
" bagaimana bisa kamu tidak ingat kejadian itu?" sahut pak Aldi yang setengah berteriak.
" ku pikir kita cukup dekat, apa kamu tidak mengingatnya?" sahut pak Aldi yang menjelaskan secara cepat.
" maaf" sahut Hafni yang tengah tersenyum pada pak Aldi.
" biasanya aku mengingat pria yang biasa tidur dengan ku, tapi aku sama sekali tidak mengingatnya" sahut Hafni yang melihat kedua buah bidang dada pak Aldi dan langsung merapikan rambutnya karena tertiup angin.
" ku rasa kamu tidak mengesankan " sahut Hafni yang memajukan kepalanya mendekat dan langsung memengang bahu kanan pak Aldi dan pergi.
" dia bilang dia tidak mengigat ku?" sahut pak Aldi yang terlihat bingung.
" bagaimana bisa? ku rasa dia sangat berkesan" sahut pak Aldi yang memandang gedung - gedung.
" bagaimana bisa dia tidak ingat kemampuan luar biasa ku? " sahut pak Aldi yang menggerutu sendiri pada dirinya.
" bukankah ini tempat yang hebat ?" sahut Afika yang bertanya pada safira.
" iya benar " sahut safira yang menganggukan kepalanya.
dan pada saat ini mereka berdua sedang berada di tempat makan.
saat ibu Afika masuk ibu Afika pun menyuruh safira masuk tapi tiba - tiba saat safira mau melangkahkan kakinya untuk masuk ia juga melihat pak Tomi dan pak Latif. dan tanpa sadar mereka berdua saling bertatapan.
ia yang terpaksa masuk karena sudah di suruh sama ibu Afika.
" mari bersulang!" sahut mereka berempat yang saling minum bersama.
" ku dengar pak Latif sudah menemukan tempat untuk safira" sahut pak Tomi yang memulai obrolan mereka.
" itu sangat luar biasa, kalian tampak serasi saat bersama" sahut pak Tomi yang menyukai kalau safira dekat dengan pak Latif.
" benar, aku Senang melihat anak sekarang bisa berteman dengan lawan jenis " sahut ibu Afika yang menambah sedikit cerita masa lalunya.
" tapi tidak ada yang seperti itu pada saat aku muda " sahut ibu Afika yang menoleh ke arah safira.
" saat itu masih mustahil " sahut pak Tomi ke ibu Afika.
" akan ada rumor jika mereka berdua tinggal bersama semalaman" sahut ibu Afika yang menoleh ke arah safira dan pak Latif, yang sedari tadi mereka berdua tidak mengeluarkan satu kata pun.
" dahulu itu di anggap serius " sahut pak Tomi yang mulai berangan - angan.
" benar " sahut ibu Afika yang spontan.
__ADS_1
" kita dulu begitu menderita karena pandangan semacam itu" sahut pak Tomi yang melihat ke langit - langit warung itu.
" tidak seperti itu bagiku, kalau aku berbeda" sahut ibu Afika yang menjelaskan tentang masa mudanya.
" dahulu kamu benar - benar menyukai ku" sahut ibu Afika yang mulai berkata lembut pada pak Tomi.
" ada apa dengan mu ? jangan seperti itu?" sahut pak Tomi yang mulai malu.
" kenapa membahas itu sekarang ? hentikan " sahut pak Tomi yang menyuruh ibu Afika untuk berhenti membahas masa muda mereka.
di sisi lain pak Tomi dan ibu Afika sedang mengobrol pak Latif menyempatkan diri untuk melihat safira di sela - sela pembicaraan pak Tomi dan ibu Afika.
" kenapa kamu berubah seperti ini? " sahut ibu Afika yang bertanya pada pak Tomi.
" ohh iya safira, biar ku tuangkan minuman untuk mu ?" sahut pak Tomi yang mau menuang air untuk safira.
" ini " sahut pak Tomi yang menuangkan air ke gelas safira.
" apa kamu tahu, saat anak muda bekerja sama banyak hal yang terjadi" sahut pak Tomi yang memandang Safira .
pada saat pak Tomi mengatakan anak muda pak Latif hanya bisa menelan ludahnya dan langsung menggarukkan kepalanya.
" hal itu bisa terjadi di mana saja " sahut pak Tomi yang menceritakan masa mudanya saat bekerja sama.
" dasar sialan" sahut pak Tomi yang menyenggol pak Latif untuk meminta maaf pada safira.
" minta maaflah kepadanya, ku dengar kamu melakukan kesalahan yang besar kepadanya" sahut pak Tomi yang menyuruh pak Latif untuk bicara.
" jadi ku marahi dia dengan keras semalaman" sahut pak Tomi yang mau memukul pak Latif.
" katanya dia ingin meminta maaf pada mu " sahut pak Tomi ke safira.
" jadi ku ajak dia ke sini " sahut pak Tomi yang tersenyum pada safira .
" benar " sahut ibu Afika pada pak Tomi.
" nona safira, malam itu aku terlalu mabuk sampai aku kehilangan akal sehat. jadi, tolong maafkan aku" sahut pak Latif yang meminta maaf pada safira akan perbuatannya semalaman.
" tadinya aku hendak memukuli mu sampai mati, tapi aku menahannya demi pak Tomi ! apa kamu mengerti" sahut ibu Afika yang geram dengan pak Latif.
" ada apa dengan kalian ? " sahut safira dengan nada berat dan masih menunduk saat berbicara.
" kenapa .....kenapa ..... kenapa anda memarahinya ?" sahut safira yang mulai mengangkat kepalanya dan menoleh ke pak Tomi.
__ADS_1
" kenapa anda mengatakan itu?" sahut safira pada ibu Afika.
" aku....aku adalah korban di sini" sahut safira yang menunduk.
" apa maksudmu dengan korban di sini?" sahut pak Tomi yang kurang mengerti dengan perkataan safira.
" menurut ku itu tidak tepat" sahut pak Tomi pada safira.
" aku yang di lecehkan secara seksual" sahut safira yang spontan dengan nada marah.
" tidak, maksud ku aku hampir di perkosa" sahut safira yang kembali menunduk.
" jadi tepat bagiku menyebut diri sebagai korban" sahut safira pada semua orang yang duduk bersamanya.
" ap....apa maksudmu ?" sahut pak Latif yang bertanya pada safira.
" kenapa kamu berkata seperti itu?" sahut pak Latif yang sedikit tertawa kecil.
" sebaiknya tutup mulut mu sebelum di masukan ke penjara" sahut safira yang kini emosinya sudah meluap.
" nona safira kamu sudah kelawatan" sahut pak Tomi pada safira.
" kita ini sudah seperti keluarga, jadi jangan seperti ini" sahut pak Tomi yang menyuruh safira agar tidak memasukkan pak Latif pada penjara.
" kami berkumpul di sini karena kamu, dan dia sudah meminta maaf" sahut pak Tomi yang menunjuk ke ibu Afika dan pak Latif.
" aku tahu" sahut safira yang matanya menusuk ke pak Latif.
" karena itu kalian harus berkumpul seperti ini" sahut safira dengan nada datar karena omongan pak Tomi tadi.
" aku tidak tahu, kenapa aku harus mendapat permintaan maaf seperti ini" sahut safira yang menelan ludahnya dengan kasar.
" sebentar" sahut ibu Afika yang menyuruh kedua pria itu agar tetap diam.
" safira, kita semua ini bersama karena berharga, jadi kami berusaha untuk tidak merusak kerja sama tim kita" sahut ibu Afika yang perlahan menjelaskan pada safira.
" kalian berusaha? kalian bilang ini berusaha?" sahut safira yang masih marah akan perbuatannya pak Latif.
" rasanya seperti seolah - olah aku di lempari batu dan berdarah, berusaha adalah mengendong rumah sakit pada situasi itu" sahut safira yang mengeluarkan semua penyesalan - penyesalannya.
sampai di sini dulu ya kawan - kawan jangan lupa beri komentar yang mendukung serta positif dan juga like serta tip yaaaa. dan jangan lupa jaga kesehatan di masa pandemi ini karena masa PPKM berjalan.
terimakasih ❤️
__ADS_1