
Firo memandangi foto bersama ibunya, Di lihatnya ibunya tersenyum ke arahnya. Dalam ingatannya begitu jelas kenangan bersama ibunya saat kecil.
Titik terang dari kematian ibunya sedikit terungkap. Firo melakukan penyelidikan secara sembunyi dengan orang suruhannya ternyata dalang dari kematian ibunya bukan Nyonya Stella. Meskipun begitu dia masih tetap mewaspadai Nyonya Stella.
Terkadang Firo sedikit bingung setiap kali dia mengingat saat terakhir bersama ibunya, saat itu pula ingatannya sedikit menghilang dan kepalanya mendadak pusing.
Yang ada dalam ingatannya ketika ibunya sudah meninggal tepat di hadapannya.
"Tuan Muda kenapa melamun?" Bi inah membuyarkan lamunan Firo.
"Bibi, bagaimana keadaan Gio bi, apa sudah baikan?" tanya Firo ketika tersadar.
"Sudah, Tuan! dia merajuk tidak ingin kembali ke luar negri makannya dia demam. Tapi sekarang Gio sudah mau di bujuk dan ikut kedua orang tuanya," ucap Bi inah menjelaskan. Beberapa hari ini Bi inah memang cuti karena cucunya sakit.
"Pasti Gio tidak mau jauh dari Bibi, Maafin aku ya, Bi. Karena aku bibi tidak bisa bersama keluarga bibi"
"Tidak masalah, Tuan! Bibi mengerti. Bagaimana keadaan Nona Medina? Apa kalian sudah mulai dekat?" Bi inah tersenyum ke arah Firo karena melihat perubahan pada diri Firo akhir-akhir ini.
"Dia sudah mengetahui semuanya, Bi. Tapi aku belum bisa mendapatkan hatinya," ucap Firo.
"Suatu saat pasti Tuan akan menaklukan hati non Medina, kan ada ungkapan cinta datang karena terbiasa" seru Bi inah gamblang.
"Dimana Nona Medina sekarang?"
"Biasa, Bi. Paling Medina sedang ke taman," sahut Firo.
Di taman.
Medina mulai berkutik dengan bunga-bunganya, Menyirami dan merawatnya. Karena Shaka sedang keluar kota dia juga menjaga Shinta sebagai kegiatan barunya.
Kucing yang baru berusia delapan bulan itu tampak gemuk dan kribo dengan bulunya. Menggemaskan dan tidak mau diam.
Sementara Medina menyiram tanaman, kucing itu di biarkan berlari ke sana kemari.
Sepuluh menit kemudian,
Karena asik dengan Tanamannya, Medina sampai mengabaikan Shinta di sebelah nya.
__ADS_1
Kemana perginya Shinta? Batin Medina.
Ketika mengetahui Shinta tidak terlihat kedua matanya. Sambil menoleh ke sana kemari Medina mencari keberadaan Shinta.
Dilaluinya beberapa labirin yang ada di taman itu, tapi dia tak menemukan Shinta di sana.
Medina sampai mencari ke ujung pun dia tak menemukan keberadaan Shinta.
Dia berjalan mencari Shinta ke sana kemari.
"Shinta kemana si? jangan sampai hilang! Bisa-bisa Shaka akan Sedih" Medina bergumam dalam hatinya dan membayangkan kalau sampai hilang pasti perasaan Shaka akan Sedih karena Shinta adalah kenangan dia dengan Tunangannya.
Gubrakkk...
Medina mendengar dari arah jauh sebuah suara yang seperti benda terjatuh. Di dengarnya suara itu berasal dari taman samping.
Apa Shinta di sana? Tapi, aku tak boleh masuk kedalam, Bagaimana Kalau Daddy sampai tahu! Tapi bagaimana kalau Shinta hilang? Shaka pasti begitu kehilangan. Perkataan dalam hatinya berkecamuk.
Dengan berhati-hati Medina memasuki Taman samping, pikirnya tak apalah kalau dia ke sana hanya akan mengambil Shinta setelah itu dia akan cepat pergi.
Benar saja ketika Medina memasuki taman samping di lihatnya dari jauh Shinta berdiri di sana, Medina berjalan perlahan sambil sesekali dia masih melihat pemandangan di sampingnya.
Padahal menurutnya di sana biasa saja, tapi kenapa Tuan Bram melarang keras siapapun masuk kedalam.
Medina hendak Mengambil Shinta agar kucing itu bisa cepat dibawa keluar.
Setelah Shinta di dekap nya Medina buru-buru kembali keluar, Namun pandangan ya terhenti ketika melihat bunga dengan kelopak seperti lonceng yang mengalihkan perhatiannya.
"Cantik sekali bunga ini, kalau aku ambil satu, mungkin tak apa" Medina lalu memetik salah satu bunga itu.
Medina cepat-cepat keluar bersama Shinta dalam gendongannya.
Bau bunga ini sedikit aneh. Batinnya sambil mencium kelopak bunga itu.
Firo yang dari tadi keluar ternyata sedang mencari-cari Medina.
Dia melambaikan tangan ketika di lihatnya Medina sedang menuju ke arahnya.
__ADS_1
Sebelum kembali ke kamarnya Medina memasukan Shinta kembali ke kandangnya yang di taruh di dekat kamarnya.
"Kamu pulang dulu ya pus, sementara di sini dulu, sampai Shaka kembali"
Setelah itu Medina kembali berjalan ke arah kamarnya.
"Honey, dari mana saja kamu? dari tadi aku mencari mu"
Medina berjalan semakin mendekat.
Dipegangnya kepalanya sedikit pusing.
"Kenapa dengan kamu, Honey"
"Aku tidak tahu, mendadak kepalaku terasa pusing"
" Apa kamu sudah makan, Honey?" tanya Firo.
Medina menggeleng.
"Sepertinya karena kamu belum makan," ucap Firo, "Bi inah sudah membuat kita makanan, ayo kita makan bersama" Firo mendekati Medina yang sedikit oleng.
"Sepertinya mungkin karena aku belum makan," ucap Medina.
Medina masuk ke kamarnya bersama Firo. Dan mereka duduk di meja makan kamarnya hendak makan siang.
"Dari mana saja, Honey? Aku tadi mencari mu di labirin taman"
"Tadi Shinta berlari sangat jauh sampai ke Taman samping, Aku terpaksa sampai masuk ke dalamnya"
"Hati-hati Honey, jangan sampai ketahuan Daddy apalagi di sana banyak CCTV"
Mereka mulai menyantap hidangan makan siang di kamarnya.
"Tahu tidak, tadi di taman aku sempat memetik bunga ini, Bunganya sangat cantik, tapi baunya sedikit aneh"
Medina memperlihatkan bunga yang tersimpan di kantongnya kepada Firo.
__ADS_1
Kepala Medina kembali terasa pusing ketika mencium bunga itu lagi.