Menikahi Pria Gila

Menikahi Pria Gila
Malam di Rumah Firo


__ADS_3

Drago masih saja menangis ketika Firo sudah masuk ke kamar, "Apa Drago sakit, Mey?" tanya Firo.


Medina menggeleng.


Drago terlihat rewel malam ini tidak seperti biasanya. Padahal ia sedang tidak sakit.


"Biar aku gendong" Firo mengambil Drago dari tangan Medina.


Bayi itu sedikit tenang ketika sudah di pelukan ayahnya.


"Maaf tadi siang aku mengacuhkan mu," tutur Medina, "Mungkin Drago menangis terus karena kita belum bisa berbaikan," tambahnya.


Medina tidak bisa berlama-lama marah dengan suaminya. Mendengar permintaan maaf Medina Firo juga ikut mengakui kesalahannya.


"Aku juga minta maaf sudah membentak mu tadi. Sepertinya aku akan mempertimbangkan saran mu, Mey. Agar menemui Daddy di penjara, Tapi aku tidak bisa janji akan menemuinya besok," sahut Firo.


Medina merasa lega karena ucapan Firo barusan.


"Terima kasih sayang, Aku yakin hatimu memang bukan terbuat dari batu!" seru Medina yang duduk di sebelahnya di atas tempat tidur.


"Sekarang tidurlah, Honey. Biar Drago aku yang menidurkannya," ujar Firo, "Kamu pasti lelah karena seharian sudah memasak"


Firo menyuruh Medina agar tidur, sementara ia masih menggendong Drago yang masih belum tertidur.


***


Di kamar Shaka.


Shaka dan Geya sama-sama diam duduk di atas tempat tidur. Mereka masih larut dalam pikiran masing-masing.


Berkali-kali Shaka menghembuskan nafasnya. Sementara Geya masih duduk sambil menunduk.


"Kamu terlihat cantik malam ini," seru Shaka memulai pembicaraan.


Shaka yakin kalau Geya sengaja berdandan hanya untuk dirinya. Shaka menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Malam ini kamu tak membaca novel kesukaanmu?" tanya Shaka mencoba berbasa-basi.


Geya kembali menggeleng.


"Maaf mungkin aku jauh dari selera mu," tiba-tiba saja Geya berbicara ngelantur.


Oh tidak! kenapa aku bisa berbicara seperti itu? gerutu Geya di dalam hati.


"Maksudmu?" Shaka tidak mengerti.


"Ah sudahlah! Mungkin aku hanya salah berbicara. Kalau kamu lelah lebih baik tidur saja," ucap Geya lagi.


Geya merebahkan tubuhnya di kasur membelakangi Shaka yang masih duduk.


Selama menikah, Shaka belum sekalipun mengatakan cinta apalagi menyentuhnya.


Shaka terlihat sangat canggung. Biasanya ia begitu muda dekat dengan seorang wanita. Namun kali ini ia merasa berbeda.


Shaka masih mengutuk dirinya yang masih belum bisa beradaptasi. Padahal Geya sudah berusaha merubah penampilan untuknya.


"Aku tau mungkin selera mu gadis yang cantik seksi tidak seperti aku," celetuk Geya.

__ADS_1


Mendengar ocehan Geya, Shaka langsung memeluk gadis itu dari belakang.


"Siapa yang bilang begitu? Aku lebih suka gadis sepertimu!" ucap Shaka secara tiba-tiba.


Geya tersentak begitu mendapati tangan Shaka sudah melingkar di tubuhnya.


"Aku mencintaimu," ucap Shaka sungguh-sungguh.


"Benarkah?" tanya Geya menoleh ke arah Shaka, "Secepat itu kamu mencintaiku?" tanyanya lagi.


Shaka mengangguk.


"Bukankah cinta juga datang karena terbiasa," Shaka mendekatkan wajahnya di pundak Geya yang masih membelakanginya.


"Maaf aku tidak bisa romantis seperti pria lainnya," ucap Shaka.


Mendengar Shaka mengungkapkan perasaanya, Geya begitu senang.


Kenapa Joni masih belum bisa berdiri? Padahal aku sudah memeluknya. batin Shaka.


Beberapa menit berlalu mereka masih sama-sama diam. Sony masih memikirkan Si Joni, Sedangkan Geya masih berkutat dalam pikirannya sendiri.


"Tidurlah, Hari sudah mulai malam" ucap Shaka mengecup kening Geya.


Karena tidak ada respon selanjutnya Geya mulai berbicara lagi.


"Shaka,"


"Heum,"


"Apa kamu mencintai wanita lain selain aku?" tanya Geya tiba-tiba.


"Apa maksudmu? Jelas tidak ada wanita lain selain kamu, Geya"


Shaka memutar tubuh Geya agar menghadap ke arahnya.


"Aku tidak yakin," seru Geya.


Shaka menghembuskan nafasnya kasar.


"Apa karena aku belum bisa memberimu malam pertama. Kamu menduga aku mempunyai wanita lain?" tanya Shaka.


Geya yang tertidur langsung bangun.


"Kalau iya kenapa? Apa kamu tidak tertarik denganku sama sekali karena ada wanita lain di benakmu?" ucap Geya marah.


Shaka bingung harus menjelaskan seperti apa kepada Geya. Dia sendiri bingung sekaligus malu mengatakannya.


"Geya, Aku berani bersumpah kalau tidak ada wanita lain selain kamu. Tanya saja kepada Mey kalau kau tidak percaya!" jelas Shaka.


"Kalau tidak ada wanita lain. Lalu kenapa? Apa kamu seorang Gay. Penyuka sesama jenis atau apa? Apa aku terlihat jelek di matamu, Hah!" ketus Geya.


Baru kali ini Geya berbicara ketus terhadap suaminya. Ia merasa usahanya sia-sia selama ini.


"Geya, Jaga ucapan mu!" sahut Shaka, "Beri aku waktu Geya"


Shaka memegang pundak istrinya. Namun hanya sesaat karena Geya segera menepisnya.

__ADS_1


"Sudahlah! Lupakan saja, Aku lelah!" Geya langsung menarik selimut dan bantal dan merebahkan tubuhnya di kasur.


Kamu tidak peka! Gerutunya.


Geya merasa ia telah menurunkan harga dirinya sebagai seorang perempuan yang meminta haknya duluan.


Shaka yang tidak bisa berkata lagi akhirnya memutuskan keluar dari kamar.


Di ruang tengah.


Karena haus Shaka menenggak habis minuman dingin di tangannya.


Malam ini ia sedang tidak ingin berdebat dengan istrinya. Karena tetap saja ia yang salah.


Shaka duduk sendirian di ruang tengah.


Alasan kenapa ia sering bermain solo karena tidak mau merugikan wanita di sekelilingnya. Shaka tidak mau melakukan hubungan terlarang dengan seorang wanita. Bertahun-tahun ia bisa menjaga nafsunya terhadap wanita cantik yang berseliweran di dunianya. itu karena ia lebih nyaman bermain sendiri dari pada harus melakukan hubungan bebas


Shaka pikir kebiasaan itu akan berubah setelah ia memiliki istri. Namun sayangnya Si joni miliknya masih tidak berubah.


"Kamu masih belum tidur?" tanya Firo mengagetkan Shaka.


Firo mendekati Shaka yang tengah gusar.


"Ada apa denganmu apa sedang ada masalah?"


tanya Firo lagi.


Shaka mengangguk.


"Kamu sendiri kenapa keluar, Bukannya tidur?" Shaka balik bertanya.


"Drago sempat rewel. Ia tidak mau tidur kalau tidak aku gendong. Setelah itu aku malah tidak bisa tidur, makanya aku keluar" Firo lalu mengambil air minum di dalam kulkas lalu kembali duduk di sebelah Shaka.


"Sekarang ceritakan kepadaku apa masalahmu? Dari awal kesini sepertinya kalian sedang dalam masalah?" tanya Firo.


Firo menenggak minuman di tangannya.


Sebelum Shaka berbicara, Mereka melihat Lela keluar dari kamar hendak menuju kamar mandi. Kebetulan di kamar Lela tidak tersedia kamar mandi.


Lela melewati Shaka dan Firo, "Permisi Tuan, Saya mau ke kamar mandi"


Tidak di tanya, Lela sendiri yang menjawabnya.


Ah mengganggu saja. Gumam Shaka.


"Firo. Aku ingin bercerita kepadamu.Tapi kamu harus janji akan merahasiakannya," pinta Shaka.


Shaka berbicara sangat pelan sekali.


"Ceritakan saja, Aku pasti mendengarkannya," ucap Firo meyakinkan.


Firo yakin Shaka ingin berbicara penting kepadanya.


"Tapi kamu janji tidak menertawakan aku apalagi meledekku," ucap Shaka lagi.


"Heum" sahut Firo, "Ceritakan sekarang aku sudah siap mendengarkannya"

__ADS_1


Firo sudah tidak sabar mendengar cerita Shaka.


__ADS_2