
" aku akan menikahi wanita ini" sahut pak Yudha yang mengirim pesan pada ibunya .
dan saat mau pergi ke ruangan meeting ia melihat pak Yudha hanya menunduk melihat hpnya yang ia sudah taruh di meja kerjanya.
" apa kamu sudah makan siang?" sahut Tika yang bertanya pada pak Yudha.
" setelah aku mendapatkan telepon" sahut pak Yudha yang menunjuk ke arah hpnya, Tika pun mengikuti pak Yudha yang melihat hpnya pak Yudha.
" tidak ada yang menghubungi mu" sahut Tika yang ikut melihat hpnya pak Yudha.
" sebentar lagi akan ada yang menelpon ku" sahut pak Yudha yang yakin kalau ada yang ingin menelponnya.
dan tak lama pak Yudha mengatakannya seseorang pun meneleponnya, ya dia itu adalah ibu.
bukannya pak Yudha mengangkat telponnya malah mereka berdua saling menatap.
" Astaga aku ini terlalu makan banyak sampai - sampai perut ku kembung" sahut pak Aldi yang memegang perutnya yang sedikit terasa kembung dan mereka berdua juga tadinya dari kantor dekat dengan kantor.
" aku tidak bisa percaya kalau aku bisa mentraktir mu" sahut pak Aldi pada Maruf.
" tentu saja terus" sahut Maruf ikut senang dengan adanya pak Aldi mentraktirnya untuk makan.
" kamu juga bahkan mengenalkan ku pada pada investor" sahut Maruf pada pak Aldi.
" ohh, lihatlah pakaian mu begitu sangat rapi" sahut pak Aldi yang menunjuk pada pakaian Maruf.
" ohh aku baru ingat, apa kamu sudah berbaikan dengan pacarmu itu?" sahut pak Aldi bertanya pada Maruf apa ia sudah berbaikan dengan Masnun.
" aku akan membelinya hari ini " sahut Maruf yang tersenyum akan masa - masa ia dengan Masnun semalam.
" itu ide yang bagus, Bagaimana menjalani hidup mu seperti itu?" sahut pak Aldi yang merangkul pundak belakang Maruf lalu mereka pun berjalan agak lebih cepat.
" kamu harus berusaha dengan apapun yang kamu miliki, itulah yang namanya hidup" sahut pak Aldi yang memberi arahan pada Maruf agar menjadi pacar yang baik lagi dari pada yang kemarin.
__ADS_1
" saran mu itu sangat membantu ku, jika tidak aku tidak bisa apa - apa yang seperti orang bodoh yang duduk di jalanan" sahut Maruf yang berterima kasih pada pak Aldi yang sudah membantunya. dan kamu juga penasihat yang baik di saat masalah - masalah wanita " sahut Maruf yang memberikan dua ancungan jempol pada pak Aldi.
" eh tunggu, sebentar" sahut pak Aldi yang menyuruh Maruf untuk berhenti dan dan Aldi pun mengambil benda pipih di saku celananya.
" ini kamar 303, kapan kamu akan datang? " sahut pak Aldi yang menunjukkan pesan pada Maruf Secara diam - diam agar semuanya tidak melihat mereka berdua.
" apa, kamu juga punya pacar? " sahut Maruf yang kaget.
" korek api" sahut Maruf yang membaca nama kontak dari kamar 303.
" nama macam apa ini?" sahut Maruf yang memberikan hpnya pak Aldi padanya.
" dia sebenarnya bukan pacar sih " sahut pak Aldi yang melihat ke arah taman kantor, karena pada saat ia menoleh ke arah Maruf hanya dengan tatapan bingung.
" dia itu gadis yang pernah ku temui saat dia meminjam korek padaku " sahut pak Aldi yang mengingat kembali masa - masa ia bertemu dengan Hafni di teras atas gedung.
" setelah kami berdua langsung masuk ke kamar nomor 303 pada malam itu juga " sahut pak Aldi yang menjelaskan pada saat ia bertemu dengan Hafni.
" ap..... apa di sebuah motel? lalu jelaskan apa selanjutnya kalian lakukan? " sahut Maruf yang ingin tahu kelanjutan cerita dari Aldi dan juga Hafni pada kamar nomor 303.
" iya kami berdua menemui beberapa hari yang lalu, tapi dia mengabaikan ku dan katanya dia bahwa dia tidak mengingatkan ku" sahut pak Aldi yang menggelengkan kepalanya kerena bingung apakah Hafni benar - benar ingat atau berpura - pura lupa.
" Lalu" sahut Maruf yang manggap lalu bertanya pada pak Aldi cerita selanjutnya apa yang terjadi.
" jadi, aku lempar umpan yang profesional. agar dia segera membalasnya dan untuk kamar nomor 303 ? apa maksudmu?" sahut pak Aldi yang menjelaskan pada Maruf apa saja percakapannya dengan Hafni.
" setelah itu, apa yang kamu katakan padanya?" sahut Maruf bertanya pada pak Aldi.
" ohh, apa ini bukan nomornya Hafni? ya ampun maaf saya salah nomor! ku pikir ini Sena karena ku simpan sebagai nomor 303?" sahut pak Aldi yang langsung mematikan ponsel saat menerima nomor yang salah.
" ya ampun pasti dengan kata - kata yang seperti itu pasti membuatnya marah? " sahut Maruf yang menyukai kata - kata yang di buat pak Aldi tadi.
__ADS_1
" benar! bukanya hanya dia hanya yang dari nomor 303" sahut pak Aldi yang mengacungkan jempolnya dan ia juga merasa bahagia bisa menelpon Hafni.
" Yani , Lala, Syifa dan mereka semuanya itu dari nomor 303 sial" sahut pak Aldi yang merasa bangga akan dirinya.
" menurut ku dia pasti merasa kesal sekali" sahut yang ikut tersenyum pada pak Aldi.
" belajar dari hari ini" sahut pak Aldi yang mendekatkan kepalanya sedikit ke arah Maruf.
" dan pasti kemarahannya akan setinggi " sahut pak Aldi yang menunjuk ke arah langit.
" dia juga pasti akan membalas ku setelah benar - benar kehilangan kendali" sahut pak Aldi yang menggerakkan kedua tangannya agar Maruf bisa mengerti.
" dan dari cerita mu tadi aku sedikit menambah pelajaran" sahut Maruf yang sedikit tertawa kecil.
" ayo kita pergi" sahut pak Aldi yang merangkul pundak belakang Maruf lalu mengajak Maruf untuk masuk ke dalam kantornya.
" baik guru" sahut Maruf yang menganggukan kepalanya lalu ikut pergi bersama pak Aldi.
dan saat Hafni mau masuk ke ruangannya tiba - tiba ada satu notifikasi pesan masuk pada ponselnya.
" ohh, ada pesan masuk untukku? " sahut Hafni yang membuka apa isi pesan itu.
" apa ini kamar nomor 303? kapan kamu bisa datang?" sahut Hafni yang membaca isi pesan masuk itu.
" ada apa dengan si bodoh ini" sahut Hafni yang kini sudah masuk di ruangannya.
" sudah ku bilang jangan minum terlalu banyak" sahut pak Tomi yang berbicara pada teman - temanya agar minum tidak terlalu banyak.
" ohh, nona Hafni apa kamu mau pulang ?" sahut pak Tomi yang berkata manis pada Hafni.
sampai di sini dulu ya kawan - kawan jangan lupa beri komentar yang mendukung serta positif dan juga like serta beri tip yaaaa.
dan maaf saya baru bisa upload karena ada kendala jaringan.
__ADS_1
**terimakasih ❤️
selamat membaca ☺️**