
Langkah kakinya menjauhi Shaka dan Geya berdua, tak jauh dari situ ia memasuki kamar untuk mencari orang yang sudah beberapa hari tak ia temui.
Medina masuk ke kamar pembantu letaknya di ujung rumah utama.
Ruangan itu begitu kosong karena barang barang yang biasanya ada di tempat nampak tidak berada di tempatnya lagi.
Medina mencari ke lebih dalam lagi berharap malam itu ia menemukan Bi inah yang biasa menjadi teman curhatnya di rumah ini. Tetapi batang hidungnya tak ia temukan bahkan kamarnya terlihat sangat rapi nampak seperti tidak di gunakan.
Matanya teralihkan oleh sebuah catatan kecil yang ia dapatkan di balik pintu kamar Bi inah. Sebuah nomor telepon, ia lalu mengambilnya dan memasukkan ke sakunya.
Medina segera kembali ke kamarnya karena sebuah panggilan di teleponnya.
"Honey, kamu ada dimana?" suara Firo di handphonenya.
"Aku di belakang, Aku segera ke kamar sekarang," balasnya.
"Aku tunggu jangan lama-lama honey," ucap Firo.
"Iya sayang," Medina lalu mematikan teleponnya berjalan menuju kamar barunya di rumah utama.
Kemudian Medina berjalan melewati beberapa kamar pembantu lainnya.
Di kamar,
Medina memasuki kamarnya dilihatnya Firo yang sedang asik duduk di kursi mengerjakan tugas barunya yang ia kerjakan di rumah.
Medina berjalan mendekatinya, "Sayang apa yang kamu kerjakan?" Tanyanya.
Firo menoleh melihat kedatangan istrinya, "Aku sedang menyusun acara buat meeting besok".
"Dari mana saja honey, dari tadi aku menunggumu. " tanya Firo kepadanya.
"Tadi aku habis ngobrol dengan Geya calon istri Shaka," jawabnya.
Firo masih mengerjakan sambil mendengarkan Medina berbicara.
"Menurutku Shaka dan Geya sangat cocok, ternyata mereka sudah saling mengenal," jelasnya.
"Tadi aku melihat mereka sedang berdebat, lucu sekali mereka berdua seperti anak kecil," Medina bercerita sambil sedikit tertawa.
Firo masih sibuk sendiri. Dalam hati Firo bersyukur kalau mereka sampai berjodoh artinya tidak ada lagi yang menyukai Medina selain dirinya.
"Menurutmu, apa dia sangat cocok sayang?" tanya Medina.
"Siapapun wanitanya aku setuju karena Shaka tidak lagi mengganggumu," jawabnya enteng.
"Dia tidak menyukaiku, dia hanya melihatku seperti mantan tunangannya yang meninggal, Semoga saja Shaka bisa melupakan masa lalunya dan menerima Geya," kata Medina.
"Tetap saja kalau dia belum menikah, dia adalah ancaman bagiku." Firo masih berkutik dengan komputernya.
Medina sudah meyakinkan Firo tapi dia masih kepada pendiriannya.
"Sepertinya kamu sangat senang sayang bisa bekerja, "Medina memberikan secangkir teh untuk suaminya.
__ADS_1
Firo masih fokus dengan kegiatannya sementara Medina hanya melihatnya di sebelah.
"Minggu besok ikut aku mau ngga ke rumah bapak?" ajaknya kepada Firo.
Firo belum sekalipun di ajak kerumahnya, menurutnya saat ini dia sudah bisa mengajak Firo ke rumah bapaknya yang sudah sebulan tak ia tengok.
Firo berpikir sejenak, "Apa kamu tidak malu kalau mengajakku? " tanyanya.
"Malu kenapa, aku tidak peduli dengan omongan orang. lagian orang tidak ada yang mengetahui keadaaan mu sebelumnya, "
Penduduk sekitar tidak ada yang mengetahui keadaan Firo sesungguhnya. Kecuali keluarganya yang mengetahui karena bapaknya bekerja kepada Tuan Bram dari masih bujangan.
Keluarga Tuan Bram sangat tertutup yang orang tahu Tuan Bram memiliki anak yang sedang sakit. Rumahnya selalu tertutup dan sangat di awasi siapa saja yang masuk kedalamnya bahkan pembantu di rumah itu di larang keras menceritakan apapun yang berkaitan dengan rumah itu.Tuan Bram tak pernah membawa Firo berobat keluar kecuali Bi inah yang sesekali keluar secara sembunyi sembunyi.
Kalaupun mereka tau mereka tidak berani berurusan dengan keluarga Tuan Bram yang terkenal sangat dermawan dan menjadi penyumbang tetap paling banyak di daerahnya. Banyak warga yang sangat terbantu pasalnya Tuan Bram banyak menyekolahkan anak anak sekitar rumahnya yang terlantar.
Firo menghentikan kesibukannya, "Baiklah nanti minggu aku ikut denganmu honey, "ucapnya.
"Terimakasih sayang," ucap Medina sambil memeluk suaminya.
"Sayang, dari kemarin aku ngga liat Bi inah,apa bi inah sedang cuti lagi kah?" pertanyaan Medina membuat Firo enggan menjawab.
Medina merebahkan dirinya di kasur, "Tadinya aku juga mau mengajak Bi inah juga. "
Firo merapihkan pekerjaan yang sudah selesai. Lalu ikut merebahkan tubuhnya di samping Medina.
"Sayang kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan ku?" Medina menggoyangkan sedikit tubuh Firo yang tiba-tiba tertidur.
"Dia sudah kembali bersama anaknya," jawabnya singkat.
"Berapa lama Bi inah akan pulang,? "
"Bi inah mengundurkan diri, tidak bekerja disini lagi." jelasnya.
Medina terkaget, "Apa! Kenapa kamu baru bilang sekarang,? Kenapa Bi inah tidak pamit padaku?"
Firo berpikir sejenak, "Bi inah tidak sempat pamit, karena waktu pergi saat malam hari kamu masih tidur honey, tidak enak membangunkan mu. " Firo berbohong kepada istrinya.
Medina masih kurang puas dengan jawaban Firo. Menurutnya itu tidak mungkin Bi inah pergi begitu saja malam malam kalau tidak terjadi apa apa dengan dirinya.Bi inah pergi bertepatan dengan kembalinya Firo ke rumah utama.
Kedua mata Firo di alihkan ke arah lain pandangannya takut Medina curiga kepadanya.
"Sudahlah honey, jangan tanya lagi. Aku capek mau tidur." Firo mendekati Medina lalu memeluknya.
Benarkah Bi inah hanya pergi karena anaknya? tanyanya dalam hati.
Firo tertidur di dekat Medina. Sementara Medina berkutat dengan handphone dan catatan kecil di sakunya.
Medina memasukan deretan nomer telepon di handphonenya. Dia ingin menghubungi nomer itu lain waktu.
Saat Firo tertidur, ia bangun karena rasa kantuk yang belum di rasa matanya.Baru kali ini ia tak bisa tidur.
Medina masih penasaran handphone di sebelahnya kembali ia buka. Medina mencoba menelepon nomer yang baru ia simpan.
__ADS_1
Beberapa detik menunggu, panggilan telepon yang tersambung itu tak ada yang mengangkat namun bisa terhubung. Medina mencoba menghubunginya sekali lagi tapi tetap saja tak ada yang mengangkat. Medina merasa tak yakin kalau itu benar nomer Bi inah.
Akhirnya Medina kembali merebahkan dirinya di samping Firo.
***
Geya berjalan menjauhi Shaka yang masih tertinggal di belakang. Hari sudah semakin malam keluarga Pak Sam memutuskan untuk menginap di rumah Tuan Bram.
Ingin rasanya Geya pergi dari rumah itu tapi mamahnya melarang. Terpaksa ia menuruti permintaan orang tuanya.
Rumah Tuan Bram tidak jauh beda dengan rumahnya yang sama-sama besar. Geya mendapati kamar tamu yang letaknya di lantai dua.
Kalau sedang suntuk Geya tak betah di kamar, kebetulan kamarnya terdapat balkon di depannya. Geya berjalan keluar dengan menggunakan headset ia menutup kedua telinganya dengan mendengarkan lagu sambil bernyanyi.
"Hay sayangku, hari ini aku syantik
Syantik bagai bidadari
Bidadari di hatimu... "
"Hay sayangku perlakukanlah diriku Seperti seorang ratu
Ku ingin di manjakanmu.. "
Dari sebelah,
"Woii berisik! Bisa diam gak sekarang sudah malam. ganggu orang tidur," teriak Shaka.
Nyanyikan Geya terdengar ke telinga Shaka yang sedang ada di balkon kamarnya yang letaknya persis di sebelah kamar Geya.
Suara nyanyian Geya mengganggu konsentrasinya yang sedang mengerjakan tugas kantornya.
"Berisik banget tuh bocah, mana suaranya gak enak banget didengar" ucapnya.
"Hai wanita aneh.. suaramu bikin kuping pecah.. " Teriaknya lagi.
Beberapa kali Shaka teriak tak di dengar Geya yang masih menutup kupingnya dengan headset. Geya masih tetap bernyanyi.
"Emang lagi manja
Lagi pengen di manja
Pengen berduaan dengan dirimu saja.. "
Tiba-tiba sebuah buku mendarat di pangkuan Geya.
Plak.! mengenai kakinya.
"Au.. " Geya menoleh melihat siapa yang berani mengganggu dia bernyanyi.
Geya terlihat marah dan melotot ke arah Shaka yang ada di sebelah balkonnya.
"Beraninya tikus itu menggangu ku." batin Geya sambil melepas headset di telinganya.
__ADS_1