
Almahira berjalan cepat memasuki sebuah hotel melati di kawasan Sei Panas.
"Bu Gina, Apakah ada di dalam. " Almahira mengetuk pintu kamar. Pintu pun terbuka. "maaf, saya tadi tidak melihat ponsel saya. " katanya. Tapi Almahira langsung terkejut melihat wajah penuh airmata, Bu Gina Aisyah.
"Almahira." Bu Gina Aisyah menangis tersedu-sedu di pelukan Almahira.
"Tenanglah.Aku sudah datang. " Almahira menepuk punggung Bu Gina Aisyah. Menenangkan wanita itu. Lalu mereka duduk di dalam.
Setelah Bu Gina Aisyah tenang, wanita itu mulai bercerita pada Almahira.
"Saat melihatnya bekerja keras di restoran, ku pikir ia memang orang yang baik. Tapi ternyata aku orang yang bodoh, telah berpikir seperti itu. Cincin yang hilang, entah sejak kapan. " kata Bu Gina Aisyah. "saat ku tanya di mana cincin itu, ia bilang mungkin tertinggal di celemek saat ia mencuci piring. Lalu saat aku pulang kantor, kamar mandi di kamar kami basah. Laku kosmetik yang aku beli berkurang, seperti habis dipakai. Aku pikir aku terlalu sensitif. Tapi aku jadi tersadar, karena kebiasaan tidurnya yang baru muncul akhir akhir ini. Ia suka mengigau memanggil sayang, sambil tersenyum menjijikkan. Aku bilang padanya kalau aku lembur. Tapi aku bersembunyi di tangga darurat. Aku melihat ada wanita yang masuk ke dalam. Dia bahkan bisa mengetahui kode rumah yang merupakan tanggal pernikahan kami. Aku lari karena tidak sanggup membuka pintu rumah sama sekali. "Bu Gina Aisyah menutup wajahnya sambil menangis. "jika aku membuka pintu itu. Aku merasa semuanya akan hancur. "
"Saya mengerti perasaan anda. "kata Almahira. Ia ingat dulu memergoki perselingkuhan Hendra Setiawan dan Sarah Amelia. Begitu pintu terbuka, mereka tidak bisa kembali lagi.
.
"Dulu aku berpikir untuk menceraikannya. " isak Bu Gina Aisyah. "tapi aku tak tega membiarkan Raisa menjadi anak yang malang tanpa ayah. "
"Malang tanpa ayah. Kalau saya tidak punya ibu. " ujar Almahira. "waktu kecil, ibu saya sakit sakitan. Beliau kecelakaan waktu pergi dengan kakek dan nenek. Tinggallah saya hanya berdua dengan ayah. Karena tak tahan menanggung kesedihan, ayah mengajak kembali ke Batam.Tapi orang orang yang dulu sempat mengenal ayah dan ibu di sini, bergosip kalau ibu pergi dengan lelaki lain. Ia lebih memilih selingkuhan dari pada kami. Tapi saya tidak merasa menjadi anak malang. Saya besar dengan kasih sayang yang cukup dari ayah saya. Justru jika ibu masih bersama kami, beliau akan terus menderita dengan sakitnya. Dan ayah akan terus bersedih. Dan, saya akan menjadi anak yang benar benar malang. "
Bu Gina Aisyah menatap Almahira.
"Pilihan ada di tangan anda. Seorang anak akan bisa tumbuh dengan baik, walau hanya mendapat kasih sayang dari salah satu orang tuanya. "kata Almahira.
"Benar." kata Bu Gina Aisyah. "aku juga punya kemampuan. Aku punya rumah, dan orang tua yang selalu membantuku. Dan aku menyayangi Raisa dibanding siapa pun. " ujarnya. "aku akan bercerai demi Raisa. Aku percaya, aku bisa membuatnya tidak merasakan kekosongan karena tidak memiliki ayah. "
"Ibu pasti bisa. Ibu pasti bisa melakukannya dengan baik. " kata Almahira tersenyum menyemangati.
"Terimakasih Almahira, aku sungguh tak menyangka akan memperlihatkan sisiku yang seperti ini kepada rekan kerjaku. " kata Bu Gina Aisyah, sambil mengusap airmatanya.
"Kita bukan hanya rekan kerja saja, kak Gina. " Almahira menggenggam tangan Bu Gina Aisyah.
"Ya, adikku. " Bu Gina Aisyah tersenyum bahagia.
Berdasarkan KUHP(ni asli ngarang ya. Ntah benar ntah nggak.) Republik Indonesia, pasal sekian, nomor sekian. Jika melakukan perselingkuhan saat sudah menikah, akan di penjara kurang dari tiga tahun. Tahun dua ribu sembilan, hukum itu masih berlaku .
__ADS_1
Hari itu di kantor.
"Aku tau alamat blog nya. Dia mengunggah banyak sekali foto berpasangan mereka. Aku sudah menyalin foto foto yang mereka ambil di rumah ku. " kata Bu Gina Aisyah.
"Oh, sepertinya saya pernah melihatnya. " ujar Almahira.
"Clara Eva, dia sudah lama bekerja di restoran orang tuaku. "kata Bu Gina Aisyah sanbil menyesal kopi.
"Ah, saya ingat. Saya pernah melihatnya saat kita makan makan. " kata Almahira. "mereka keluar dari ujung taman. Saya pikir di sana area untuk merokok. "
"Luar biasa. Padahal aku ada di sana. Bisa bisanya mereka berselingkuh di sana. " geram Bu Gina Aisyah dengan penuh kekesalan. "apa lagi teman teman kantorku semua ada di sana. Hahhhh. " ia menghela napas panjang sambil memegang kepalanya.
"Ibu baik baik saja. "tanya Almahira khawatir.
" Ya, karena aku sudah tau apa yang harus ku lakukan kedepannya. Aku akan bilang harus berdinas keluar, dan saat itu aku akan menangkap mereka. Agar mereka tak bisa berkutik lagi. Aku akan balas dendam. Tunggu saja. "geram Bu Gina Aisyah. Almahira meliriknya dengan pandangan khawatir. "ah, perutku sakit, sepertinya pagi tadi aku terlalu banyak minum kopi. " jeritnya tiba-tiba sambil menelungkupkan wajah di meja. Almahira menepuk nepuk punggung Bu Gina Aisyah.
"Ibu memang tidak bisa hidup tanpa kopi. " kata Almahira tertawa.
"Benarkah."kata Bu Gina Aisyah. " setidaknya aku harus mengurangi minum kopi. "lanjutnya.
"Terimakasih sudah mengantarku, Elang, nanti ku telpon ya. " kata Almahira.
"Begini, sayang. Apa ada yang sedang kau pikirkan. " tanya Elang Samudera dengan wajah khawatir melihat kekasihnya itu. "belakangan ini raut wajahmu terlihat tidak baik. Aku bisa melakukan apapun untuk membantumu. Jadi... "
"Aku baik baik saja sayang. " kata Almahira sambil tertawa kecil. "ini hal yang harus ku lakukan sendiri. Dan harus diselesaikan sendiri. Maaf sudah membuatmu khawatir. "
"Tidak sayang. Aku tidak tau apa yang terjadi. "Elang Samudera meraih Almahira ke dalam pelukannya. "tapi kau bisa melakukannya dengan baik. Aku percaya padamu, sayang. "
"Terimakasih." Almahira mengeratkan pelukannya.
Pagi itu di bawah apartemen Bu Gina Aisyah. Nampak Beni Simanjuntak sedang mengangkat koper sang istri ke dalam bagasi.
"Aku pergi dulu. Seperti aku akan pulang minggu malam. Nanti sekalian aku akan menjemput Raisa di rumah ibuku. " kata Bu Gina Aisyah.
"Kau harus bekerja sepanjang akhir pekan ya. " kata Beni Simanjuntak. Ia membantu membuka pintu taksi. "jangan khawatir, Hati-hati di jalan. Aku mencintaimu istriku. "
__ADS_1
Taksi itu meninggalkan halaman gedung apartemen. Beni Simanjuntak menunggu hingga taksi menjauh dan tak nampak lagi.
"Sosok yang pergi menjauh, setelah menikah, itulah sosok tercantiknya." gumam Beni Simanjuntak. Tiba-tiba ada tangan yang memeluknya dari belakang.
"Sayang." Clara Eva memeluk Beni Simanjuntak dengan erat. "aku kedinginan menunggumu. " rajuknya manja.
"Maafkan aku sayang. " Beni Simanjuntak merangkul Clara Eva. Mereka memasuki gedung apartemen.
Maka siang itu, Almahira dan Bu Gina Aisyah didampingi dua polisi, naik ke apartemen Bu Gina Aisyah dengan tangga darurat, agar tidak ketahuan kedua tikus itu. Untuk menangkap pelaku perselingkuhan, harus ada bukti kuat dan keterlibatan polisi.
Bu Gina Aisyah masuk ke rumahnya dengan mengendap endap.
"HEI BENI SIMANJUNTAK. "teriak Bu Gina Aisyah dengan lantang.
"ISTRIKU." Beni Simanjuntak yang sedang bergumul di dalam selimut dengan Clara Eva, terkejut. Lebih terkejut lagi saat lampu kamera berkilat ke arah mereka. "siapa kalian. "
"Kami polisi. " ujar seorang polisi sambil mengeluarkan lencana miliknya. "Beni Simanjuntak, anda ditangkap atas kasus perzinahan. " kata sang polisi lagi.
"Apa." Beni Simanjuntak tercengang. Clara Eva menjerit ketakutan.
"Sayang, lakukan sesuatu, aku malu. " rengek Clara Eva. Ia menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Kalian berdua, cepat pakai baju dan keluar. " seru polisi.
"Almahira, kau tunggulah di luar bersama dua polisi. " pinta Bu Gina Aisyah. Tapi Almahira merasakan ketakutan yang besar.
"Sebentar." Almahira melihat meja rias. Ia ingat dulu Hendra Setiawan memukulnya menggunakan tiang meja. Situasi dan keadaan kamar pun sangat mirip. Dengan saat ia mati dulu. Dengan cepat Almahira merusak meja rias dan mengambil tiang balok yang lumayan besar. "AWAS JIKA KAU MELAKUKAN SESUATU PADA KAK GINA, AKU AKAN MEMATAHKAN KAKI DAN TANGANMU SEPERTI MEJA ITU. " serunya pada Beni Simanjuntak.
Almahira dan dua polisi menunggu di luar. Aneh, Almahira ingat, tadi Bu Gina Aisyah mengeluh sakit perut, ia mengira karena kebanyakan minum kopi. Tapi bagaimana kalau itu bukan sakit perut biasa. Almahira kembali terbayang saat ia mendengar rencana Hendra Setiawan dan Sarah Amelia dulu. Suami yang berselingkuh di kamar,dan wanita yang terkena kanker.
"Katanya ia terus sakit kepala, jadi sebelum mengantarkannya ke rumah sakit, aku sudah mendaftarkan asuransi untuknya. " kata Hendra Setiawan waktu itu.
"Kak Gina,buka pintunya."Almahira segera menggedor pintu.
Di bantu dua polisi, mereka mendobrak pintu. " kak Gina. "Almahira terbelalak melihat Bu Gina Aisyah terkapar di lantai.
__ADS_1