
Sudah hampir petang pasangan suami istri ini baru menyelesaikan masalah penguburan lelaki bayaran yang merugikannya. Terasa penat untuk keduanya kalau harus kembali ke rumah sakit tempat Niko di rawat.
Berkali kali telepon Medina berdering siang tadi saat mereka sedang sibuk mengurusi jenazah lelaki itu.Panggilan telepon dari Niko yang sangat khawatir karena kakaknya tak segera kembali ketika hendak mengambil obat di apotik.
Niko yang menghubungi Firo akhirnya sedikit lega karena Medina sedang bersamanya.
Bulan yang membulat sempurna sudah terlihat di langit. Menandakan hari sudah mulai malam.Firo dan Medina memutuskan untuk langsung pulang menuju rumahnya.
Firo belum bisa menyetir sendiri sehingga ia masih menggunakan jasa sopir di rumahnya untuk mengantarkan mereka pulang. Firo duduk di sebelah Medina yang sudah mulai menahan kantuknya. Ia tahu istrinya pasti sangat kelelahan.
Segera ia tarik tubuh istrinya lebih mendekat ke pangkuannya agar kepalanya bisa bersandar di kedua pahanya saat tertidur. Benar saja tidak ada lima menit Medina sudah terlelap di pangkuannya.
Rupanya istriku begitu lelah sampai tertidur pulas seperti ini. batin Firo.
Sudah hampir setengah jam mobil itu melaju akhirnya sampai juga di persimpangan jalan rumahnya.
"Honey,Bangunlah! Kita sudah sampai rumah, " bisik Firo membangunkan Medina pelan.
Medina tak bergeming,ia masih nyenyak dengan mimpi indahnya. Firo tak tega kalau harus membangunkan lagi Medina yang begitu pulas tertidur di mobil.
Firo lalu menepuk bahu sopir di depannya.
"Pak, mobilnya lebih masuk ke dalam, aku mau turun di taman belakang." ujar Firo kepada sopir di depannya.
Sopir mengerti maksud ucapan tuannya.
"Baik tuan! Aku akan majukan mobilnya agar masuk ke dalam." jawab sopir itu dengan sopan.
Jalan di taman belakang sangat luas sehingga mobil pun bisa masuk ke halamannya.Sudah lama ia tak tidur kamar itu, Tempat biasa Firo menghabiskan hari harinya yang kelam.
Setelah mobil terparkir tidak jauh dari kamar lamanya. Firo segera menggotong istrinya dengan kedua tangannya masuk ke dalam kamar dengan gaya bridal stylenya.Medina masih tidur dengan pulas.
__ADS_1
Firo segera membuka pintu kamar yang masih ia pegang kuncinya. Dengan sedikit susah ia membuka kunci kamar itu sambil menggotong istrinya.
Padahal aku sudah menggendong mu masih saja belum sadar. Dasar putri tidur,batin Firo.
Pintu kamar terbuka, pemandangan pertama yang dilihat Firo kamar itu terlihat sedikit kotor karena tak di huni. Firo melarang siapapun pelayan membersihkan kamar lamanya.
Ia rebahkan tubuh istrinya di kasur yang lama.Setelah itu dengan sigapnya Firo membersihkan sedikit debu dan kotoran di kamar itu agar ia bisa dengan nyaman beristirahat malam ini.
Medina yang tertidur ketika di mobil masih dengan nyenyak tertidur di kasurnya.Medina hanya sedikit menggeliat lalu tidur lagi. Firo masih terjaga ia tak bisa tidur.
Waktu menunjukan pukul delapan malam, Sudah hampir sejam lebih istrinya masih tidur sedangkan ia masih belum bisa memejamkan matanya.
Firo memasuki kembali ruangan bawah tanahnya yang sudah beberapa minggu ini ia tinggalkan. Suasananya masih sama seperti dulu.Ia lalu berjalan dengan pelan merapihkan buku buku yang telah ia baca. Firo sangat gemar membaca, di ruangan itu banyak sekali deretan rak buku yang sudah ditempati buku-bukunya dengan rapih.
Firo kembali berjalan lagi menelusuri sudut ruangan,matanya beralih ke arah kursi yang ada di pojokan.Ia lalu duduk di kursi yang dari pertama tidak ia pindahkan. Kursi yang letaknya di pojok itu masih sama seperti pertama kali ada di sini.
Firo membayangkan saat hari pertama ia memasuki ruangan ini. Persis ketika ia duduk seorang diri di kursi ini.
Kadang ia menangis sendiri, hatinya masih mendidih setiap kali membayangkan dengan jelas kematian ibunya. Saat itu hujan turun dengan derasnya, ia merasa sangat kedinginan duduk di kursi ini. Ia ingin sekali mendapat pelukan dari orang terdekatnya, namun Firo hanya membayangkan sambil terus menangisinya. Tubuh kurusnya menggigil seorang diri di pojokan kamar bahkan bibirnya terus bergetar.
Ingin minta tolong, tapi pada siapa?
Di usianya yang waktu itu berusia sepuluh tahun harus hidup sendiri siang dan malam di ruangan tanpa pendampingan orang dewasa satupun.
Ia ingin bercerita, tapi pada siapa?
Sedangkan teman satu-satunya yaitu Shaka meninggalkan ia tanpa pamit.Begitu malang nasibnya. Setiap hari ia harus menerima makanan yang di campur obat penenang.
Bukan Ia yang gila, tapi keluarganya yang gila! Karena menelantarkan anak kecil dan memberikan terus menerus makanan yang tidak layak di konsumsi hanya karena anak itu mengetahui rahasia orang tuanya.
Firo mengambil album photo yang tersimpan tidak jauh dari situ.Firo lalu membuka satu persatu album photo saat ia berusia balita. Ia berdiri di tengah tengah ayah dan ibunya yang sangat hangat.Di halaman berikutnya Firo balita tersenyum ketika tubuhnya di angkat tinggi oleh ayahnya.Di halaman selanjutnya lagi ia bersama ayahnya sedang tertawa mandi bersama.Wajah ayahnya saat itu seperti dirinya yang sekarang. Sungguh sebuah ironi kalau melihat foto-foto itu. Ia lalu memasukan kembali album itu ke tempatnya.
__ADS_1
Seharusnya sudah aku buang album ini. ucapnya dalam hati.
Firo mendengus kesal kalau mengingat ayahnya.
***
Medina terbangun ia baru menyadari kalau sekarang berada di tempat tidur lamanya.Dia sudah menduga pasti suaminya yang menggotongnya sampai ke sini.
Medina melihat jam di samping sudah menunjukan pukul sepuluh malam.Di kamar itu tidak ada Firo.
Kemana suamiku pergi? tanyanya dalam hati.
Matanya yang belo sudah terbuka sempurna.Sepertinya tidur di sore itu membuat tubuhnya segar kembali. Medina bangun dari tempat tidurnya mencari Firo suaminya.
Medina membuka pintu kamarnya, udara malam itu menusuk hidungnya. Sudah lama ia tak berada di tempat itu, bagaimana keadaan bunga bunga yang di tanamnya?Bagaimana kondisi taman yang selalu di rawatnya? Sudah lama ia tinggalkan karena kesibukannya.
Oh, aku sangat rindu sekali suasana ini.
Medina melupakan tujuan awal mencari suaminya. Ia berjalan menuju taman belakang mendekati bunga-bunganya.
Kedua tangannya sibuk merapihkan tanaman hiasnya.Bunganya banyak yang mati karena tak ada yang merawatnya ketika ia tinggalkan.
Setelah beberapa menit Medina teringat lagi harus mencari suaminya.
*
Sony!.
Lelaki itu kenapa lewat ke samping taman malam-malam begini?bukankah Daddy melarang siapapun masuk ke dalamnya?
Tangannya mengepal keras ketika melihat lelaki yang menghamili dan memukuli kedua adiknya terlihat tenang-tenang saja seperti tidak peduli dengan perlakuannya terhadap kedua adiknya.
__ADS_1