Menikahi Pria Gila

Menikahi Pria Gila
Shaka 5


__ADS_3

"Dimana Shaka sekarang?" tanya Ny.Stella kepada Sekretaris Karan yang tidak sengaja bertemu di depan pintu kantor Shaka.


Sekretaris Karan yang baru menutup pintu langsung menoleh ke arah Ny.Stella, "Shaka sedang ada di dalam" serunya.


"Permisi, Aku ingin menemuinya" Ny.Stella lalu memegang handle pintu bersamaan dengan tangan Sekretaris Karan yang ingin membuka pintu.


Mereka sama-sama terdiam ketika tak sengaja tangan mereka saling bersentuhan. Sekretaris Karan sadar akan posisinya, Ia lalu menarik tangannya.


"Silahkan masuk, Nyonya" Sekretaris Karan mempersilahkan majikannya masuk ke dalam.


Ny.Stella menatap tajam wajah pria yang pernah mengisi hatinya 27 tahun yang lalu itu.


"Halo Shaka, Anakku..." Ny.Stella lalu memeluk Shaka yang tengah duduk ketika baru memasuki kantor Shaka.


"Mommy, Ada perlu apa kemari?" Shaka membalas pelukan ibunya.


"Mommy bawakan jas pengantin untuk kamu coba, Sekaligus Mommy juga ingin bertanya sesuatu kepada mu?" ucap Ny.Stella, "Bangunlah! Kamu harus mencobanya sayang"


Shaka akhirnya menuruti keinginan ibunya untuk mencoba jas pengantin untuknya.


"Jas ini sangat pas untukmu, Mommy tidak usah mengecilkannya," ujar Ny.Stella.


Shaka kembali duduk di kursinya setelah mencoba jas pengantin dan kembali berkutat dengan pekerjaannya.


"Mommy ingin menanyakan sesuatu?" tanya Ny.Stella. ikut duduk di depan Shaka.


"Mommy ingin bertanya apa? Aku sedang sibuk mom!" sahut Shaka.


"Beberapa malam kemarin katanya kamu sekamar dengan Geya?" tanya Ny.Stella begitu antusias, "Apa kemarin malam kalian melakukannya?"


Shaka memegang kepalanya yang tak pusing, "Apa mommy kesini hanya ingin bertanya seperti itu?"


"Katakan kepada Mommy apa yang kalian lakukan malam itu? Apa kalian membuat cucu untukku?" Ny.Stella begitu penasaran.


Shaka lalu menarik nafasnya.


"Mommy, Aku tidak sebejat itu!" ketus Shaka.


"Ah... Kenapa kamu tidak melakukannya saja? Lagi pula kalian juga akan menikah ini!"


Shaka tidak habis pikir dengan ucapan ibunya, "Mom! Sudahlah! Pekerjaan aku sedang banyak. Aku tidak mau membahas masalah dengan gadis labil itu" Shaka mendengus kesal.


"Heum! Baiklah, Mommy tidak akan membahas lagi. Tapi ingat tiga hari lagi kamu akan menikah. Kamu harus bersiap-siap!" seru Ny.Stella.


Shaka hanya mengiyakan apa yang dikatakan ibunya. Ny.Stella tidak tau apa yang menjadi beban dipikiran Shaka sekarang.


"Baiklah sayang, Maaf Mommy sudah menggangu pekerjaanmu!" Ny.Stella lalu mencium pipi kanan anaknya lalu pergi meninggalkannya keluar.


***

__ADS_1


"Tunggu!"


Sebuah suara menghentikan langkah kaki Ny.Stella.


Wanita itu langsung menoleh.


"Aku ingin berbicara dengan mu, Stella!" Sekretaris Karan adalah orang yang menghentikan jalan Ny.Stella.


"Harusnya anda berbicara lebih sopan kepadaku! Bukankah aku adalah majikan mu!" Ny.Stella tersenyum miring.


"Baiklah! Apa aku boleh berbicara dengan anda, Nyonya Stella yang terhormat!" Sekretaris Karan meninggikan suaranya.


Mereka saling menatap.


"Kalau kamu ingin berbicara, Kita bicara di tempat biasa! Aku tidak ingin ada orang yang mendengar percakapan kita terutama Shaka," ujar Nyonya Stella.


"Baiklah, Tunggu aku di sana!"


Mereka berdua lalu berjalan saling terpisah menuju tempat mereka biasa bertemu secara sembunyi.


Sepuluh menit berlalu, Sekarang mereka sudah duduk saling berhadapan di Cafe Klasik tempat yang sama mereka duduki 27 tahun yang lalu.


Karan tak berhenti memperhatikan penampilan Nyonya Stella di depannya.


Kamu masih cantik seperti dulu. Batin Karan.


"Stella! Apa kamu masih mengingatnya?"


***


Di Cafe Klasik seorang pria menggunakan kemeja tengah menunggu seseorang di kursi belakang.


Berulang kali pria itu menoleh ke jam di tangannya. Pria berpenampilan sederhana itu sudah menyiapkan setangkai bunga untuk pacarnya. Hari ini adalah perayaan setahun hubungan mereka.


Karena saking gugup pria itu mengusap keringatnya berkali-kali. Selang beberapa menit kemudian wanita yang ditunggunya akhirnya datang juga.


"Sayang!" pria itu lalu memeluk wanita yang ditunggunya, "Akhirnya kamu datang juga!"


Pria itu adalah Sekretaris Karan saat muda dan wanita yang ditunggunya adalah Nyonya Stella masih muda.


Sepasang kekasih itu duduk saling berhadapan dengan dipisahkan meja kotak ditengahnya.


"Aku pesan.."


"Karan," belum sempat memesan minuman, Stella muda sudah menyela pembicaraan.


"Iya, ada yang ingin kamu sampaikan, Sayang?" tanya Karan muda.


"Apa kamu menyayangi ku?" tanya Stella muda.

__ADS_1


"Kenapa kamu berbicara seperti itu? Jelas aku mencintai mu!" lontar Karan meyakinkan Stella muda.


"Walaupun aku sudah memiliki anak sekalipun?" tanya Stella muda.


"Aku tidak peduli! Syerli sudah aku anggap anakku sendiri!" ucap Karan sambil menggenggam tangan Stella muda.


"Bulan depan aku akan menikah dengan pria yang dijodohkan oleh ayahku! Pria itu bahkan terang-terangan mengatakan tidak mencintaiku dan tetap menikahi pacarnya." Stella muda tiba-tiba menangis dihadapan Karan.


"Sayang tenangkan dirimu...Siapa yang akan di jodohkan denganmu?" tanya Karan. Kini impiannya untuk menikahi Stella telah kandas.


"Bram, Anak buah kesayangan ayahku!" tangis Stella muda.


"Apa?" Karan terkaget, ia tahu betul siapa Bramantyo. Ia adalah orang kepercayaan Tuan Hugo.


"Lakukan sesuatu agar ayahku tidak jadi menjodohkan aku dengan Bram, Aku tidak menyayanginya!" Stella memohon kepada Karan, "Ikutlah dengan ku"


Belum sempat memesan makanan. Stella menariknya keluar dari cafe.


Karan sempat bekerja dengan Tuan Hugo ayah dari Stella. Namun karena pekerjaan yang diberikan tidak sesuai dengan hati nuraninya. Karan terpaksa mengundurkan diri dan mulai bekerja di tempat lain.


Karan begitu sangat mencintai Stella, Ia bahkan berniat menikahi Stella. Karan tau betul siapa ayahnya Stella. Tuan Hugo adalah pria tegas, tidak satu orangpun yang berani menolak perintahnya, Begitu pula Stella, walaupun ia anaknya ia tak berani melawan ayahnya.


Malam itu juga Stella membawa Karan ke kamar hotel. Stella berpikir ayahnya tidak akan jadi menjodohkannya kalau ia mengandung anak dari Karan dan akan menghentikan perjodohannya dengan Bramantyo.


Di dalam hotel mereka berdua melakukan hubungan terlarang.


Namun belum juga sebulan, Tuan Hugo tetap menjodohkan Stella dengan Bram.


Hati Karan saat itu begitu hancur ketika mengetahui Stella tetap menikah dengan Bramantyo.


***


"Cepat katakan apa yang ingin kamu bicarakan?" lontar Nyonya Stella kesal kepada Karan yang terus memandanginya.


"Apa kamu yakin tetap menjodohkan anakku dengan anak dari Tuan Sam?" Karan mendekatkan wajahnya.


"Memangnya kenapa? Bukankah dia putraku!"


"Kenapa kamu tidak meminta pendapatku dulu? Bukankah dia juga putraku?" tegas Karan tidak mau kalah.


"Sudahlah! Kalau hanya ini yang kamu bicarakan, Sebaiknya aku pulang! Karena ini tidak penting"


Nyonya Stella lalu berdiri hendak meninggalkan Karan sendiri.


Sebelum melangkah jauh, Karan menahan tangan Stella.


"Stella, Kamu tidak merencanakan hal yang buruk kan terhadap anakku? Aku tidak mau anakku terbawa masalah keluarga mu. Bertahun-tahun aku mendidiknya agar menjadi pria yang baik," ujar Karan.


Stella dengan kasar melepas tangan Karan.

__ADS_1


"Itu bukan urusan mu!"


__ADS_2