Menikahi Pria Gila

Menikahi Pria Gila
Menunggu Kabar.


__ADS_3

Gemericik air hujan menetes di antara pepohonan. Hujan yang deras kembali mereda seiring dengan hilangnya jejak mobil Sony di depannya.


Firo begitu tertekan ketika mendengar suara tabrakan yang begitu keras hampir memecahkan telinganya. Begitu keras terdengar tak begitu jauh.


Mobil yang di kemudikan sopirnya langsung menuju sumber suara. Melaju ke depan mengikuti arah suara yang sayup sayup menghilang di gantikan suara rintik air hujan.


Tidak jauh dari bibir jurang, mobil yang di tumpangi Firo berhenti. Pemandangan yang dilihatnya pertama adalah pembatas jalan yang porak poranda, Kursi yang terlihat terpotong terlihat jelas bahwa kursi di depannya hancur akibat tertabrak. Banyak pecahan kaca mobil berserakan di mana-mana.


Firo membuka pintu mobil yang letaknya bersebelahan dengan sopir. Mukanya mendadak lesu dengan kedua kaki yang melemas. Langkah kakinya ia kuatkan untuk berjalan keluar melihat kebenaran apa yang terjadi.


Ia terus berdoa di dalam hati semoga hal buruk tidak terjadi dengan istrinya.


Air hujan yang membasahi tubuhnya ia hiraukan, Firo semakin mempercepat langkahnya.


"Ti... dak... " bibirnya begitu kelu ingin berucap. Jantungnya sudah tak seirama dengan perasaanya.


Firo berlari ke depan menyeret kakinya yang lemas agar bisa berjalan cepat.


Pecahan kaca berserakan di mana-mana. Ada satu spion mobil yang sudah tak berbentuk tergeletak tidak jauh dari tempatnya berdiri.


Tangannya meraih spion mobil dengan sangat gemetar. Diraihnya spion itu berharap agar apa yang ada di dalam pikirannya tidak sama dengan apa yang terjadi.


Sopir mobil mendekati Firo yang berdiri mematung. Firo tak bergeming dari tempatnya berdiri.


"Tuan," ucap sopir pelan.


Bibir Firo yang pucat karena terkena air hujan terkatup rapat. Firo memejamkan mata lalu membuka kembali berharap apa yang di laluinya sekarang adalah mimpi. Air mata menetes di ujung matanya.


"Apa...ini...spion mobil yang di kendarai...Sony?" ujar Firo pelan bertanya kepada sopirnya.


Firo pernah melihat sebelumnya namun karena tak pasti ia akhirnya bertanya kepada sopir di sampingnya.


Di pinggir spion itu terdapat garis emas di lapisan ujungnya menandakan bahwa itu adalah mobil milik keluarga Bramantyo. Semua mobil Tuan Bram memiliki ciri khusus.


Sopir mengetahui bahwa spion yang di pegang tuannya adalah benar milik Tuan Bram.


Dengan terbata sopir itu menjawab, "Be-benar tuan itu spion mobil milik Tuan Bram," jawab sopir sangat pelan. Ia menduga kemungkinan buruk telah terjadi.


Jawaban sopir itu membuat pikirannya terhenti sesaat.


Deg,

__ADS_1


Jantungnya seperti tertusuk duri yang tajam. Bersamaan dengan itu air mata keluar dari pelupuk matanya.


Firo melihat sekelilingnya tidak ada tanda-tanda keberadaan mobil Sony di sekitar. Matanya melihat ke arah jurang yang terdapat bekas pembatas yang melengkung ke arah jurang.


Firo berlari menuju ujung jurang dekat pembatas yang sudah porak poranda terdapat pecahan kaca mobil di mana-mana.


Kakinya tak bisa ia gerakkan lagi. Firo terduduk lemas di antara pecahan kaca. Tangannya menyentuh pecahan kaca, Ia tak peduli tangannya berdarah karena tergores pecahan kaca yang sama sekali tidak membuatnya sakit.


"Ti... dak... mungkin," bibirnya begitu pucat air matanya tak henti-hentinya menetes dari pelupuk matanya. Firo begitu sangat terpukul.


Sopir mendekati Firo yang semakin ke ujung. Ia tidak mau tuannya terjadi apa-apa.


"Katakan padaku bukan mobil Sony yang masuk ke jurang ini," Firo menarik kerah baju sopirnya sehingga terjatuh bersamanya.


Sopir itu tidak bisa memastikan bahwa benar mobil Sony yang masuk jurang.


"Aku tidak tahu tuan," ucap sopir takut.


Begitu sesak dadanya mendengar jawaban sopirnya.


Tidak ada semenit, Tiga mobil terparkir di sebelah mobil yang Firo tumpangi.


Tuan Bram bersama polisi turun dari mobil lalu berjalan menuju ujung jurang.


***


Polisi yang melihat itu langsung ke TKP mengarahkan semua petugasnya agar menyelidiki apa yang terjadi.


"Sepertinya sudah terjadi kecelakaan," ujar salah satu petugas kepolisian.


Setelah melihat spion mobil. Polisi sudah memastikan bahwa yang terjatuh ke dalam jurang adalah satu mobil.


Mereka lalu membagi tugas dengan menyebar anggotanya ke seluruh arah tempat terjadinya tabrakan.


Senter diarahkan langsung ke jurang. Tidak terlihat adanya mobil yang terjatuh dari atas jurang.


Sepertinya mobil yang terjatuh begitu dalam sampai tak terlihat dari atas. Polisi akhirnya menghubungi Tim SAR agar membantu mereka menemukan mobil yang belum di temukan.


***


Tuan Bram mendekati Firo yang sedang duduk bersimpuh.

__ADS_1


"Berdoalah agar tidak ada kabar buruk mengenai istrimu," ujar Tuan Bram mendekati Firo.


Firo masih berharap ada kabar baik yang akan di dengar.


Firo mencoba berdiri.


"Aku akan mencari istriku ke bawah," pungkas Firo bergegas untuk turun ke bawah.


Tuan Bram menarik tubuh anaknya agar tidak gegabah dengan kelakuannya.


"Jangan bodoh! Jurang itu sangat dalam kamu bisa mati terjatuh," Tuan Bram menyeret tangan anaknya di bantu sopir.


"Tuan jangan lakukan itu," ujar sopir.


"Lepaskan aku! Aku ingin mencari istriku," tegas Firo. Telapak tangannya yang berdarah ia hiraukan.


Dengan sangat terpaksa Tuan Bram mengarahkan pengawal agar menahan tubuh Firo.


"Diamlah! Polisi sedang mencari ke jurang memastikan apakah benar memang mobil Sony yang terjatuh, kamu jangan gegabah," teriak Tuan Bram.


Firo masih bersikukuh.


"Tenang lah tuan," ucap sopir lagi.


"Ini semua gara-gara aku tidak bisa mengendarai mobil itu sendiri. Kalau saja aku bisa mengendarai mobil itu. Aku pasti sudah menyusul mobil Sony," Firo menangisi ketidak berdayanya.


"Aku memang bodoh! Aku tidak bisa menyelamatkan istriku sendiri," Firo terus mengutuk dirinya sendiri.


Pengawal menarik paksa Firo agar masuk ke dalam mobilnya. Tenaga Firo tak sekuat sebelumnya. Ia begitu pasrah ketika pengawal menarik paksa dirinya. Kakiku begitu lemas seperti tak bertulang.


Di dalam mobil Firo masih terus menyalahkan dirinya. Dia begitu terpukul. Di dalam hatinya begitu sangat takut. Takut akan kehilangan istrinya.


"Sabarlah, polisi sedang bertindak cepat, yakinkan dirimu kalau tidak akan terjadi apa-apa dengan istrimu," ujar Tuan Bram menenangkan Firo.


Firo tak menyahuti omongan ayahnya.


Tuan Bram melihat Firo sama seperti ketika dia berumur sepuluh tahun. Di saat Firo kehilangan ibunya.


Tuan Bram baru menyadari kalau anak yang di sebelahnya belum pernah ia bahagiakan. Dia sangat menyesal kenapa dulu ia membuat anaknya menjadi depresi. Hidupnya selalu dalam masalah.


Di luar sudah tidak hujan lagi. Polisi bersama Tim SAR masih berlalu lalang di luar. Pengawal masih menahan Firo agar tidak keluar.

__ADS_1


Firo melihat keluar dari jendela mobilnya. Berharap segera mendapat kabar baik.


"Honey, apa kau baik-baik saja?" gumam Firo dalam hati.


__ADS_2