Menikahkan Suamiku

Menikahkan Suamiku
bab 35


__ADS_3

Klik. Almahira menggerakkan mouse di depan komputer. Keluarlah berita heboh itu.


SEORANG KONGLOMERAT GENERASI KETIGA MELAKUKAN TINDAKAN TAK BERMORAL DENGAN SEORANG WANITA SELINGKUHAN


Aku adalah seorang ibu rumah tangga berusia dua puluh tahunan. Aku menulis ini karena merasa tidak adil. Seorang teman masa kecilku, kami sudah berteman lebih dari sepuluh tahun. Ia melakukan kekerasan padaku, hingga menyebabkan aku keguguran. Dan satu lagi kesalahannya, demi merayu seorang konglomerat generasi ketiga, ia menyuruhku merayu pacarnya, agar mereka putus dan ia bisa bersama konglomerat itu.


TEMAN KERJA MELAKUKAN KEKERASAN HINGGA MENYEBABKAN KEGUGURAN... BAHKAN MENYURUH TEMANNYA MERAYU SANG PACAR.


MEMINTAKU BERLUTUT DI LANTAI RUMAH SAKIT... LALU BERTERIAK MENGANCAMKU.


WAJAH CALON PENGANTIN YANG BERSELINGKUH DENGAN KONGLOMERAT GENERASI KETIGA.


"Hahhhh... " Almahira menghela napas. Ia tau siapa penulis tanpa nama itu. Hendra Setiawan mengancamnya dengan hal itu." Sarah Amelia, ia sampai sejauh ini, dan pak Elang Samudera, ternyata ia cucu CEO Unileveren and drinks. "batin Almahira.


Ponsel Almahira berbunyi.


" Ya, Jessica. "jawab Almahira. " Iya aku tidak apa apa. "


"Tidak apa apa, apanya. Seharusnya aku membunuhnya dan membuang mayatnya di pulau Putri. Biar dimakan buaya sekalian. " teriak Jessica di sebrang sana. Wanita itu sepertinya sangat marah.


"Tenanglah, aku tidak apa apa, aku sudah membaca beritanya. " kata Almahira tertawa geli.


"Pak Elang Samudera bagaimana. Aku kira ia seorang bisnisman yang sukses diusia muda, ternyata ia cucu CEO Unileveren and drinks. " ujar Jessica.


DING dong, DING dong.


"Eh, Jessica, ada yang menekan bel. Aku akan melihatnya. Nanti ku telpon balik ya. " Almahira menutup telpon. Ia bergegas membuka pintu.


"ALMAHIRA, KAU TIDAK APA APA. " Elang Samudera datang dengan wajah cemas dan napas ngos ngosan. Sepertinya lelaki berwajah dingin itu habis berlari terburu-buru.


"Masuklah." ajak Almahira.Mereka duduk di sofa. "aku sudah membaca beritanya. " katanya menatap Elang Samudera.


"Maaf... soal keluarga ku. Benar, aku memang cucunya. Tapi tidak ada yang spesial soal itu. Aku masuk ke situ, seperti karyawan lainnya. Lalu naik pangkat setelah cukup lama bekerja. " ujar Elang Samudera tertunduk malu."aku tidak pernah meminta pada kakekku. "


"Benar benar tidak ada yang spesial ya. " kata Almahira tersenyum. "seperti skenario yang sering ku lihat di drama."


"Gara-gara aku, kau jadi mengalami semua ini. Maafkan aku. "kata Elang Samudera.Almahira meraih wajah Elang Samudera dengan lembut.


" Mau kau cucu CEO atau putra seorang Presiden,bagiku kau adalah Elang Samudera,iyakan."Almahira tersenyum dengan lembut. "situasimu lebih gawat dariku. Bagaimana perusahaan menanggapinya."


"Jika beritanya lebih dulu ditulis media, masalah ini bisa dihalau. Tapi ini di tulis oleh anonim, jadi sulit untuk diinvestigasi. " kata Elang Samudera dengan wajah merona.


"Ini perbuatan Hendra Setiawan dan Sarah Amelia. Mereka mengancamku untuk putus denganmu. Kalau tidak mereka akan membuat masalah. " kata Almahira.


Elang Samudera menghela napas. Almahira tau beban pikiran lelaki itu begitu berat. Almahira sudah biasa dengan hal seperti itu. Tapi mereka tidak seharusnya mengganggu Elang Samudera.


"Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan. " batin Almahira, ia menghirup coklat hangat yang tadi di buatkan oleh Elang Samudera. Lelaki itu kini berbaring di pangkuan Almahira. "suami istri pengecut. Bisa bisanya mereka menggunakan keluarga Elang sebagai kelemahannya. " Almahira membelai rambut Elang Samudera.


Tiba-tiba ide cemerlang muncul di kepala Almahira. Ya benar, Almahira akan menyiarkan secara langsung, pertunjukan yang mereka buat. Sambil tersenyum, Almahira membangunkan Elang Samudera.


"Ada apa. " tanya Elang Samudera menatap wajah sang pujaan hati.

__ADS_1


"Begini saja, Pak. Kita harus membuat masalah ini menjadi lebih besar, agar kita bisa memperbaiki situasi. " kata Almahira penuh keyakinan.


Di rumah pasangan ular, Hendra Setiawan dan Sarah Amelia.


"INI ULAHMU KAN!!!!!. " maki Hendra Setiawan dengan wajah marah setengah mampus. "KAU MEMBUKA PONSELKU DAN MELAKUKAN INI SEMUA. "


"Kenapa marah begitu. Karena Almahira Rengganis yang kau cintai di benci semua orang. " ejek Sarah Amelia.


"HEI, SARAH AMELIA. " bentak Hendra Setiawan.


"Pas sekali ada telpon masuk. " Sarah Amelia membuka ponsel Hendra Setiawan, nama Almahira tertera di layar.


"JANGAN DIANGKAT. " cegah Hendra Setiawan.


"Hei Almahira, apa yang terjadi. " tanya Sarah Amelia dengan judesnya. "hallo, apa tidak kedengaran. "


"Yang menulis di internet itu kau kan. " kata Almahira di sebrang sana.


"Kenapa kau pikir itu aku. " tanya Sarah Amelia sambil tersenyum mengejek.


"Kau menulisnya berdasarkan pengalaman pribadi kan. Cepat hapus tulisan itu. Kau tidak tau betapa menderitanya aku karena tulisan itu. "kata Almahira.


" Kenapa aku harus menghapusnya. Selama ini aku yang sudah disulitkan olehmu. "teriak Sarah Amelia. "tapi aku masih menganggapmu teman. "


"Ku mohon... ku mohon, hapus tulisanmu Sarah. " pinta Almahira.


"Ehhhh, bagaimana ya, aku sama sekali tidak tergerak. " kata Sarah Amelia sambil duduk di sofa. Ia menyilangkan kakinya. Sementara Hendra Setiawan bingung melihat wanita itu.


"UANG." mata Sarah Amelia berbinar senang. "BENAR JUGA, DIAKAN CUCU CEO, AKU BISA MINTA BERAPA SAJA. " batinnya.


"Ku mohon, hapus tulisan itu. Dan jelaskan pada wartawan ini semua hanya salah paham. " kata Almahira.


"Kau harus membayar mahal. Kau juga harus membayar uang atas foto yang susah payah Hendra dapatkan. " ujar Sarah Amelia.


"Tiga ratus juta rupiah, tapi kau harus menghapus tulisan dan foto itu. " kata Almahira.


"LIMA RATUS JUTA RUPIAH. " kata Sarah Amelia.


"Lima ratus juta rupiah, " Almahira terbelalak kaget. "tapi Sarah.... "


"Seperti saat kau berpura-pura baik dengan memberi lima juta rupiah sebagai amplop pernikahan padaku. Sekarang juga, berikanlah uang itu. " kata Sarah Amelia. "Kalau tidak mau ya sudah. Aku tidak keberatan. "


"Tunggu, Sarah. Aku akan memberikannya. " kata Almahira.


"Hah, baiklah, Almahira kau bertemu pria kaya yang bisa mengubah nasibmu. Jadi jangan terlalu sedih ya. " ejek Sarah Amelia tertawa. "AH, AKU BAHAGIA. BENAR. ITU DIA, ALMAHIRA RENGGANIS, YANG SELALU MEMOHON PADAKU. " batinnya senang.


"Oya, bagaimana kalau kita pergi makan enak, kalau aku sudah menerima uangnya nanti. Biar aku yang traktir hehehe. " kata Sarah Amelia.


"Jumlahnya terlalu besar. Aku tidak bisa transfer. Akan ku berikan tunai. " ujar Almahira.


"Kau mau menaruh uangnya di koper, seperti zero zero seven. Wah keren. " kata Sarah Amelia senang luar biasa.

__ADS_1


"Datanglah ke alamat yang akan aku kirim lewat SMS nanti. Datanglah dengan suamimu. " kata Almahira.


"Kenapa kau mencari suamiku. " seru Sarah Amelia dengan kesal.


"Aku memberikan uang itu agar Hendra Setiawan menghapus foto foto itu di depanku. " ujar Almahira.


"Baiklah, kami akan datang bersama, Kirimkan alamatnya. " ujar Sarah Amelia sambil melirik Hendra Setiawan yang menguping.


"APA DIA BILANG, DIA MAU MEMBERIKAN UANG LIMA RATUS JUTA RUPIAH. " seru Hendra Setiawan tak percaya.


"Ya, meski itu sebenarnya uang Elang Samudera. " kata Sarah Amelia, ia mengembalikan ponsel Hendra Setiawan.


"Jangan lupa, ini semua berkat aku. " ujar Sarah Amelia. "otak itu harus dipakai seperti ini. " katanya mengetuk keningnya.


Di apartemen Almahira Rengganis.


"Sarah Amelia, Hendra Setiawan. Mari kita bereskan semua ini. " Almahira tersenyum sambil menyibak rambutnya.


Sore itu, hujan deras mengguyur kota Batam. Area kawasan Jodoh sudah gelap tertutup mendung sejak siang tadi. Di hotel Pacific. Sarah Amelia dan Hendra Setiawan melangkahkan kami memasuki lobby hotel.Wajah keduanya seperti lampu neon, terang dan cerah. Sarah Amelia bernyanyi kecil sedang Hendra Setiawan bersiul. Clingak clinguk, memandang sekeliling. Banyak orang berjas hitam berdiri berjaga tiap sudut.


"Almahira Rengganis, dia akan diputuskan oleh pacar konglomeratnya, dia juga akan segera dipecatkan. Tidak sia sia aku melakukan semua ini. Ah senangnya. " Sarah Amelia terkekeh senang. Hendra Setiawan melirik nya heran.


"Sayangku, hari ini suasana hatimu sedang bagus ya. " kata Hendra Setiawan sambil mengelus kepala Sarah Amelia.


"Yang jelas itu bukan karena dirimu. Jadi jangan salah paham. " umpat Sarah Amelia marah.


"Kau terlihat manis saat marah begitu. Oya jangan lupa, kalau foto itu dariku. " ujar Hendra Setiawan. Dua orang bodyguard mengiring mereka , hingga tiba di depan ruangan.


Elang Samudera dan Almahira Rengganis menatap keduanya dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Oh, hallo pak. " sapa Hendra Setiawan. "kita ketemu di sini ya. Apa anda sudah membawa uangnya. "dengan santainya ia bertanya pada Elang Samudera.


" Ya, aku akan memberikannya di dalam. "ujar Elang Samudera. Ia membuka pintu. Hendra Setiawan dan Sarah Amelia melangkah masuk.


"Kau masih bisa sombong ya, Almahira Rengganis. " senyum mengejek Sarah Amelia saat melihat Almahira yang menatapnya dengan pandangan kesal. "tak sia sia aku menjadikanmu teman, cepat berikan uangnya. " batin Sarah Amelia, ia melangkah sambil tersenyum penuh kemenangan.


Hendra Setiawan terbelalak, saat melihat isi ruangan. Kilatan kamera di wajah mereka, menyadarkan Sarah Amelia dari khayalan tingkat dewanya.


Cekrik, cekrik, cekrik, cekrik


"Dia datang. " suara seseorang disusul kilatan lampu kamera.


"Kira kira apa alasan mereka mengadakan konferensi pers dengan korban. " sahut yang lain


"Apa mereka mau minta maaf secara terbuka. " kata seseorang dekat podium.


"Siapa mereka ini. " pikir Hendra Setiawan dan Sarah Amelia. Menatap begitu banyak orang di ruangan itu.


"Terimakasih sudah datang. " Almahira menutup pintu.


"Nah, sekarang kita mulai konfrensi pers mengenai kekerasan yang dilakukan oleh Unileveren and drinks. " kata Elang Samudera. Almahira Rengganis yang berdiri di sebelah lelaki itu tersenyum manis.

__ADS_1


"APA????. SIALAN. KONFRENSI PERS. " Hendra Setiawan dan Sarah Amelia tak bisa mundur lagi. Pintu sudah dijaga ketat petugas berjas hitam.


__ADS_2