Menikahkan Suamiku

Menikahkan Suamiku
bab 29


__ADS_3

Malam harinya di sebuah restoran di Batam Center.


Sarah Amelia melangkahkan kaki memasukki restoran. Ia sedikit jengkel dengan Liana Herawati, yang melarangnya memakai rok pendek dan gaun ketat.


"Gara-gara ibu, aku harus memakai baju ini. Untung aku cantik. " gumamnyagumamnya sambil membuka pintu. "sudah pesan atas nama Almahira Rengganis. " katanya pada pelayan berseragam kapten.


"Baik, sebelah sini. " pelayan itu menunjukkan jalan.


"Ia pasti pucat pasi saat melihat kartu undangan dariku kan. " batin Sarah Amelia senang.


"Kak Sarah. " Tiba-tiba terdengar suara memanggilnya.Saat menoleh, ia terbelalak, di meja sudah duduk berjejer Hendra Setiawan, Almahira Rengganis, Elang Samudera . Di sebelah kiri duduk Zahra Fahira, Anton Prawiro, dan Gina Aisyah.


"Sarah Amelia. " Hendra Setiawan tersentak.


"Eh, kenapa kau bisa kesini. " pekik Zahra Fahira.


"Almahira yang... " kata Sarah Amelia.


"Sudah datang ya. " Almahira berdiri. Ia merangkul pundak Sarah Amelia.


"Almahira, apa yang.. " tanya Sarah Amelia tak mengerti.


"Sarah memang berhenti secara mendadak. Tapi katanya ada berita penting yang ingin ia sampaikan kepada kita. " ujar Almahira tersenyum.


"Almahira Rengganis, berani kau berbuat seperti ini kepada ku. " sungut Sarah dalam hati. Ia duduk di sebelah Hendra Setiawan. "kau pikir aku akan panik seperti pecundang. " batinnya.


"Pamitlah ke toilet, lalu pergi dari sini. " bisik Hendra Setiawan sambil mengetuk lutut Sarah Amelia. "jangan mengatakan sesuatu yang tidak penting. "


"Dia juga sampai begitu. Aku tidak akan diam. " Sarah Amelia melirik Hendra Setiawan dengan kesal. Lalu ia berdiri. "maaf aku berhenti secara mendadak. Sebenarnya aku akan segera menikah. " katanya penuh suka cita.


Yang ada di meja itu terkejut. Hendra sampai tersedak. Zahra Fahira sampai menjatuhkan sendok dengan mulut ternganga lebar, wkwkwk.


"Menikah." tanya Zahra Fahira terkejut.


"Dengan sapa. " tanya Anton Prawiro dan Bu Gina Aisyah.


"Jangan bilang kau akan menikah dengan Jaka Burhanuddin. " kata Zahra Fahira.


"Aku dan pak Hendra Setiawan akan menikah. " kata Sarah Amelia sambil memamerkan kartu undangan di tangannya. Gadis itu tersenyum lebar. Zahra Fahira, Gina Aisyah, dan Anton Prawiro, terkejut bukan main.


"Apa... dengan pak Hendra Setiawan. " ulang Zahra Fahira tak percaya.


"Selamat, kalian sangat serasi. " ujar Almahira. Ia begitu tenang meneguk jus di gelasnya.


"Selamat." kata Elang Samudera.

__ADS_1


"Se.. selamat.. Sarah. "kata Bu Gina Aisyah dengan wajah bingung.


" Selamat... Sarah. "ucap Anton Prawiro. Ia pun bingung. Sementara Zahra Fahira, jangan ditanya, gadis itu membeku tak percaya. Hanya Hendra Setiawan yang berwajah aneh, dengan keringat bercucuran di wajahnya yang masam.


" Terimakasih, kami akan berbahagia. "kata Sarah Amelia sambil tersenyum senang.


"Maaf, kami pamit dulu. " kata Hendra Setiawan berdiri. Ia meraih tangan Sarah Amelia. "ayo Sarah. " ajaknya.


"Tunggu, mas. " kata Sarah Amelia. Ia mengeluarkan satu undangan, dan menyerahkannya pada Almahira. "Almahira, ini untukmu. Nanti kau yang menerima buket bungaku ya. " katanya.


"Ya, terimakasih. Aku pasti datang. " kata Almahira tersenyum cerah menerima undangan itu. "sekali lagi, selamat ya. "


"Ya... " Sarah Amelia mengangguk. Ia heran kenapa Almahira tidak sedih. "kenapa wajahnya begitu, kenapa ia tidak sedih, kenapa ia tidak terganggu. " batinnya. "KENAPA IA BEGITU SANTAI. "


"KENAPA KAU DATANG KESINI. KENAPA KAU MENGHANCURKAN REPUTASI KU. " teriak Hendra Setiawan, saat mereka sudah di dalam mobil.


"Mas, ini perbuatan Almahira Rengganis. Yang harusnya dimarahi itu Almahira Rengganis, bukan aku. " kata Sarah Amelia tak terima.


"AWAS KALAU KAU BERANI MENYEBUT NAMA ALMAHIRA LAGI DI DEPANKU, AKU AKAN MEMBATALKAN PERNIKAHAN KITA. " ujar Hendra Setiawan penuh kemarahan.


"Lihat ini, aku hanya ingin mengantarkan undangan pernikahan dan ia yang menyuruhku ke sini. " kata Sarah Amelia sambil memperlihatkan pesan dari Almahira di ponselnya."bagaimana mungkin aku bisa tau kalau kalian sedang makan makan. "lanjutnya.


"Jadi maksudmu, Almahira menyuruhmu ke sana, tanpa tau kami akan makan makan. " tanya Hendra Setiawan. Sarah Amelia mengangguk anggukkan kepalanya.


"Ya, ya, begitulah. " jawab Sarah Amelia.


"Tidak ada yang salah. Kalau aku menikah dengannya, aku sudah susah payah kabur dari keluarga itu, aku tak mau kembali ke tempat itu lagi. Aku ingin hidup bahagia." batin Sarah Amelia. Ia teringat dulu ibunya selalu memarahinya. Memaki dengan perkataan menyakitkan. Berkata menyesal telah melahirkannya, dan mengusirnya pergi agar mencari ayahnya yang bajingan dan penjudi.


"Aku salah, kedepannya aku akan lebih berhati-hati. Ayo pulang, aku merasa lelah dan mengantuk karena anak ini. " ujar Sarah Amelia sambil bersandar di kursi dan memejamkan matanya. Hendra Setiawan melirik nya penuh kekesalan.


Di restoran. Almahira menyudahi makannya. Lalu berdiri.


"Saya permisi dulu. " katanya. "sampai jumpa lagi besok. "


"Hati-hati bu Almahira. " kata Zahra Fahira. Almahira melambai. Lalu keluar restoran.


"Sebenarnya situasi macam apa ini. " tanya Anton Prawiro dengan bingung. Zahra Fahira menghela napas.


"SITUASI YANG BENAR-BENAR MENYEBALKAN. AWALNYA HENDRA SETIAWAN ITU AKAN MENIKAH DENGAN BU ALMAHIRA. PADAHAL MEREKA BELUM LAMA BERPISAH, SEKARANG MALAH IA MAU MENIKAH DENGAN TEMANNYA. " gerutu Zahra Fahira penuh emosi.


"APA." Anton Prawiro terbelalak. Sungguh ia tak menyangka seperti itu ceritanya.


"Zahra Fahira, itu urusan pribadinya. " kata Elang Samudera sambil berdiri. "nikmati makan kalian, tagihannya berikan padaku.Aku permisi dulu. " pamitnya.


Di jalan raya, maybach itu membelah jalan dengan kecepatan sedang.

__ADS_1


"Sukurlah aku tadi tidak minum alkohol. " kata Elang Samudera memecah kesunyian diantara mereka.


"Terimakasih sudah mengantarkan saya pulang. " kata Almahira pelan. Entah sejak kapan ia merasa nyaman bersama Elang Samudera, dulu ia tak pernah merasa nyaman terhadap lelaki itu.


"Aku akan mengantarkan Quos ke rumah mu nanti. " kata Elang Samudera sambil menyetir.


"Quos." ulang Almahira. "Anda menghawatirkan saya akan sedih, hingga ingin mengantarkan Quos agar bisa menghibur saya. " katanya tertawa.


"Bukan begitu. " kata Elang Samudera malu. "itu karena Quos menyukai Almahira Rengganis. "


Almahira mengeluarkan kertas undangan dari Sarah Amelia tadi.


"Pak." panggilnya pada Elang Samudera.


"Ya." lelaki berwajah dingin itu menoleh sebentar.


"Boleh tidak saya menggunakan anda sekali lagi, seperti waktu itu. " kata Almahira sambil mengibaskan undangan di tangannya.


"Tentu." Elang Samudera mengangguk pasti, tanpa keraguan sedikitpun.


Di gedung pernikahan. Batu Ampar, Jodoh.


"Dandanannya jangan terlalu tebal, riasan tidak baik bagi baby Vano. " ujar Liana Herawati. Ia sudah rapi dengan kebaya adat Jawa, lengkap dengan sanggul dan ksin jaritnya.


"Tapi bu, bila ingin fotonya bagus.... " kata Sarah Amelia. Tapi sudah di potong oleh Liana Herawati.


"Fotonya tidak akan dilihat juga. Ini menyangkut cucu berharga keluarga Setiawan. " omel Liana Herawati. "kau mengerti maksud ibu kan. "


"Iya." Sarah Amelia hanya bisa mengangguk pasrah. Meski hatinya jengkel setengah mampus, ia tak bisa berbuat apa apa, jangankan membantah dan ingin protes, Liana Herawati akan langsung mengomelinya.


"Ibu mertua anda sangat khawatir ya." kata perias pengantin, sambil membantu merapikan gaun pengantin Sarah Amelia.


"Ya, beliau memang sangat perhatian, jauh dari ibu kandungku. " kata Sarah Amelia. Ia berpikir setelah menikah, ia akan hidup bahagia, dan tak perlu lagi iri pada kehidupan orang lain. Ya semoga saja. Ia tak ingin lagi mendengar sebutan anak tidak berguna dari ibunya. Gaun kampungan yang menyesakkan, riasan yang terlalu tipis. Tidak ada satupun yang Sarah Amelia sukai. Tapi tidak apa apa, karena aku cantik, akulah tokoh utamanya, aku tetap cantik, akulah pemenangnya. Batin Sarah Amelia tersenyum senang, melihat pantulan wajahnya di cermin besar.


"Teman-teman anda sepertinya terlambat sekali ya, apa jalanan macet. " ujar fotografer menatap Sarah Amelia.


Di luar , tepatnya di depan aula. Hendra Setiawan sibuk menerima ucapan selamat dari para kerabat dan undangan lainnya.


"Apa kabar, terimakasih sudah datang. " Hendra menyalami salah satu kerabatnya. "hahaha... aku akan bahagia. " ujarnya.


"Hei, di ruang tunggu wanita hanya ada istrimu sendiri, kapan teman temannya akan datang. " bisik Asep Karsono pada Hendra Setiawan.


"Dia tak punya teman , jadi tak usah ditunggu. " balas Hendra Setiawan. Lelaki itu sibuk menyambut tamu yang terus berdatangan.


"Bukankah dia teman pengantin mu, cantik sekali. " celetuk Asep Karsono. "yah, tapi dia datang bersama pacarnya. " lanjut lelaki itu.

__ADS_1


Hendra Setiawan memalingkan wajahnya ke arah pintu masuk. Demi Tuhan, dadanya berdetak keras melihat siapa yang datang. Almahira Rengganis, wanita yang selama ini ia pacari, yang telah ia hianati dengan tidur dengan teman gadis itu. Sekarang, Almahira datang dengan gaun yang begitu pas, dandanannya cantik, dan... lelaki di sampingnya itu.


"Selamat atas pernikahan kalian, aku datang dengan pak Elang. " kata Almahira sambil tersenyum ceria, di sebelahnya, Elang Samudera berdiri dengan gagah. Tangan lelaki itu begitu posesif memeluk pinggang ramping Almahira Rengganis. Keduanya begitu serasi. Pas.


__ADS_2