
Memandang, tersenyum sambil terus menciumi tangan istrinya. Itulah yang dilakukan Firo sekarang. Dia sangat bersyukur istrinya masih hidup.
Medina baru sadar kalau yang di depannya adalah suaminya. Dia begitu bahagia bisa bertemu dengan suaminya lagi.
Medina mencoba menggerakkan tangannya berpikir kalau yang dilaluinya sekarang hanya mimpi. Tapi lama kelamaan ia menyadari kalau itu adalah nyata.
Medina kembali murung ketika melihat wajah suaminya di depannya sangat dekat.
"Dimana Agung?" Kata pertama yang ditanyakan Medina.
Sebenarnya Firo sangat kecewa kenapa istrinya bukan menyebut namanya melainkan nama lelaki lain, "Siapa Agung?" tanyanya.
"Agung, lelaki yang menolongku tadi malam," sahut Medina.
Firo baru teringat kembali kepada seorang lelaki yang telah menolong istrinya. Ternyata namanya Agung. batin Firo.
"Tenang saja Shaka sedang menjemputnya sekarang," sahut Firo.
Medina mencoba menggerakkan badannya ingin bangun.
"Honey, jangan banyak bergerak. Sebaiknya kamu tidur saja" ucap Firo, "Atau kalau kamu ingin sesuatu, Biar aku yang mengambilnya" tambahnya.
"Haus,"
Tenggorokan Medina sangat kering membuat suaranya terdengar agak serak.
Firo langsung bergegas mengambil minum dan mendekatkan gelas itu di depan mulut istrinya.
"Sebaiknya pakai sedotan saja, tak usah bangun. Tubuhmu masih sangat lemah," ucap Firo.
Medina menghembuskan nafasnya pelan. Entah kenapa Medina merasa tidak terlalu senang berdekatan dengan suaminya. Padahal mereka baru bertemu. Medina selalu memalingkan mukanya ketika bertatapan dengan suaminya.
"Honey, Terima kasih sudah mengandung anakku. Kamu telah menjaganya dengan sangat baik," ucap Firo sambil mengelus perut Medina.
Medina melepas tangan Firo dari perutnya, "Kamu sudah mendengar kalau aku hamil, sayang?" Dia tidak menyukai Firo mengelus perutnya.
Melihat itu Firo langsung menjauhkan tangannya dari perut istrinya.
Kenapa, honey? kenapa kamu terlihat berubah. batin Firo.
Firo berusaha menepis rasa kecewanya, "Aku begitu sangat bahagia mendengarnya, Honey" ucapnya begitu tulus.
"Terima kasih kamu sudah menjaganya dengan baik," tambahnya lagi.
__ADS_1
"Maaf, Sepertinya perutku sedang tidak enak. Perutku sedang tidak ingin disentuh," ucap Medina.
Entah itu perasaan dari mana. Padahal dari kemarin Medina sudah sangat merindukan suaminya. Tapi melihat suaminya ada di depannya sekarang membuat perasaannya berubah.
Firo melihat itu sangat memaklumi keadaan istrinya. Mungkin memang benar perut istrinya sedang tidak enak. Kata dokter hampir saja Medina mengalami keguguran. Namun karena rahim Medina sangat kuat membuatnya tidak jadi mengalami keguguran.
"Kenapa kamu tidak mengajak Agung? Aku takut Sony akan menyakitinya. Kalau dia tidak menolongku. Aku tidak akan hidup sampai sekarang?" ucap Medina sedikit ketus.
Firo menyesali sikapnya yang melupakan sosok penolong bagi istrinya. Perasaan cemburu ditepisnya jauh karena melihat penampilan Agung yang tidak seperti lelaki normal.
"Maafkan aku, Honey. Aku tak sempat memikirkan hal itu. Tapi tenanglah Shaka segera menyusulnya," ucap Firo.
Medina begitu kesal dengan sikap suaminya. Bisa-bisanya ia melupakan orang yang sudah menolongnya. Tiba-tiba Emosi di hati Medina seakan tak terkontrol.
Setiap melihat muka Firo bayangannya selalu teringat kepada Tuan Bram.
Wajah itu sama persis dengan wajah pembunuh ayahnya dua puluh tahun yang lalu. gumam Medina.
Firo memang cerminan dari Tuan Bram. Setiap detail tubuh dan wajahnya sangat mirip dengan Tuan Bram saat muda. Sayangnya mereka berbeda sifat.
Firo begitu sabar menghadapi kelakuan istrinya. Baginya melihat istrinya hidup dan sehat itu sudah cukup. Apalagi sekarang ada anak dalam perut istrinya.
"Apa kamu ingin makan, Honey?" tanya Firo.
"Kalau tidak makan nanti anak kita kelaparan, Honey" ucapnya merayu istrinya, "Kamu makan ya, Sayang!"
Medina tidak menoleh. Pandangan matanya melihat kearah lain. Sebenarnya juga dia sangat lapar. Hanya saja ia tidak ingin melihat wajah Firo lebih dekat.
"Aku suapi ya," ucap Firo sembari menyodorkan sendok di depan muka Medina.
Medina lalu memakan bubur yang ada di sendok itu. Namun setelah itu ia kembali memalingkan mukanya lagi kesamping.
Apa dia benar-benar marah kepadaku karena tidak menolong Agung? gumam Firo.
Firo merasa senang. Walaupun kelakuan Medina menurutnya aneh tapi dengan ia memakan bubur yang ia suapi membuat perasaanya tenang karena perut istrinya sudah terisi. Bahkan Firo melupakan perutnya yang lapar karena belum makan dari semalam.
"Aku senang kamu mau makan, Bayi kita pasti akan tumbuh dengan sehat"
Berulang kali tangan itu menyuapi Medina. Namun lagi-lagi Medina makan sambil memalingkan mukanya.
Ketika bubur itu telah habis, Firo masih menyuapi Medina dengan sendok. Alhasil tak ada bubur di sendok itu.
"Ha... ha.. ha.. " Firo tertawa karena berhasil mengerjai istrinya.
__ADS_1
Medina mengerucutkan ujung bibirnya ketika melahap sendok itu yang sudah kosong.
Kenapa kelakuanmu begitu sangat menggemaskan, honey! gumam Firo.
"Terima kasih, sayang" ucap Medina setelah bubur itu habis. Lagi-lagi dia tak melihat muka suaminya.
Mungkin istriku masih mengalami trauma akibat kecelakaan itu atau apalah aku tidak mengerti! Tapi aku tak peduli. batin Firo.
Medina mencoba melihat suaminya lagi, Memastikan dia tak lagi marah ketika melihat mukanya.
Balasannya Firo malah tersenyum sangat manis kepadanya.
Wajahnya membuatku begitu kesal. gumam Medina.
Melihat wajah Firo yang sedang tersenyum membuatnya kesal kembali. Yang ada di dalam pikiran Medina adalah sosok Tuan Bram 20 tahun yang lalu sedang tersenyum di hadapannya sekarang.
"Aku ingin beristirahat," ucap Medina memalingkan mukanya.
"Baiklah, tidurlah honey! Aku akan menunggu di sini" ucap Firo.
Sebenarnya Medina sangat menyesal memperlakukan Firo seperti itu. Tapi entahlah, Pikiran dan hatinya sedang bertentangan saat ini.
Medina sangat merindukan Firo tetapi setiap melihat muka suaminya membuatnya kesal. Membuat ingatan 20 tahun yang lalu kembali terbayang di benaknya.
Melihat kelakuan istrinya, Firo tak marah sedikitpun.
***
Mobil Shaka berhenti tepat di depan tubuh seorang yang berlumuran darah tergeletak di jalanan depan mobilnya.
Beruntung dari kejauhan Shaka sudah melihatnya sehingga ia tak menabraknya.
Dari netranya Shaka seperti mengenali tubuh yang terbaring itu. Shaka langsung keluar dari dalam mobilnya. Berlari mendekati tubuh itu.
Bukankan dia lelaki yang menolong Medina. gumam Shaka.
Agung sudah banyak mengeluarkan darah. Bahkan dia sudah tak sadarkan diri. Shaka langsung memeriksa denyut nadinya memastikan lelaki itu masih bernyawa.
Dia masih hidup. Batin Shaka.
Dengan sangat cepat Shaka membawa tubuh itu masuk kedalam mobilnya. Shaka lalu menyalakan mesin mobilnya.
"Semoga lelaki ini bisa selamat," ucap Shaka.
__ADS_1