
"Katakan siapa yang menghamili mu?" rahang Niko mengeras melihat adiknya hanya menangis tak segera menjawab pertanyaannya.
"Katakan padaku siapa orangnya!" Sekali lagi ia berteriak,Niko menarik baju Niki yang duduk di kursi belakang bersama Medina.Niko hampir saja mencekik leher Niki karena bajunya tertarik.
"Niko,hentikan!" ucap Medina sambil melepaskan tangan adiknya ke baju Niki, "kita selesaikan masalahnya di rumah" ucapnya.
Sopir yang mengantar mereka hanya diam melihat kegaduhan ketiga orang yang ada di mobilnya.Medina merasa tidak enak kalau harus ribut di mobil.
Perasaan Niko sangat marah mendapati adiknya terus menangis tanpa berbicara sepatah katapun. Bahkan ketika turun dari mobil, Niki masih memeluk Medina erat mengharapkan perlindungan dari kakak perempuannya. Niko sangat temperamen ia takut sekali dengan saudara kembarnya.
Niki langsung berlari menuju kamar ketika sampai di depan rumahnya, Dengan cepat ia menutup pintu kamarnya. Bu Sari dan Pak Joko yang baru melihat kedatangan anak anaknya di buat terbengong bertanya tanya apa yang terjadi dengan putrinya.
Tok.. tok.. tok.
Suara ketukan pintu terdengar semakin keras di pintu kamar Niki yang ia tutup. Niko mengetuknya dengan keras lantaran Niki tak segera membukanya.
"Buka pintunya, atau aku dobrak pintu ini, " Amarah Niko kembali memuncak.
"Niko,apa yang kamu lakukan? kamu tak pantas berteriak malam-malam begini!! " ujar Bu Sari mencoba merendahkan amarah anaknya.
Sementara Pak Joko melihat ke arah Medina seakan bertanya apa yang terjadi padanya.
"Niki hamil bu! Dia tidak segera memberitahuku siapa bajingan yang menghamilinya" teriak Niko dengan sangat marah.
"Apa! "
Bu Sari di buat lemas dengan ucapan anak lelakinya.Ia menutup mulutnya dengan tangan tak percaya. Medina memegang erat bahu ibunya.
"Katakan sekali lagi, Kalau itu tidak benar"air mata di pelupuk mata perempuan usia enam puluh tahun itu tak kuat ia bendung.
Ia lalu memanggil anaknya.
"Keluar, Nak! Ceritakan pada ibumu apa yang terjadi" Bu Sari mengetuk pintu kamar Niki.
Sudah lima belas menit pintu tak segera dibuka,karena takut terjadi apa-apa, Niko mendobrak pintu kamarnya di bantu oleh bapaknya.
Brakkkk!!
Pintu kamar terbuka.
Mereka terkaget mendapati Niki ingin mengakhiri nyawanya.
__ADS_1
"Niki!" teriak Pak Joko.
Hampir saja Niki mengakhiri hidupnya dengan silet di tangannya. Buru-buru Niko menendang tangan Niki yang sudah memegang silet hendak menggoreskan ke tangannya.
Bu Sari dan Medina segera meraih tubuh Niki yang hampir ambruk. Niki menangis di pelukan ibunya.
Pak Joko menahan Niko yang masih marah agar lebih meredamkan emosinya kepada adik kembarnya.
"Jangan lakukan itu, Nak! " sambil menangis Bu Sari Memeluk erat anaknya.
"Maafkan aku bu, Niki hamil ! Niki khilaf Bu..hiks." Niki menangis tersedu sedu di bahu ibunya.
Medina mengelus rambut hitam Niki yang tergerai panjang, "Apapun kesalahanmu kami tetap menyayangimu Niki, tolong jangan lakukan hal bodoh itu lagi, kasihan bapak dan ibu" Medina ikut menangis melihat adiknya hendak bunuh diri.
"Ibu akan menerima kehadiran anakmu,tolong jangan lakukan itu lagi" wajah keriput Bu Sari tampak basah dengan air matanya.
"Katakan pada bapakmu, siapa yang menghamili mu, bapak tidak akan menghukum mu, Nak!" Pak Joko ikut menangis karena merasa gagal mendidik putrinya.
Karena di desak akhirnya Niki menjawab pertanyaan bapaknya. Baginya tidak perlu ia sembunyikan lagi.
"Sony yang menghamili ku, Kak! " bibir Niki gemetar menyebut nama itu.
"Apa bajingan itu sudah tahu kehamilan mu?" Niko mendekati Niki, kali ini ia bersikap sedikit tenang.
Niki menjawab dengan anggukan.
"Lalu apa yang dia katakan?" tanya Niko.
"Dia bilang ia sedang di luar negri," sahut Niki.
Tangan Niko mengepal dengan keras, "Kurang ajar" ucapnya dalam hati.
Bu Sari dan Pak Joko masih menenangkan anak gadis yang sekarang sudah tidak gadis lagi. Entahlah perasaannya senang atau sedih, Di sisi lain di usia tuanya itu Bu Sari sangat mendambakan seorang cucu.
Niko keluar kamar Niki di ikuti Medina di belakangnya.
"Aku akan mencari bajingan itu sampai dapat walaupun dia berada di luar negri," ucapnya tegas kepada Medina.
Niko tidak tahu kalau orang yang di carinya ternyata kakak ipar Medina yang setiap hari satu rumah dengannya.
"Sony yang kamu maksud itu adalah kakak ipar ku, suami Syerli dia ada di rumah Tuan Bram," jawab Medina.
__ADS_1
"Apa! Jadi dia pria beristri"
Rahang Niko kembali mengeras amarahnya semakin memuncak ditonjoknya tembok yang ada di dekatnya.
"Bajingan! Beraninya ia menghamili adikku!" ucapnya sangat marah.
"Kak, antarkan aku ke rumah Tuan Bram, Aku akan memberi perhitungan kepadanya," pinta Niko.
Karena Medina juga merasa geram akhirnya ia dan Niko menuju rumahnya.
Sampai di rumah Medina mencari-cari keberadaan Sony. Di carinya Sony sampai ke kamarnya. Ternyata tidak ada Sony di rumahnya melainkan hanya ada Syerli yang sedang berada di kamar memarahinya karena Medina memasuki kamarnya secara tidak sopan.
Medina tak memperdulikan ocehan Syerli. Ia lalu meninggalkan Syerli yang masih mengutukinya.Bukan saatnya berdebat dengannya batin Medina.
Motor Niko melaju dengan cepat di jalanan. Ia membonceng kakaknya di belakang. Menurut informasi pem bantu di rumah itu Tuan Bram,Ny.Stella,Sony dan Firo sedang menghadiri acara peresmian hotel baru miliknya. Pantas saja Firo di suruh pulang cepat oleh Tuan Bram pikir Medina dalam hati.
**
Niko pernah bertemu dengan Sony beberapa kali namun ia hanya mengenalnya sepintas.Di carinya wajah orang yang ia cari di sekeliling hotel yang terlihat sangat ramai.
Penampilan mereka berdua tak layak berada di pesta itu. Mereka yang datang di pesta itu terlihat sangat rapi dengan gaun dan tuxedo yang di pakainya. Berbeda dengan mereka berdua yang hanya mengenakan kaos dan celana panjang.
Sekuriti sempat melarang mereka masuk, namun Medina menunjukan kartu yang di beri Tuan Bram yang kalau sewaktu waktu ia butuhkan. Kartu yang menunjukan kalau Medina dapat masuk ke rumah dan tempat kerja Tuan Bram.Kartu itu hanya di miliki keluarga dan orang terdekat Tuan Bram.
Dengan di dampingi Niko di belakanganya malam itu Medina berjalan masuk ke area loby hotel.
Banyak lalu lalang orang yang melihat mereka dengan tatapan menghina seolah mereka berdua tidak pantas ditengah mereka.
Niko tampak melihat sekilas sosok yang di carinya, ia lalu berjalan menjauhi Medina yang ada di depannya.
Sementara Medina terus berjalan ke depan. Dari jauh ia seperti melihat lelaki yang sering bersamanya. Ya itu Firo suaminya.
Senyuman Medina mengembang sebuah kebetulan ternyata suaminya juga berada di sana. Ia berjalan mendekat ke arah suaminya yang tidak tahu kedatangannya.
Namun tinggal beberapa langkah lagi, seorang wanita mengenakan dress panjang warna merah mendekatinya lalu merangkul tangan Firo dengan sangat mesranya. Ia menariknya menjauh darinya.
Deg!!
Jantung Medina seakan berhenti berdetak. Ia mencoba menyadarkan dirinya bahwa yang di lihatnya salah. Tubuh Firo dan wanita itu menghilang di balik dinding pembatas loby hotel.
Ia ingin mengejarnya namun kakinya tak sanggup ia gerakkan lagi di pikiran Medina, malam itu ia sedang bermimpi. Atau yang di lihatnya adalah halusinasi saja.
__ADS_1