
"Saya senggang. " jawab Almahira kaget. "Tapi apa ini berkaitan dengan pekerjaan. "
"Ada yang ingin aku bicarakan terkait dengan asisten manajer Jaka Burhanuddin. " kata Elang Samudera.
"Baik.Saya akan kemeja anda setelah pulang kerja, pak Kepala Manajer. " kata Almahira.
"Oya, pentry di sebelah sini airnya mati. Sepertinya kau harus ke pantry lain. " kata Elang Samudera sebelum Almahira masuk ke arah pantry di belakangnya.
"Oh, terimakasih Kepala Manajer. " kata Almahira. Ia lalu putar balik. Elang Samudera bernafas lega. Setidaknya Almahira tidak melihat keberadaan kedua ular itu.
Malamnya. Di sebuah restoran.
"Sebenarnya ada masalah apa dengan asisten manajer Jaka Burhanuddin, sampai kita harus makan di restoran hotel bintang lima. " tanya Almahira. Ia sebenarnya tidak terlalu suka masakan restoran kelas atas. Selain mahal, tidak terlalu banyak. Rasanya sama saja. Ia lebih suka makan di angkringan, daripada di restoran.
"Oh, aku hanya ingin berterimakasih atas kerja kerasmu selama ini Almahira Rengganis. " kata Elang Samudera.
"Oh, hanya itu. " Almahira menyuap potongan daging ke mulutnya.
"Aku harus mengatakannya. " batin Elang Samudera. "apa kau akan terus berpacaran dengan Hendra Setiawan.Kau mungkin tidak nyaman dengan pertanyaan ku. Tapi itu sangat penting bagiku. " kata Elang Samudera.
"Kepala manajer, anda selalu bertanya hal pribadi kepada saya. Dan saya rasa tidak ada kepentingan untuk saya harus menjawabnya. Hubungan saya dengan Hendra Setiawan baik baik saja. Jadi saya minta anda berhenti memberi perhatian pak Kepala Manajer. " ujar Almahira. Tapi suaranya bergetar. Dan Elang Samudera tau, gadis di depannya ini sedang berbohong.
"Baiklah, lupakan saja. Silahkan lanjutkan makannya. " ujar Elang Samudera. "kenapa harus pria sialan itu. Kau sampai harus berbohong. Apa alasanmu tetap menjalin hubungan dengan Hendra Setiawan. " batin Elang Samudera.
"Eh, pak Kepala manajer, maaf. " kata Almahira. "lain kali jangan ajak saya makan di tempat seperti ini lagi ya. "
"Ya." Elang Samudera menatap wajah Almahira bingung.
"Makanannya mahal, dan terlalu sedikit. " bisik Almahira. Membuat Elang Samudera tergelak dengan kerasnya. Almahira langsung mencubit perut lelaki itu. Mereka tertawa bersama. Menghilangkan kekakuan tadi.
"Lain kali kita akan makan di angkringan saja. " kata Elang Samudera. "di daerah Batam Center. "
"Di daerah Jodoh saja. " kata Almahira.
"Oke.Jodoh." ujar Elang Samudera mengangguk.
Makan malam pun selesai.
"Awas tangga. " seru Elang Samudera saat Almahira melangkah, tumit sepatunya tersangkut di tangga. Tubuh Almahira terjerembab. Sepatunya langsung patah.
"Ya Tuhan ku. " Almahira menatap seperti tumit tingginya.
__ADS_1
"Apa kau ini Almahira. Sepatu diratapi. " omel Elang Samudera. "Ayo ku bantu ke sofa. " Elang Samudera mengangkat Almahira. Pergelangan kaki gadis itu langsung membengkak. "tunggu di sini. "
Almahira mengangguk. Dadanya berdebar hebat saat Elang Samudera menggendongnya tadi. Pasti wajahnya sudah seperti kepiting rebus.
Elang Samudera datang dengan cepat membawa kotak obat dan sebuah kantong belanjaan.
"Apa kau lama menunggu Almahira. " tanya Elang Samudera.
"Tidak.Anda membawa kotak obat juga. " Almahira menatap Elang Samudera yang berjongkok di kakinya.
"Aku meminjamkannya dari bawah. " jawab Elang Samudera. "ini akan sedikit perih. "ia mengobati kaki Almahira.
"Terimakasih Kepala Manajer. " kata Almahira.
"Lalu buang saja itu. Kau akan terluka bila memakainya, walaupun baru di perbaiki Almahira. " kata Elang Samudera.
"Tapi saya tidak punya banyak sepatu. " kata Almahira.
"Kadang kala kita perlu mencari yang baru daripada sekedar memperbaiki. Sepatu yang pernah rusak, akan mudah rusak lagi. "kata Elang Samudera membuat Almahira tertekan. " aku membelikan yang sepertinya cocok untukmu, karena ini darurat. "lelaki itu mengeluarkan sepatu cantik berwarna putih dengan hiasan batu merah di depannya. Ber hak tidak tinggi. Dan pasti enak dipakai. Lalu tangannya yang besar meraih kaki Almahira, memasangkan sepatu itu. Pas dan cantik. " Almahira, kau pantas mendapatkan yang lebih baik. "jantung Almahira kembali berdegup kencang dengan wajah yang semerah tomat.
Ponsel di tas Almahira terus bergetar. Tapi gadis itu membiarkannya.
Sementara Hendra Setiawan, lelaki itu dengan kesal memegang setir mobil. Melaju di jalan raya. Berulang kali mencoba menghubungi Almahira, tapi tak jua diangkat.
"Hah, kau tidak akan mengangkatnya ya. " maki Hendra Setiawan. "ku kira tadi aku salah dengar. " pikirnya. Saat Elang Samudera mengajak Almahira makan malam, saat itu Hendra ada di dekat pintu. "aku kira aku salah. Sial benar. Coba kalau pekerjaan ku tak banyak. Aku bisa mencegahnya pergi.Orang itu, beraninya ia menggoda pacar orang lain. "
Hendra Setiawan memang bangga kalau Almahira menjadi lebih cantik. Tapi disekitarnya banyak lalat yang coba menggoda. Dan ia pun yakin, pemilik All cafe, juga tertarik pada Almahira. Hendra pernah melihat keakraban mereka. Saat naik lift pun, semua mata memandang kagum pada Almahira. Bahkan beredar rumor kalau Almahira Rengganis adalah wanita paling cantik dan cerdas di dalam tim pemasaran satu. Hendra Setiawan khawatir Almahira akan direbut orang dan ia akan jadi pecundangpecundang yang membuang buang waktu.
"Angkatlah telponnya Almahira Rengganis. " geram Hendra Setiawan. Ia terus mencoba menghubungi Almahira.
"Hallo, Hendra. " jawab Almahira dari sebrang.
"Kenapa lama sekali mengangkat telponnya. " tanya Hendra Setiawan. Ia berusaha mengontrol emosi. Takut kalau Almahira memutuskan sambungan.
"Oh, aku baru sampai rumahrumah setelah makan malam dengan kepala Manajer. " jawab Almahira.
"Oh, tidak ada masalahkan. " tanya Hendra. Ia sedikit lega. Almahira tak pernah menyembunyikan apapun darinya. Selama ini gadis itu selalu jujur padanya. Kan bisa saja Almahira berbohong pergi dengan Zahra misalnya. Tapi Almahira tetap mengakui ia pergi dengan kepala Manajer.
"Ya, dia hanya berkonsultasi tetang masalah Asisten Manajer Jaka Burhanuddin. Maaf sudah membuatmu cemas Hendra. "kata Almahira.
" Ya sudah. Kau pasti lelah. Cepatlah tidur. "kata Hendra Setiawan sambil tersenyum. "kau ingat, kita ada kencan besok malam kan. "
__ADS_1
"Tentu saja. Selamat malam Hendra, sampai bertemu besok. " Almahira menutup telpon.
Ah, ternyata ada saat seorang Hendra Setiawan cemas karena Almahira Rengganis. Padahal ia hanya wanita yang didapatkan karena ingin traktiran miras di kampung bule. Batin Hendra Setiawan. Ia teringat kejadian waktu itu. Niatnya hanya bercanda.
"Hei, aku sudah sangat menantikan pegawai wanita baru yang datang. Tapi yang datang malah seperti capung. " kata Hendra Setiawan dengan kesal waktu itu.
"Coba goda dia. Kalau berhasil ku traktir miras dan kita main di kampung bule. " kata Joni Karsono.
"Padahal ia hanya wanita kampungan untuk taruhan. "ejek Hendra Setiawan sambil tertawa. " kau lihat, dalam tiga hari, ia akan jadi pacarku. "katanya.
Hari itu Hendra Setiawan memulai aksinya. Ia menghampiri Almahira Rengganis di kubelik sebelahnya. Dan menyapa duluan.
"Senang bertemu dengan mu. Aku Asisten Manajer Hendra Setiawan. Kau Almahira Rengganis kan. " sapanya mencoba ramah. Waktu itu Almahira hanya menatapnya heran. "Oya berapa nomor telponmu, kita akan bekerja sama. Kau bisa bertanya apa saja. "sambil menyodorkan ponselnya. Hendra Setiawan mengira setelah beberapa waktu, gadis itu gampang didekati. Tapi ternyata puluhan pesan yang dikirim tak ada satupun yang dibalas. Boro-boro dibalas, dibaca pun tidak.
" Sial. Kenapa ia tidak membalas satupun pesanku. Beraninya dia. "geram Hendra Setiawan. " karena tak jatuh cinta seperti mauku. Aku jadi tertantang. "
Hendra Setiawan mencoba menghubungi Almahira.
"Hallo." jawab suara dari sebrang.
"Hallo Almahira. Ini aku Hendra Setiawan. Ini hari sabtu. Apa kau ada janji. " tanya Hendra.
"Tidak, aku di rumah saja. " Jawab Almahira.
"Aku ingin mengajakmu keluar. Kita makan di luar. " kata Hendra Setiawan. "di mana alamat rumah mu. "
Seperti itulah. Mereka mulai berpacaran. Padahal Hendra cuma ingin dapat traktiran miras dan mencampakkannya. Tapi semua berubah. Almahira terlalu baik. Bahkan bodoh. Ia tak tau kalau selalu dimanfaatkan oleh Hendra Setiawan. Baik masalah pekerjaan dan uang. Ia tak tau kalau Hendra Setiawan suka main di kampung bule. Tidur dengan banyak Jal*ng.Sementara Almahira sibuk bekerja. Cukup menyenangkan dalam pikiran Hendra Setiawan. Ia hanya perlu bersikap seperti pacar yang bersih dan suci. Dan memberi sedikit perhatian. Itu lebih baik daripada terperangkap dengan wanita pintar.
Hendra Setiawan menatap foto Almahira yang diambilnya secara diam-diam. Entah kenapa sekarang Almahira agak berubah.
"Aku tidak peduli walaupun para lalat itu mendekatinya. Karena aku juga akan lebih sukses dari sebelumnya." Hendra Setiawan menatap layar komputer di depannya. Memperlihatkan pergerakan saham yang terus naik. "kalau seperti ini, tak masalah kalau aku mulai bergerak. Bagaimana kalau kita mulai berunding besok. " gumam Hendra Setiawan sambil melihat dua tiket perjalanan naik Ferry ke Singapura Batam.
Malam akhir pekan. Di ferry mewah.
"Almahira Rengganis. Aku tak sanggup melihatmu jatuh ke tangan pria lain. Meski kau mati, kau adalah wanitaku. "Hendra Setiawan berlutut di depan Almahira. Mereka dikelilingi lilin yang menyala, dan Almahira memegang buket bunga mawar kesukaannya. " Almahira, menikahlah dengan ku. Aku akan membuatmu bahagia seumur hidupmu. Aku mencintaimu. "Hendra Setiawan membuka kotak beludru merah. Menyodorkan cincin berlian cantik.
"Ya, baiklah. " Almahira mengangguk.
"Benarkah.Terimakasih Almahira. " Hendra Setiawan memeluk Almahira. "sekarang Almahira Rengganis adalah milik Hendra Setiawan selamanya. Oya, jangan khawatir soal rumah pengantinnya. Kali ini aku akan berhasil. Jadi itu hal yang mudah. "
"Ya." Almahira mengangguk. Membalas pelukan Hendra Setiawan. Ia tau malam itu pengumuman kebangkrutan saham Bokdong. "Selamat Hendra. "senyum mengejek di bibir Almahira.
__ADS_1
Nb... nunggu tanggapan dari NT. bisa kontrak apa nggak. Kalo bisa lanjut. kalo nggak end aja