
Anak berumur sepuluh tahun sedang berjalan naik melewati tangga. Buih keringat yang bercucuran setelah bermain dengan Shaka masih menetes di tubuhnya, Dengan langkah cepat karena seruan ibunya Firo kecil menuju kamar ibunya yang di berada di lantai atas.
Langkahnya belum sampai di depan pintu kamar ibunya ia sudah mendengar percakapan ibunya dengan seseorang. Firo tak sempat masuk dan menghentikan langkahnya tepat di belakang pintu yang tertutup.
"Tolong hentikan semuanya mas, aku tidak mau kamu terjerumus lebih jauh, Cukup Jovan yang menjadi korban. Aku tak mau sampai Firo dewasa bisa menjadi sepertimu," ucap ibunya sambil membenahi barang miliknya yang akan dia bawa.
Firo hanya mendengar di balik pintu, dia tidak bisa melihat apa yang terjadi di dalam. Bahkan Firo sampai mengintip di lobang kecil pintu pun tak bisa melihat dengan jelas hanya terlihat sedikit tubuh ayahnya yang sedang berdiri,
"Aku tidak bisa, ini adalah bisnis keluargaku. Kamu tidak tahu betapa susahnya dulu aku kecil. Kalau aku tidak kaya mungkin kamu juga tidak mau denganku," bantah Tuan Bram.
Firo tahu itu suara ayahnya yang ada di dalam.
"Mas aku akan menerimamu apa adanya, lagian kita masih punya bisnis yang lain mas, selain menjual barang haram itu lagi," Fira tak bisa menahan tangisnya.
"Aku hanya punya tanaman itu, Hotel dan resort selebihnya itu punya Stella,"
"Sayang berpikirlah lagi, kamu hanya perlu diam dan pura-pura tak tahu apa-apa, aku yang akan menanggung resikonya, Jangan ikut campur urusanku" ucap Tuan Bram lagi.
"Mas, berapa banyak orang yang akan mati karena mengkonsumsi barang haram itu, Aku tidak bisa diam saja mas. Aku tidak mau ada korban lainnya," tegas Fira.
"Maaf aku tidak bisa, Fira!" Suara tuan Bram sedikit mengeras.
Firo masih menguping pembicaraan mereka tanpa berani masuk.
Fira mengemasi pakaiannya, " Kalau begitu aku dan Firo akan pergi. Aku tidak bisa membiarkan anakku mengikuti cara kamu. "
"Fira, aku pinta sekali lagi kamu jangan pergi!" pinta Tuan Bram bersimpuh di kaki istrinya.
__ADS_1
"Tidak, mas! Aku akan tetap pergi," ucap Fira.
Tiba-tiba Tuan Bram menangis di hadapan istrinya. Dia memegang sesuatu di tangannya.
Tuan Bram berdiri lagi dan langsung memeluknya, "Aku mohon jangan tinggalkan aku, aku minta maaf masalah Jovan, dia sendiri yang memintanya kepadaku. Aku hanya mendistribusikan ke luar negri. Ini adalah bisnisku yang susah payah aku bangun dari kecil." Jelas Tuan Bram sambil menangis.
Firo tidak melihat jelas setelah itu, karena dia tidak bisa melihat ibunya yang tertutupi tubuh ayahnya. Yang dia tahu ayahnya sedang menangis memeluk ibunya.
Tiba-tiba sebuah benda tajam terasa menusuknya. Fira melepaskan pelukan suaminya.
"Apa yang kamu lakukan," Fira memegang lengannya yang terasa sakit seperti bekas tusukan jarum.
Tuan Bram menangis, " Maafkan aku sayang, sudah aku peringatkan agar kamu tak mencampuri urusanku tapi kamu tidak mau, aku tidak bisa membiarkanmu pergi dengan membawa rahasiaku. Kamu adalah ancaman bagiku. Dari kecil aku bersusah payah membangun semuanya. Aku tidak mau karena kamu bisnisku hancur." Nada bicara tuan Bram sangat keras tapi terdengar pelan.
Mata Fira mendelik benci menatap suaminya, "Kamu sangat jahat! Aku menyesal pernah mencintaimu." Fira memukuli dada suaminya.
"Pergilah dengan tenang, aku akan merawat Firo, " Tuan Bram mengelus wajah istrinya yang masih mencengkeram bajunya, "Aku tidak mau kamu terus menahan rasa sakit karena penyakitmu!"
Tuan Bram berjalan ke arah pintu keluar sambil menghapus air mata yang tersisa di pipinya.
Firo mengetahui ayahnya yang akan keluar segera berlari menghindar mencari tempat bersembunyi agar tidak dilihat ayahnya. Dia tidak tahu sesuatu sedang terjadi pada ibunya.
Setelah tuan Bram pergi tak begitu lama Nyonya Stella menghampiri ibunya di kamar. Sementara Firo masih bersembunyi takut ayahnya melihatnya.
"Aku sangat senang akhirnya kamu menyerah juga, Apa kamu sudah siap menjadi gembel di luar sana, " Stella mencibir mendatangi Fira yang terduduk lemas di kamarnya. Dia juga tidak mengetahui bahwa itu saat saat terakhir madunya.
Fira tidak tahu benda tajam itu ternyata racun yang sangat mematikan. Racun ditubuhnya sedang bereaksi menimbulkan pandangannya sedikit kabur ketika Stella mendatanginya.
__ADS_1
Bukannya menjawab cibiran Stella,
Badan Fira malah ambruk ke bawah, Fira ingin mengucapkan kata terakhirnya tetapi mulutnya seakan tertutup rapat ketika ingin mengeluarkan suara.Stella amat bingung melihatnya.
"Ada apa denganmu, Fira?" Stella terlihat panik dengan keadaan Fira yang tiba-tiba ambruk dan terlentang di lantai seperti orang yang sedang menemui ajalnya.
Kemudian tubuh Fira kejang-kejang matanya masih menatap Stella di depannya seakan meminta tolong kepadanya.
Stella sangat ketakutan dia tidak mau mengambil resiko, melihat itu Stella lalu keluar dari kamar dengan tergesa-gesa. Di tengah jalannya dia bertemu Firo yang hendak menuju kamar ibunya.
Karena ketakutan Stella berjalan sangat cepat tak menoleh kepada Firo. Sedangkan Firo langsung mempercepat langkahnya.
Pintu kamar ibunya tak tertutup rapat, Firo membuka dan mendapati ibunya sudah tergeletak tidak bernyawa di lantai.
Firo berpikir ibunya hanya pingsan, dia mencoba membangunkan ibunya dengan berbagai cara tapi sayang ibunya tak segera sadar.
Karena tangisannya tak butuh waktu lama semua orang berdatangan ke kamar ibunya.
"Ibu...... ibuuuu.... bangun bu.. "
"Bu bangun bu.. "
***
Firo tersadar dari mimpinya. Diusapnya keringat yang membasahi keningnya. Waktu menunjukan pukul dua malam, Firo melihat Medina masih tertidur pulas di sebelahnya.
Ingatannya kembali terungkap, Karena haus dia meminum habis gelas yang berisi air yang di taruh di nakas sebelah kasurnya. Firo kembali mengatur nafasnya dan bangun dari tempat tidurnya.
__ADS_1
Udara malam menyambut tubuhnya yang baru keluar dari kamarnya. Dengan masih memakai pakaian tidur Firo berjalan menuju tempat yang dia tuju untuk meluapkan amarahnya.
Keadaannya sama seperti dia baru mengetahui kematian ibunya.