Menikahkan Suamiku

Menikahkan Suamiku
bab 31


__ADS_3

"Wahhhh.... Tapino di sini luar biasa ya. " kata Jessica.


"Sepertinya mereka cukup modal untuk biaya makanannya. " sahut Monica.


"Almahira, kenapa tidak mau makan makanan enak ini. " kata Clarissa dengan mulut penuh. Di depannya, sudah ada dua tumpak piring kosong.


"Kau pikir ia bisa menelan makanan di depan Sarah. " gerutu Jessica.


"Hei Sarah, kebayamu csntik sekali. Apa ibu mertuamu yang memulihkannya. " teriak Clarissa. Saat itu Hendra Setiawan dan Sarah Amelia baru selesai berganti pakaian, mereka memakai kebaya ada Jawa, didampingi orang tua Hendra Setiawan.


"Itu teman temanmu, nak. " tanya Heru Setiawan pada Sarah Amelia.


"Bukan, saya tidak mengenal mereka. " jawab Sarah Amelia.


"Sarah Amelia, bukannya kami teman temanmu. " teriak Jessica dari meja dengan mulut yang celemotan.


"Teman sedekat biji. " sambung Monica menimpali.


"Cepat usir ketiga orang itu. " teriak Liana Herawati pada pelayan restoran. "kalau mereka tidak diusir, aku tidak mau membayar biaya pernikahannya. "sambungnya dengan wajah murka.


"Sepertinya mereka juga tamu undangan. " pikir pelayan itu. Ia lalu mendekati meja di mana Jessica dan kedua temannya sedang makan. "maaf, sepertinya kalian harus keluar, ada keluhan dari keluarga pengantin. " katanya dengan sopan.


"Apa." teriak Clarissa. "kami sudah datang ke sini, tapi kau malah merendahkan kami. "


"Wah, benar benar penghianat. " kata Jessica sambil mengelap bibirnya dengan tissu. "Luar biasa sekali dia. Bisa bisanya mau melempar buket kepada trman yang sudah direbut pacarnya. " kata Jessica lagi.


"Kalian sedang apa, cepat usir mereka." teriak Sarah Amelia.


"Kami sudah memberikan amplop, tapi kalian malah mau mengusir kami. " ujar Clarissa pada pelayan.


"Kami tidak bisa melakukan apapun soal itu. " kata pelayan itu dengan wajah bingung.


"Permisi." seseorang menghampiri mereka. "tolong bayar tagihan meja ini dengan kartu ini. " lelaki berbadan besar itu menyodorkan kartu di tangannya. "dengan begitu tudak ada masalahkan, mereka tidak ada hubungannya dengan pengantin itu. " sambungnya.


"Baik, saya mengerti. " pelayan itu mengambil kartu hitam yang disodorkan oleh Ilham Sanjaya.


"Silahkan menikmati makanan kalian, teman teman Almahira. " kata Ilham Sanjaya dengan sopan.


"Waw... jantan sekali dia. " kata Jessica salah tingkah.


"Kau kenapa. " tanya Monica heran.


Tak lama kemudian. Almahira Rengganis, Elang Samudera, Jessica Putri, Monica Angel,Clarissa Vero, dan Ilham Sanjaya berkumpul di aula.


"Terimakasih banyak soal tadi. " kata Jessica Putri dan teman temannya. "lain kali kita harus kumpul bareng lagi, bersama Ilham juga. " sambungnya sambil mengedipkan mata pada lelaki berbadan besar itu. Ilham Sanjaya langsung tersipu malu.


"Nanti biar aku yang traktir. " kata Elang Samudera.


"Semuanya, Hati-hati di jalan ya. " pesan Almahira sambil melambaikan tangannya.


"Kalau begitu, kami pamit dulu ya. " kata Ilham Sanjaya.


"Selamat menikmati kencan kalian. " sambung Clarissa Vero. Yang lain mengangguk sambil melambaikan tangan pada kedua sejoli yang masih malu malu meong itu. Wkwkwk.


"Kencan." pikir Elang Samudera dengan wajah merona. "ayo kita pergi. Ku antar kau pulang. " ajaknya.


"Pak." Almahira tertunduk. "bisakah mentraktir saya makan, tadi saya tidak bisa makan di sana.Walau pun sudah memberi amplop." pintanya pada Elang Samudera.


Ya, Almahira memberi amplop lumayan banyak. Lima juta rupiah. Bila orang lain mungkin hanya lima puluh ribu, seratus atau tiga ratus paling keren. Ia sengaja memberikan amplop pernikahan, sebagai biaya pengobatan kanker bagi Sarah Amelia nanti. Meski nanti seluruh uang itu akan dipakai oleh Hendra Setiawan untuk membeli saham.

__ADS_1


Mobil putih berhias pita dan balon pink melaju di jalan raya. Mobil pengantin baru. Ya, Hendra Setiawan dan Sarah Amelia ada di dalamnya.


"Sudah puas. " caci Hendra Setiawan sambil melepas jas hitamnya.


"Memang itu salahku. " bantah Sarah Amelia. "mereka yang datang dan membuat keributan. " lanjutnya.


"Keributan itu terjadi karena kau memberikan kartu undangan kepada Almahira. " gerutu Hendra Setiawan dengan wajah kesal. "apa kau tidak lihat, ibu sampai pingsan saat tau kepada siapa kau memberikan buket bunga pengantin. Sialan. " cemoohnya.


"Bisa tidak berhenti mengumpat, aku istrimu. " geram Sarah Amelia.


"Oh, maybach yang cantik. Keren sekali mobilnya. " ujar Hendra Setiawan masa bodoh. Ia menatap ke jendela samping. Sebuah maybach melaju di samping mobilnya.


"Mobil itu mahal. " lirik Sarah Amelia keluar.


"Iya, mobil itu tak akan terbeli, meskipun kau di jual. " ejek Hendra Setiawan.


Maybach mensejajarkan lajunya. Kaca hitam diturunkan. Nampak Elang Samudera melirik mereka. Tapi Almahira yang duduk di sebelah lelaki berwajah dingin itu, hanya membuang muka, saat tau di mobil pengantin ada Hendra Setiawan dan Sarah Amelia.


Lalu maybach melaju meninggalkan mereka yang bengong.


"Kepar*t!!!!. Sombong sekali dia. " teriak Hendra Setiawan. "pria sialan yang mengambil wanita orang lain, sialan tak berhati nurani. " makinya penuh kemarahan. Sarah Amelia terkejut melihat sikap kekanak-kanakan suaminya.


"Selamat telah memungut sampah yang dibuang temanmu. " teringat perkataan Jessica Putri tadi di gedung.


Tidak. Sarah Amelia sekali lagi menatap Hendra Setiawan. Tidak mungkin lelaki yang susah payah dan penuh perjuangan didapatkannya, dengan setengah mati ia merebutnya dari Almahira Rengganis, adalah seorang sampah yang sengaja dibuang oleh Almahira Rengganis. Itu tidak mungkin. Batin Sarah Amelia tidak mau mengakuinya. Ia tetap yakin, Hendra Setiawan adalah pria paling tepat untuknya. Tepat bod*hnya.Wkwkwkwk.


Di depan gedung pernikahan. Zahra Fahira melangkahkan kaku dengan perasaan puas dan.... kenyang. Hehehe.


"Hehehe, kenyang sekali. Memberi amplop dua ratus ribu, udah bisa makan bufet sampai kenyang begini, benar benar beruntung. " gumam gadis itu. Dasar kurang aj*r. "pembalasan dendam terbaik. " ia melangkah ke tempat ia janjian dengan supir taksi.


"Eh, bos Adityawarman. " ia menatap lelaki yang berdiri di halte.


"Eh, Zahra Fahira, apa kabar. " sapa Adityawarman menoleh ke arah gadis itu.


"Ah, aku ditolak lagi oleh Almahira, " kata Adityawarman sambil tertawa malu. "sepertinya sekarang aku harus benar benar menyerah. Sepertinya tak ada kesempatan bagiku. Apa raut wajahku terlihat seburuk itu. " ia menatap Zahra Fahira. Gadis itu malah tertawa keras.


"Harusnya aku tidak bilang begitu ya. Tapi kau tetap tampan kok. " kata Zahra Fahira.


"Aku tampan. " mata Adityawarman berbinar jenaka


"Bukannya kau sendiri sudah tau. " ujar Zahra Fahira.


"Terimakasih, suasana hatiku jadi lebih baik berkatmu. " kata Adityawarman sambil tertawa senang.


"Sukurlah kalau begitu. Aku harus pergi. Taksiku sudah datang. " kata Zahra Fahira. Ia melambai saat taksi berwarna biru dengan logo burung terbang, tiba. "sampai jumpa bos. "Ia melambai.


Lelaki yang baik.Adityawarman,ia baik dan ramah. Selalu tersenyum dengan ramah, sangat cocok dengan kak Almahira. Ah, aku harus percaya pada kakakku yang kaku itu. Batin Zahra Fahira.


Di restoran pinggir jalan. Almahira dan Elang Samudera sudah memesan menu makanan. Ayam penyet dengan sambal super pedas. Lalapan kacang panjang, timun, kol dan kemangi.


"Apa kau suka petai. " tanya Elang Samudera. Ia membuka buku menu yang lain.


"Boleh, tapi yang dibakar. " jawab Almahira.


"Ada jengkol juga. " Elang Samudera tertawa. "kau mau. "


"Kalau dimasak ok. Tapi mentahan tidak. Apa bapak suka. " tanya Almahira.


"Saya tidak terlalu suka. Hanya bisa memakan sekedarnya. Silahkan bila kau mau pesan. Aku ikut saja. "jawab lelaki itu. Akhirnya Almahira menambahkan tiga papan petai bakar, jengkol muda goreng dan ikan bakar. Sepiring acar, dan dua mangkok ketan durian.

__ADS_1


" Tanpa minum alkohol pun, tubuh kita akan panas setelah ini. "ujar Almahira tertawa.


Mereka mulai makan dengan lahap. Sesekali mengobrol.


" Ini lebih enak dari pada di prasmanan tadi. "kata Elang Samudera.Ia sudah menghabiskan dua piring nasi. Gila aja. Makan dengan menu sederhana bisa bikin selera naik. Almahira tertawa melihat Elang Samudera menutup mulut saat sendawa. Ia mengambil sesuatu dari tasnya. Sebuah permen karet dengan mint yang kuat.


" Ini bisa menetralisir bau. "Almahira menyiapkan dua lembar permen karet ke mulut Elang Samudera. Jarinya menyentuh bibir tipis lelaki itu.


" Apa kau mau bir. "tanya Elang Samudera.


" Tidak sekarang. "jawab Almahira sambil menikmati pulut durian di mangkoknya. Ia lalu menyodorkan sesendok untuk Elang Samudera. " enakkan. "


Elang Samudera mengangguk dengan wajah tersipu malu.


"Terimakasih pak. " ujar Almahira. Ia terus menyuapi Elang Samudera sambil ia sendiri ikut menyuap. Ia tak tau pikiran Elang Samudera sudah melanglang buana ke mana mana. Gara-gara disuapin oleh Almahira. Dasar lelaki yang minim pengalaman percintaan.


"Untuk apa kau berterimakasih padaku. " tanya Elang Samudera.


"Ya terimakasih lah, karena bapak selalu menolong saya, dan mau saya manfaatkan terus. Jika bapak meminta tolong pada saya, saya juga akan membantu bapak semampu saya. Karena itu pakailah Almahira Rengganis ini, saat anda memerlukannya. " kata Almahira, ia selesai dengan dua mangkok pulut durian nya.


"Jika kau butuh bantuan ku, pukul tiga subuh pun aku akan datang menemuimu. " kata Elang Samudera. Ia meraih tissu dan membersihkan bibir Almahira. "tetapi jika aku meminta tolong padamu, pikirkan lah baik baik sebelum menolongku. "


"Kenapa." tanya Almahira.


"Ya, bisa saja itu permintaan pribadi diriku. " ujar Elang Samudera. Almahira tertawa. Tak terasa mereka makan begitu santai sampai tak tau hari sudah sore dan hujan turun dengan sangat lebatnya. Untungnya jarak rumah mereka tidak terlalu jauh dari restoran itu.


"Lebat sekali hujannya. " Elang Samudera berdiri. "kau tunggu di sini sebentar. " ia segera keluar setelah membayar makanan mereka. Almahira menyusul keluar.


Angin kencang menyambutnya saat keluar dari restoran. Terpaksa Almahira berdiri di dekat meja security yang kosong. Tak jauh ia melihat Elang Samudera berjalan dengan payung besar di tangan. Beberapa wanita menatap kagum lelaki itu.


Benar.Dia Elang Samudera. Lelaki tinggi dan baik. Ia selalu rapi ,yang selalu baik padanya. Ia merasa nyaman dengan lelaki itu di dekatnya. Almahira tersenyum melihat Elang Samudera berjalan ke arahnya.


"Sukurlah, seven eleven di sebrang menjual payung. Ayo kita segera pulang. " ajak Elang Samudera sambil memayungi Almahira.


"Pak, bolehkah saya menanyakan satu hal. " tanya Almahira sambil melirik Elang Samudera.


"Apa." Elang Samudera menghentikan langkahnya.


"Kenapa bapak menyukai saya. "tanya Almahira.


" Tidak ada alasan untuk kita menyukai seseorang Almahira. "ujar Elang Samudera, wajahnya mulai memerah.


"Sejak kapan bapak menyukai saya. " tanya gadis itu lagi.


"Itu nanti saja. Jika kau memberiku kesempatan, aku akan menjawabnya. " kata Elang Samudera. Ia menatap Almahira dengan sinar mata teduh, penuh pemujaan dan cinta. Keduanya lalu masuk ke dalam mobil.


Lift terbuka.


"Kau mau mampir menengok Quos. " ajak Elang Samudera. Almahira mengangguk. Begitu pintu terbuka, Quos berdiri menyambut mereka.


"Hallo Quos. Aku merindukan mu. " Almahira berjongkok mengelus kepala Quos.


"Masuklah.Di kulkas ada bir, yakult dan beberapa jus buah. " kata Elang Samudera sambil membuka jasnya.


Almahira ke dapur dan membuka kulkas. Ia meraih yakult dan dari buah jambu merah.


"Aku juga mau minum yang ini. " ujar Elang Samudera. Ia meraih tangan Almahira yang memegang sebotol jus buah. Almahira menoleh. "lekaslah tutup kulkasnya. Nanti kau bisa demam. " katanya.


"Iya." Almahira mengangguk. Ia menutup kulkas setelah mengambil apa yang ia perlukah. Saat ia berbalik, Elang Samudera mendorongnya ke pintu kulkas. Mata keduanya saling bertemu.

__ADS_1


"Aku ingin sekali menciummu Almahira Rengganis. " bisik Elang Samudera dengan suara parau. Dan mata yang mulai berkabut gairah. Tangannya yang besar membelai rahang Almahira. "bolehkah."


Kedua tangan Almahira terangkat, dan dikalungkan di leher kokoh itu. Lalu... Ciuman panas pun berlabuh.


__ADS_2