
Safira yang mendengar papanya memanggil Ainun " sayang" Safira langsung merasa heran, karena selama dia tau ayahnya tidak pernah lembut dengan orang lain.
" apa sayang" sahut Safira yang melihat ayahnya heran.
papa langsung melihat dan berkata " ehm papa yakin kamu pasti sudah mendengar dari Rafi, tapi papa tidak bisa memberitahu kamu karena kamu sibuk kerja. pokoknya, karena kita berkeluarga gunakan toilet dengan adil dan mengalah dalam situasi mendesak. bersikap baiklah satu sama lain dan hidup bahagia bersama, MENGERTI " sahut papa yang membuat tata tertib rumah.
Safira dan Rafi yang mendengar pernyataan papa langsung kaget dan berkata.
" apa hidup bersama" sahut Safira dan Rafi kepada papa.
" kami bertiga" sahut Rafi yang kaget akan pernyataan papa.
" iya memangnya kenapa, tidak bisa" sahut papa yang bertanya kepada kedua anaknya.
" tidak mungkin" sahut Safira kepada ayah dan langsung menunjuk ke arah Rafi.
" mereka pengantin baru" sahut Safira lalu menunjukkan ke arah Rafi.
Rafi pun berkata sama dengan kakaknya " iya kami ini pengantin baru" sahut Rafi kepada papa.
papa yang mendengar perdebatan kedua anaknya langsung memukul meja dengan tangannya dan Berkata.
" lantas papa harus bagaimana" sahut papa yang ngomong sambil berteriak.
Safira hanya membalikan badannya sedikit karena ia merasa papanya ngomong terlalu keras. Safira pun marah dan langsung memberi pesan kepada sahabatnya untuk ngobrol. disana sudah ada Safira, Hafni dan intan.
Hafni yang mendengar cerita dari Safira langsung membanting minumannya karena kesal dengan Rafi.
"Fira seharusnya Rafi yang keluar dari rumah itu, kamu juga yang membayar biaya hidupnya dan peliharaannya. beraninya dia menyuruh mu keluar padahal dia orang yang pengangguran. oh iya Safira rumah itukan atas nama kamu, dan secara hukum pasti tidak masalah" sahut Hafni kepada Safira.
Safira dan masnun mendengar perkataan Hafni mereka berdua sambil makan, dan Hafni yang membahas tentang rumah langsung Safira berhenti dari minumnya dan berkata.
" em rumahnya" sahut Safira yang menaruh gelas minumnya ke meja.
" itu atas nama Rafi bukan aku" sahut Safira kepada Hafni dan masnun.
Hafni yang mendengarnya pun kaget dan berkata " apa, bagaimana bisa, kamu yang membayar tanggungannya saat ayah mu membeli rumah itu" sahut Hafni kepada Safira .
dan intan yang dari tadi menyimak lalu berkata " kamu ini tidak tahu Hafni kalau di Indonesia itu kalau orang tua membeli rumah untuk anak - anak mereka, sudah pasti akan di miliki anak Laki-lakinya itu seperti membayar masa depan generasinya dan ritual leluhur di masa depan setelah orang tua meninggal. Safira yang bertanggung jawab melanjutkan keluarga mereka, papanya tidak akan memikirkan biaya yang sudah ia bayarkan " sahut intan lalu mengambil garpu dan memakan pastanya.
__ADS_1
" intan itu cara berpikir yang sangat kuno" sahut Hafni kepada Hafni.
lalu Hafni pun memanggil Safira yang sedang berpikir bagaimana ia bisa ke rumah.
Hafni yang ikut memikirkan ia menyuruh Safira untuk hamil malam ini juga.
" Safira, pokoknya kamu harus hamil malam ini juga, bangunlah kita ke leb sekarang" sahut Hafni kepada Safira.
intan yang sedang makan pun setuju dengan ide Hafni lalu ia mengangguk - anggukan kepalanya dengan tanda setuju.
" kamu harus hamil untuk membuktikan kalau kamu bisa berkeluarga" sahut Hafni yang sudah berdiri.
" iya Safira benar" sahut Masnun yang ikut berdiri.
beda lagi dengan Safira ia seketika ingat akan kelakuan adiknya tadi siang. lalu ia memengang kepalanya dengan kedua tangan agar kejadian itu tidak terjadi pada dia, dan Safira berkata.
" tunggu, bisakah kalian tidak membicarakan hal itu di depanku sementara" sahut Safira kepada kedua sahabatnya itu.
Hafni dan intan mendengar Safira memanggil mereka untuk berhenti, dan Hafni dan masnun pun duduk lalu mendengar penjelasan Safira.
" sebenarnya aku menyaksikan Rafi melakukannya, menghamili istriya" sahut Safira yang ragu memberitahu Hafni dan masnun.
" aku tahu, ku harap aku tidak melihatnya tapi karena sudah terjadi aku tidak mau tinggal bersama" sahut Safira yang menggelengkan kepalanya.
intan pun memberanikan diri untuk bertanya kepada Safira.
" tapi bagaimana" sahut Masnun yang mencari tahu.
" aku berdiri di balkon beberapa saat berbicara untuk bicara denganmu di telepon, jadi dia tidak tahu kalau aku pulang" sahut Safira kepada kedua sahabatnya.
" jadi kalian bicara di telepon berapa lama" sahut Hafni yang jadi kepo.
" sekitar empat puluh menit" sahut Safira .
" lantas Rafi pasti melakukannya sekitar empat puluh menit" sahut Hafni yang mulai menghayal .
Masnun dan Safira melihat Hafni yang menghayal aneh - aneh.
" aku tidak menyangka Rafi bisa seaktif itu" sahut Hafni yang tersipu Malu.
__ADS_1
" astaga" sahut Masnun yang memukul kepala Hafni.
" dasar kamu " sahut Safira kepada Hafni.
" apa" sahut Hafni yang berteriak ke arah Safira dan masnun.
lalu tak lama mereka bertiga ngobrol di sisi lain ada pria yang marah dan membanting gelasnya lalu Safira, Masnun dan Hafni yang mendengarnya pun langsung membalikkan badannya melihat ke arah suara itu.
" apa, kamu ingin pindah" sahut pria yang tak di kenal.
" tunggu, aku menganggap mu seperti saudara kandungku sendiri, aku ingin merawat mu sebagai saudara kandungku" sahut pria yang tak di kenal lalu dia mengangkat garpu dan menunjukkan be arah pria yang di depannya, dia itu memakai baju putih panjang.
pria yang ada di depannya itu memanggil pelayan.
" tolong berikan aku dua tetes cuka" sahut pria baju putih.
lalu pelayan itu mengambil cuka, tapi pria yang tadi marah masih lanjut dengan kemarahannya.
" aku benar - benar menganggap mu seperti saudara sendiri, aku kira kita saudara sungguhan, saudara sungguhan kau tau maksudku. KAMU MENGERTI" sahut pria yang memakai jas hitam dan tak lupa dengan garpunya masih menunjuk ke arah pria baju putih itu.
" tidak, aku anak tunggal" sahut pria baju putih panjang.
" ini kontrak pertama yang kita tulis" sahut pria baju putih yang mengambil kertas yang ada di tasnya.
" isinya yang telah tertulis" sahut pria baju putih lalu menyodorkan kertas itu ke pria jas hitam.
" saat pihak pertama tinggal di rumah pemilik, pihak pertama harus mengikuti peraturan yang berlaku, kamu tidak mengikuti peraturan pertama kamu juga tidak mengikuti peraturan kedua dan ketiga " sahut pria baju putih panjang.
" kalau begitu kamu kembalika uang sewaku bulan ini" sahut pria jas hitam yang mengukur tanganya meminta uang sewanya.
lalu pelayan itu membawa pesanan cuka dua tetes dan memberikan kepada pria baju putih
sampai disini dulu ya kawan - kawan jangan lupa beri komentar yang mendukung serta positif dan juga like serta tip.
jangan lupa follow
Ig: aprihl.ll
tik tok: Aprianibasir
__ADS_1