Menikahkan Suamiku

Menikahkan Suamiku
bab 33


__ADS_3

"SARAH SUNGGUH MENDERITA. AKU SAMPAI KEGUGURAN. "


Nak disambar petir di siang bolong, Hendra Setiawan terkejut berlipat-lipat.


"Hari saat Almahira menyuruhku berlutut di rumah sakit, sepertinya aku kena benturan keras. Karena esok harinya aku mengalami pendarahan. " ujar Sarah Amelia. "dan saat aku ke rumah sakit, dokter bilang aku mengalami keguguran. " masih dengan airmata yang berderai, Sarah Amelia menangis tersedu-sedu.


"KENAPA BARU BILANG SEKARANG SIALAN!!!!!!. " teriak Hendra Setiawan penuh kemarahan. "KITA BAHKAN SUDAH MENGADAKAN PESTA PERNIKAHAN, DAN APA TADI.... KEGUGURAN. "


"Bagaimana aku bisa mengatakannya. Ayah dan ibu, semuanya sangat menantikan nya. " kata Sarah Amelia tak mau disalahkan. "kali ini saja. Berpura-pura saja tidak tau. " pintanya.


"TUTUP MULUTMU!!! DI PERUTMU BAHKAN TIDAK ADA ANAK, TAPI TIAP HARI KAU SELALU BILANG SAKIT PERUT, DAN MINTA MAKAN INI ITU. "maki Hendra Setiawan. "SARAH AMELIA, KAU LEBIH BURUK DARI ALMAHIRA RENGGANIS, KAU MEMBUATKU MERINDING. " celanya tanpa ampun.


"Maaf... tapi sekarang kita sudah jadi suami istri. " kata Sarah Amelia. "apa memang kau berniat menceraikan ku. "


"Cerai??? Enak saja kau bicara. Tak ada perceraian dalam keluarga kami, mereka tidak akan menerimanya. " sungut Hendra Setiawan.


"Kita tinggal bikin anak lagi. " kata Sarah Amelia sambil memeluk Hendra Setiawan dari belakang. "aku tidak benci pada Almahira, berkat dia aku bisa bersamamu, aku cukup memilikimu saja. " ujarnya lagi.


Hendra Setiawan diliputi berbagai perasaan. Marah, jengkel ,berkecamuk dalam hati.


"ALMAHIRA RENGGANIS, BERANINYA KAU MEMPERMAINKAN DIRIKU. " batinnya.


Malam itu Hendra Setiawan duduk di kursi taman yang ada di lingkungan hotel, tempat ia dan Sarah Amelia menginap. Angin berhembus cukup sejuk, karena hotel berada di dekat pantai. Sambil menikmati angvin malam, Hendra Setiawan menikmati bir yang tadi ia beli.


"Jadi ini semua karena Almahira Rengganis. " geram Hendra Setiawan. "aku jadi harus menikah dengan wanita yang di anggap bodoh dan aneh itu. " pikirnya.


Ya, sejak saat itu. Almahira Rengganis tak pernah berbicara dengan orang lain, selain dengan Hendra Setiawan dan Sarah Amelia. Tapi sejak hari itu, ia membelikan Elang Samudera kopi.


Lalu saat ketahuan oleh Hendra Setiawan, ia berusaha keras melepaskan genggaman tangan Hendra Setiawan. Elang Samudera juga berakting sok hebat dan ikut campur.


" Dia tiba-tiba jarang menghubungi diriku lagi, dan gaya berpakaiannya pun berubah. "pikir Hendra Setiawan, membayangkan semua kejadian yang menimpanya. Ya sejak saat itu. "hah... sepertinya mereka sudah lama bersama. " ia melemparkan kaleng kosong ke tempat sampah. Tapi meleset terus. Lalu ia merogoh saku celana pendeknya. Membuka dompet, dan menemukan yang ia cari. Sebuah kartu nama. Biro detektif swasta. "kalian ingin aku melihat kalian hidip senang, kalian sudah salah orang, aku akan menghancurkan mu, menggunakan Elang Samudera, seperti kau menggunakan Sarah Amelia untuk menghancurkan diriku. " senyum kepuasan tersungging di bibir Hendra Setiawan. "untung tidak ku buang, ternyata berguna juga. "


Pagi itu di kantor Unileveren and drinks. Zahra Fahira menarik Almahira untuk mengikutinya.


"Pengumuman untuk promosi khusus, baru saja dipasang. " kata gadis itu penuh semangat.


"Benarkah, kok cepat ya. Padahal biasanya butuh waktu tiga bulan. " ujar Almahira.


"Ayo cepat kita lihat. " ajak Zahra Fahira. Tapi... "tunggu, sepertinya wangi ini, wangi Bu Gina Aisyah. " serunya. Kedua gadis itu berhenti dan menoleh ke belakang.


"Yah, ketahuan. Padahal aku ingin mengagetkan kalian. " kata Bu Gina Aisyah tertawa malu. Zahra Fahira mengendus-endus di dekat Bu Gina Aisyah. "emang aku punya wangi yang khusus ya. "


"Iya, wangi Bu Gina Aisyah sangat enak. " jawab Zahra Fahira.


"Wangi anda enak sekali, pakai parfum apa. " tanya Almahira.


"Ya ampun, parfum apa. " Bu Gina Aisyah tertawa malu. "ini hanya wangi pewangi pakaian. " ujarnya.


"Jadi ini wangi pewangi pakaian. " seorang lelaki muda bertanya dari belakang Bu Gina Aisyah. "pantas saja, aku tak bisa menemukan parfum yang wanginya mirip. "


"Kau mencoba mencarinya, seharusnya kau tanya saja padaku. " kata Bu Gina Aisyah.


"Agak mau untuk menanyakannya. Jadi saat ke pasar swalayan, aku sekalian melihat lihat. " ujar Bagas Adiguna dengan wajah malu. "aku ingin membelinya karena wanginya sangat enak. "


"Jangan jangan, Bagas Adiguna sukses sama Bu Gina Aisyah. " batin Almahira, melihat keakraban keduanya.


"Wah, kau dapat promosi khusus. " teriak Zahra Fahira. "cepat ke sini. " panggilnya pada Almahira. Mereka berempat menggerombol di depan papan pengumuman.

__ADS_1


"Bagas Adiguna menjadi asisten manajer, Bu Gina Aisyah menjadi Kepala Bagian. " pekik Zahra Fahira. Bu Gina Aisyah dan Bagas Adiguna terkejut tak percaya.


"Aku??? Sungguh kah. " Mata Bagas Adiguna berkaca kaca.


"Wah, benar. " kata Bu Gina Aisyah.


"Wah keren. " kata Zahra Fahira.


"Selamat Asisten Manajer Bagas Adiguna, selamat Bu KaBag, " kata Almahira bertepuk tangan dengan gembira. "kalian sudah bekerja keras untuk proyek kali ini. Selamat. "


"Wah, selamat Bu Gina Aisyah. " kata Asisten manajer Bagas Adiguna.


"Anda juga, selamat Asisten manajer Bagas Adiguna. " balas Bu Gina Aisyah. Sambil mengusap airmatanya. Sungguh tidak sia sia perjuangannya selama ini. Dan semua tak lepas dari kerja sama tim yang luar biasa. Terutama Almahira Rengganis, gadis itu banyak membantunya.


"Kalian harus mentraktir kami. " seru yang lain. Mereka tertawa penuh kebahagiaan.


Almahira sedang memeriksa berkas saat ada pesan masuk.


Pengirim Zahra Fahira:hari ini Bu Gina Aisyah mau mentraktir kita. Ayo makan makan.


"Eh, Zahra Fahir???? Makan-makan, tapi dari tadi aku tak melihat Pak kepala manajer Elang Samudera." batin Almahira, ia melihat meja kepala manajer kosong.


Penerima Zahra Fahira:hari ini pak Kepala manajer tidak ada. Apa tidak apa apa kita makan tanpa beliau.


Zahra Fahira yang duduk di sebrang kubelik Almahira segera membalas pesan gadis itu.


Penerima Almahira Rengganis:katanya dia tidak enak badan dan sedang cuti. Untuk biaya makan makannya, nanti aku yang laporkan padanya.


"Pak Elang Samudera sedang sakit ya. Akhir akhir ini ku lihat ia kelelahan. Semoga ia baik baik saja. " batin Almahira setelah membaca pesan Zahra Fahira.


Malam harinya di sebuah restoran khas masakan Padang.


"Ya, makanlah yang banyak, karena ini restoran milik orang tuaku. " kata Bu Gina Aisyah.


"Nah, kami yang akan traktir, karena putri kami berhasil naik jabatan. " kata Anita Pratiwi, ibunya Bu Gina Aisyah.Beliau nampak tertawa bahagia bersama Ahmad Darius sang suami.


"Ibu, jangan memanggilku putri di depan teman teman kantorku. " rengek manja Bu Gina Aisyah.


"Ya, dia sudah besar, seharusnya tidak dipanggil putri lagi. Tapi ratu. " kata Ahmad Darius sambil tertawa.


"Ayah." jerit Bu Gina Aisyah dengan wajah merah menahan malu. Kedua orang tuanya dan teman teman yang lain tertawa bersama.


"Ah, ini suamiku. Dia membantu di toko orang tuaku. " kata Bu Gina Aisyah, memperkenalkan seorang lelaki bercelemek merah.


"Hallo, saya Beni Simanjuntak. Mohon bantuannya untuk menjaga ibunya Raisa. " kata Beni Simanjuntak dengan ramah.


Ponsel Almahira bergetar dari tadi. Gadis itu segera kelui untuk memeriksa pesan yang masuk.


"Putuslah dengan Elang Samudera, kalau tidak aku akan menghancurkan kalian berdua. Lalu, bisa angkat telponku tidak. " pesan suara dari Hendra Setiawan.


"Apa yang direncanakan si ular buntung ini. Sekarang ia mau menarik Elang Samudera juga. " batin Almahira setelah mendengar pesan Hendra Setiawan.


"Ah, kau teman istriku. " Tiba-tiba Beni Simanjuntak muncul dari balik tanaman di samping restoran. Almahira menoleh dengan terkejut. "bagaimana makanannya. " tanya lelaki kurus itu.


"Suami Bu Gina Aisyah. " batin Almahira. Ia melihat seorang wanita bercelemek sama dengan Beni Simanjuntak muncul di belakang Beni Simanjuntak tapi wanita itu langsung berlalu pergi, setelah sepintas menoleh. "ada karyawan lain juga. Apa ini tempat merokok. " pikirnya.


"Enak sekali, lain kali kami akan sering ke sini untuk makan kantor. " kata Almahira Sambil tersenyum.

__ADS_1


"Sukurlah, jika ada yang diperlukan ,katakan saja. " ujar Beni Simanjuntak ramah.


"Iya, terimakasih. " balas Almahira tak kalah ramah.


Setelah acara makan makan, mereka pun berpisah.


"Uh, sudah lama tak makan makan. Aku lelah sekali. " Almahira memukul bahunya. Pintu lift terbuka. Ia keluar, dan melirik pintu rumah Pak Elang Samudera. "apa sakitnya parah. " batin gadis itu cemas. Ia meraih ponsel dan langsung menghubungi nomor Elang Samudera.


"Nomor yang Anda tuju, tidak dapat mengangkat panggilan. " terdengar suara operator.


"Pak, anda di rumah. " teriak cemas Almahira. Ia menekan nekan bell rumah.


"Meong." terdengar suara Quos. "meong, meong. "


"Suara tangisan Quos. " batin Almahira. "Quos,ada apa. " teriak Almahira dengan cemas. "Quos tak pernah menangis seperti ini, bagaimana ini. Bagaimana bila hal hal buruk terjadi. " nyaris saja Almahira menangis.


"Kosong tiga tiga satu. Saat aku tak ada, masuklah dengan nomor itu. " ujar Elang Samudera waktu itu. Almahira segera menekan pasword rumah Elang Samudera.


Pintu terbuka, Quos menyambut Almahira.


"Meong." kucing itu seperti mengucapkan selamat datang.


"Quos, "Almahira memastikan Quos baik baik saja. " Pak, apa anda di rumah. Saya masuk ya. "teriak Almahira. Setelah meletakkan sepatunya di sudut, ia melangkah menuju kamar Elang Samudera.


Lelaki itu nampak gelisah dengan napas yang tersengal sengal. Wajahnya merah dan panas. Segera Almahira mencari termometer. Lalu mengecek suhu tubuh Elang Samudera. Dengan sigap, ia mencari handuk kecil dan mulai mengompres dahi Elang Samudera.


Cahaya lampu kamar menghalangi penglihatan Elang Samudera. Ia merasakan benda basah di dahinya. Lalu wajah cantik Almahira tersenyum sambil menyeka keringat di dahinya.


"Almahira Rengganis. " kata Elang Samudera.


"Sudah sadar. "Almahira membantu Elang Samudera bangun. " suara tangis Quos terdengar sampai luar. "kata Almahira. " anda akan baik baik saja setelah minum obat penurun panas dan tidur. "ia menyodorkan nampan berisi segelas air hangat dan obat demam.


"Bagaimana dengan makan makannya. " tanya Elang Samudera dengan wajah lesu.


"Saya ke sini setelah acara makan makannya selesai. Astaga, padahal a da sedang tidak sehat, tapi masih sempat menghawatirkan hal itu. " kata Almahira.


Elang Samudera menatap dalam, wajah cantik Almahira. Membuat gadis itu berpikir lelaki ini makin sakitkah.


"Kenapa anda menatap saya begitu. " tanya Almahira bingung. Lalu Elang Samudera meraih obat di telapak tangan Almahira, menegaknya dengan segelas air.


"Almahira Rengganis, cantik sekali. " pujinya. Almahira berpikir mungkin pengaruh demam hingga lelaki di depannya ini mengigau.


"Jika sudah minum obatnya, segeralah tidur. " kata Almahira cepat. Ia menutupi wajah Elang Samudera dengan selimut .


"Almahira, aku tidak bisa bernafas. " kata Elang Samudera.


"Astaga, padahal riasan saya sudah berantakan. Tapi anda bilang anda tidak bisa bernafas. " kata Almahira dengan wajah merona malu.


"Huaaahh." Elang Samudera keluar dari selimut. "kau memang cantik sayang. Aku tak bisa bernafas karena selimut ini menutupi wajahku. "


"Oh astaga. " Almahira terkejut, bergegas ia menyingkirkan selimut itu. Tapi kedua tangan Elang Samudera sudah meraih pinggangnya, hingga Almahira jatuh di atas tubuh lelaki itu.


"Apakah ada yang menggoda di restoran tadi, sayang. " bisik Elang Samudera.


"Tidak ada. " jawab Almahira dengan dada berdegup kencang. Tangan besar itu membelai lembut pipi halus Almahira.


"Almahira." bisik Elang Samudera.

__ADS_1


"Apa kau tidak ingin menciumku. " tanya Almahira. Lalu keduanya saling ******* bibir pasangan dengan penuh kelembutan.


NO *** BEFORE MERIT.


__ADS_2