
"Pak Bram, kami menemukan sebuah mobil terbakar di bawah jurang," ucap Seorang anggota Tim SAR kepada Tuan Bram.
Sudah hampir tiga jam mereka akhirnya mendapatkan kabar.
"Kami belum memastikan bahwa mobil itu milik keluarga anda, Pak" ujar salah satu anggota Tim SAR lagi.
Tuan Bram berfikir sejenak.
"Sebaiknya anda harus memeriksanya sendiri untuk memastikan bahwa mobil itu benar milik anda," ucap petugas.
"Di mana aku harus memeriksanya?" tanya Tuan Bram.
"Anda harus memeriksanya ke bawah, Pak. Mobil itu sudah kami amankan,"
"Kalau begitu antar aku ke sana," sahut Tuan Bram.
Tuan Bram bersama sopir dan salah satu anggota Tim SAR berjalan menurun ke bawah. Hendak memastikan mobil yang terbakar itu adalah benar miliknya.
Jalan yang sedikit licin karena terkena air hujan membuat Tuan Bram harus berhati-hati menapakinya.
Firo masih di dalam mobil bersama dua pengawal yang menjaganya. Dia tak di perbolehkan keluar dulu oleh Tuan Bram.
Matanya sudah mengantuk karena terlalu banyak mengeluarkan air mata. Berkali-kali Firo harus bisa menahan rasa kantuknya. Sesekali terlelap namun kemudian tersadar lagi. Pandangan matanya selalu mengarah keluar melihat keramaian petugas yang sedang berlalu lalang mencari keberadaan istrinya.
Tuan Bram masih bersama seorang sopirnya berjalan menurun ke bawah memastikan mobil yang terbakar itu. Tak sampai jurang Tuan Bram telah sampai di tempat itu.
Pemandangan pertama yang di lihat Tuan Bram adalah sebuah mobil yang terbakar hanya menyisakan kerangka dan badan mobil yang terlihat hangus.
Bau hangus masih tercium di hidungnya. Asap yang sudah menghilang sudah tidak terlihat lagi. Bentuk mobil di hadapannya sudah tak beraturan.
Atas perintah Tuan Bram sopir pribadi Tuan Bram lalu memeriksa mobil itu.
Benar dugaannya bahwa mobil itu adalah milik Tuannya. Dilihat dari miniatur kucing berbahan tembaga yang terpasang di depan kemudi. Sopir yang biasa merawat mobil itu yakin bahwa itu adalah mobil milik Tuannya.
"Tu-tuan," ucap si sopir.
"Bagaimana apa mobil ini milikku?" tanya Tuan Bram.
Tuan Bram memiliki banyak mobil, sehingga ia tak mengetahui pasti ciri-ciri mobil miliknya. Hanya sopir itu yang bisa memastikan apa benar mobil itu miliknya.
"Ini benar mobil anda, Tuan" ucap si sopir. Ia menemukan benda miliknya di dalam mobil yang masih tersisa tidak terbakar. Di lihat dari jenis mobil itu memang sopir meyakini bahwa mobil itu milik Tuan Bram yang di pakai Sony.
"Aku yakin tuan, karena miniatur mobil ini milik anakku yang sengaja aku pasang di depan," ucap sopir pelan menunjukan miniatur kucing di telapak tangannya. Karena terbuat dari tembaga miniatur itu tidak ikut terbakar.
"Apa?" mata Tuan Bram membulat sempurna. Ia Masih belum mempercayai pernyataan pembantunya.
__ADS_1
Seorang polisi mendatanginya.
Polisi itu juga mengatakan bahwa mobil itu benar milik Tuan Bram dilihat dari plat mobil yang di temukan terpisah di sekitarnya.
Tuan Bram begitu shock mendengarnya. Tuan Bram tidak tahu harus berkata apa kepada Firo.
"Lalu kalau mobil ini milikku, di mana Sony dan Medina?" tanya Tuan Bram kepada petugas.
Empat orang petugas Tim SAR sedang menggotong dua kantong mayat di tangannya mendekati Tuan Bram.
"Pak, kami juga menemukan dua orang mayat dalam kondisi terbakar di sebelah mobil ini," ucap Seorang Petugas Polisi lagi.
Dua kantong mayat berwarna jingga dibawa empat petugas di hadapan Tuan Bram.
"Kami tidak bisa memastikan identitas kedua korban karena luka bakarnya hampir seratus persen," ucap seorang petugas Tim SAR yang menggotong kantong mayat.
"Boleh aku membukanya?" tanya Tuan Bram penasaran.
Atas permintaan Tuan Bram mereka meletakan kedua kantong itu agar bisa di lihat.
Perasaanya sangat kacau. Dengan perlahan Tuan Bram membuka sedikit demi sedikit isi dalam kantong mayat itu.
Srtttt.
Matanya membulat sempurna melihat isi kantong itu. Kedua tubuh itu sudah hangus hampir tak berbentuk. Bahkan sopir terlihat ngeri melihatnya.
Dua mobil ambulance terparkir di sebelah mobilnya. Firo yang sedang terjaga mendapati itu langsung tersentak. Kedatangan mobil itu menambah perasaannya tidak karuan.
Firo sudah tak tahan menunggu kabar istrinya. Pengawal yang sudah mulai lengah menjadi kesempatan dirinya keluar dari dalam mobil.
Langkahnya terhenti ketika melihat ayahnya dari jauh berlari menghampirinya.
"Nak, aku yakin kamu akan kuat mendengarnya," seru Tuan Bram.
Tuan Bram menarik nafas panjang.
"Polisi sudah menemukan mobil yang dikendarai Sony,"
Firo merasa sedikit lega.
"Mobil itu hangus terbakar ketika masuk ke dalam jurang," Tuan Bram berkata sangat pelan kepada anaknya. Mau tak mau dia harus memberitahukan kepada Firo.
Deg,
Baru saja ia merasa lega kini ia harus mendengar kenyataan yang menyedihkan.
__ADS_1
Seolah gerakannya terhenti, setelah Tuan Bram mengatakan bahwa mobil Sony terbakar di dalam jurang.
Raut muka Firo mendadak lesu.
"Lalu bagaimana dengan istriku?" tanyanya hampir tak terdengar. Firo berdiri mematung. Pandangan matanya sudah kosong.
Tuan Bram mendekati Firo.
"Polisi menemukan dua mayat yang terbakar hangus di dekat mobil,"
"Mayat itu seorang lelaki dan perempuan," ucap Tuan Bram begitu sangat pelan.
Duarrrrrrr.
Bak di sambar petir di siang bolong Firo mendengar itu mendadak lemas. Seakan tulangnya tak dapat menopang lagi tubuhnya. Firo tak dapat berdiri tegak.
Tuan Bram menahan tubuh Firo yang hampir ambruk. Sudah beberapa tahun Tuan Bram tak sedekat ini dengan anaknya.
"Katakan bahwa mayat itu bukan istriku," ucap Firo menarik tubuh ayahnya.
Tuan Bram hanya diam. Ia membiarkan tubuhnya menjadi pelampiasan putranya.
Bersamaan dengan itu empat orang petugas membawa kantong berwarna jingga itu di depan mukanya. Rencananya mereka akan memasukan ke dalam mobil ambulance.
"Siapa yang mereka bawa?" Firo kembali bertanya kepada ayahnya.
Sebenarnya Tuan Bram sudah tak sanggup berkata lagi. Namun Firo terus bertanya kepadanya.
"Mereka membawa kedua mayat Sony dan... Medina...istrimu," tanpa terasa air mata menetes di pipi Tuan Bram. Ia sebenarnya tak sanggup mengatakannya.
Firo yang masih lemas berlari lalu menarik kedua kantong mayat itu.
"Aku ingin melihatnya," ucap Firo menghentikan langkah petugas.
Keempat petugas itu lalu menurunkan kedua kantong itu.
Firo membuka dengan cepat, memastikan mayat di dalamnya bukan istrinya. Beberapa pengawal mengikuti Firo dari belakang.
Firo begitu kaget ketika melihat kondisi mayat itu yang hampir tak berbentuk. Ia tak yakin itu mayat istrinya.
"Kami menduga bahwa mayat ini adalah Nona Medina dan Tuan Sony. Mereka di temukan bersebelahan dengan mobil yang terbakar," ucap salah seorang petugas Tim SAR.
Aku tak yakin dia adalah istriku. Tidak mungkin mayat di depanku adalah istriku. Batin Firo.
Firo mematung di depan kedua mayat itu. Tangannya mencoba menyentuh bagian tubuh yang sudah menggosong. Firo meraih tangan mayat perempuan yang di perkirakan adalah istrinya.
__ADS_1
"Aku yakin dia bukan istriku," ucap Firo pelan.