MENIKAHI WANITA KAYA

MENIKAHI WANITA KAYA
episode 45


__ADS_3

" memang tidak ada tempat untuk ku, dari sejak awal" sahut safira yang masih menyandarkan kepalanya di jendela kereta. tapi tiba - tiba matanya tertuju pada seseorang yang memakai jaket hitam pekat.


( yak pria itu adalah pak Yudha) .


safira yang melihatnya yang mendekati arah kereta ia pun langsung membulatkan matanya karena kaget saat pak Yudha melihat nama kereta Karanganyar.


" pak Yudha pun masuk ke dalam kereta yang Safira naiki , safira yang melihatnya hanya bisa manggap dan langsung berdiri.


pada saat pak Yudha sudah mendekat ke arah safira, ia pun memberanikan diri untuk bertanya pada pak Yudha.


" sedang apa kamu di sini?" sahut safira yang bertanya pada pak Yudha kenapa ia bisa datang ke kereta yang Safira naiki.


" bagaimana .... bagaimana" sahut yang membulatkan matanya.



pak Yudha.


" kenapa tidak menjawab ponsel mu " sahut pak Yudha yang bertanya pada safira.


" akhhh ini ponsel ku baterainya habis" sahut safira yang meraba saku celananya untuk mengambil hp.


" ini, kamu meninggalkan ini di kamar mu " sahut pak Yudha yang memberikan naskah dramanya pada safira.


" ka.... kamu ke sini hanya untuk memberikan ini pada ku? " sahut safira yang manggap pada pak Yudha.


" aku sebenarnya hendak keluar, dan aku ingat kamu bilang kereta mu akan berangkat pukul 19.00 WIB. dan sepertinya kamu membutuhkan ini" sahut pak Yudha yang memberikan naskah dramanya pada safira.


" iya, aku pasti membutuhkannya " sahut safira yang mengambil naskah dramanya pada pak Yudha.


" kita akan segera berangkat" sahut bapak - bapak yang memberitahu lewat speaker suara.


" kalau begitu saya pergi dulu, sampai jumpa" sahut pak Yudha yang pamit pada safira.


" iya, sampai jumpa" sahut safira yang menganggukan kepalanya pada pak Yudha.


setelah safira menjawabnya pak Yudha pun langsung pergi, dan safira hanya melihat pak Yudha yang sudah keluar pun safira langsung duduk.


saat pak Yudha sudah keluar Safira pun langsung membuka naskah - naskahnya tapi matanya masih tertuju pada di luar. dan pada saat safira melihat ke arah pak yudha tiba - tiba dan tanpa sengaja pak Yudha menabrak seseorang.


" karena kamu orangnya, aku melakukannya karena kamu orangnya" sahut safira yang mengingat kembali percakapannya dengan pak Yudha.

__ADS_1


pak Yudha yang tadinya menabrak seseorang sampai barang - barangnya jatuh, dan akhirnya pak Yudha pun membantunya mengumpulkan barang - barangnya.


" dia orang pertama yang bilang membutuhkan ku " sahut safira yang memperlihatkan pak Yudha yang sedang membantu wanita muda karena barang - barangnya yang berserakan.


setelah membantunya pak Yudha pun langsung pergi, tapi dengan cepat safira langsung memegang tanganya pak Yudha dan berkata.


" masinisnya tidak akan menunggu lama karena dia marah jadi, cepat beri aku jawaban" sahut safira yang memegang tangannya pak Yudha pun langsung menoleh ke arah safira.


" baik" sahut pak Yudha yang menarik napas dalam - dalam.


" ja..... jadi maukah kamu menikah dengan ku?" sahut safira yang gugup.


" ce.... cepat masinisnya sudah menunggu " sahut safira yang menatap pak Yudha.


" baiklah" sahut pak Yudha yang menganggukan kepalanya dengan tanda setuju.


safira yang mendengarnya langsung saja tersenyum.


" ka.... kalau begitu, aku ambil dulu koper ku" sahut safira yang menunjuk ke arah kereta.


" tunggu" sahut pak Yudha yang menyuruh safira untuk berhenti.


" iya silahkan" sahut safira yang berteriak dari kejauhan.


" apakah kamu..... kamu menyukai ku?" sahut pak Yudha yang berteriak agar safira mendengarnya.


" tidak" sahut safira yang berteriak.


pak Yudha yang mendengar Jawaban dari safira langsung saja terasa lemas.


dan seketika mereka berdua pun saling bertatapan dari kejauhan.


" seperti itulah lamaran kami di mulai" sahut safira yang bergumang dalam hatinya.


dan di malam yang sejuk ini Masnun dan Hafni sedang duduk dan berbincang - bincang. sedangkan Maruf sendiri sedang menjemur pakaian yang ia cuci tadi.


" itu bisa gosong, cepat balikkan " sahut Maruf yang menyuruh Masnun dan Hafni untuk membalikkan daging yang mereka panggang.


" pukul berapa busnya?" sahut Masnun yang bertanya pada Hafni pukul berapa safira berangkat.


" pukul 19.00 WIB" sahut Hafni dengan nada berat.

__ADS_1


" sekarang pasti dia sudah naik" sahut Hafni yang melihat jam di hpnya.


" safira hanya bermigrasi ke Tawangmangu Karanganyar" sahut Maruf yang menoleh ke arah Hafni dan juga Masnun.


" kenapa kalian berdua meributkan kepulangannya " sahut Maruf yang bertanya pada kedua manusia yang sedang duduk.


" perjalanan ke Tawangmangu Karanganyar hanya 4 Jam, bahkan 3 jam jika cepat" sahut Maruf yang menjelaskan pada kedua wanita itu.


" bukan begitu, safira amat kesulitan saat pindah ke Indonesia " sahut Masnun yang lemas akan tidak adanya safira di dekatnya.


" dia di terima di universitas dalam sekali percobaan dan pindah " sahut Maruf yang menjepit pakaian - pakaian yang ia jemur tadi agar tidak jatuh saat angin.


" meskipun dia di terima di di universitas swasta tidak ada gunanya, jika orang tuanya tidak enggan melepaskannya" sahut Hafni yang sedang melihat daging - daging yang mereka panggang apakah sudah matang atau belum.


" kenapa enggan ?" sahut Maruf yang mendekat ke arah Masnun dan Hafni.


" safira hanya di perbolehkan belajar di universitas Nasional Indonesia, dan ayahnya pernah bilang kalau biaya hidupnya di Indonesia terlalu Sangat mahal" sahut Masnun yang menjelaskan pada Hafni dan juga Maruf.


" benarkah? lalu bagaimana dia bisa pindah ke Indonesia " sahut Maruf yang bertanya pada Masnun.


" masalah safira itu " sahut Masnun yang menarik napas untuk menjelaskan.


" dia itu agak gila" sahut Hafni dan Masnun yang secara bersamaan.


" gila? " sahut Maruf yang tidak mengerti maksud dari perkataannya Hafni dan juga Masnun.


" akhhh safira? dia itu orang yang paling baik yang pernah ku kenal" sahut Maruf yang tidak percaya akan perkataannya Masnun dan juga Hafni.


" kamu pasti belum mengenalnya " sahut Hafni dengan nada berat dan dengan mata menyelidiki.


" pada saat 10 tahun yang lalu" sahut Hafni yang mulai menjelaskan siapa itu sosok safira sebenarnya.


" ini lumayan" sahut Masnun yang memegang hasil ujiannya.


" ayahnya itu punya filosofi, jika ia tidak bisa menjadi hakim atau jaksa, maka salah satu pilihannya adalah menjadi guru " sahut Hafni yang mengingat kembali masa - masa 10 tahun yang lalu.


" tapi nilainya tidak cukup, untuk ke jurusan hukum universitas Nasional Indonesia" sahut Masnun yang ikut menambahkan sedikit ceritanya pada sepuluh tahun yang lalu.


sampai di sini dulu ya kawan - kawan jangan lupa beri komentar yang mendukung serta positif dan juga like serta beri tip yaaaa. dan jangan lupa jaga kesehatan di masa pandemi ini karena masa PPKM berjalan.


terimakasih ❤️

__ADS_1


__ADS_2