
Mata Niki terbelalak mendengar pernyataan sekretaris Andre. Sungguh bukan hal yang di inginkan nya. Padahal ia mau menikah dengan Sony hanya ingin menutupi aibnya.
"Bagaimana Pak Joko? Apa kamu mau menerimanya?" ucap Sekretaris Andre sebagai perwakilan dari Sony.
Pak Joko menoleh ke arah anaknya, Niki. Matanya seakan bertanya kepada anaknya apakah anaknya sanggup menerimanya?.
"Aku menyanggupinya," ucap Niki pelan.
Niki berpikir kalau aturan yang di buat Sony bisa ia langgar.Niki tak peduli dengan kedepannya,ia tak mau anaknya tidak memiliki seorang ayah. Sudah pasti Niki tidak mengenal jelas siapa Sony.
Di luar Niko sudah sangat geram bisa-bisanya adiknya menyanggupi permintaan bajingan di depannya. Kalau dia sebagai Niki, ia lebih baik menanggung malu dari pada menikah dengan lelaki brengsek itu. Tangannya mengepal dengan keras.
"Niki, pertimbangkan ucapan mu" teriak Niko dari luar.
Semua menoleh ke arah Niko yang berdiri di depan pintu.
"A-aku akan tetap menyanggupi permintaannya. Asal dia mau menikahi ku! " ujar Niki lagi.
Sony mendengar ucapan calon istrinya membuatnya tersenyum miring seakan mengejek.
Bodoh! batinnya.
"Terima kasih Pak Joko, Akhirnya dua kali kita menjadi besan" ucap Tuan Bram sambil mengulurkan tangannya.
Pak Joko menyalami balik tangan Tuan Bram. Bu Sari yang ada di sebelah Niki hanya bisa diam padahal perasaan di dalam hatinya merasa sangat tidak enak. Ia merasa sesuatu yang buruk akan terjadi kepada putrinya.
"Semoga anak kita bisa langgeng pernikahannya, " ucap Pak Joko.
Medina yang di sebelah Niki mencoba menguatkan adiknya. Ia akan berusaha menjaga adiknya bagaimanapun keadaannya.
"Maaf, sepertinya pekerjaan aku terlalu banyak hari ini. Aku tidak bisa berlama-lama di sini, " ucap Sony sambil melihat jam di tangannya.
"Tidak bisakah kamu meluangkan waktu sedikit saja untuk menyantap hidangan yang sudah kami sediakan, " seru Medina.
Medina tidak suka dengan sifat angkuh Sony di rumahnya. Bagaimanapun juga ibunya sudah menyiapkan sajian dengan susah payah untuk menyambut mereka.
Sony tetap kepada pendiriannya,
"Tidak bisa, pekerjaanku bisa-bisa terbengkalai kalau lama-lama berada di sini, " sahut Sony.
"Kalau begitu semua yang di hidangkan di bungkus saja, biar kita memakannya ketika di kantor" ucap Tuan Bram menengahi.
__ADS_1
Niko semakin kesal dengan sifat Sony.
"Kalau tidak di makan, ngga usah di bawa. Biar kita berikan kepada tetangga, " sahut Niko yang berada di luar. Ia sangat muak dengan muka Sony.Kalau saja ia bukan calon suami adiknya,Niko ingin sekali meludahi lelaki itu.
"Baiklah kalau tidak ada yang di bicarakan, kita akan pamit untuk pulang" ucap sekretaris Andre.
Firo yang dari dalam kamar tiba-tiba keluar,"Cepatlah pulang,Karena kalian mengganggu istirahatku" ujar Firo. Ia tersenyum sinis ke arah Sony.
Niko yang ada di luar nampak begitu senang dengan ucapan Firo barusan. Ternyata ia dan kakak iparnya itu bisa menjadi sekutu yang kompak.
"Pulang lah, bukankah ada pekerjaan yang menunggu kalian? " ucap Firo lagi kepada mereka bertiga.Kemudian Firo membuka lebar pintu yang dari tadi setengah tertutup.
Sony mendengus kesal.
Tuan Bram sebenarnya sangat tersinggung karena Firo anaknya mengusirnya dari rumah orang lain. Namun karena ia tak mau ribut di rumah orang akhirnya mereka bertiga bergegas untuk pamit.
"Baiklah Terima kasih Pak Joko sudah menerima kami disini, saya minta maaf apabila ada kata-kata dari kami yang sudah menyinggung keluarga anda, Kami pamit pulang" ucap Sekretaris Andre sambil menyalami Pak Joko dan keluarganya. Begitu juga dengan Tuan Bram.
Firo masih menatap sinis ke arah Sony yang melewatinya.Bahkan tatapan Niko lebih buas lagi dari pada Firo.
Mereka bertiga akhirnya pulang.
***
"Kalau aku menolaknya, Lalu siapa yang akan menjadi ayah dari anakku,? " ucap Niki sambil menangis.
Bu Sari mengelus punggung putrinya.
"Aku tidak mau anakku tidak memiliki ayah, " ujarnya lagi.
"Kamu harus pikirkan,seandainya kamu bercerai dengannya kamu tidak akan mendapatkan hak asuh anakmu kelak" ucap Niko keras.
"Aku ibunya, tidak ada yang berhak mengambil anakku" Niki menangis sambil memegangi perutnya.
Niko tidak tahu dengan apa lagi ia melarang adiknya menikah dengan Sony.
"Tapi kamu tidak tahu siapa Sony sebenarnya, ia bisa saja membunuh orang dengan tanpa rasa bersalah sedikitpun. Apalagi mengambil anakmu.Ia bisa saja dengan mudah mengambil nya setelah menelantarkan mu begitu saja, " ucapan Niko sengaja ia keraskan agar Niki bisa berpikir ulang.
"Lihat mukanya, begitu angkuh dirinya di depan keluarga kita. Dia belum menjadi suamimu saja sudah seperti itu, apalagi menjadi suamimu, Sadar Niki! " ujar Niko.
"Cukup, "ucap Bu Sari melerai,
__ADS_1
"Adikmu sedang hamil, kamu jangan membentaknya!" ucapnya lagi.
"Pikirkan sekali lagi Niki, sebelum kamu menikah dengan lelaki bajingan itu, " ucap Niko sedikit menurunkan suaranya sambil memegang pundak adiknya. Ia tidak mau saudara kembarnya menderita.
Firo yang dari tadi berada di kamar sudah mendengar semua apa yang di bicarakan keluarganya. Firo tidak ingin ikut campur dengan keputusan yang di ambil Niki.
Pak Joko yang sudah cukup tua tidak bisa berbuat banyak untuk putrinya.Ia tidak bisa meminta agar aturan itu di rubah. Sejak dulu Pak Joko tidak pernah melanggar apa yang sudah di perintahkan Tuan Bram.Terlebih Tuan Bram mempunyai uang yang banyak bisa saja ia memutar balikan fakta.Sudah dua kali ia merasa lemah menjadi seorang ayah.
Medina duduk di dekat adiknya,
"Tenanglah, apapun keputusanmu aku akan menjagamu dan anakmu, " ucap Medina sambil mengelus perut Niki yang masih terlihat rata.
Entah mengapa ia begitu senang memegang perut adiknya.Di dalam hatinya ia ingin sekali bisa hamil seperti adiknya. Walaupun Firo belum pernah memintanya agar cepat memiliki anak.
Pembicaraan mereka berakhir ketika Niki sudah ingin beristirahat. Ia merasa lelah hari ini. Bu Sari sangat menjaga kandungan Niki, karena anak itu adalah cucu yang di harapkannya.
***
"Sayang, "
"Hem, " sahut Firo yang sedang rebahan di kasur kamar Medina.
Medina mendekati suaminya yang sedang berbaring.
"Apa kamu menyukai bayi,"
"Apa? " Firo terkaget dengan pertanyaan istrinya.
Tumben istrinya bertanya seperti itu. Dia langsung terbangun mendekati istrinya.
"Ya, Bayi ! Seperti yang ada di perut Niki" ucap Medina menjelaskan.
Firo teringat Gio keponakannya waktu masih bayi.Dia terlihat menggemaskan.
"Aku suka" ucap Firo lalu mendekati istrinya.
"Apa kamu menginginkannya,honey? " ucap Firo sambil memainkan ujung rambut istrinya.Jaraknya sudah semakin dekat.
Medina hanya menanggapi dengan senyuman tampak malu dengan perkataan suaminya.
"Kalau begitu ayo kita buat sekarang, " Firo berbicara sangat lembut di telinga istrinya.
__ADS_1
Tangannya dengan cepat langsung mematikan lampu kamarnya.
###