Menikahi Pria Gila

Menikahi Pria Gila
Mimpi Firo


__ADS_3

"Apa kamu sudah menemui Daddy, sayang?" tanya Medina kepada Firo yang baru datang dan langsung duduk lesu di ruang tengah.


Firo menggeleng.


Medina memegang tangan suaminya, "Tidak apa! Lain waktu mungkin kamu mau menemuinya"


"Apa kamu sudah makan?" tanya Medina lagi.


Firo kembali menggeleng.


"Yasudah, Istirahat dahulu kalau lelah. Hari ini tidak usah bekerja, Sudah ada Agung yang mengurusnya," sahut Medina.


"Maafkan aku! Aku belum siap menemuinya"


Belum ada sahutan dari istrinya, Firo lebih dulu berjalan dan masuk ke kamarnya. Drago yang dari tadi ingin memeluk ayahnya, Medina tahan agar membiarkan Firo menenangkan pikirannya dulu.


Di dalam kamar.


Firo membaringkan tubuhnya, Menempelkan lengannya tepat menutupi mukanya. Bukan rokok atau pun minuman untuk meredam kesedihannya, Melainkan ia hanya perlu waktu sendiri di dalam kamar.


Dalam bayangan masih terlintas di benak, Bagaiman ayahnya sangat mengharapkannya. Saat melihat Tuan Bram, wajahnya begitu bersinar lebih cerah dari biasanya. Namun sayang, Kaki Firo teramat sulit digerakkan untuk maju menemuinya.


Aku janji akan menemui mu, Tapi tidak sekarang! ucap Firo dalam hati.


Firo segera menyeka buliran air mata yang sudah menetes dari matanya. Ia jelas bukan seorang yang cengeng apalagi mudah menangis. Namun air mata itu tak bisa dibohongi, kalau sekarang ia sedang bersedih saat ini. Lama kelamaan Firo akhirnya tertidur.


***


"Bangun Firo, Jagalah selalu anakmu. Seperti aku melindungi mu dulu. Jagalah Drago dengan caramu, Jangan tiru aku!" seru sebuah suara membangunkan Firo.


Firo yang tertidur langsung membuka matanya. Ia terkaget ketika tidak ada orang di sampingnya, Namun suara itu dengan jelas membangunkannya.


Sekarang dirinya sedang berbaring tepat di tengah jalan yang beraspal. Jalanan yang tampak sepi hanya ada segerombolan orang berjubah hitam dan seorang laki-laki berusia muda di apit ditengahnya, Sedang berjalan menjauhinya.


"Drago," ucapnya pelan.


Dilihatnya dari jauh, Drago sedang berjalan bersama beberapa orang di sekelilingnya. Mereka yang menuntun Drago menggunakan penutup muka.


Kedua tangan Drago masing-masing memegang satu buah pisau di tangan kirinya dan setangkai bunga di tangan kanannya. Drago yang ia lihat saat itu sudah berusia 17 tahun.


"Drago, berhenti. Jangan ikuti mereka!" teriak Firo dari belakang.


"Drago," teriaknya lagi.


Berkali-kali ia berteriak, Namun suara itu hanya tertahan di tenggorokannya. Firo ingin melangkah menahan kaki Drago, Namun langkahnya seperti sudah tertanam di tanah tak bisa ia gerakkan.


Firo melihat darah di sekitarnya. Nampaknya darah itu keluar dari kakinya.

__ADS_1


Aku dimana sekarang? batin Firo.


Beberapa pria bertopeng menoleh ke arah Firo. Hanya Drago yang tak menoleh sedikitpun. Ia tetap berjalan sambil membawa bunga dan pisau di kedua tangannya.


"Jangan bawa anakku! Kalian tak boleh bawa anakku!" Firo kembali berteriak.


Firo yang tidak bisa berjalan mencoba merangkak mendekati anaknya yang terus berjalan menjauhinya.


Drago terus berjalan ke depan bersama beberapa orang yang mengenakan jubah warna hitam. Langkah mereka terhenti ketika sampai di depan badan pesawat.


Jaga anakmu, Firo.


Bawa anakmu pulang! Jangan sampai mereka membawanya!


Suara itu kembali berbisik di telinganya. Firo kembali menoleh, Namun sosok pemilik suara tetap tidak terlihat.


Drago masih berdiri mematung di depan pesawat. Sementara Firo terus berteriak memanggilnya.


*


"Bangun sayang... bangun" Medina menggoyangkan tubuh Firo yang terus mengigau.


Keringat sudah memenuhi bagian wajah Firo, pria itu rupanya sedang bermimpi. Berulang kali ia mengigau memanggil nama anaknya berulang kali.


"Sayang, bangun" ucap Medina sedikit keras.


"Apa airnya masih kurang?" tanya Medina.


Sebelum menjawab Firo menarik napasnya dan menghembuskan dengan kasar. Dilihatnya Drago duduk di samping istrinya.


"Terima kasih, Aku sudah tidak haus" sahut Firo.


Medina mengusap keringat yang memenuhi kening Firo, "Sepertinya kamu habis bermimpi"


Firo langsung duduk dan meraih tubuh Drago dan langsung memeluknya.


"Aku bermimpi Drago sudah besar, Wajahnya sangat tampan" Firo mencium pipi anaknya.


Bayi kecil itu balas tersenyum ke arah ayahnya, "Pa... pa... pa"


"Benarkah? Lalu kenapa kamu sampai berkeringat seperti itu?" tanya Medina.


"Entahlah, Aku tidak mengerti. Tiba-tiba saja aku melihat Drago sedang dibawa oleh orang berjubah hitam. Dan aku mencoba menghalangi mereka," tutur Firo.


Medina mencoba menenangkan suaminya, "Mandilah, setelah itu makan. Mungkin yang kamu alami hanyalah bunga tidur karena terlalu banyak pikiran," ucap Medina, "Setelah itu ceritakan padaku semua beban pikiranmu, Sayang"


Firo mengangguk, Ia sangat menyukai sikap istrinya yang selalu mengerti perasaannya. Karena keseringan bersama, Medina banyak tau bagaimana perubahan wajah Firo saat ia sedang sedih atau berbahagia.

__ADS_1


***


Di Apartemen Shaka.


Shaka yang tidak mau rumah tangganya dicampuri oleh kedua orang tua dan mertuanya. Membawa Geya ke apartemen miliknya. Ia ingin hidup mandiri berdua dengan Geya.


Hari ini hari ke tujuh ia merubah kebiasaannya setiap pagi dengan tidak mengajak bermain dengan joni miliknya.


Hari pertama dilaluinya secara aman sampai hari ketiga.


Hari ke empat mulai terjadi masalah, Shaka yang biasanya bersikap tenang mulai terlihat uring-uringan bahkan Geya pernah merasakan imbasnya.


Pikirannya selalu teralihkan ke joni miliknya yang sudah empat hari tidak dimainkannya. Namun pikiran itu segera di tepisnya dan mengalihkannya dengan berlari pagi.


Hari kelima, Sama seperti hari keempat hanya saja saat malam Shaka masih takut menyentuh Geya yang masih asik membaca novel favoritnya.


"Apa yang kamu baca?" tanya Shaka mendekati Geya.


"Aku sedang membaca novel yang menceritakan seorang pebinor," sahut Geya cuek.


Geya sudah tidak mau lagi membahas masalah ranjang dengan Shaka. Baginya itu sangat memalukan sebagai seorang perempuan.


Shaka mulai lebih mendekat ke arah Geya, Namun karena keasyikan membaca Geya tidak paham dengan maksud Shaka yang mendekatinya. Shaka akhirnya mulai mundur dan lama kelamaan tertidur di sebelahnya.


Hari ke enam, Pagi- pagi sekali Shaka mulai menyibukkan diri dengan bekerja seharian di hotel dan resort miliknya. Bahkan ia berangkat bekerja di pagi buta saat istrinya masih tidur pulas dan pulang saat sudah malam hari.


Hari ke tujuh.


Tok.. tok.. tok...


"Buka pintunya, Kenapa lama sekali sih?"


Geya mengetuk pintu kamar mandi dengan keras.


Tidak ada jawaban.


"Kamu sedang ngapain dikamar mandi? ini sudah hampir satu jam. Aku harus menemui ibu jam sepuluh, Cepat selesaikan acara mandi mu!" Geya mengeraskan suaranya.


Namun tetap saja tidak ada sahutan.


Sayangnya kamar mandi di apartemen kecil itu hanya ada dua, Namun karena satu kamar mandi sedang tidak berfungsi, Geya terpaksa menyuruh suaminya agar cepat menyelesaikan acara mandinya.


Kerena tidak ada sahutan, Geya akhirnya membuka pintu kamar mandi yang tidak terkunci itu.


Kreek..


Pintu dibuka, Sementara Shaka yang sedang menunduk tidak menyadarinya.

__ADS_1


Mata Geya langsung membulat sempurna ketika melihat suaminya, "A-apa yang sedang kamu lakukan?" teriak Geya keras.


__ADS_2