Menikahi Pria Gila

Menikahi Pria Gila
Menjenguk Bayi Niki


__ADS_3

"Selamat atas kelahiran bayimu ya, Niki" ujar Medina kepada Niki, "Bayimu sangat lucu," tambahnya lagi.


Medina mengelus dengan lembut pipi bayi laki-laki yang mungil itu.


"Terima kasih, Kak" sahut Niki, "Aku juga sudah ngga sabar menunggu anak kakak lahir."


Dengan diantar Firo, Medina dan Ny.Vika berkunjung menemui Niki yang baru melahirkan di rumah Bu Sari. Walaupun sudah lama mengabari kalau ia masih hidup, Baru sekali ini semenjak kecelakaan itu, Medina berani berkunjung lagi ke rumah orang tua angkatnya.


Ketika mendengar Medina masih hidup, Keluarga Pak Joko begitu sangat histeris dan bahagia, Terutama Niko sangat bahagia.


Niko menyambut Medina senang dengan kedatangan kakaknya. Kebahagiaannya bertambah ketika melihat kakaknya yang sedang mengandung. Niko sangat bahagia karena dia akan menjadi paman dari dua ponakannya.


Niko bersama Firo dan Pak Joko bercengkrama di ruang tamu. Sementara Medina, Ny.Vika dan Bu Sari berada di kamar bersama Niki yang sedang bersama bayinya.


Nyonya Vika dari tadi tak henti-hentinya mengucapkan Terima kasih terhadap keluarga Pak Joko. Kalau bukan mereka yang menyelamatkan anaknya, Mungkin Medina tidak akan hidup sampai sekarang.


"Terima kasih Bu Sari sudah membesarkan anakku, Sampai sebesar ini" ucap Ny.Vika.


"Sama-sama aku sangat senang merawatnya. Justru Medina banyak membantu keluarga kami," sahut Bu Sari sambil tersenyum, "Aku sudah menganggapnya seperti anakku sendiri," tambahnya.


Dengan perut buncitnya, Medina mengendong bayi mungil itu. Dengan lembut Medina mengusap lembut mulut bayi yang sedang menguap itu.


"Sepertinya, Bayi di perutku sudah ngga sabar pengen cepat keluar bermain dengan anakmu, Niki" seru Medina. Dari tadi anak yang di dalam perutnya bergerak sangat aktif ketika ibunya menggendong sepupunya.


Bu Sari tersenyum sambil mengelus perut buncit anak angkatnya itu, "Berapa usia kandungan mu, Nak?" tanyanya.


"Mendekati tujuh bulan, Bu!" sahut Medina.


Sepertinya tidak lama lagi anak ini lahir. Batin Bu Sari.


"Kalau begitu ibu akan mengadakan syukuran tujuh bulanan anakmu dan anak Niki di rumah ini," seru Bu Sari.

__ADS_1


"Aku setuju, Bu Sari. Ibu atur saja!" sahut Ny.Vika menanggapi.


Ny.Vika kurang begitu tau tradisi di Indonesia. Bahkan dia dan dan Bu Sari berbeda keyakinan.


Bayi laki-laki yang di gendong Medina segera ia kembalikan ke pelukan ibunya, Setelah bayi itu menangis karena haus. Niki lalu menyusui bayinya itu di kasur.


"Medina, ibu harus memberitahukan semuanya kepadamu sekarang," ucap Bu Sari mengajak mereka berdua duduk.


Karena ucapan Bu Sari. Medina dan Ny.Vika duduk mendengarkan Bu Sari yang sepertinya ingin berbicara penting kepadanya.


"Ceritakan, Bu. Aku siap mendengarkannya" sahut Medina.


Mereka bertiga duduk di depan Niki yang sedang menyusui. Kebetulan di kamar itu terdapat sofa. Sambil menyusui Niki memperhatikan mereka.


"Beberapa bulan yang lalu, Pria yang mengantarkan Meysa waktu kecil kepadaku. Datang menemui ku," Bu Sari menghela nafas panjang.


Medina mendengarkan ucapan Bu Sari dengan seksama.


"Seorang pria tua mendatangi ku dan baru mengatakan semuanya setelah Medina dikabarkan meninggal saat kecelakaan itu,"


Mendengar itu Ny.Vika dan Medina langsung terperanjat, "Ceritakan lagi Bu semuanya."


Pelan-pelan Bu Sari mulai menceritakan semuanya dari awal ia bertemu dengan Medina yang ternyata adalah Meysa. Dari cerita Bu Sari, Sedikit demi sedikit Medina mulai mendapat titik terang.


"Saat Jovan meninggal. Atas perintah Tuan Bram, Dia juga di suruh menghabisi Meysa yang sedang tak sadarkan diri karena terbentur batu. Di saat Tuan Bram sudah meninggalkan mereka, Pria itu hendak membunuh Meysa. Sayangnya saat hendak di bunuh, Pria itu mengetahui kalau Meysa hilang ingatan. Pria itu tidak jadi membunuh Meysa. Ada perasaan tidak tega melihat Meysa yang waktu itu berlaku baik terhadapnya,"


"Sampai akhirnya karena tidak tega pria itu merawat Meysa dan dibawanya kerumahnya. Sayangnya dia tak mau di curigai Tuan Bram. Pria itu menyerahkan kepadaku Meysa yang baru berumur lima tahun untuk aku rawat. Saat itu dia tak menceritakan semuanya kepadaku. Hanya meminta padaku untuk merawat Meysa yang waktu itu hilang ingatan. Karena tak tau namanya. Aku memberinya nama Medina," ucap Bu Sari, sambil mengingat kejadian dua puluh tahun yang lalu.


Nyonya Vika menggenggam erat tangan putrinya di sebelahnya sambil mendengarkan cerita Bu Sari yang dengan sangat gamblangnya menceritakan semuanya.


"Beberapa bulan yang lalu ia menemui ku lagi. Aku sempat tidak mengenalnya. Pria itu sudah sangat tua, Menurut ceritanya dia sudah tidak bekerja bersama Tuan Bram lagi. Sekarang keadaan pria itu sedang sakit keras. Setiap hari pria itu di bayangi rasa bersalah karena telah membunuh Jovan. Dia datang menemui ku mengatakan semuanya," ujar Bu Sari.

__ADS_1


"Sayangnya pria tua itu baru menyesali perbuatannya sekarang. Tadinya aku ingin menceritakan kepadamu, Nak. Namun saat itu kamu dikabarkan meninggal. Ibu tak berani memperkarakan pria itu ke pengadilan sendiri.


"Berarti dia bisa memberitahukan semuanya di pengadilan nanti?" sela Medina.


Bu Sari mengangguk. Sudah lama ia ingin menceritakan semuanya, "Dia ingin mempertanggung jawabkan perbuatannya,"


Tiba-tiba,


"Kalau begitu dimana pria itu sekarang, Aku akan menemuinya?" ucap Firo yang mendadak muncul masuk ke kamar.


Rupanya dari tadi ia sudah menguping pembicaraan mereka. Firo tidak enak memasuki kamar karena Niki sedang menyusui. Setelah Niki selesai menyusui barulah Firo berani masuk.


Firo mendekati Medina yang sedang duduk.


"Katakan kepadaku, Bu. Dimana alamat pria itu?" pungkas Firo.


Bu Sari langsung beranjak dari kursinya, "Sebentar, sebelum pergi pria itu memberikan sebuah alamat tempatnya tinggal sekarang."


Bu Sari lalu keluar dari kamar Niki mengajak Firo mengikutinya.


Niki yang dari tadi tidak ikut bicara sama sekali hanya memperhatikan mereka.


Bu Sari menuju kamarnya mengambil catatan kecil yang ditinggalkan pria itu. Selang beberapa menit mencari akhirnya Bu Sari menemukannya.


"Pria itu memberikan alamat ini kepadaku sebelum pergi," ucap Bu Sari memberikan secarik kertas berisi tulisan alamat rumah kepada Firo.


"Terima kasih, Bu. Aku akan secepatnya menemui pria tua itu," sahut Firo. Ia menggenggam erat sebuah catatan di tangannya.


"Nak, Maafkan aku harus mengatakan semuanya. Aku tahu ini berat buatmu," ujar Bu Sari.


"Justru aku sangat berterima kasih kepadamu, Bu! Dengan bukti ini akan semakin kuat menjatuhkan ayahku ke penjara. Dia harus menerima semua akibat dari kesalahannya" seru Firo.

__ADS_1


Bu Sari memegang pundak Firo.


Semoga pria ini mau mengakui kesalahannya di depan polisi. Batin Firo.


__ADS_2