Menikahi Pria Gila

Menikahi Pria Gila
Menuju Rumah Sony.


__ADS_3

"Apa benar kamu suamiku?" tanya Medina.


"Yah," Sony menjawab dengan singkat.


"Sepertinya kita sedang di hutan?" ucap Medina.


"Ya, kita sedang di hutan," jawab Sony lagi.


"Kenapa kita berada di sini?" tanya Medina lagi.


"Sudahlah jangan banyak bertanya, ikuti saja aku" ujar Sony mendengus kesal.


Mereka berjalan mencari jalan setapak. Sony terus berjalan sambil menyeret kakinya. Terasa sangat sakit namun ia berusaha agar terus berjalan keluar hutan.


Tidak jauh dari situ terlihat jalan setapak, "Kita harus berjalan sampai sana lalu mencari mobil untuk kita tumpangi," ucap Sony.


Medina mengikuti Sony di belakangnya yang berjalan sambil terpincang.


Mereka sudah sampai jalan setapak. Dari arah jauh terlihat mobil bak terbuka pengangkut sayuran.


Sony lalu menyetopnya, " Pak, antarkan kami ke kampung atas," ujar Sony kepada sopir. Mobil bak terbuka sudah ada di depan Sony.


Awalnya sopir itu ragu membawa mereka menumpang ke mobilnya mengingat penampilan mereka yang mengerikan. Baju mereka sangat kotor ditambah bercak darah masih terlihat di bajunya. Wajah Sony masih mengeluarkan darah walaupun sudah di bersihkan dengan air sungai tadi. Medina masih menunggu di belakang.


Sony segera melepas jam tangannya untuk di berikan kepada sopir.


"Jam tangan ini bernilai jutaan, kalian bisa menjualnya asalkan antar kami sampai ke depan rumahku," ucap Sony kepada sopir.


Sopir yang duduk bersama keneknya di depan saling memandang. Setelah sopir itu memeriksa jam tangan itu ia mau membawa mereka berdua.


"Benar, Ko! Jam tangan ini asli. Kita bisa menjualnya lagi," ucap kenek meyakinkan sopirnya.


Akhirnya sopir menyetujui.


"Kalau begitu naiklah ke belakang, katakan dimana alamat lengkapnya, kami akan mengantarkannya," ucap sopir memberikan secarik kertas kepada Sony agar menuliskan alamatnya.


Setelah menulis alamat rumahnya Sony memberikan lagi kepada sopir.


"Kita naik mobil ini menuju rumah kita," ucap Sony menghampiri Medina yang dari tadi menunggu di belakang.


Medina menuruti ucapan Sony lalu naik ke mobil bak terbuka


bersamanya.


Dengan begitu kesusahan Sony naik ke atas mobil. Sony akan pulang ke rumahnya yang berada di puncak. Tak ada yang mengetahui kalau Sony punya rumah di sana termasuk Tuan Bram dan istrinya.

__ADS_1


Satu jam perjalanan akhirnya mereka sampai di depan rumah Sony. Rumah yang begitu sejuk dan asri. Rumah itu letaknya terpisah dari rumah lainnya. Kondisinya terlihat sangat sepi karena tak berpenghuni.


Setelah mengucapkan Terima kasih kepada sopir yang mengantarnya Sony lalu memasuki rumah itu bersama Medina.


"Rumah siapa ini?" tanya Medina kepada Sony.


"Ini rumah kita," sahut Sony sambil membuka pintu rumah.


Walaupun rumah itu tidak di huni, rumah itu sangat terawat karena Sony menyuruh salah satu penduduk sekitar merawatnya.


"Tuan sudah pulang," seru Agung dari belakang. Agung adalah pembantu Sony yang di tugaskan merawat rumahnya.


Sony lalu menghampiri Agung dan berbisik di telinganya, "Wanita di sampingku itu adalah istriku. Kalau ada yang mencari ku jangan beritahu kalau aku disini. Dan satu lagi kamu jangan sekali-kali menjawab pertanyaan orang asing yang bertanya tentang aku, kamu mengerti!" tegas Sony di telinga Agung.


"Iya tuan beres, aku baru tahu istri tuan sangat cantik," bisik Agung.


Sony tersenyum menyeringai.


"Kenapa dengan kalian berdua Tuan, sepertinya anda terluka?" tanya Agung.


"Jangan banyak bertanya! Pergilah, carikan aku obat untuk menyembuhkan lukaku, dan belikan aku makanan aku sangat lapar," ucap Sony kepada Agung.


"Baik, Tuan! Aku akan segera kembali membawakannya," Agung menunjukan jempolnya ke arah Sony.


Medina memperhatikan mereka dari pintu. Tak lama Sony kembali berjalan ke arahnya.


Medina memasuki rumah yang terasa begitu asing. Mereka berjalan memasuki rumah.


"Ini kamarmu," ucap Sony menunjuk sebuah kamar.


Medina membuka pintu kamar lalu memasukinya, ia begitu sangat lelah.


"Kalau ada perlu apa-apa kamu bisa menyuruh Agung orang yang tadi di luar," ucap Sony.


"Tunggu, bukankah kalau suami istri akan tinggal sekamar?" tanya Medina.


"Tidak, kamarku di ujung," Sony buru-buru menutup pintu kamar Medina lalu meninggalkan Medina bergegas menuju kamarnya.


Sony menarik nafas panjang. Sony dengan kasar merebahkan dirinya di kasur.


"Bodoh! Kenapa aku harus membiarkan wanita itu hidup, harusnya aku membunuhnya," gumam Sony sambil mengacak acak rambutnya.


"Sebenarnya apa yang di rencanakan wanita ****** itu. Aku tidak yakin dia benar-benar amnesia," Sony berfikir keras di kamarnya.


"Baiklah tunggu waktu yang pas aku akan membunuhmu, wanita jalan*" ucap Sony tersenyum miring.

__ADS_1


"Ah..luka ini," Sony membersihkan luka di muka dan kakinya menggunakan alkohol dan kain yang ada di kotak obat kamarnya.


Terasa perih namun ia tahan agar luka itu tak menjadi infeksi. Sony tak ingin pergi ke rumah sakit, ia tak mau sampai ada orang yang mengenalinya.


Selang setengah jam,


Tok.. tok.. tok.


"Tuan, makanannya sudah siap di meja makan," ucap Agung dari luar kamarnya.


Sony sudah mengganti bajunya ia juga sudah membalut mukanya dengan kain kasa. Sony lalu keluar menuju meja makan.


Medina sudah ada di meja makan dia tengah mempersiapkan makanan yang sudah di beli Agung.


"Makanannya sudah siap," ucap Medina tersenyum ke arah Sony.


Sony yang berasa lapar langsung duduk di meja makan.


"Tuan, ini obat yang sudah di beli" ucap Agung menyodorkan obat yang di belinya kepada Sony.


Sony masih memperhatikan tingkah laku Medina.


"Dia begitu tenang, aku tidak yakin dia sedang berpura-pura amnesia," gumam Sony.


"Apa obat ini untukku?" tanya Medina.


"Ambil saja," sahut Sony Karena lapar ia langsung melahap makanan di depannya.


Medina duduk lalu memakan makanan di depannya. Kepalanya masih berasa pusing. Medina tak berselera dengan makanan itu. Dengan sangat terpaksa ia melahap perlahan makanannya.


"Hoek,"


Baru beberapa suap Medina memuntahkan kembali makanan tepat di piringnya.


Brak,


Sony menggebrak meja dia begitu marah, Perutnya sangat mual melihat muntahan di piring Medina.


"Kenapa kamu begitu jorok," teriaknya.


"Maafkan aku, suamiku" ucap Medina.


"Kamu membuatku tak berselera makan,"


Sony mendengus kesal. Dengan sangat marah ia meninggalkan meja makan meninggalkan Medina sendiri.

__ADS_1


Medina tersenyum menyeringai.


__ADS_2