
"Apa maksudnya ini!!!! Kau bilang kita akan berbicara. " kata Sarah Amelia dengan marah. Ia merasa ditipu mentah mentah oleh Almahira Rengganis.
"Aku tidak bilang hanya kita berempat. " ujar Almahira tegas. "cepat duduk. " suruhnya.
"Jadi begini caramu, Almahira Rengganis. " pikir Sarah Amelia dengan penuh kebencian. "baiklah, hari ini aku akan menyiapkan liang kuburmu. "
Mereka pun duduk berjejer di meja panjang yang sudah disiapkan. Hendra Setiawan, Sarah Amelia, Almahira Rengganis, dan Elang Samudera.
"Baiklah kalau begitu. Mari kita mulai konfrensi pers nya. Silakan bertanya. " kata Elang Samudera.
Cekrik, cekrik
"Jelaskan tentang skandal calon mempelai anda yang sekaligus adalah karyawan anda. " tanya wartawan.
"Apa benar anda membelikannya rumah di dekat rumah anda dan tinggal bersama. " tanya yang lain.
"Kenapa anda tidak memperdulikan fakta, bahwa ia meminta korban dari Unileveren and drinks, untuk melakukan aborsi. " lanjut yang lain.
"Biar saya sendiri yang akan menjawabnya. " Almahira meraih mic. Elang Samudera menatapnya bingung. "Saya adalah Almahira Rengganis, yang muncul di berita itu. " kata Almahira. "saya dan Hendra Setiawan memang pernah memiliki janji untuk menikah. Tapi akhirnya kami membatalkan rencana itu. "
"Apakah rencana pembatalan pernikahan itu karena Elang Samudera, atau karena uang. " tanya seorang wartawan sambil mengangkat tangan.
"Bukan." Jawab Almahira. "saya harus menyiapkan makanan tiga kali sehari dengan nasi baru setiap hari, sambil bekerja di kantor, saya harus melahirkan seorang putra untuk keluarga Setiawan. Dan saya tidak boleh memperingati hari kematian ayah saya. " lanjutnya. "saya membatalkan pernikahan karena pihak laki-laki meminta ketiga syarat tersebut. "
"KETERLALUAN." teriak Hendra Setiawan marah. "BUKANKAH ITU HAL YANG WAJAR, LALU KENAPA KAU LANGSUNG PINDAH KE SAMPING RUMAH ELANG SAMUDERA, BEGITU KITA MEMBATALKAN PERNIKAHAN. "
Tiba-tiba pintu di dobrak dengan kasar. Zahra Fahira muncul dengan maf di tangan.
"Aku yang memberitahukan tentang rumah itu. " ujar gadis ceria itu penuh semangat. "coba lihat, ini dokumen yang berhubungan dengan hal itu. " Zahra Fahira mengeluarkan dokumen yang ia bawa.
"Zahra Fahira. " batin Almahira. ""anda memanggilnya kemari. " tanyanya pada Elang Samudera sambil berbisik.
"Tidak." jawab Elang Samudera sambil menggelengkan kepala.
"Nah, lihatkan. Di dokumen tertulis Almahira Rengganis. Baik uang sewa maupun perawatannya semua menggunakan uang Almahira Rengganis. Ia membiayai sendiri hidupnya. " ujar Zahra Fahira. "Elang Samudera sama sekali tidak berkontribusi pada rumah Almahira. "dan yang terpenting, kenapa aku segera memberi tau Almahira tentang rumah itu, adalah karena Hendra Setiawan terus menerus menguntit Almahira Rengganis. " tunjuknya pada Hendra Setiawan . Lelaki itu mendadak terbelalak kaget. "dan ini, dia mengambil foto ini diam diam. " Zahra memperlihatkan foto Almahira sedang menerima bunga dari Elang Samudera. "padahal hubungan mereka sudah berakhir. Jadi pelanggaran privasi seperti ini adalah tindak kriminal. "
"BICARA APA KAU. " bentak Hendra Setiawan sambil merebut foto di tangan Zahra Fahira. "Zahra Fahira, apa kau sudah gila.Apa kau tidak mau kontrak kerjamu diperpanjang. " bisiknya mengancam gadis itu.
"LEBIH BAIK KAU MULAI MENGHITUNG PESANGONMU. KAU TIDAK PERDULI TENTANG PEKERJAANMU YA, HINGGA MEMBUAT MASALAH SEPERTI INI. " balas Zahra Fahira tak kenal takut. Hendra Setiawan melongo tak percaya. Karyawan kontrak seperti Zahra Fahira berani mengancamnya.
Bisik bisik pun terjadi di antara para wartawan.
"Aku harus menyelamatkan diri. " batin Sarah Amelia. "tapi... KENAPA KAU MENYURUHKU MENGGUGURKAN ANAKKKU, ALMAHIRA. " katanya memulai akting dengan cucuran air mata. Heran juga, kenapa gampang sekali ia menangis buaya. Apa di wajah Sarah Amelia ada penampungan air kran ya. Haduhhh.
"Sudah ku duga ia akan mengungkit hal itu. " pikir Almahira. Dengan menghela napas, Almahira mendekatkan lagi microphone. "saya tidak pernah menyuruhnya melakukan aborsi. " kata Almahira.
"SEKARANG KAU PURA-PURA TIDAK TAU, " teriak Sarah Amelia."SETIDAKNYA KAU HARUS MINTA MAAF, BUKAN PADAKU, TAPI PADA ANAKKU. "
"YANG HENDAK SAYA TANYAKAN, APA ANDA BENAR BENAR HAMIL. " Almahira menatap Sarah Amelia.
"APA... " Sarah Amelia terkejut.
"Apakah anda punya bukti, bahwa anda hamil. " tanya wartawan.
"Coba kita pastikan. Hendra Setiawan, apakah kalian pernah pergi ke dokter kandungan untuk memeriksakan kehamilan. " tanya Almahira pada Hendra Setiawan.
__ADS_1
"Aku pergi sendiri ke rumah sakit, karena Hendra sudah lelah bekerja. " kata Sarah Amelia panik.
"Setidaknya anda pasti melihat foto USG nya. Apa anda pernah melihat buku catatan kehamilan yang diberikan rumah sakit. "tanya Almahira pada Hendra Setiawan. Lelaki itu tanpa bingung harus bicara apa.
"Aku tidak pernah menunjukkan padanya. " Sarah Amelia yang menjawab. "aku sangat sedih karena anakku yang meninggal. Jadi aku membakar semuanya. " masih dengan air mata yang berderai, Sarah Amelia bersumpah ia akan membunuh Almahira Rengganis atas semua rasa malu ini.
"Kalau begitu, apa nama rumah sakit yang anda datangi. " tanya Almahira lagi sambil membuka ponselnya.
"Rumah sakit Embung Fatimah di Batuaji. " jawab Sarah Amelia.
"Apa ada yang tau nomor rumah sakit Embung Fatimah di Batuaji. " seru Almahira pada para wartawan.
"Saya." seorang mengangkat tangan. "istri saya salah satu nurse di sana. " katanya.
"Baik."Almahira mengangguk.
"Apa yang dia rencanakan. " batin Sarah Amelia melirik Almahira Rengganis. "kau mengumpulkan orang orang sibuk hanya untuk ini. " katanya.
"Justru mereka sibuk karena hal hal seperti ini. " ujar Almahira. Ia mulai menelpon.
"Hallo, rumah sakit Embung Fatimah, Batuaji. Ada yang bisa kami bantu. " terdengar suara ramah dari sebrang sana. Sengaja Almahira mendekatkan ponselnya ke microphone.
"Saya ingin membuat jadwal kunjungan ulang ke dokter kandungan. " kata Almahira.
"Baik, tolong sebutkan nama dan tanggal lahir pasien. " kata perawat di sebrang sana.
"Sarah Amelia. Empat belas November. " kata Almahira.
"HENTIKAN." teriak Sarah Amelia menggebrak meja.
"Maaf, tapi tidak ada rekam medis atas nama itu. Anda bukan pasien barukan." tanya Sang perawat lagi.
"Maaf, tapi tidak ada pasien dengan nama itu. " ujar sang Nurse.
"Maaf, mungkin saya salah rumah sakit. "Almahira menutup telpon. "TIDAK ADA PASIEN ATAS NAMAMU. " ujar Almahira menatap kesal pada Sarah Amelia.
"Jadi berita kehamilan itu adalah palsu. " seru seorang wartawan. Sarah Amelia mendadak pucat. Hendra Setiawan pun jadi linglung. Tak percaya.
"Apa maksud tujuan anda menulis berita palsu seperti itu. " tanya yang lain.
"Bagaimana anda akan mempertanggung jawabkannya secara hukum. " tanya wartawan lagi.
"KENAPA SEMUA BISA BEGINI PADAKU. INI SEMUA KARENA ALMAHIRA RENGGANIS JAL*NG SIALAN. " Sarah Amelia menutup telinganya sambil berteriak histeris. "HENTIKAN.BERISIK." umpatnya. Lalu berlari ke arah Hendra Setiawan. "MAS, LAKUKAN SESUATU, JANGAN DIAM SAJA. CEPAT. " ia menarik jaket Hendra Setiawan.
"LEPASKAN AKU DASAR WANITA GILA. " maki Hendra Setiawan sambil mendorong kasar tubuh Sarah Amelia. "kau bahkan tidak hamil. Bisa bisanya bilang keguguran. AKU TAK SUDI MELIHATMU LAGI. PERGI KAU, HIDUPKU HANCUR KARENA MU WANITA BRENG*EK." umpat Hendra Setiawan. Ia berlalu pergi.
"Mas, tunggu aku. " Sarah Amelia menyusul Sang suami yang sudah dikuasai amarah dan kebencian.
"Sepertinya situasinya sudah cukup jelas ya. " kata Elang Samudera meraih mic. "pertama tama, Unileveren and drinks tidak ada sangkut pautnya dengan masalah yang terjadi. Setiap kasus akan ditangani melalui tindakan hukum dan tindakan disipliner yang berat. " lanjutnya.
"Apa kalian benar benar tidak ada hubungan sama sekali. " tanya seorang wartawan.
"Ya, untuk saat ini... . " kata Elang Samudera, tapi langsung dipotong Almahira.
"Tidak, "kata gadis itu. Elang Samudera menatapnya. "saat ini kami sedang mengenal satu sama lain dengan perasaan yang positif. Hubungan kami lebih spesial dari sekedar rekan kerja atau tetangga. " ujar Almahira.
__ADS_1
"Apa kalian berpacaran. " tanya wartawan.
"Jika Elang Samudera menyetujuinya. " kata Almahira sambil tersenyum manis pada Elang Samudera yang merona malu.
"Aku sangat mencintai Almahira Rengganis. Ia membuatku tertarik. Ia wanita cerdas dengan kemandirian yang patut diacungi jempol. Disaat teman dan kekasihnya menghianatinya, ia tetap tegar dan tersenyum. Terimakasih Almahira Rengganis. " Elang Samudera menggenggam tangan Almahira.
Konferensi pers pun berakhir dengan memuaskan.
Di apartemen Almahira. Elang Samudera dan Almahira Rengganis sedang minum bir rendah alkohol. Tentu saja mengingat buruknya toleransi tubuh Almahira terhadap alkohol, membuat Elang Samudera tak berani mengajaknya minum minum. Almahira memang tak kuat minum. Selama ini ia hanya berani dengan bir putih. Itupun tidak selalu. Ia lebih suka jus ataupun air mineral. Beda dengan Sarah Amelia. Gadis itu bisa menahan alkohol dengan kadar tinggi. Beberapa gelas wiski atau bendi adalah hal biasa bagi seorang Sarah Amelia.
"Bapak kepala manajer sudah bekerja keras. " ujar Almahira. Ia mengunyah kacang garuda yang dibawakan Elang Samudera tadi.
"Ah, jangan panggil pak. Bagaimana kalau kau memanggilku dengan sebutan lain. " kata Elang Samudera dengan malu malu.
"Sebutan lain. " ulang Almahira. "Mas." katanya. Elang Samudera langsung merona. "atau sayang. " godanya geli melihat lelaki itu salah tingkah.
"Panggil dengan nama saja. " kata Elang Samudera.
"Elang." kata Almahira tertawa.
"Ya, bagaimana dengan masakannya. Apa kau suka. " tanya Elang Samudera. Di depan mereka sudah ada sepanci besar kerang hijau saos Padang.
"Iya, aku sampai ingin memakannya setiap hari. " jawab Almahira.
"Aku bisa memasak yang lain selain ini. " kata Elang Samudera dengan wajah ceria. "aku mahir memasak dan bersih bersih. Mencuci dan membersihkan rumah adalah hal biasa. " katanya. "karena itu, kau diam saja. Jangan melakukan hal yang membuat tanganmu kasar. " Elang Samudera meraih tangan Almahira. Menggenggamnya dengan lembut.
Almahira terhenyak. Tangan Elang Samudera terasa hangat dan lembut. Padahal dikehidupan sebelumnya, tangan Almahira penuh dengan luka dan sangat kasar.
"Bagaimana kita ke kantor besok. Pasti sangat heboh. " kata Almahira tertunduk malu.
"Soal kantor, aku akan berhenti. " ujar Elang Samudera. "toh aku memang berencana berhenti bekerja. Aku masuk kerja karena kakekku. Aku tak ingin mewarisi Unileveren and drinks. Aku punya perusahaan sendiri bernama EA Security. "
"EA Security. " Almahira menatap Elang Samudera.
"Itu adalah perusahaan keamanan yang aku bangun. Ilham Sanjaya adalah karyawan perusahaan itu. " kata Elang Samudera. Almahira mengingat lelaki bertubuh besar dengan wajah seperti bayi. "kami bertanggungjawab atas keamanan beberapa perusahaan. Dan skala perusahaan juga semakin besar. Sekarang aku mau pokus pada perusahaan milikku sendri. " jelasnya panjang lebar.
Almahira tersenyum menatapnya. Padahal lelaki itu adalah kepala manajer di sebuah perusahaan besar. Tapi ia punya perusahaan sendiri. Orang yang hebat. Akhirnya ia berhenti bekerja, seperti sepuluh tahun yang lalu.
"Akan butuh waktu tiga bulan untuk mencari penggantiku dan melakukan transisi. Apa kau akan sedih karens tidak bisa bertemu dengan ku di kantor. " Elang Samudera menatap Almahira.
"Ya." jawab Almahira sambil mendekatkan wajahnya. "bagaimana kalau ada wanita lain yang menyukaimu. " tanyanya iseng. Elang Samudera langsung meraih leher Almahira, lalu menghujani mulut gadis itu dengan ciuman panas memabukkan.Almahira membalasnya tak kalah panas.
"Tidak akan. " bisik Elang Samudera dengan napas memburu. "karena aku sudah menjadi milikmu. Aku akan selalu mencintai dan menjaga hatiku hanya untukmu, Almahira Rengganis. "
"Elang." Almahira menatap kekasihnya. Kini tak ada lagi suami yang akan memukulinya sampai mati. Dan kanker yang membuat seluruh tubuhnya sakit sudah menghilang. Ayahnya telah mengirimkan Elang Samudera untuk menjaga putrinya, Almahira Rengganis. Almahira hidup kembali untuk bertemu dengan Elang Samudera. Selanjutnya hanya akan ada hal hal bahagia.
Keduanya tertaw bersama. Penuh kebahagiaan dan cinta.
Ponsel Almahira bergetar. Sayangnya keduanya tak tau, karena ponsel itu mode silent.
Di sebuah kamar hotel. Bu Gina Aisyah sedang menangis tersedu sedu. Sementara ponsel masih menempel di telinganya.
"Nomor yang anda tuju tidak dapat menerima panggilan. Tinggalkan pesan setelah bunyi berikut. " suara operator menjawab.
Bu Gina Aisyah, terkulai di lantai ruangan.
__ADS_1
####
Assalamu'alaikum sahabat pembaca yang budiman. Maaf bila komentar kalian tidak bisa kami balas satu persatu. Di sini kami ingin klarifikasi sedikit tentang kesamaan novel kami dengan serial komik di apl sebelah.Dan komen serupa juga sama, di DM, dan WA,Sebelumnya naskah kami memang adalah adaftasi dari serial menjadi novel. dan kami pun sudah ada kerja sama terlebih dahulu. Semua naskah kami adalah atas persetujuan editor novel toon. Mohon maaf bila menyinggung atau mengecewakan semua pihak. Dan ini adalah novel adaftasi ke sekian kalinya. Dan ini sangat disetujui. Terimakasih telah sudi membaca naskah kami. Semoga pembaca semua selalu sehat dan dimurahkan rejekinya. Aamiin.