
" maaf aku tidak tahu, maaf soal itu aku tidak tahu" sahut teman - temanya yang meminta maaf pada Masnun.
Masnun hanya membalasnya dengan senyuman manisnya.
" dia amat tampan bukan " sahut Masnun yang menunjuk pada Maruf.
setelah mengobrol dengan teman - temanya Masnun pun pamit pergi ke Maruf yang sedari tadi menunggunya.
" Sampai jumpa besok " sahut Masnun yang melambaikan tangannya ke teman - temanya.
" sampai jumpa besok " sahut teman - teman Masnun yang tak lupa dengan lambaian tangannya.
" sayang, kamu datang " sahut Masnun yang tersenyum pada Maruf dan langsung berpelukan.
" manisnya" sahut wanita berbaju ungu pendek pendek yang terpesona dengan pemandangan di depannya.
" bukankah manajer pernah bilang kalau mereka itu sudah pacaran lama? " sahut wanita baju ungu pendek yang bertanya pada teman - temanya.
" bukankah mereka bilang mereka sudah pacaran selama tujuh tahun?" sahut wanita baju putih yang ikut bertanya pada temanya.
" tapi dia tetap saja menjemput pada saat pulang larut malam " sahut wanita baju putih yang menjelaskan pada teman - temanya.
" bukankah itu hebat ?" sahut wanita baju putih yang tersenyum ke arah Masnun dan Maruf.
" benar " sahut wanita berjas hitam pendek .
" aku iri sekali " sahut wanita berbaju ungu yang terpesona dengan pemandangan di depannya.
" dia hebat sekali " sahut wanita berbaju hitam yang terharu akan kedua pasangan itu.
" apa yang kamu lakukan hari ini? " sahut Masnun yang bertanya pada Maruf yang sedang mengotak Atik komputernya.
" hari ini, aku melakukan beberapa hal menakjubkan hari ini " sahut Maruf yang menjelaskan pada Masnun yang kini mereka berdua sedang berada di rumah.
" apa kamu menemukan investor? apa mereka berinvestasi ?" sahut Masnun yang bertanya pada Maruf.
" cobalah lihat ini" sahut Maruf yang memperlihatkan foto di komputernya ke masnun.
" ini adalah grafik yang ku selesaikan kemarin, bukankah cantik sekali " sahut Maruf yang tersenyum pada Masnun agar memberikan solusi yang Bagus.
" sayang bukankah gambarnya seperti rasi bintang " sahut Maruf yang menoleh pada Masnun. ( yak rasi bintang itu adalah sekumpulan bintang yang tampak berhubungan bentuk dalam membentuk suatu konfigurasi khusus).
__ADS_1
" kurasa ucapan Hasim benar, pada akhirnya manusia manusia berhubungan dengan alam semesta " sahut Maruf yang menjelaskan pada Masnun apa itu rasi bintang.
" bukankah ini sangat indah ?'' sahut Maruf yang menyuruh Masnun agar melihat grafiknya.
" iya benar, itu seperti Hasim yang membuat di restoran" sahut Masnun yang menoleh ke arah Maruf serta anggukannya.
" sayang, apa kamu masih ingat dengan sofa yang pernah aku ceritakan?" sahut Masnun yang bertanya pada Maruf.
" yang mana maksud mu ? yang baru di samping toko?" sahut Maruf yang tiba - tiba lupa dengan sofa yang pernah Masnun ceritakan.
" iya, kudengar sisa Sofanya sisa sedikit" sahut Masnun yang memberi alasan yang tepat agar Maruf bisa membeli sofa itu pada saat mereka berdua menikah.
" tentu saja, pasti pembelinya sangat menyukainya karna sofa itu sangat menarik" sahut Maruf yang tetap fokus pada pembuatan grafiknya.
" meskipun ekonomi sedang menurun, orang kaya akan tetap membelinya meski Ekonomi dengan memburuk" sahut Maruf yang menjelaskan pada Masnun agar tidak membeli sofa pink itu.
" ku dengar semua pengantin yang baru menikah pasti sangat cantik kalau ada sofa itu" sahut Masnun yang memberikan alasan yang menarik agar bisa membelinya.
" karena itu aku mengatakan hanya orang - orang kaya" sahut Maruf yang menoleh pada masnun.
" ohh astaga aku lupa Indonesia" sahut Maruf yang kembali berkonsentrasi dengan pembuatan grafiknya.
mendengar perkataannya Maruf membuat Masnun menjadi kesal dan langsung membanting skincare ya itu dan langsung menggosok di lehernya secara kasar,
Maruf yang melihatnya hanya bisa terlihat bengong.
" sayang, apa ada hal yang buruk menimpa mu hari ini?" sahut Maruf yang langsung menghentikan kedua tangannya agar tidak menggosok lehernya secara kasar.
" tidak, hariku sangat menyenangkan hari ini" sahut masnun yang tersenyum licik pada Maruf dan langsung pergi ke kamar mandi .
" ada apa dengannya kenapa dia bisa marah? aku merasa aku tidak berbuat salah hari ini" sahut Maruf yang bertanya pada dirinya apa dia berbuat salah hari ini.
" apa... apa aku berbuat salah " sahut Maruf yang mengerutu pada dirinya.
" hei" sahut Masnun yang berteriak pada Maruf yang sedang menggerutu.
" i... iya " sahut Maruf yang gugup.
" Dimana tempat tinggal safira sekarang?" sahut Masnun yang bertanya pada Maruf dimana tempat tinggal safira.
__ADS_1
" Hafni mau tahu karena safira mengangkat telponnya Hafni " sahut masnun dengan nada datar tapi pikirannya masih kesal.
" safira? safira keluar dari rumah itu sudah satu Minggu tidak di rumah itu " sahut Maruf yang tidak tahu sekarang tempat tinggal safira.
" ohhh astaga " sahut Masnun yang kaget karena sudah satu Minggu sahabatnya itu tidak tinggal di apartemen itu.
" apa kamu tidak tahu ?" sahut Maruf yang bertanya pada Masnun apakah ia tahu atau tidak.
" lalu selama ini dia tinggal di mana?" sahut Masnun yang kembali bertanya pada Maruf.
" ku pikir kamu sepemikiran dengan ku" sahut safira yang masih mengingat kembali percakapannya dengan pak Yudha tadi.
" apa maksud dari ucapannya?" sahut safira yang tidak mengerti perkataan pak Yudha.
" apa maksudnya sepemikiran?" sahut safira yang menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" ohh astaga dia aneh sekali " sahut safira yang tidak mengerti dengan pak Yudha.
dan pada saat safira selesai menggerutu dan langsung ia melihat ke sekelilingnya kerena semua orang menatapnya dan tertawa kecil pada safira.
" sepuluh pembunuh" sahut wanita itu yang berbicara pada teman di sampingnya.
" ohh halo Hafni" sahut safira yang menerima telpon dari Hafni.
" hei kamu di mana?" sahut Hafni yang bertanya pada safira keberadaannya dimana.
" kamu kenapa tidak menjawab telepon ku dan menjawab pesan ku" sahut Hafni yang kesal pada safira, Karena sedari tadi Hafni menelpon ia tidak menjawabnya karena iya tidur.
" maaf ..... maaf " sahut safira yang meminta maaf pada Hafni.
" aku akan ceritakan detailnya, aku di daerah dekat dengan rumah induk semang ku" sahut safira yang memberi tahu alamat pada Hafni agar ia tahu safira berada di mana.
" aku di dekat sana, di mana tempatnya?" sahut Hafni yang bertanya pada safira dimana ia berada.
" sungguh? ohh aku sedang berada di halte bus" sahut safira yang melihat ia berada di halte bus.
" ohh baiklah aku melihat kamu di halte bus" sahut Hafni yang kini sudah berada dekat dengan halte.
sampai di sini dulu ya kawan - kawan jangan lupa beri komentar yang mendukung serta positif dan juga like serta beri tip yaaaa. dan jangan lupa jaga kesehatan di masa pandemi ini karena masa PPKM berjalan..
terimakasih ❤️
__ADS_1