
Hendra Setiawan berdiri bengong melihat Almahira dan pak Elang Samudera datang bersama.
"Selamat pak Hendra. " Pak Elang Samudera menyalami Hendra Setiawan. "agak sulit bila seluruh anggota tim datang, jadi aku datang sebagai perwakilan. " kata lelaki berwajah dingin itu.
"Terimakasih sudah datang, pak. " jawab Hendra Setiawan menyambut uluran tangan Elang Samudera.
"Siapa?? Teman kantormu???. " Asep Karsono langsung merangkul Hendra Setiawan. Ia menatap Almahira penuh kekaguman. "kenapa kau tak bilang punya teman secantik ini. " ujarnya. "salam kenal, aku teman Hendra, namaku Asep Karsono, apakah aku boleh tau namamu nona cantik. " tanyanya pada Almahira. Sikap cengengesan Asep Karsono membuat mood Elang Samudera turun drastis. Ia menatap tak suka pada lelaki kurus itu.
"Aku rekan kerja pak Hendra di kantor. Almahira Rengganis. " kata Almahira menjawab.
"Almahira Rengganis. " ulang Asep Karsono. "namamu juga cantik. Sebentar, Almahira Rengganis. " Asep Karsono seperti mengingat sesuatu. "perempuan yang di bilang kampungan oleh Hendra Setiawan. " batin Asep Karsono. Ia melihat wajah muram Hendra Setiawan. "ah, aku pernah mendengar namamu, jangan bilang kau Asisten Manajer Almahira Rengganis. "
"Sayangnya, di kantor hanya ada aku Asisten manajer Almahira Rengganis. " kata Almahira sambil tertawa.
"Ayo kita masuk, Almahira Rengganis. " ajak Elang Samudera. Kedua sejoli itu meninggalkan Hendra Setiawan dan Asep Karsono.
"Hei, matamu kelilipan ya, kau bilang Almahira Rengganis kampungan, dan bos mu itu si pecundang berkacamata yang bodoh. " ejek Asep Karsono. "kau bilang, kau malu menunjukkannya padaku, tapi ternyata kau takut dia direbut ya, " geram Asep Karsono lagi. "bisa bisanya kau melepaskan perempuan seperti dia, sudahlah, aku masuk dulu. " Asep Karsono berlalu menyusul tamu yang lain.
"ALMAHIRA.. ... ALMAHIRA RENGGANIS, PADAHAL SEBELUM INI KAU PACARKU, AKU MENYESAL SAMPAI HAMPIR GILA. " Hendra Setiawan mengepalkan tangannya. Penuh sesal dan kekecewaan yang sayangnya, datang terlambat.
Di dalam.
"Aku ke ruang pengantin wanita dulu ya. " kata Almahira pada pak Elang Samudera.
"Ya, aku ke dalam dulu. Kalian mengobrol lah. " kata Elang Samudera.
Almahira masuk ke ruang tunggu wanita.
"Sepi sekali. " batin Almahira. "mirip denganku yang dulu. Pengantin wanita hanya diam menatap lantai, seperti boneka. " ia menatap Sarah Amelia yang duduk sendiri di sofa.
"Eh, Almahira. Kenapa baru datang. " seru Sarah Amelia berseri. "dia pikir pengantinnya itu dia, kenapa berdandan cantik segala. " batin Sarah Amelia melihat Almahira yang cantik banget.
"Maaf, jalanan macet. Kau sudah lama menunggu. " tanya Almahira.
"Tentu saja,kalau bukan kau siapa lagi yang akan menerima buket bungaku. Aku bagaimana , cantikkan. " kata Sarah Amelia sambil mengembangkan gaun pengantinnya.
"Ya, kau cocok dengan gaunnya. " kata Almahira tersenyum. Gaun yang seenaknya dipilihkan oleh ibu Hendra, sekarang di pakai oleh Sarah Amelia. Dulu saat Almahira memakai gaun itu, yang menerima buket pengantin adalah Sarah Amelia, wajah gadis itu begitu senang. Almahira tak tau apa yang sebenarnya diharapkan Sarah Amelia saat menerima buket bunga di pernikahan Almahira dulu.
"Almahira." seseorang memanggil Almahira.
"Adityawarman."Almahira menghampiri lelaki itu.
__ADS_1
"Jessica menghubungiku, dan memintaku menemanimu, agar kau tak datang sendirian. Tapi ternyata aku terlambat ya. " kata Adityawarman. Sambil tertawa mengingat Elang Samudera yang galak.
"Ah, itu... " Almahira menyembunyikan wajah malunya.
"Kau pikir aku datang kesini hanya untuk menyerahkan amplop selamat pada Sarah???. " tanya Adityawarman. "ya, tapi tadi aku memang memberikannya. "katanya.
" Terimakasih sudah menghawatirkan diriku. Tapi hsl ini terjadi setelah kami putus. "kata Almahira. "aku tidak apa apa. "
"Dia masih keren seperti dulu. " batin Adityawarman. Ia menatap Almahira sambil tersenyum. "Ah, Jesica juga hampir sampai. " ia membuka ponselnya yang terus bergetar.
"Apa??? Jesica juga datang. " pekik Almahira tak percaya.
"Iya, dia akan datang dengan Monica dan Clarissa. " jawab Adityawarman.
"Jangan jangan kau menceritakan pada mereka soal suami Sarah. " ujar Almahira.
"Bahwa suaminya, adalah mantanmu. Tentu saja. " kata Adityawarman kesal.
"Terus mereka bilang apa. " tanya Almahira.
"Tak ada bilang apa apa, mereka kesini untuk makan prasmanan. " jawab Adityawarman.
"Tak mungkin mereka ke sini hanya untuk makan. " pikir Almahira.
"Almahira!!!! Adityawarman!!! "tiga wanita berpakaian ngejeng mucul. Pakaian yang mereka pakai bukan untuk ke undangan pernikahan. Tapi persis pakaian gadis boring yang sedang suntuk. Pakaian ke club malam.
"Mereka datang. " kata, Adityawarman.Beberapa tamu berbisik bisik melihat kedatangan ketiga gadis itu.
"Hah, ka... kalian. " Almahira terbelalak melihat penampilan ketiganya. "kenapa kalian berpakaian seperti ini. "
"Keren kan. " ujar Jessica. "Almahira, kau cantik sekali hari ini. " puji nya menatap Almahira.
"Terimakasih, kalau tau kalian akan datang, seharusnya kita datang bersama saja. " kata Almahira.
"Kau jangan ikut campur, cukup duduk saja. Karena kami kesini untuk melihat Sarah dan suaminya. " kata Jessica.
"Berani beraninya ia menusukmu dari belakang. " geram Monica. Clarissa mengangguk penuh, semangat. Almahira hanya tersenyum.
Waktu itu, Almahira tau dunianya hanya ada Hendra Setiawan dan Sarah Amelia. Dua orang yang tidak mungkin tidak ada dalam hidupnya. Sekarang keduanya berjalan memasuki lubang api.
"Aku mengucapkan selamat karena kalian akan menjalani kehidupan neraka bersama sama. Semoga kalian dapat merasakan sakitku waktu itu.
__ADS_1
Karena ini adalah neraka yang aku berikan pada kalian. " batin Almahira. Tepuk tangan para undangan menggema riuh saat Hendra Setiawan dan Sarah Amelia berjalan menuju Altar pernikahan.Tempat yang dulu juga pernah didatangi Almahira dan Hendra Setiawan.Sekarang Hendra Setiawan berjalan disitu, bukan dengan dirinya lagi. Tapi dengan teman baik Almahira.Setelah selesai mengucapkan janji suci pernikahan. Keduanya berbaur dengan tamu undangan.
"Nah, kalian teman pengantin wanita. " tanya fotografer.
"Ya, tapi kami bukan teman biasa. Kami sudah dekat sedari kecil. Sedekat biji kemalu*n." teriak Jessica. Ketiga gadis itu menatap Sarah Amelia.
"Padahal aku tidak mengundang mereka, kenapa pula mereka bisa datang ke sini. " batin Sarah Amelia dengan kesal.
"Apa." tanya fotografer setengah berteriak.
"Kami adalah teman si biji." terusk Jessica.
"Hei apanya yang teman si biji. " seru Clarissa.
"Kitakan tidak punya biji. " kata Monica.
Elang Samudera, Almahira Rengganis, dan Adityawarman hanya mendengarkan perdebatan unfaedah itu sambil tersenyum kaku.
"Sarah Amelia, meskipun kau tidak punya teman, kenapa harus mengundang mereka datang kesini. " geram Hendra Setiawan. Para tamu berbisik bisik seperti lebah, "bikin malu saja. "
"Kalau begitu, yang akan menerima buket maju kedepan. " seru fotografer.
Almahira maju. Ia berdiri lima meter di belakang Sarah Amelia.
"Sialan, bikin malu, aku ingin sekali melempar buket ini ke wajahnya. " geram hati Sarah Amelia sambil melirik Almahira.
"Begitu hitungan ke tiga, lempar ya. " pesan fotografer. "satu.... dua... tiga. "
Buket bunga itu di lempar ke belakang oleh Sarah Amelia. Dengan anggun, Almahira menerimanya.
"Dengan tulus aku ucapkan, selamat atas pernikahanmu. " kata Almahira.
"Almahira." Hendra Setiawan menatap Almahira dengan perasaan yang sulit dilukiskan.
Sarah Amelia menatap wajah Hendra Setiawan.Lelaki itu nampak terpaku menatap Almahira.Ia teringat kata kata Jessica tadi.
"Aku kesini bukan untuk menyemangatimu. Tapi ada yang ingin aku sampaikan." kata Jessica."Selamat karena telah memungut sampah yang sudah di buang oleh temanmu. "
bisiknya di telinga Sarah Amelia.
"Nah, kedua pengantin, silahkan berciuman. " seru fotografer pada Sarah Amelia dan Hendra Setiawan.
__ADS_1
"Mas... cium Sarah. " bisik Sarah sambil mengalungkan tangannya di leher Hendra Setiawan. Keduanya berciuman. "Tidak, kau salah Jessica, aku tidak memungutnya. Tapi aku merebutnya . Akulah pemenangnya. Aku menang darinya. " pikir Sarah Amelia. Senyum terkembang di bibir liciknya.
Sikit up hari nih. Flu berat. 😷😷😷😷