MENIKAHI WANITA KAYA

MENIKAHI WANITA KAYA
episode 46


__ADS_3

" kamu pasti belum mengenalnya " sahut Hafni dengan nada berat dan dengan mata menyelidiki.


" pada saat 10 tahun yang lalu" sahut Hafni yang mulai menjelaskan siapa itu sosok safira sebenarnya.


" ini lumayan" sahut Masnun yang memegang hasil ujiannya.


" ayahnya itu punya filosofi, jika ia tidak bisa menjadi hakim atau jaksa, maka salah satu pilihannya adalah menjadi guru " sahut Hafni yang mengingat kembali masa - masa 10 tahun yang lalu.


" tapi nilainya tidak cukup, untuk ke jurusan hukum universitas Nasional Indonesia" sahut Masnun yang ikut menambahkan sedikit ceritanya pada sepuluh tahun yang lalu.


di sisi lain teman - temanya merasa senang akan nilai yang mereka peroleh. dan sedangkan safira hanya bisa melihat nilainya itu langsung saja menidurkan kepalanya ke meja dan langsung Lemas akan nilai - nilainya.


Hafni dan masnun yang melihat safira yang menidurkan kepalanya di meja langsung saja kaget.


setelah semuanya di beri kertas hasil ujian, safira pun langsung berniat pulang.


dan saat safira pulang langsung melihat catatannya yang selama ini ia tulis.


" jurusan hukum, universitas Nasional Indonesia" sahut safira yang melingkari nama dari universitas yang tidak bisa masuk hanya pasal, nilainya tidak cukup.


" impian sejak kecilnya adalah menjadi seorang penulis, karena itu dia memutuskan untuk mencoba sastra Indonesia" sahut Hafni yang menjelaskan pada Masnun dan juga Maruf.


di saat safira dan ayahnya sedang makan, yang tadinya ia mempunyai selera makan tiba - tiba selera makannya hilang.


" dan saat makan malam tiba, safira pun memberanikan niatnya saat makan malam tiba.


" ayah" sahut safira yang memanggil ayahnya, saat safira memanggil ayahnya dan yang tadinya ayahnya yang sedang melahap nasi langsung saja berhenti karena karena dia di panggil sama anaknya safira.


" aku ingin belajar sastra Indonesia" sahut safira yang terbata - bata akan amarah ayahnya.


belum saja safira menyelesaikan perkataannya, ayahnya Langsung saja berteriak dan berkata.


" apa?" sahut ayah yang melempar semua makan malam yang ada di meja makan.


ayahnya langsung membalikkan mejanya dengan kekuatan dan juga amarahnya yang sangat tinggi" sahut Masnun yang sudah tahu siapa itu ayahnya safira yang sebenarnya.


" tidak mungkin, bagaimana bisa ia membujuk pada ayahnya untuk datang ke sini?" sahut Maruf yang tidak percaya akan ceritanya Masnun dan juga Hafni.


" membujuk, sudah ku bilang dia itu sudah gila ?" sahut Hafni yang meminum minumannya.

__ADS_1


" di saat ayah dan ibunya sedang sibuk, safira pun mendaftar secara diam- diam tanpa persetujuan orang tuanya" sahut Masnun yang menaruh danging yang sudah matang di wadah yang bersih.


" dan saat sehari sebelum perkuliahan di mulai, ia langsung pergi ke Indonesia untuk kuliah" sahut Masnun yang mengingat akan safira datang ke Indonesia tengah malam.


dan saat malam hari tiba, safira pun keluar lalu kabur dari rumahnya.


dan di saat malam hari tiba, safira pun keluar lalu kabur dari rumahnya.


dan pada saat pagi tiba ayahnya sudah lebih dulu menuggu safira di universitas Nasional Indonesia, pada fakultas keguruan dan tepatnya ayahnya safira sedang menunggu di depan gerbang kampus dan membawa dua kantong makanan yang di dalam plastik terisi penuh.


saat ayahnya safira membalikkan badannya untuk melihat spanduk kampus keguruan dan dengan cepat ia mengotak - Atik nomor di hpnya dan langsung saja ia menelpon safira.


dan pada saat itu juga safira baru saja keluar dari kampusnya dan segera mau pulang.


ia yang merasa hpnya bergetar langsung saja menjawab dan berkata.


" di mana kamu? ayah ada di depan gedung mu cepat keluar" sahut ayah yang marah karena sudah berjam - jam ayahnya menunggu di depan gerbang.


saat safira mendengar ayahnya sudah di luar gedung dengan cepat safira mematikan telponnya dan langsung membulatkan matanya.


di sisi lain ayahnya sudah menunggu safira di luar gedungnya, sampai - sampai marah karena saat sudah malam safira belum saja turun dari gedung untuk melihat ayahnya di luar.


" sampai dia menyelesaikan semester pertamanya, bahwa selama ini ayahnya berpikir kalau safira itu kuliah di Tawangmangu Karanganyar " sahut Masnun yang ikut heran dengan safira.


" akhhh dia itu benar - benar sudah gila " sahut Maruf yang sudah mengerti kenapa kedua sahabatnya ini menjelaskan padanya bahwa safira itu sudah gila.


" ku pikir yang gila itu Hafni " sahut Maruf yang membisikkan pada Masnun.


" tidak, Hafni itu hanya punya kepribadian yang baik" sahut mansun yang memandang ke arah Hafni.


" safira, selalu mengejutkan kami di waktu yang paling tidak terduga " sahut Hafni dengan nada berat Dengan mata menyelidiki.


" masinis tidak akan menunggu lama karena dia marah" sahut safira yang memegang tangannya pak Yudha.


" jadi, cepat beri aku jawaban " sahut safira yang menatap pak Yudha.


" baik" sahut pak Yudha yang menganggukan kepalanya.


" maukah kamu...... kamu menikah dengan ku?" sahut safira yang bersungguh - sungguh.

__ADS_1


" ce....cepat masinisnya sedang menunggu" sahut safira yang tidak sabar akan jawabannya dari pak Yudha.


" baik" sahut pak Yudha yang memberi anggukan pada safira dengan tanda setuju.


" kalau begitu, aku akan menurunkan koper ku " sahut safira yang menunjuk ke arah kereta.


" dia amat kesal" sahut safira yang berjalan mundur dan mendekati kereta.


" tunggu " sahut pak Yudha yang menyuruh safira untuk berhenti.


" ada sesuatu yang ingin aku tanyakan tadi" sahut pak Yudha yang berteriak agar safira mendengarnya dari jauh.


" silahkan" sahut safira yang ikut berteriak dari kejauhan.


" apakah kamu ..... kamu menyukai ku?" sahut pak Yudha yang berteriak agar safira mendengarnya.


" tidak" sahut yang yang sedikit berpikir agar memberi jawaban yang benar.


" bawa barang - barang mu aku akan menunggu di dalam" sahut pak Yudha yang menunjuk ke dalam bendara.


safira yang mendengarnya hanya bisa memberi anggukan dan langsung pergi, begitu juga dengan pak Yudha.


setelah selesai mengambil kopernya, safira dan pak Yudha bersiap naik bus ke rumahnya pak Yudha di apartemennya.


mereka berdua hanya bisa saling melihat ke kaca bus yang tidak terlalu transparan.


" ku lihat, kamu yang mencuci mangkuk mie instan " sahut pak Yudha yang memulai obrolan mereka berdua agar tidak hening.


" akhhh iya, itu sudah jadi kebiasaan ku saat makan langsung mencucinya" sahut safira yang ikut berdiri di sampingnya pak Yudha.


" bagus, kamu punya kebiasaan yang bagus" sahut pak Yudha yang seketika tersenyum.


" terima kasih" sahut safira yang tersenyum dan juga di berikan anggukan.


" ohh ada tempat duduk . duduklah " sahut pria baju hitam yang menyuruh pacarnya untuk duduk karena orang yang duduk di kursinya baru saja keluar.


sampai di sini dulu ya kawan - kawan jangan lupa beri komentar yang mendukung serta positif dan juga like serta beri tip yaaaa. dan juga jangan lupa jaga kesehatan di masa pandemi ini karena masa PPKM berjalan.


terimakasih ❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2