Menikahi Pria Gila

Menikahi Pria Gila
Shaka 4


__ADS_3

Shaka Demetrio seorang pria keturunan indo spanyol. Dari kecil Nyonya Stella mengirim Shaka ke singapore untuk bersekolah. Nyonya Stella sengaja menjauhkan anaknya dari Firo yang dinyatakan gila waktu itu.


Shaka kembali ke indo sudah hampir setahun yang lalu tepatnya sebulan setelah Firo menikah.


Kakeknya Shaka yang bernama Hugo Demetrio, seorang pengusaha kaya raya. Kekayaannya bahkan tak habis sampai tujuh keturunan. Kakeknya sendiri yang menjodohkan Shaka dengan Geya.


Karena tidak banyak kerjaan, Shaka kembali memikirkan pernikahannya yang akan dilakukan minggu depan.


"Bagaimana kalau Geya seperti Clara? Apa ia akan menerima ku?" gumam Shaka di dalam hati sambil melamun.


***


Beberapa minggu yang lalu,


Clara, Gadis berpenampilan seksi dan tercantik di bar selalu penasaran dengan sikap cuek Shaka kepadanya. Sudah sejak sekolah ia menyukai Shaka dan selalu berniat menggodanya. Namun Shaka selalu mengacuhkannya. Tidak ada lelaki manapun menolak Clara kecuali Shaka.


Malam itu seperti biasa kalau sedang jenuh Shaka selalu mengunjungi bar. Selain bersenang senang, Shaka juga sering bertemu dengan rekan bisnisnya di sana.


"Bagaimana kabarmu, Shaka?" tanya Clara mendekati Shaka.


"Seperti yang kamu lihat," sahut Shaka.


"Apa kamu tidak minum alkohol lagi?" tanya Clara.


Shaka menggeleng.


Dulunya Shaka adalah seorang pemabuk karena frustasi ditinggal mati tunangannya.


Terakhir mabuk, Shaka mengalami kecelakaan karena mobilnya menabrak pembatas jalan. Beruntung nyawa Shaka waktu itu bisa ditolong oleh Sekretaris Karan yang mengikuti Shaka dari belakang.


Semenjak mengalami kecelakaan, lambat laun kebiasaan buruknya ia rubah. Bahkan Shaka sengaja membangun bisnis minuman tanpa alkohol agar ia tetap bisa menikmati minuman keras tetapi tidak memabukkan.


"Minumlah! Minuman ini tidak beralkohol" ujar Clara memberikan segelas minuman kepada Shaka.


Malam itu untuk kedua kalinya Clara memberinya obat perangsang di dalam minuman. Yang pertama gagal karena Firo yang tak sengaja meminumnya. Sekarang yang kedua, ia mencoba kembali memberinya kepada Shaka.


Shaka lalu meraih dan meminumnya. Ia tak mencurigai sedikitpun kepada Clara.


Beberapa menit berlalu Clara akhirnya membawa Shaka ke dalam kamar hotel. Clara sudah berhasil memberi obat perangsang kepada Shaka dan membuatnya terangsang.


"Kamu mau kemana?" tanya Clara.


Baru saja masuk ke dalam kamar hotel, Shaka langsung buru-buru menuju kamar mandi.


"Terima kasih sudah memesan hotel untukku! Kamu tunggu di sini dulu," ucap Shaka berlari menuju ke kamar mandi.


"Baiklah aku tunggu di sini" Clara sambil tersenyum menunggunya di kasur.

__ADS_1


Sebentar lagi aku akan memilikimu, Shaka. Batin Clara.


Clara merebahkan dirinya di kasur sambil menunggu Shaka.


Mungkin ia mau membersihkan tubuhnya dulu sebelum bermain. Pikir Clara.


Clara sengaja menggunakan pakaian yang hampir terbuka malam itu. Karena ia tahu malam ini Shaka akan ke bar menemui kliennya.


Sudah menunggu hampir satu jam sambil tiduran, Clara menunggu di kamar. Tapi Shaka tetap tidak keluar juga.


Sebaiknya aku ke kamar mandi. Ucap Clara dalam hati.


Akhirnya ia putuskan untuk menemui Shaka.


"Shaka, Apa kamu masih lama di kamar mandi?" Clara berbicara di depan pintu kamar mandi, "Aku menunggumu dari tadi!" tambahnya.


"Ya, sebentar lagi" sahut Shaka dari dalam.


Clara tidak tau kalau Shaka sedang bermain solo di kamar mandi.


Kenapa dia lama sekali? Bukankah obat itu mujarab? batin Clara.


Hampir satu jam lebih dikamar mandi, akhirnya Shaka keluar juga.


Melihat Shaka yang baru keluar, Clara langsung menghampirinya, "Kalau kamu mau, Kamu boleh memiliki ku malam ini"


Baru sebentar bibir itu bertautan, Shaka mendorong dengan kasar bahu Clara.


"Berapa kali lagi kamu mau menjebak ku?" ketus Shaka.


Clara kaget dengan kelakuan Shaka barusan.


Bukankah obat itu mujarab? Kenapa Shaka tak bereaksi?


"Mulai sekarang kita tidak usah berteman lagi. Aku tidak suka dengan caramu yang licik sengaja menjebak ku agar bisa tidur denganmu!"


Shaka lalu bergegas keluar dari kamar hotel.


"Shaka aku melakukan itu karena aku menyukaimu! Apa obat itu tidak bereaksi terhadapmu?"


Clara masih memikirkan kalau ia sudah pastikan obat itu terminum oleh Shaka.


Shaka menelan ludahnya. Bukannya tidak bereaksi hanya saja Shaka tidak tertarik melakukan hal itu bersama Clara. Walaupun sudah diberi obat perangsang, Shaka lebih memilih bermain solo dari pada tidur dengan Clara.


"Kamu sama saja seperti wanita murahan lainnya yang ingin menjebak ku!" tegas Shaka.


Shaka sudah pernah dapat perlakuan seperti ini sebelumnya namun beberapa wanita akhirnya mundur secara pelan ketika tau kalau Shaka tidak normal.

__ADS_1


"Jadi benar kata wanita lain kalau kamu adalah pria impoten. Pantas saja walaupun kamu tampan, Tidak ada satupun wanita yang ingin mendekatimu!" hina Clara.


***


"Tuan, Ini berkas yang harus anda tanda tangani," sekretaris pribadi Shaka menyodorkan sebuah kertas di meja Shaka.


Kedatangan Sekretaris Karan membuyarkan lamunan Shaka.


"Terima kasih, Sekretaris Karan." Shaka mengambil berkas itu lalu menandatanganinya.


"Tuan,"


"Yah," sahut Shaka.


"Aku dengar anda mau menikah?" tanya Sekretaris Karan masih berdiri di depan Shaka.


Shaka menghentikan tangannya yang sedang menulis, "Dari mana anda tau? Kalau minggu depan aku mau menikah?"


Shaka kembali berpikir sejenak, "Oh.. Aku lupa! Anda kan selalu tau semuanya tentang aku. Pasti yang memberitahu berita itu adalah mommy?"


Sekretaris Karan mengangguk.


Dari kecil Sekretaris Karan selalu mengikuti kemanapun Shaka pergi, Termasuk ikut dengannya ke singapore. Dari bayi bahkan ia yang mengurusi Shaka layaknya Baby sitter. Nyonya Stella membiarkan pria itu mengurusi anaknya.


"Menurut anda apa Geya cocok denganku?" tanya Shaka.


Dalam hal apapun Shaka selalu minta pendapat dari pria tua disebelahnya.


"Gadis itu wanita baik-baik. Aku setuju anda menikah dengannya, Tuan. Hanya saja.." Sekretaris Karan memotong pembicaraannya.


Sekretaris Karan bahkan mengetahui siapa Geya dan keluarganya. Jelas tidak salah kakeknya menjodohkan mereka. Karena Tuan Sam, Ayahnya Geya adalah rekan bisnisnya.


"Hanya saja apa? Apa diam-diam anda juga sudah menyelidikinya?" tanya Shaka.


Sekretaris Karan hanya tersenyum menanggapinya, "Aku selalu tau semua tentang anda, Tuan!"


Shaka sudah tau tabiat sekretarisnya itu. Semua pasti diketahuinya.


Sekretaris Karan dulunya bekerja kepada Tuan Hugo, kakeknya Shaka. Bahkan tidak ada yang mengetahui kalau ia dan Stella dulunya sempat berpacaran.


"Setelah aku menikah apa anda akan berhenti bekerja padaku? Seperti janjimu padaku dulu?" tanya Shaka.


Sebenarnya Shaka menyuruh Sekretaris Karan agar pensiun dan menikmati masa tuannya. Namun pria itu bersikukuh tetap ingin bekerja kepadanya sampai kapanpun. Bahkan ia rela tidak menikah demi terus bekerja dan mengkuti Shaka kemanapun.


"Apa anda mengusirku, Tuan?" tanya Sekretaris Karan.


"Aku hanya ingin kamu juga bahagia. Setelah aku menikah, Anda harus segera pensiun!"

__ADS_1


__ADS_2