
"Bangun, Gadis labil" seru Shaka menggoyangkan badan istrinya.
Kalau cara tidurmu seperti itu bagaiman si joni bisa berdiri. Gumam Shaka sambil terus memperhatikan Geya yang tertidur di sebelahnya.
"Hoaemm..." Geya menguap berulang kali. Kebiasaan Geya memang sering tidur sampai siang berbeda dengan Shaka yang selalu bangun tidur sebelum matahari terbit.
"Tutup mulutmu kalau sedang menguap," ucap Shaka sambil menutup mulut Geya dengan tangannya.
Hari itu mereka telah pulang dari berbulan madu. Entahlah di sebut apa, Karena menurut mereka berdua, Hadiah yang di berikan dari orang tuanya itu sia-sia. Dibilang sia-sia karena selama berbulan madu mereka tak melakukan kegiatan layaknya suami istri yang baru menikah.
"Firo mengajak kita menginap di rumahnya hari ini," ucap Shaka kepada Geya.
Geya langsung bangun ketika mendengar mereka akan menginap di rumah Medina.
"Kapan kita akan menginap?" Geya menghadap ke arah Shaka yang sedang tiduran di sebelahnya.
"Malam ini," sahut Shaka, "Hai, Bisakah kamu mengelap iler mu dulu"
Geya langsung mengelap mukanya.
Sudah satu bulan berlalu mereka menikah, Sedikit demi sedikit mereka sudah saling mengenal kepribadian masing-masing.
Mereka kadang sudah seperti teman bahkan musuh. Terkadang masak berdua, Main game berdua bahkan mereka sering berseteru karena berbeda pendapat.
Mereka juga sering berolah raga pagi bersama. Hal yang belum mereka lakukan adalah berhubungan layaknya suami istri. Geya yang masih polos tidak meminta haknya sama sekali. Bahkan sampai saat ini, Si joni milik Shaka belum bisa bereaksi mencari teman bermainnya. Si joni masih terlihat malu-malu saat bertemu dengan simeki.
"Cepat mandinya hari sudah mulai siang, Kak Mey pasti sedang menunggu kita di rumahnya," teriak Geya.
Shaka masih berada di kamar mandi.
"Tunggu sebentar! Bisakah kau tidak cerewet!" sahut Shaka di dalam kamar mandi.
"Lama! Mandi mu seperti perempuan!" balas Geya sambil mengelus Shinta, Kucing Shaka yang berganti nama menjadi, Cinta.
"Aku mandi pakai air, Ngga kaya kamu mandinya pakai ludah, Kaya Cinta...ha...ha" sahut Shaka di dalam kamar mandi.
Geya tidak tau kalau Shaka sedang bermain dengan si joni.
"Geya, tolong ambilkan handuk. Aku lupa membawanya ke kamar mandi!" teriak Shaka dari dalam kamar mandi.
Heuh, Geya mendengus kesal karena sudah kesekian kalinya Shaka lupa membawa handuk setiap mandi.
Kepala Geya menyembul ke dalam pintu kamar mandi ingin memberikan handuk
__ADS_1
Setiap kali memberikan handuk kepada Shaka, Geya selalu penasaran dengan kegiatan Shaka di kamar mandi.
"Jangan mengintip Gadis labil!" seru Shaka mendorong kepala Geya keluar.
"Aku penasaran kenapa kamu lama sekali berada di kamar mandi," sahut Geya.
Shaka langsung memasangkan handuk di pinggangnya lalu keluar dari dalam kamar mandi.
Geya selalu terkagum dengan tubuh kekar milik Shaka, setiap kali habis mandi. Guratan perut Shaka membentuk lekukan seperti roti sobek. Tangan Shaka yang berotot menambah kekar tubuh besar dan tingginya. Di tambah lagi dengan dadanya yang bidang berbulu halus meneteskan beberapa air sisa mandi.
Terlihat begitu seksi untuk ukuran seorang laki-laki macho. Geya semakin memperhatikan Shaka dari atas ke bawah. Pikirannya langsung traveling ke bagian bawah yang sedang ia tutupi.
Geya langsung menelan ludahnya berulang kali.
"Awas air liur mu menetes," seru Shaka membuyarkan lamunan Geya.
Geya yang kedapatan memperhatikan Shaka langsung mengelus Cinta kembali.
"Aku sudah mempersiapkan bajunya di kasur," ucap Geya menunjuk ke baju untuk Shaka yang sudah ia siapkan di kasur.
"Terima kasih, Geya" ucap Shaka hendak mengambil baju ganti.
Shaka yang terburu-buru memakaikan handuk di pinggangnya tak menyadari kalau handuk itu tiba-tiba terlepas.
Mata Geya yang dari tadi memandangi tubuh Shaka langsung membulat sempurna.
"Oh.. tidak! Joni ku," seru Shaka tiba-tiba langsung menutup tubuhnya.
Geya kembali menelan ludahnya.
Shaka langsung berlari menuju ruang ganti karena malu.
***
Mereka berdua sudah di dalam mobil menuju rumah Firo.
Geya masih membayangkan kejadian barusan yang menimpanya. Sepolos-polosnya Geya, Ia tau apa yang ia lihat tadi.
Di perjalanan mereka sama-sama terdiam dalam pikiran masing-masing.
Dia pria yang normal? Kenapa dia tak tertarik dengan ku sama sekali? Apa yang salah dengan diriku?Batin Geya.
Walaupun Geya tak meminta haknya sama sekali. Gadis itu tetap berpikiran aneh mengenai Shaka.
__ADS_1
Akhir-akhir ini ibunya sering menyindirnya. Padahal Geya tak mengerti sama sekali apa yang ibunya bicarakan.
"Di rumah Firo tidak hanya kita yang menginap, Tetapi juga ada Agung bersama istrinya," Shaka memulai pembicaraan.
Shaka tidak bisa lama-lama saling diam di dalam mobil. Geya yang periang mendadak diam.
"Geya," ucap Shaka lagi.
Gadis itu masih saja melamun.
"Oh.. ya" Geya begitu kaget ketika Shaka memanggil namanya.
"Kamu sedang mikirin apa?" tanya Shaka masih fokus mengendarai mobil.
Geya tersenyum ke arah Shaka.
"Tidak apa-apa," sahut Geya berbohong.
"Aku sudah menyiapkan hadiah untuk Drago, Anak itu selalu bikin aku kangen," ujar Shaka mencoba mencairkan suasana.
"Ah, iya. Aku juga sangat kangen dengan Drago. kamu dan aku sama-sama menyukai anak bayi," seru Geya.
Shaka menelan ludahnya mendengar Geya mengatakan ia menyukai bayi.
Mereka kembali terdiam.
Apa ada yang salah dengan kata-kata ku tadi? Kenapa dia diam saja? batin Geya.
"Geya,"
"Yah," sahut Geya.
Entah mengapa Shaka merasa terbawa perasaan ketika Geya mengatakan itu.
"Maaf, Aku belum bisa menjadi suami sungguhan untuk mu," ujar Shaka.
Geya masih mencerna kata-kata Shaka barusan.
"Aku belum bisa memberikan mu malam pengantin, Kamu kan tau kita belum lama menikah! Aku masih belum terbiasa hidup dengan seorang perempuan satu kamar," ucap Shaka.
"Aku mengerti. Kita baru mengenal bahkan kita tak saling mencintai, Wajar saja kalau kita belum terbiasa," sahut Geya menarik napasnya. Ia bahkan tidak tau kata-katanya benar atau salah.
Shaka begitu malu mengakui kebenaran kepada Geya tentang dirinya. Shaka masih merasa lama-lama dengan berjalannya waktu, si joni akan bisa beradaptasi dan akan memintanya sendiri. Namun sudah sebulan ini, masih belum terlihat perubahannya.
__ADS_1
"Aku pikir kamu gadis yang labil, Ternyata tidak. Justru aku yang labil disini," Shaka mendengus kesal merendahkan dirinya sendiri.
Geya tak tau kalau diam-diam Shaka sudah mulai menyukainya. Walaupun Geya terkesan gadis yang pembangkang, Geya sangat penurut kepadanya. Bahkan Geya yang dari kecil tak pernah memegang pekerjaan rumah. Setelah menjadi istrinya, Ia sedang berusaha belajar menjadi istri yang baik untuk Shaka. Walaupun terkadang selalu bertingkah konyol di depan Shaka.