
" batas waktu untuk pembaruan terbaru seminggu lagi" sahut pak kepala kantor.
" haruskah kita memeriksa pertimbangan utamanya? pak Yudha kamu akan membuat rencana untuk stabilisasi sudah di selesaikan" sahut pak kepala kantor.
" belum, masih dalam pengerjaan" sahut pak Yudha yang datar.
karyawan yang berada di dalam ruangan itu langsung melihat ke arah pak yudha.
" pak Yudha setidaknya kamu harus memberikan konsep pertama hari ini, itu mustahil" sahut pak kepala kantor kepada pak yudha.
" Beban kerjanya terlalu berat, untuk diselesaikan sebelum pukul 18.00" sahut pak Yudha yang terlihat datar.
pak kepala kantor yang mendengarnya hanya menatapnya dengan kebingungan.
" kamu membicarakan soal pulang ke rumah?" sahut pak kepala kantor.
" kamu harus lembur di malam hari, seefektif apakah itu?" sahut kepala kantor yang mau menjelaskan kembali tapi sudah di potong sama pak yudha.
" ku rasa aku tidak bisa melakukannya untuk saat ini, selain tugas utama yang harus ku urus. aku sudah membuat daftar untuk semua orang agar pekerjaan " sahut pak Yudha yang datar.
" agar pekerjaannya bisa di bagi, jadi sebaiknya kalian" sahut pak Yudha kepada semua teman - teman kerjanya. tapi pada saat pak Yudha melanjutkan kembali penjelasannya tapi sudah di potong sama temannya.
" maaf, apakah kamu mendapatkan pekerjaan baru?" sahut karyawan perempuan.
" oh bukan begitu, aku hanya perlu memberi makan kucingku tiap malam" pak Yudha yang datar.
" aku juga harus membuang sampah daur ulang" sahut pak Yudha yang menatap ke arah pak kepala kantor.
semua karyawan yang berada di sana kebingungan karena jawaban dari pak Yudha.
rapat pun selesai pak kepala kantor menyuruh pak Yudha untuk berbicara di teras atas bersama pak Yudha.
" jadi begitu ya, aku mengerti kamu marah kepada ku. karena teman serumah yang ku kenalkan kepada mu, tapi kamu sudah dewasa kamu tidak bisa melampiaskannya kepadaku. kita sedang membangun bisnis disini, batas waktunya seminggu lagi " sahut pak kepala kantor kepada pak Yudha.
" Aldi, apa syarat pertama aku bekerja di sini?" sahut pak Yudha.
" gaji mu " sahut pak Aldi kepada pak yudha.
" kurasa bukan itu" sahut pak Yudha yang bertanya lagi ke pak Aldi.
" kurasa itu sesuatu mengenai, apa itu orgasme? kurasa bukan" sahut Aldi kepada pak Yudha.
" oh algoritma, itu mengenai algoritma mu" sahut pak Aldi yang mau melanjutkan tapi sudah di potong.
" perusahaan tidak menggangu algoritma di kehidupan ku, kini aku tidak mempunyai teman serumah karena kamu" sahut pak Yudha yang mengacungkan jarinya ke arah Aldi.
__ADS_1
" itu sudah mengganggu algoritma ku, aku tidak bisa lembur di malam hari sampai hidupku normal kembali" sahut pak Yudha yang memengang bahu pak Aldi.
pak Yudha pun meninggalkan pak Aldi sendirian di teras atas.
" oke baiklah, aku akan mencarikan dia teman serumah dan membuatnya bekerja untukku selamanya " sahut pak Aldi yang sedang mengotak Atik hpnya yang mencaritahu.
" kamu masih belum tahu sebesar apa tekad Ku" sahut pak Aldi yang masih mencari tahu.
disisi lain Safira sedang makan di warung terdekat.
" berapa banyak cerita yang harus ku tulis untuk tempat itu? " sahut Safira yang memandangi gedung - gedung tinggi yang bagus.
tidak lama Safira memandangi gedung - gedung itu Masnun tiba - tiba menelponnya.
" halo, ini Safira" sahut Safira yang menyapa Masnun.
" Safira apakah kamu sudah menemukan tempat tinggal baru" sahut Masnun yang bertanya kepada Safira.
" belum" sahut Safira yang sedang memakan makanannya.
"apa? tidak perlu deposit? " sahut Safira yang kaget dengan ide dari masnun.
" iya, kamu hanya perlu membayar 500 per bulan " sahut Masnun kepada Safira.
" dimana ? aku bisa ke sana sekarang" sahut Safira yang mau mencatat alamat yang ia tuju.
" tapi ada syaratnya" sahut Masnun.
Safira pun pergi ke tempat kerja Masnun, " eh Safira " sahut Masnun yang melambaikan tangannya ke arah Safira.
" mau minum sesuatu ? " sahut masnun yang menawarkan minum ke Safira.
" tidak usah" sahut Safira.
" siapa itu? kenalan Maruf? " sahut Safira yang bertanya.
" ya, itu teman kuliahnya Latif" sahut Masnun yang mempersilakan Safira duduk.
" apartemen dua kamar dan ada satu kamar kosong kecil, kamarnya di sewakan. intinya dia ingin orang bisa bayar sewa dan jadi teman serumah " sahut Masnun yang menjelaskan secara rinci.
" kompleks apartemen? " sahut Safira yang membulatkan matanya karena kaget dia akan tinggal di apartemen.
" ya, tapi dia tidak menginginkan banyak hal. dia mau kamu sekarang" sahut Masnun tapi sudah di potong sama Safira.
" aku bisa langsung pindah" sahut Safira yang mengangkat tangannya karena setuju.
__ADS_1
" dia perlu penyesuaian seminggu" sahut Masnun yang lagi - lagi di potong Safira.
" bahkan sebulan pun aku bisa" sahut Safira yang tidak sabaran.
" tapi dia agak sedikit gila , kamu tidak masalah dengan itu? " sahut Masnun yang mengangkat jari telunjuknya menunjuk ke arah kepala.
" Masnun aku sudah bekerja, sebagai seorang penulis paling sensitif dan gila di Indonesia" sahut Safira kepada Masnun.
" selama Lima tahun terakhir" sahut Safira dengan mata tajam.
" kini aku mampu melayani orang gila di dunia" sahut Safira yang kagum dengan diri sendiri.
" baiklah, aku akan meminta Maruf memberimu nomornya sekarang" sahut Masnun yang mengambil hpnya di saku.
" sepertinya kalian berdua sudah berbaikan " sahut Safira kepada Masnun.
" tidak, aku hanya bermurah hati" sahut Masnun yang masih ada rasa dengan Maruf.
" kali ini tidak berlangsung lama" sahut Safira yang senyum - senyum ke arah Masnun.
" Maruf jelas tahu cara membuatmu merasa lebih baik" sahut Safira kepada Masnun.
"dia memang lebih baik dari sebelumya" sahut Masnun yang menghela nafas panjang dan berat.
" maksudku dia terampil" sahut Masnun yang melihat Safira dengan mata micing.
" benar aku mengerti maksudmu" sahut Safira yang langsung mengerti apa maksud dari kata Masnun.
" sepertinya aku tidak mau mendengar apa pun lagi darimu" sahut Safira yang menutup telinganya dengan kedua tangannya.
" semalam,Maruf dia menghampiri ku seperti ini" sahut Masnun yang mulai memperagakan pada Safira. tapi malah Safira menutup kedua telinganya dengan tangannya.
" tidak, aku tidak mau tahu, bolehkah aku memesan minuman" sahut Safira yang langsung memesan tanpa di suruh Masnun.
Safira dan masnun pun berbincang lama Sampai sore, dan sorenya Safira mengemas pakaiannya ke dalam koper dan ingin segera pindah.
maaf ya kawan - kawan saya lama mengupload karena saya sedang sakit jadi hari ini baru saya upload. jangan lupa like dan jangan lupa beri komentar yang mendukung serta positif dan tip.
jaga kesehatannya di masa pandemi ini
jangan lupa follow
Ig: aprihl.ll
tik tok: Aprianibasir
__ADS_1