Menikahi Pria Gila

Menikahi Pria Gila
Taman Samping


__ADS_3

Detak jantung Medina berdetak lebih cepat dari biasanya. Dalam bayangannya masih terlintas bagaimana barusan dia seperti sedang menjadi buronan.


"Cepat ganti bajumu, bajumu sudah basah, nanti kamu bisa sakit" Firo mengambil baju berniat untuk membersihkan diri langsung ke kamar mandi.


Sementara Medina masih mengatur nafasnya. Masih terlintas jelas dirinya seakan sedang bermain petak umpet. Hari ini begitu melelahkan baginya.


Memori Medina mengulang lagi saat dia masih kecil bersama bapaknya saat masih bekerja di rumah ini. Saat itu Medina kecil sedang mengejar kupu-kupu, dia yang sangat takjub melihat sayap Kupu-kupu yang berwarna warni membuatnya mengejar sampai ke area samping. Bapaknya yang mengetahui itu langsung memarahinya agar jangan sampai masuk ke area itu lagi. Alasannya belum Medina mengerti sampai sekarang.


Tak begitu lama terdengar ada seseorang yang mengetok pintu kamarnya membuyarkan lamunannya.


Tok.. tok.


Ketukan pintu terdengar dari luar. Medina yang dari tadi termenung langsung terperanjat.


Pintu bercat putih itu pun di bukanya, terlihat sosok asisten pribadi Tuan Bram sedang berdiri di depan pintu kamarnya.


"Selamat malam Nona"


"I-iya ma-malam juga, Ada perlu apa ya?" Medina yang terkaget berbicara sambil terbata.


"Maaf, Nona. Saya hanya memastikan anda dan Tuan Muda ada di kamar, soalnya dari tadi siang saya tidak melihat anda dan Tuan Firo ke luar"


"Tadi siang saya hanya di dalam. Kita sedang bermalas-malasan tidak ingin keluar kamar" Medina sambil senyum-senyum mencari alasan yang kongkret agar asisten pribadi Tuan Bram percaya.


"Baiklah kalau begitu Nona, Maaf kalau saya sudah mengganggu istirahat Nona malam ini, saya cuman menyampaikan pesan dari Tuan Bram, Menurut beliau sebaiknya anda menjauhi atau mendekati area perkebunan samping karena di sana banyak sekali ular berbisa ditakutkan anda bisa terluka!"


Mata Medina langsung terbelalak mendengar perkataanya.

__ADS_1


"Ooo... ya.. aku tidak akan ke sana la..maksudku aku tidak akan mendekati area itu," sahut Medina.


"Terima kasih, Nona. Klau anda sudah mengerti, kuharap anda dan Tuan Muda bisa mematuhinya "


"Tuan Muda Firo ada dimana Nona?" Asisten itu mencari-cari Firo.


"Dia sedang mandi," jawab Medina.


"Mohon maaf atas ketidak nyamanan nya, Kalau begitu saya pamit undur diri, Nona" Asisten itu lalu pergi meninggalkannya.


Setelah asisten itu pergi, Medina kembali menutup pintunya dan kembali duduk di tepi kasur. Firo yang baru keluar dari kamar mandi mendekatinya.


"Bajumu basah terus kenapa kamu melamun terus, ganti bajumu, Honey. Nanti kamu masuk angin,"


"Tadi ada asisten Daddy datang kemari"


"Kapan dia datang"


"Lalu apa yang dia sampaikan" Firo mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Dia memberitahu kita agar tak mendekati area taman samping, Aku juga ingat saat aku kecil bapak aku juga sering melarang ku memasuki area itu,


Firo..aku penasaran apa yang membuat Tuan Bram sampai tidak memperbolehkan siapapun masuk ke area itu, Apa kamu tahu alasannya?" tanya Medina.


"Firo, dengarkan aku" Medina menarik handuk Firo yang masih asik mengeringkan rambutnya membuat dia tidak memperdulikan Medina berbicara.


"Honey, kalau gitu turutin saja apa yang Daddy mau, terus kamu tidak perlu memikirkan sampai sejauh itu, itu bisa memperpendek umurmu" Firo merebahkan dirinya di kasur.

__ADS_1


" Maksudmu?" Medina tambah penasaran.


"Maksudku kalau kamu banyak pikiran, nanti kamu tambah tua, terus... " Firo tidak melanjutkan perkataanya karena Medina sudah mencubit pahanya.


"Auu.. jadi istri seneng banget nyubit si!" gerutu Firo.


Sebenarnya bukan itu yang Firo maksud, dia hanya ingin Medina tidak terlalu terlibat urusan ayahnya.


"Maksudmu.. nanti aku cepat mati gitu...?" Medina langsung naik pitam.


"Aku tidak mendoakan kamu mati, Honey. Tapi aku tidak mau kamu memikirkan hal-hal yang tidak perlu kamu pikirkan," ucap Firo tersenyum miring.


"Sudahlah cepat kamu mandi, kalau tidak aku akan.." Firo kembali terbangun mendekati wajah Medina.


"Mesum!" Medina menutupi muka Firo dengan handuk di tangannya. Lalu dengan langkah cepat Medina langsung berjalan menuju kamar mandi.


***


Tuan Bram.


"Bagaimana apa kamu sudah memperingati Medina" Sambil menghisap rokok Tuan Bram berbicara di ruang kerjanya.


"Sudah Tuan, menurut pandangan aku gadis itu tidak akan berani ke sana lagi"


"Lalu bagaimana dengan Firo? "


"Tadi saya belum menemuinya, Tuan"

__ADS_1


"Kalau begitu kamu awasi mereka, jangan sampai mereka tahu"


"Aku yakin anak itu sudah sadar kembali" Ucap Tuan Bram dalam hati sambil terus menghisap rokoknya.


__ADS_2