
Mobil berwarna hitam itu terparkir tepat di depan rumah Tuan Bram.
Rumah paling besar dan mewah di banding rumah lainnya.
Rumah Tuan Bram yang sangat luas letaknya terpisah dari rumah lainnya.
Niki memasuki rumah itu bersama seorang pelayan yang membantu membawa barang-barangnya.
Rumahnya Nampak megah bagaikan istana.
Mata Niki di buat takjub tak berkedip. Barang-barang di sana terlihat berkelas bahkan banyak yang menggunakan emas sebagai lapisannya.
Benar-benar crazy rich. Niki di buat takjub melihat sekelilingnya.
"Nona, mari saya antar anda ke kamar, " ujar salah seorang pelayan kepada Niki.
Sony yang sudah lebih dulu berjalan di depannya meninggalkan Niki bersama seorang pelayan.
"Terima kasih," ucap Niki mengikuti pelayan itu.
Niki sudah berdiri di depan kamar yang letaknya di lantai satu. Pelayan lalu membuka pintu kamarnya.
Sangat luas. Bahkan lebih luas tiga kali dari kamarnya.
"Pantas kak Medina terlihat bahagia, ternyata istana ini bagaikan surga." batin Niki dalam hati.
Niki duduk di tepi kasur kamar barunya.
"Bahkan kasurnya pun sangat empuk bagaikan tidur di atas awan," ucap Niki dalam hati.
Dengan di bantu pelayan Niki mengemasi barang-barang nya.
"Kalau ada yang ingin di bantu, Anda boleh memanggil saya. Tuan Sony menyuruh saya khusus sebagai pelayan yang membantu anda di rumah ini, "ucap pelayan.
"Terima kasih, Bi" ujar Niki kepada pelayan wanita itu.
Mata Niki masih melihat sudut demi sudut kamar barunya.
"Sepertinya aku akan betah di sini," batinnya lagi.
Sore itu dia sangat lelah. Niki langsung merebahkan tubuhnya di kasur itu.
Baru sebentar terlelap suara seorang wanita membangunkannya.
"Bangun kamu wanita ******," suara wanita itu begitu keras terdengar ditelinganya.
Kelopak matanya ia buka perlahan. Niki menengok ke samping sudah ada dua orang wanita berdiri tidak jauh dari tempatnya tidur.
"Siapa kamu," ucap Niki.
"Siapa aku? Apa kamu ingin tahu" ucap Syerli mendekati Niki yang sudah mulai terbangun.
Niki melihat wanita di depannya sangat cantik. Tubuhnya tinggi semampai dengan tampilan yang begitu elegan.
"Oh jadi kamu wanita ****** itu," ucap Ny.Stella berdiri di samping Syerli.
"Apa selera Sony sudah mulai menurun," ucap Ny.Stella lagi.
"Aku kira wanita itu lebih dari diriku, ternyata jauh dari standar ku, hah" ucap Syerli.
__ADS_1
Niki mulai mencerna kata-kata dua orang wanita di hadapannya.
"Apa anda istri Sony suamiku?" dengan polosnya Niki bertanya kepada mereka.
"Ha.. ha... ha... " Mereka tertawa berdua.
"Tentu saja wanita jala**" Syerli menarik ujung rambut Niki.
Niki melihat wanita di depannya tak berkedip. Ternyata istri Sony lebih cantik dari dirinya.
"Apa yang kau lakukan hingga membuat suamiku mau dengan gadis ingusan sepertimu" ujar Syerli.
Niki tidak bisa berkata,ia duduk semakin menjauh dari hadapan Syerli.
"Aku tidak melakukan apapun," sahut Niki.
"Jadi ini adik dari wanita gila itu," ujar Ny.Stella menimpali.
"Dasar keluarga tak tahu malu. Benar-benar keluarga murahan," ucap Ny Stella lagi.
Niki semakin terdiam karena di cecar kedua orang di depannya. Baru beberapa jam di rumah ini Niki sudah menghadapi situasi yang tidak menyenangkan.
Syerli menarik lebih keras rambut Niki,"Ingat kamu di sini hanya sebagai istri kedua, jangan harap sekalipun suamiku bisa menemani mu setiap malam," ujar Syerli.
Niki menahan sakit di kepala akibat tarikan tangan Syerli.
"Apa yang kalian lakukan?" Sony memasuki kamar Niki.
Mata Niki terlihat senang karena suaminya datang memasuki kamarnya.
Syerli menoleh ke arah pintu yang sudah ada Sony berdiri di sana.
"Sayang, kamu sudah pulang" ujar Syerli mendekati Sony.
"Sepertinya mommy ada perlu, Mommy keluar sebentar ya nak" ucapnya kepada Syerli.
"Iya mam," sahut Syerli.
Sony mendekati mereka berdua.
Syerli langsung memeluk suaminya dengan sangat mesra.
"Aku kangen sama kamu," Syerli mengecup ujung bibir suaminya di depan Niki.
"Apa kamu sudah merapihkan semua pakaianmu?" tanya Sony.
Niki yang melihat kemesraan suaminya dengan istri pertamanya begitu terasa sakit di hatinya.
Cemburu dan marah menjadi satu. Bagaimana mungkin mereka sengaja bermesraan di hadapan Niki yang notabene ia sebagai istrinya juga.
"Aku sudah merapihkannya," Niki melempar pandangan matanya ke samping agar tak menyaksikan kemesraan mereka berdua.
"Kalau sudah selesai ikutlah bersama kami makan malam di tengah," ucap Sony.
Sony membiarkan Syerli mencium dan memeluk nya di depan Niki.
"Nanti aku menyusul, permisi aku mau ke kamar mandi sebentar," Niki berlari meninggalkan mereka berdua.
Niki tidak kuat melihat kemesraan mereka.
__ADS_1
***
Di meja makan,
Malam itu adalah malam pertama Niki makan bersama di rumah Tuan Bram.
Tuan Bram memperkenalkan Niki sebagai anggota baru keluarganya.
Niki tampak canggung ia merasa asing di rumah itu.
Berkali-kali Syerli memberikan perhatian kepada suaminya dengan memberi nasi ke piringnya, mengambil minuman ke gelasnya. Bahkan sampai menyuapi Sony di depannya.
Niki yang melihatnya merasa risih. Ada perasaan cemburu menyeruak di hatinya.
"Begini kah kalau menjadi istri kedua," batin Niki.
Niki berharap kakaknya segera pulang.
Medina dan Firo terlambat makan malam karena pulang larut malam harus membantu ibunya dulu di rumah.
Seperti Biasa Tuan Bram duduk di kursi yang ujung.
"Daddy berharap kalian berdua bisa akur dan saling membagi," ucap Tuan Bram.
"Kamu harus belajar bagaimana menjadi seorang istri kepada kakakmu," ucap Tuan Bram lagi.
"Dan satu lagi Daddy ngga mau lihat kalian berdua bertengkar di hadapanku." ucap Tuan Bram kepada Niki dan Syerli.
Niki duduk di sebelah Sony hanya mengiyakan apa yang di ucapkan mertuanya.
Setelah makan malam usai Medina baru sampai di rumah utama. Firo yang terlihat kecapean langsung tidur di kamarnya.
Malam ini setelah makan malam. Medina terpaksa tidur di rumah utama dengan Firo. Sebenarnya ia tidak ingin tidur di rumah utama. Namun karena ia khawatir terhadap Niki akhirnya Firo terpaksa menuruti kemauan istrinya untuk kembali ke rumah utama.
"Kak," ujar Niki ketika bertemu Medina.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Medina kepada Niki.
Niki mengangguk.
"Kamu harus bersabar, ingat kalau ada apa-apa kamu harus kasih tau kakak," ucap Medina memegang bahu adiknya.
"Iya kak," sahut Niki.
"Tidurlah jangan terlalu terbawa pikiran. Ingat tidak baik untuk anak yang ada di perutmu" ucap Medina.
Niki menuruti ucapan kakaknya. Kini ia tak sendiri Niki harus mementingkan anak di dalam rahimnya agar sehat.
Hari itu malam pertama Niki menjadi seorang istri.
Niki menunggu suaminya di kamar berharap Sony akan tidur bersamanya melewati malam pengantin mereka. Kalau di hitung ini bukan kali pertama mereka tidur bersama.
Hatinya berdebar tak karuan menunggu Sony datang ke kamarnya. Walaupun sekarang Niki sudah tak mencintai Sony tapi malam ini dia merasa seperti menantikan sosok Sony agar masuk ke kamarnya.
Entah itu karena bawaan bayi atau apa. Malam itu ia ingin sekali berdekatan dengan suaminya itu.
Niki menunggu di kasur sesekali ia melihat keluar berharap Sony sedang menuju kamarnya. Namun berkali-kali melihat tak ada tanda-tanda suaminya akan ke kamarnya.
Menit demi menit berlalu. Hingga dua jam Niki menunggu Sony segera datang ke kamarnya. Namun Sony tak kunjung datang.
__ADS_1
Di malam pengantin pertamanya Niki terpaksa tidur sendirian tanpa suaminya.
"Ternyata menjadi yang kedua itu sangat menyakitkan." batin Niki dalam hati.