Menikahi Pria Gila

Menikahi Pria Gila
Sidang Dakwaan 1


__ADS_3

Tuan Bram dibawa pihak kepolisian bersenjata lengkap masuk keruang sidang. Hari ini adalah sidang dakwaan pertamanya.


Dengan tangan diborgol Tuan Bram berjalan kearah kursi panas yang ada di depan hakim ketua.


Tuan Bram terlihat lebih kurus semenjak berada di dalam sel. Walaupun bertambah kurus, Raut wajah Tuan Bram lebih segar hari ini dibandingkan pertama kali ia masuk kedalam penjara.


"Apa anda baik-baik saja?" seorang polisi yang membawanya bertanya kepadanya.


Tuan Bram tersenyum menanggapi, "Seperti biasanya hari ini lebih baik dari pada kemarin," seperti itu jawaban Tuan Bram setiap kali ditanya polisi.


"Anda anda sudah siap?" tanya Polisi itu lagi. Tuan Bram mengangguk menanggapi.


Setelah sampai di ruang sidang. Tuan Bram mendudukkan pantatnya di kursi yang berhadapan langsung dengan hakim ketua yang diapit dua orang hakim anggota yang duduk di sebelahnya.


Di belakang kursi Tuan Bram. Ada beberapa kursi pengunjung sidang yang sudah diduduki, Diantaranya ada Nyonya Stella yang duduk bersebelahan dengan Pak Sam.


Sementara Nyonya Vika duduk bersebelahan dengan kuasa hukumnya berjarak empat kursi dari Nyonya Stella.


Tuan Bram sempat menengok kebelakang sebentar sebelum duduk. Berharap putranya, Firo bisa menemuinya hari ini. Ia sangat rindu dengan Firo, anaknya. Namun dari beberapa kursi yang diduduki, Firo tak ada di sana.


Tuan Bram sudah duduk di tengah ruang sidang sebagai seorang terdakwa. Sidang dilakukan secara tertutup.


Setelah hakim ketua membacakan biodata Tuan Bram sekarang giliran Jaksa penuntut umum yang membacakan tuntutan kasus yang menimpa Tuan Bram. Tuan Bram dikenakan pasal undang-undang yang menyangkut pembunuhan berencana dan undang-undang narkotika.


Tuan Bram telah terbukti mengedarkan ganja dan memproduksinya. Bahkan penuntut umum, Menuntut Tuan Bram karena kasus pembunuhan berencana yang dilakukannya terhadap Fira dan Jovan.


Belum sejam sidang itu terpaksa ditutup.


Sidang itu akhirnya ditutup Karena alat bukti masih dalam proses penyelidikan, Hakim ketua terpaksa menunda persidangan hari itu.


"Sidang kami tunda sampai empat belas hari ke depan"


Tok...tok


Hakim ketua akhirnya mengetuk palu tanda persidangan telah usai.


Tidak ada keberatan sedikitpun bagi Tuan Bram terhadap tuntutan Jaksa penuntut umum kepadanya. Hatinya begitu sangat menyedihkan bukan karena ia dipenjara, Melainkan hatinya begitu kosong karena putranya sama sekali belum menemuinya.


Nyonya Vika yang duduk dibelakang nampak tidak puas dengan hasil sidang. Bersama kuasa hukumnya Nyonya Vika berjalan keluar area persidangan.

__ADS_1


"Kenapa tak cepat diputuskan! Padahal sudah jelas Bram bersalah membunuh suamiku," geram Nyonya Vika ingin rasanya pembunuh suaminya dihukum mati, Setimpal dengan perbuatannya.


"Tunggu sampai sidang dakwaan terakhir, Nyonya. Untuk sidang yang kedua akan dihadirkan saksi kunci dari pihak anda dan Firo. Polisi masih menyelidiki bukti yang akurat. Tidak secepat itu hakim memutuskan hukuman terhadap terdakwa," ujar kuasa Hukum Ny.Vika.


"Untuk sementara ini kita juga harus berhati-hati karena musuh yang kita hadapi bukanlah Tuan Bram seorang. Sepertinya organisasinya sangat kuat dan sepertinya mereka juga banyak bekerja sama dengan pihak berwajib," jelas kuasa hukumnya lagi.


Nyonya Vika menghela nafas panjangnya, Berharap masalah keluarganya cepat usai. Ia belum bisa bernafas lega sebelum pembunuh suaminya menerima hukuman setimpal untuk dirinya.


Sebelum pulang Ny.Vika sempat bertemu muka dengan Tuan Bram yang sedang di giring beberapa anggota polisi. Tuan Bram menatap sedu Ny.Vika yang ia lewati. Ia ingin sekali berbicara banyak dengan Ny.Vika , sayangnya wanita itu belum pernah sekalipun berbicara kepadanya.


Kamu harus menanggung semua perbuatan mu, Bram. Batin Ny.Vika.


Nyonya Vika balik menatap Tuan Bram. Sebenarnya ada perasaan iba dihatinya melihat tuan bram yang nampak sedih.


Didampingi dua orang polisi Tuan Bram kembali ke dalam sel penjara yang khusus untuk dirinya sendiri. Sudah hampir dua bulan ini Tuan Bram berada di dalam penjara. Ia sepertinya sudah beradaptasi hidup di dalamnnya.


Penjara yang ia tempati hanya berukuran empat kali empat meter. Dengan beralaskan tikar, Tuan Bram tidur di dalamnya. Tak ada kemewahan apapun seperti yang biasa ia dapatkan di rumah. Bahkan untuk makan saja jauh dari kata layak di bandingkan kehidupannya yang dulu.


Beberapa jam kemudian,


"Bangun! Ada yang ingin menjenguk anda" seorang polisi membangunkan Tuan Bram yang tengah tidur meringkuk di tikar.


"Benarkah? Siapa orangnya?" tanya Tuan Bram begitu sangat antusias mendengar ada orang yang menjenguknya.


Ada raut kegembiraan di wajah Tuan Bram.


Tuan Bram berjalan diantar seorang polisi menuju ruangan khusus pengunjung.


Seorang pria dengan perawakan tinggi tengah duduk menunggunya. Tuan Bram yang awalnya begitu antusias kini berubah menjadi murung kembali ketika melihat yang menjenguknya bukan orang yang ia harapkan.


"Anda hanya diberi waktu lima belas menit untuk berkunjung," ucap seorang petugas kepada pria itu.


"Baik! Terima kasih, Pak" sahut Pria itu.


Setelah petugas pergi mereka berdua duduk.


"Bagaiman kabarmu, Bram?" Pria bersama Tuan Bram lalu duduk saling berhadapan.


"Seperti yang kau lihat," sahut Tuan Bram.

__ADS_1


Pria itu melihat Tuan Bram secara seksama.


"Apa kamu betah berada disini?" tanya Pria itu lagi.


"Apa yang ingin kamu sampaikan?" Bukannya menjawab, Tuan Bram malah bertanya balik.


"Sebelumnya aku minta maaf, karena hanya kamu yang menjadi terdakwa disini selain Sony. Percayalah ketua kami sedang mengupayakan semuanya," ujar Pria itu, "Apa kamu ingin kebebasan, Bram?" tanya Pria itu lagi.


"Hentikan ocehan mu! Aku betah tinggal disini. Aku lebih nyaman tinggal disini dibandingkan ikut bersama kalian lagi," sahut Tuan Bram.


Ia begitu malas berbicara dengan pria itu.


"Apa kamu tidak ingin menengok cucumu yang sudah lahir? Bukankah anak itu sedang di idamkan olehmu?" tanya pria itu.


"Apa?"


"Cucuku sudah lahir?" Tuan Bram sempat kaget dengan ucapan Pria itu.


"Ya, Betul cucu lelakimu sudah lahir ke dunia. Bukankah kamu sangat menanti generasi ketiga mu?" Pria itu kembali tersenyum ke arah Tuan Bram.


Dengan gerakan cepat Tuan Bram menarik baju pria di depannya dengan kasar.


"Apa yang ingin kamu rencanakan? Jangan bawa cucuku ke dalam masalah kalian!" Tuan Bram terlihat sangat marah.


Pria itu memegang tangan Tuan Bram agar melepas bajunya.


"Tengang Lah! Aku belum berbicara banyak kepadamu! Kenapa kamu harus marah seperti itu?" Pria itu kembali tersenyum.


"Aku sudah betah tinggal disini. Aku tak butuh kebebasan!" tegas Tuan Bram.


"Apa kamu yakin mereka akan baik-baik saja?" Pria itu kembali menegaskan ucapannya.


"Jangan ganggu keluargaku!" Teriak Tuan Bram.


###


*


*

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca.


Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya.


__ADS_2