Menikahkan Suamiku

Menikahkan Suamiku
bab 10


__ADS_3

Bu Gina menatap Almahira dengan heran.


"Apa maksudmu? Tidak usah menulis rencananya lagi. " tanya bu Gina.


"Kak Gina tak perlu menulisnya lagi. Ubah saja sedikit tulisan dan tata letaknya, lalu serahkan. Manajer Burhanuddin tidak akan memeriksanya dengan benar. " kata Almahira sambil mengesap kopinya.


"Tapi jika isinya sama, pasti akan... " bu Gina ragu ragu.


"Tenang saja. Jika pak Jaka memarahi kak Gina, aku yang akan menulis ulang laporannya. Tentu dengan nama kak Gina di situ. " ujar Almahira tersenyum. Bu Gina menatap gadis berkacamata itu. Masih dengan keheranan.


"Baiklah.Aku akan mengikuti saranmu. " bu Gina mengangguk. Almahira menyerahkan sesuatu pada wanita berambut pendek itu. "Apa ini. flashdisk kah. "bu Gina menatap benda mungil di tangannya itu.


"Bukan.Itu alat perekam. Gunakan saat pak Jaka memaki kakak. " ujar Almahira.


"Tapi aku tak enak dengan pak Jaka, beliau sangat kerepotan waktu aku cuti melahirkan. " kata bu Gina.


"Hah, mana ada.Siapa yang mengatakan pak Jaka sibuk mengerjakan laporan.Hampir semua tugasnya kami yang mengerjakan. Setengahnya aku yang selesaikan. Sisanya karyawan lain. Dia cuma marah marah tak karuan, macam kambing minta kawin. " kata Almahira kesal. Bu Gina tertawa terkekeh.


"Dia bilang, dia lembur terus untuk menyelesaikan laporan. Tak ada seorangpun yang mau membantunya." kata bu Gina.


"Astaga Si patkai. " seru Almahira tak percaya. Benar benar keterlaluan si Jaka burhanuddin itu. Awas saja nanti kalau ia berani menyuruh nyuruh. Geram Almahira dalam hati.


"Pantas saja seenak udelnya saja. " geram bu Gina.


"Untuk sementara, berpura-pura saja tak tau. " ujar Almahira. "rekam saja, kakak pasti membutuhkannya,nanti tiba saatnya, kita serang balik paman botak itu. " bu Gina mengangguk.


Kedua wanita itu kembali ke dalam. Saat pintu terbuka, nampak pak Jaka sedang memarahi Zahra Fahira.


"Apa kau tak bisa bekerja dengan baik. Kau pikir kantor ini milik nenek moyang mu. " maki pak Jaka pada Zahra Fahira. Gadis muda periang itu hanya menunduk sambil meminta maaf. Seingat Almahira, tak lama setelah itu, Zahra Fahira pindah ke departemen lain tentu saja itu karena pak Jaka. Benar benar seperti kambing yang minta kawin, pak Jaka seperti orang yang tak punya attitude. Sungguh tak pantas menjadi pemimpin.


"Zahra Fahira, mulai lagi paman botak itu. Ia selalu pandai memilih sikon, disaat kepala manajer tak ada. " batin Almahira. Dengan seenaknya pak Jaka memarahi orang. Seperti dunia milik dia saja. Tunggulah kau Jaka Burhanuddin. Orang yang berhenti bekerja bukan kak Gina, tapi kau manajer Burhan. Almahira menatap pak Jaka dengan penuh kemarahan.


Esok harinya.


"Apa ini!!!! kacau semua. Ulang lagi.Asisten manajer Gina. " ujar pak Jaka sambil melemparkan laporan rencana asisten manajer Gina. Dengan sedih bu Gina mengangguk.


Hari kedua.


"Ulang lagi.Aku sudah memberimu kesempatan.Kenapa masih mengecewakan." bentak pak Jaka.


Hari ketiga.


"Sangat buruk. " maki lelaki botak itu.


Hari keempat.


"Ulang." ujar pak Jaka.


Sampai seminggu kemudian.


"Hmmmm.Ini lebih baik. Buat salinan, masukkan diagenda rapat.Serahkan di meja kepala manajer. " kata pak Jaka. Bu Gina tersenyum puas. "untuk selanjutnya aku tidak akan memberimu kesempatan. Ingat, beberapa waktu lagi ada penilaian promosi jabatan. Kerjakan dengan benar. Dengan benar ya. " ujar lelaki menyebalkan itu. Bu Gina hanya bisa mengangguk patuh.

__ADS_1


"Baik pak manajer." jawab bu Gina."Ternyata benar yang dikatakan Almahira, pak Jaka sama sekali tidak memeriksa laporan ini. Padahal aku hanya mengganti huruf dan mengubah sedikit tata letaknya. "batin bu Gina lagi. Ia menoleh ke arah Almahira. Gadis itu tersenyum dan mengangguk padanya. Bu Gina membalas dengan tersenyum manis juga.


Ponsel bu Gina bergetar. Ada pesan masuk.


Pengirim:asisten manajer Almahira.


Biar saya yang menyerahkan rencana itu pada kepala manajer. Tolong kakak siapkan salinan untuk anggota yang lain.


Loh bukannya dokumen asli ada padaku. Kenapa Almahira ingin menyerahkannya pada kepala manajer. Ah biarlah. Aku yakin Almahira punya rencana sendiri. Batin bu Gina. Ia mengangguk pada Almahira yang sedang menuju meja kepala manajer Elang Samudera, dengan kertas tebal di tangannya.


"Permisi kepala manajer. Ini adalah rencana yang sudah di setujui manajer dan akan dibahas dalam agenda rapat nanti. " kata Almahira menyerahkan dokumen pada kepala manajer Elang Samudera.


"Ya bersiaplah untuk rapat. Tadi Zahra Fahira sudah pergi membeli kopi. Jadi kau tak perlu menyiapkannya. " kata lelaki berwajah dingin itu.


"Baik, kepala manajer.Saya mengerti. " Almahira mengangguk. "Oh rupanya Zahra Fahira pergi beli kopi. Pantas tak nampak dari tadi. " batinnya.


Di ruang rapat. Telah tersedia banyak americano.


"Wah, Zahra Fahira pintar sekali. " puji Hendra Setiawan dan rekan yang lain. Mereka tertawa bersama. "jika minum kopi instan dipagi hari, perut langsung sakit. Zahra Fahira, terimakasih ya. "


"Ah, ini semua kepala manajer yang traktir. " kata Zahra Fahira ikut tertawa.


Tiba-tiba manajer Jaka Burhanuddin masuk.


"Apa lagi ini. " teriaknya keras. "siapa yang membeli kopi ini semua. " omelnya.


"Saya yang membelinya , pak manajer Jaka. " kata Zahra Fahira dengan riang. Sambil menyodorkan satu cup amerikano pada pak manajer Jaka.


"Hah, apa kau bagus, sok hebat Zahra Fahira. Kopi menumpuk di pentry. Siapa yang minum.Kopi pahit dari cafe mahal yang tidak enak, Siapa yang mau menimumnya di pagi hari saat rapat.Kau pikir dirimu siapa, kau hanya karyawan kontrak.Tapi menggunakan kartu perusahaan seenak jidatmu. " maki pak manajer Jaka berapi api.


"Ke... kepala manajer... itu Zahra Fahira membeli banyak kopi... dia memakai kartu perusahaan. Saya pikir itu kurang etis. " kata pak Jaka ketakutan.


"Aku yang menyuruhnya. Lagi pula ia memakai kartu pribadi milikku. Apa ada masalah. " kata kepala manajer Elang Samudera dingin. Almahira dan Sarah Amelia yang baru masuk ke ruang rapat terkejut.


"Zahra Fahira memakai kartu pribadi pak kepala manajer.Sampai saat ini tak pernah ada yang memakai kartu pribadi milik pak kepala manajer." batin Almahira.


"Sialan si jal*ng Zahra Fahira. Rupanya ia berhasil menggoda pak kepala manajer. " geram batin Sarah Amelia tak suka. Iri bray. Wkwkwk.


Di ruang rapat telah berkumpul anggota devisi perencanaan. Pak kepala manajer Elang Samudera duduk di kepala meja. Di kiri beliau duduk manajer Jaka Burhanuddin, Hendra Setiawan, Sarah Amelia, dan tiga anggota lain. Di sisi kanan ada asisten manajer Bu Gina, asisten manajer Almahira Rengganis, Zahra Fahira dan dua anggota lain.


"Rapat kita mulai.Hari ini kita akan membahas rencana yang disusun oleh asisten manajer Gina bukan. " kata pak kepala manajer Elang Samudera.


"Iya kepala manajer. " jawab bu Gina. Semua mata terarah ke laptop di depan masing-masing. "berikut adalah perencanaan dan pemasaran produk minuman kali ini. " Bu Gina memulai presentasi. "minuman sehat yang menjadi kata kunci pencarian akhir akhir ini, dan minuman higenis dan berkwalitas adalah produk unggulan dari unileveren and drinks, akan digabungkan. "


Semua memperhatikan dengan seksama.


"Ini adalah minuman sehat cepat saji untuk keluarga. Anak balita pun bisa mengkonsumsinya. Karena dari serat alami dan sudah jelas sehat dan higienis. Penyajiannya pun gampang." kata bu Gina. "kemasannya pun dirancang lebih menarik dari pada produk minuman warna warni. Untuk menarik perhatian. Karena pasar kita adalah anak anak dan lansia. Tanpa membebani orang lain. Praktis, gampang di buka tutup. Enak di sajikan dingin atau biasa. Tapi yang jelas sehat. " kata bu Gina. "di halaman tiga adalah daftar bahan, dan di halaman lima adalah disain kemasan. "


"Tunggu dulu Asmen Gina,sepertinya ada kesalahan." kata pak kepala manajer Elang Samudera mengintruksi. "di halaman tiga bukannya daftar bahan. Tapi contoh kemasan. "


"Asisten manajer Gina, " teriak manajer Jaka. "aku sudah bilang untuk menyerahkan dokumen aslinya kan. "

__ADS_1


"Maaf, sepertinya saya salah menyerahkan rencana yang Anda tolak manajer Burhan. " kata bu Gina.


"Ah, kepala manajer. Ini baca punya saya sajasaja lebih dahulu. " pak Jaka menyerahkan kertas di tangannya pada kepala manajer Elang Samudera.Lelaki berwajah dingin itu membuka laporan yang diberikan oleh manajer Burhan. "tunggu apa lagi, cepat ambil dokumen baru untuk kepala manajer. " suruh manajer Burhan kepala Gina dengan suara keras.


"Tunggu dulu. " cegah kepala manajer Elang Samudera. "asisten manajer Gina, apa ini rencana yang di tolak. "


"Iya, untuk rencana baru, halaman tiga adalah daftar bahan produk. " jawab bu Gina.


"Manajer Burhanuddin, kenapa kau menolak rencana pertama. " tanya kepala manajer Elang Samudera pada pak Jaka.


"I... itu... itu karena rencananya tidak ada yang benar.Sebagian banyak yang salah. " jawab pak Jaka. "tapi setelah beberapa kali perbaikkan, saya menerimanya. Mungkin asisten manajer Gina terburu buru, mengambilnya sebagian besar dari internet, setelah saya tolak terus menerus, hari ini isinya benar dan saya baru menyetujuinya. " lelaki itu berkata serius, tanpa mau disalahkan. Dasar kambing kebelet kawin.


"Beberapa kali dan terus menerus. " pak kepala manajer Elang Samudera membanting laporan perencanaan di depan pak Jaka. "dua rencana ini hanya beda dari penempatan daftar isi dan contoh kemasan. Isinya sama." kata kepala manajer Elang Samudera. Membuat pak Jaka tercengang tak percaya. "sebenarnya apa maksudmu menolak dan kemudian menyetujuinya."


"Apa... maksudnya ini asisten manajer Gina. " teriak pak Jaka emosi. "kau mempermainkanku. "


"Eh.... " bu Gina ingin menjawab. Tapi... seseorang mengintrusi.


"Maaf." suara asisten manajer Almahira Rengganis. Gadis berkacamata itu berdiri. "rencana awal memang ditulis oleh Bu Gina. Tapi rencana kedua saya yang menulisnya dari dokumen yang sekarang. "


"Apa maksudmu asisten manajer Almahira Rengganis. " pak kepala manajer Elang Samudera menatap Almahira.


"Akhir akhir ini asisten manajer Gina sedang tak enak badan. Jadi saya membantunya. Tapi saya kira rencananya adalah referensi, sehingga saya menulis apa adanya. Dan menyerahkannya.Asisten manajer Gina tak punya waktu menulisnya lagi. Jadi menyerahkannya lebih dulu pada manajer. Dan menyerahkan rencana awal pada kepala manajer adalah kesalahan saya. Saya minta maaf Pak kepala manajer. "


"Asisten manajer Almahira Rengganis, apa kau bercanda. Kau bisa membuat kesalahan pada hal lain. Bagaimana kau bisa salah untuk hal ini. Jika kau melakukan kesalahan, kau bisa minta waktu memperbaikinya dan menbuat rencana baru. " seru manajer Jaka Burhanuddin menunjuk Almahira dengan bengis.


"Manajer Jaka Burhanuddin. kau sedang menyalahkan siapa. " tanya kepala manajer Elang Samudera menatap dingin manajer Burhanuddin.


"Maafkan saya. Saya salah karena kelelahan. " kata pak Jaka dengan wajah pucat ketakutan.


"Anda bisa salah dalam hal lain. Tapi bagaimana ada kesalahan dengan hal ini. " ujar kepala manajer Elang Samudera.


"Maafkan saya. Kejadian ini tidak akan terulang lagi. " kata pak Jaka menunduk.


"Tak perlu meminta maaf padaku. Berikan surat penyesalanmu besok. " kata kepala manajer Elang Samudera dengan dingin.


"Kepala manajer. " dengan ketakutan pak Jaka mengangguk.


"Saya minta maaf. Ini rencana yang baru. " Almahira menyerahkan dokumen pada kepala manajer Elang Samudera.


"Tidak apa apa. " kata kepala manajer Elang Samudera menerima dokumen dari tangan Almahira. "oya, untuk selanjutnya, kita hilangkan konfirmasi awal dan langsung serahkan padaku. Ayo, lanjutkan rapatnya. Bu Gina silahkan dimulai. " kata lelaki dingin itu lagi. Bu Gina dan Almahira saling lirik dan tersenyum penuh kemenangan. Sementara pak Jaka dan Sarah Amelia begitu geram dan kesal. Rencana mereka gagal karena ketolol*n si patkai.


"Terimakasih semuanya. " kata bu Gina. Rapat pun selesai.Mereka pun kembali ke kubelik masing-masing. Sejujurnya Almahira sangat takut. Tapi untungnya tidak terjadi apa apa.Sekarang tak ada lagi alasan bu Gina untuk keluar. Almahira bernafas lega. Tapi pak Jaka menatap penuh kebencian padanya. Ah masa bodohlah. Si kambing kebelet kawin itu memang seharusnya berhadapan dengan pak kepala manajer. Biar dia tau rasa. Biar tidak seenaknya pada yang lain.


Sebuah pesan masuk. Almahira segera membukanya.


Pengirim asisten manajer Gina:Almahira, terimakasih ya. Sekarang kedepannya aku bisa lebih tenang.


Almahira tersenyum. Saat akan membalas pesan, sebuah pesan lain masuk. Sarah Amelia.Almahira membuka pesan.


Pengirim Sarah Amelia:Almahira!!!! jangan lupa janji kita hari minggu ini ya.

__ADS_1


Almahira tercengang membaca pesan Sarah Amelia. Janji apa. Ada apa dengan hari itu.Toh gampang saja, ia tinggal bilang tak jadi pergi. Almahira mencoba mengingat ingat apa yang janjinya di hari minggu depan Sarah Amelia.


Tunggu. Bulan empat. Acara reuni. Hal yang ingin dihapus Almahira dari ingatannya. Hal menyakitkan apa. Kenapa perasaannya begitu marah. Almahira mencoba mengingat ingat kejadian yang pernah ia alami di kehidupan terdahulu. Terkait hari minggu yang dimaksud oleh Sarah Amelia.


__ADS_2