
Geya tidak berani menoleh sedikitpun ke arah Shaka yang sedang merebahkan dirinya di kursi. Dia tidak tahu kalau tadi sore di jalan dia ternyata berurusan dengan presdirnya dari kantor pusat.
Shaka yang tampak kelelahan tidak memperdulikan office girl yang dari tadi menyembunyikan mukanya berlalu lalang di depannya.
Karena takut ketahuan, Geya buru-buru pergi dari ruangan itu. Namun keburu di hentikan Shaka.
"Hai kamu, Tolong bawakan aku secangkir kopi" Shaka berbicara kepada Geya yang hanya menampakan punggungnya hendak keluar.
"B-baik Tuan" Geya lalu bergegas pergi meninggalkan ruangan menuju ke ruang pantry.
Setelah kopi sudah di buat dia mencari-cari partner kerjanya agar memberikan kepada presdirnya, karena dia takut menemui presdirnya lagi.
"Mimi.. sebaiknya kamu saja yang antarkan kopi ini kepada Tuan Presdir, Aku kebelet mau ke toilet"
Geya memberikan nampan dan kopinya kepada Mimi.
"Baiklah untuk kali ini saja Geya, Sebenarnya aku takut karena Tuan Presdir kita yang dari kantor pusat orangnya terkenal sangat dingin dan perfeksionis, jangan sampai kita membuat kesalahan. Apa tadi kamu sudah melihatnya? " Ucap Mimi.
Geya mengangguk.
"Apa itu benar? "
"Beberapa bulan yang lalu, ada karyawan yang tidak bersih membersihkan ruangannya sampai di pecat, sebenarnya dia sangat tampan, tapi sayang salah dikit saja kita bisa dipecat," ucap Mimi.
Mendengar pernyataan temannya Geya sampai menggigit bibir bawahnya.
"Aku janji, kali ini saja"
Setelah Geya ke toilet, Mimi bergegas melaksanakan tugasnya.
"Permisi Tuan, ini kopinya Tuan" Mimi memasuki ruang presdirnya dan menaruh secangkir kopi di mejanya.
"Terimakasih," ucap Shaka tanpa menoleh.
Shaka masih berkutik ke laptopnya.
karena rasa kantuknya dia mulai meminum kopinya.
Bruussssssss..
"Kopi apaan ini" Shaka menyemburkan kopinya tepat ketika Mimi hendak keluar.
__ADS_1
"Kamu, kesini"
"I-iya t-tuan " Dengan perasaan takut Mimi mendekat.
"Coba kamu minum kopinya"
"B-baik Tuan" Mimi langsung menyeruput sedikit kopi yang di suguhkan nya.
Mimi menelan ludah dalam-dalam, kopi yang Geya buat terasa begitu asin.
"Kamu mau meracuni ku?" bentak Shaka.
"Maaf, Tuan! Bukan aku yang membuat kopinya, S-saya hanya mengantarnya" Mimi terlihat ketakutan.
"Apa..!! kalau bukan kamu, lalu siapa, panggil dia kesini" bentak Shaka membuat moodnya tidak membaik malam ini.
"Tunggu sebentar, Tuan!" Mimi lalu berlari keluar hendak memanggil Geya.
Lima menit kemudian.
Jantung Geya berdetak sangat kencang, entah apa yang ada di pikirannya sampai-sampai dia keliru antara gula dan garam. Belum lagi dia takut kejadian sore tadi pasti akan di ungkit presdirnya ketika tahu.
Tunjuk Mimi.
Geya masih menunduk.
"Tunggu, sepertinya aku mengenalmu" Shaka memperhatikan wanita di depannya.
Tubuhnya mungil dengan rambut di ikat kebelakang berwajah cantik. Wanita didepannya memakai seragam bertuliskan Kokom.
"Kamu... " ujar Shaka, "Bukannya kamu yang tadi sore"
Geya mengangkat kepalanya pelan. Sambil tersenyum.
"Berani sekali kamu menampakan diri di ruangan ku"
"Maafkan atas kesalahanku, Tuan! tadi aku salah menaruh gula dengan garam" Geya mulai membuka suara, "Aku juga minta maaf karena tidak tahu ternyata anda adalah presdir kami" tambahnya.
"Apa...!! Jangan-jangan kamu mau membalas dendam kepadaku karena kejadian sore tadi!" Shaka menatap tajam Geya.
"Kamu, Keluarlah! lain kali kalau sekali lagi melakukan kesalahan, tidak segan-segan aku memecat mu" ucap Shaka kepada Mimi yang dari tadi gemetar ketakutan.
__ADS_1
"Terimakasih, Tuan" Mimi segera keluar meninggalkan mereka.
"Maaf Tuan, aku tidak bermaksud membalas Tuan, tapi tadi murni karena kecerobohan ku"
"Enak saja kamu meminta maaf, kesalahanmu tidak hanya sekali" ketus Shaka, "Apa kamu tahu, tadi sore aku sampai berjalan kaki gara-gara tadi kamu tidak menolongku, kemudian sekarang kamu mau meracuni ku dengan membawa minuman yang sengaja kamu kasih garam"
"Aku akan memaafkan mu tapi habiskan dulu minuman ini" Shaka meletakkan kopi untuk Geya minum.
Geya berpikir setelah meminum minuman itu dia akan terbebas dari kesalahan, kemudian di minumlah kopi itu.
"Uweeeeekkkk" Dengan terpaksa Geya menahan rasa asin di mulutnya. Kopi itupun tidak begitu lama telah habis.
"Bagus, bagaimana rasanya enak kan" Shaka tersenyum miring.
"Setelah ini kamu kemasi barang-barang mu dan datanglah ke ruang HRD untuk mendapatkan gaji terakhirmu" Dengan santainya Shaka berbicara.
"Maksud Tuan" Mata Geya mendelik mendengarnya.
"Kamu di pecat, segera pergi dari ruangan ini, aku tidak ingin melihatmu lagi," ucap Shaka.
"Tapi tadi anda bilang akan memaafkan ku, setelah meminum minuman ini" Geya meremas bajunya.
" Memang benar aku akan memaafkan mu tapi kamu tetap akan aku pecat," ucap Shaka tegas tanpa ampun.
"Kalau dari tadi anda ingin memecat ku, lalu kenapa anda menyuruhku menghabiskan kopi ini, kenapa tidak dari awal saja" Geya menggertak Shaka tidak terima.
Shaka tersenyum miring.
Shaka tidak percaya ada bawahannya terang-terangan menggertaknya, "Kamu berani pada ku?"
Geya menatap tajam Shaka.
"Aku tidak takut anda siapa, sejak anda memecat ku, Kalau anda tahu kopi itu Asin kenapa anda suruh aku menghabisinya, Kenapa anda tidak langsung memecat aku saja" Geya kembali menantang Shaka.
Kalau tak suka seharusnya dari awal memecat ku lelaki angkuh! Batin Geya.
"Jadi anda hanya mempermainkan ku, dasar kamu lelaki angkuh tidak berperasaan, Aku tidak sudi bekerja dengan orang seperti Anda"
Geya lalu melepas baju bertuliskan kokom dan melemparnya ke arah Shaka. Dengan menyisakan kaos warna putih di badannya Geya lalu pergi tanpa permisi.
Shaka tidak percaya dengan apa yang dialaminya, dia mencubit pipinya berharap itu hanya mimpi karena baru sekali ini dia mendapat perlakuan berani dari seorang wanita apalagi bawahannya.
__ADS_1