mengemis meminta pertolongan kepada orang untuk biaya berobat kedua adikku, siapa yang memperdulikan aku? Tidak ada! Bahkan melirikku pun tidak" ujar Bram tegas.
"Bram, kamu sudah dibutakan karena uang," ujar Jovan.
"Lalu kenapa kamu menjebak ku? seakan akulah pelakunya. Kenapa tidak orang lain? Apa kamu tidak menganggap aku sahabatmu," teriak Jovan.
Sahabat! Kamu tidak tahu betapa sakitnya aku mengingat orang tuamu yang sudah menendang ku keluar ketika aku meminjam uang untuk berobat kedua adikku, batin Bram.
Bram memejamkan matanya, di sudut matanya sudah ada air mata yang menetes.
"Maaf, Aku harus menghabisi mu. Polisi akan mencurigai ku kalau aku membiarkanmu hidup," ucap Bram.
"Apa yang sudah aku bangun, aku tidak ingin semuanya hancur. Yang di pikiranku sekarang adalah uang. Dengan uang aku bisa membeli segalanya," ucap Bram, senyumnya menyeringai.
Kau salah,Bram! batin Jovan.
Jovan menarik lengan Bram, "Bram, ingatlah suatu hari nanti kamu akan menyesal, Di dunia ini walaupun kamu memiliki banyak uang tidak bisa menjamin hidupmu akan bahagia kelak," bisik Jovan di telinga Bram.
Jovan memeluk erat anaknya, Meysa, "Jangan takut, Nak" ucapnya.
"Fang, habisi mereka" ucap Bram kepada anak buah di sampingnya.
Bram berbalik badan bergegas meninggalkan Jovan.
Karena suruhan tuannya. Fang, seorang anak buah Bram yang akan menghabisi nyawa Jovan. Di tangannya memegang bantal yang ia dapat dari mobil Jovan.
"Jangan sakiti ayahku," seru Meysa.
Meysa gadis kecil itu lalu menggigit tangan Fang yang mencoba membekap muka Jovan dengan bantal. Fang lalu mendorong Meysa hingga terjatuh.
"Jangan sakiti anakku," teriak Jovan. Ia mencoba melawan namun karena tak berdaya ia akhirnya kalah.
Meysa terjatuh tidak jauh dari ayahnya. Di depan matanya Meysa melihat ayahnya meregang nyawanya.
"Ayah... " tangis Meysa pecah ia memukul orang yang sudah membunuh ayahnya.
Fang menarik tangan Meysa, Gadis kecil itu berusaha melawan. Namun karena tubuhnya kecil ia terpental jauh di bebatuan. Kepalanya berdarah karena terbentur batu, Meysa tak sadarkan diri.
Bramantyo dia adalah sahabat ayahnya, Jovan. Kakek dari anak yang di kandungnya.
***
Air matanya tak berhenti mengalir ketika mengingat kejadian itu.
__ADS_1
Medina berbaring di kasur sambil mengelus perutnya yang masih rata.
Kenapa semuanya begitu pelik?
Kenapa takdir mempertemukan lagi aku dengan pembunuh ayahku?
Kenapa aku harus masuk dalam kehidupan mereka?
Kenapa baru sekarang aku mengingatnya?
Banyak pertanyaan di pikirannya yang berkecamuk.
Medina melihat cincin yang tersemat di jari manisnya. Terukir senyum di bibirnya.
Kenapa aku mencintai anak dari pembunuh ayahku?
Baru beberapa hari tak melihatnya Medina merasa rindu kepada suaminya.
***
Sudah tiga hari Firo tidak keluar kamar. Setiap hari dia hanya berbaring dan berkutat di kamarnya setiap hari makan hanya beberapa suap itupun Shaka yang memaksanya.
Shaka masih menunggu di kamarnya.
"Sudah tiga hari ini kamu tak bergeming dari tempat tidurmu," ucap Shaka.
Firo kembali duduk di tepi kasurnya.
"Apa seterusnya kamu akan seperti ini?" ucap Shaka meninggikan suaranya.
Shaka mendekati Firo lebih dekat.
Firo menatap tajam Shaka.
"Kalau kamu seperti ini terus. Istrimu akan bersedih di akhirat sana," ujar Shaka.
"Aku yakin, kamu tidak akan membiarkan istrimu bersedih, Bukan!" Shaka duduk di sebelah Firo.
"Istriku belum meninggal," teriak Firo.
"Apa?" ucap Shaka.
"Kamu bilang istrimu belum meninggal? kalau kamu yakin istrimu belum meninggal kenapa kamu hanya diam dikamar?" ucap Shaka.
Firo baru tersadar kalau dia terlalu larut dalam kesedihan. Firo mencoba menyuruh orang untuk mencari istrinya. Namun sampai detik ini ia belum mendengar kabar beritanya.
"Harusnya kamu bangkit dan mencari istrimu, bukan hanya berbaring di kamar. Mana Firo yang aku kenal tujuh belas tahun yang lalu," ucap Shaka menggoyangkan bahu Firo.
Di saat terpuruk seperti ini Shaka sangat berperan penting.
Firo merasa tertampar dengan ucapan Shaka.
Kamu benar, Shaka. Aku harus bertindak! batin Firo.
__ADS_1