Menikahkan Suamiku

Menikahkan Suamiku
bab 55


__ADS_3

Tentu saja kalau bukan saat itu, jika ada yang berani menanyakan alasan dan tujuan dari duke Jacobus, ia sudah menyodorkan pisau ke leher orang itu. Tapi kenapa ia merasa kebingungan dan tidak bisa melakukan nya pada wanita yang duduk tenang di hadapannya itu.


"Entahlah, bukankah yang menipu itu adalah putri sendiri. " kata duke Jacobus dengan santai. Ia berusaha berekspresi tenang, takut jangan jangan Melody juga pandai membaca raut wajah orang, bukan hanya akhirnya mendeteksi lukisan palsu. Ada ada aja otaknya si duke nih.


"Saya." mata Melody terbelalak heran.


"Alasan anda, bahwa anda jatuh hati pada duke Jacobus. Itu adalah bohong kan. Kenapa putri menyelidiki ke empat orang itu, apa sungguh karena jatuh hati pada duke. Kalau demikian, anda bodoh, karena banyak hal yang bisa membuat orang yang anda suami itu tidak nyaman. " ujar duke Jacobus. "tapi putri pintar, hanya dengan melihat insiden lukisan palsu hari ini, anda sangat hebat, sampai membuat saya kagum. "


"Saya tidak butuh rasa kagum dari anda. Simpan saja untuk klien anda yang lain. " kata Melody tersenyum.


"Kalau ada hal yang ingin putri ketahui, tolong bawa kenyataan, saya akan dengan senang hati mendengar cerita tentang putri. " kata duke Jacobus sambil menuangkan teh di cangkir.


"Sayang sekali, hidup saya tidak untuk hal hal bodoh yang sia sia. " Melody menyesal teh yang disodorkan duke Jacobus. "Jadi kalau tidak bisa mendengar jawaban yang kau ingin kan, kau akan terus berkelit. Baik, kita lihat. Kau akan bicara, atau aku yang akan maju. " senyum misteri tersungging di bibir Melody. Duke Jacobus tersentak. "terimakasih sudah mengatakannya pada saya. Saya Terima hint dari anda. " katanya sambil meletakkan cangkir teh kosong.


"Hint." duke Jacobus kebingungan.


"Itu berarti saya tau, anda bukan Lucas. " kata Melody sambil tersenyum manis.Lalu meninggalkan duke Jacobus. "Ani, kita pulang sekarang. "


"Apakah masih ada lukisan yang anda butuhkan. " tanya Ani.


"Tidak apa apa, aku bisa memastikannya lain kali. " ujar Melody.


"Sudah ku duga, ini bukan pertaruhan biasa. " batin duke Jacobus. Ia menatap kepergian Melody dan pelayannya.


"Maaf." anak kecil itu menghampiri duke Jacobus. "maaf tuan. Padahal anda sudah memberi kebaikan pada kakek dan saya. Tapi lagi lagi saya merepotkan anda. "


"Tidak apa apa.Yang barusan seru kok. Sebagai gantinya, bisa kah kau melakukan sesuatu untukku. " kata duke Jacobus.


"Katakan saja. " kata anak itu antusias.


"Lady yang barusan keluar adalah pemimpin keluarga Garden. Kau harus kesana mengantar lukisan untuknya. " kata duke Jacobus. Ingatan samar kembali muncul. Seorang wanita yang sangat mirip dengan Melody, tersenyum manis padanya. Sering mereka berciuman, tertawa bersama dan makan bersama. Duke Jacobus bingung, siapa mereka. Kenapa ia begitu merasa sangat dekat dengan Melody dan ingin melindungi putri bangsawan itu.

__ADS_1


Beberapa hari kemudian di kediaman Garden.


"Nona, ada seorang bocah dan meninggalkan lukisan ini dan pergi begitu saja. " kata Susi membawa bungkusan besar.


"Ini.... " Melody menatap lukisan salam ibu. "ternyata orang itu yang mengirimkannya. " katanya sambil tersenyum.


Lukisan salam ibu, di gantung di kamar Melody. Untuk mengetahui lukisan salam ibu itu pasti, membutuhkan waktu yang sangat lama. Tapi Melody senang ia bisa membuktikan argumentasinya.


"Siapa ya. " Melody berbaring sambil menatap langit langit kamarnya. Sejak pulang dari galeri seni, pikiran Melody menjadi kacau. "sudah pasti ia bukan Lucas, apakah dia kaki tangan duke Jacobus. Atau dua anggota lain empat sekawan. Kalau begitu, apa dia duke Jacobus. Aku tidak boleh gegabahgegabah menilainya. Lagi pula akan ada kabar, kalau pun saat itu aku memastikannya, belum terlambat. Biar pun begitu, dengan insiden lukisan palsu, itu membuktikan bahwa pengetahuan bumi, sangat diperlukan di tempat ini . "Melody bangkit. Ia menyimpan smartphone miliknya di tempat yang aman. Baru keluar kamarnya. Para pelayan bengong melihat majikan mereka, beberapa hari ini Melody memang mengurung diri di kamar.


"Panci, saringan dan sarang lebah. " ulang Susi keheranan.


"Benar, kita akan membuat alat rias. " kata Melody.


"Alat rias dari saringan, jari lentuk anda akan rusak nona. " kata Susi.


"Nggak akan kok. Aku bisa membuatnya sendiri. " kata Melody. "aku ingin berbisnjs di benua ini. Awal yang bagus dari hal hal kecil dulu.Lagi pula, para pelayanku sangat patuh dan banyak membantuku selama ini, aku ingin membalas budi dan menyenangkan mereka sedikit. " batinnya sambil tersenyum senang.


Hari itu, Melody masuk ke dapur, semua pelayan heran. Tak pernah ada putri bangsawan yang mau susah susah ke dapur, apa lagi di kediaman keluarga Garden, pelayan lumayan banyak.


"Ada apa ini. " tanya seorang pelayan pada temannya dengan heran.


"Katanya nona, ingin membuat sesuatu. " jawab temannya.


"Katanya mau buat lip balm. " sahut pelayan satu lagi.


"Nona, ini semua bahan yang anda perlukan. "Susi datang dengan satu kotak besar.


" Bagus, ayo kita mulai. "kata Melody dengan mata berbinar senang.


Tak lama kemudian, satu buah panci dengan isi yang sedang mendidih. Melody menunggu dan mengaduk sendiri isi panci itu. Ia juga dengan sabar mengatur api di tungku. Para pelayan hanya boleh melihat dan membantu bila dipanggil saja. Selebihnya mereka duduk menonton sang nona.

__ADS_1


Bahan penting untuk membuat lib balm adalah wax. Melody yang mempunyai ingatan sebagai Almahira Rengganis dari bumi, tentu saja gampang membuatnya. Praktek praktek membuat kerajinan tangan adalah hobinya. Meskipun membuat wax membutuhkan waktu yang agak lama, tapi proses selanjutnya akan lebih cepat. Tinggal menyaring cairan kuning yang keluar dari sarang lebah, lalu memasukkan minyak dan pemerah bibir.


"Selesai." seru Melody dengan gembira. Sambil menyeka keringat di dahinya. Susi dan beberapa pelayan menatap isi panci yang berkilau. Dengan warna merah cantik seperti cerry.


"Nona, ini apa. " tanya Susi.


"Ini namanya lib balm. Susi, sebelum mengeras, masukkan ke dalam wadah yang sudah disediakan. "kata Melody.


" Ini mau dipakai di mana. "batin para pelayan penasaran.


" Bisakah kalian tolong panggil Ani kemari. "pinta Melody.


" Baik nona. "seorang pelayan mengangguk dan bergegas pergi. Tak perlu waktu lama, Ani pun datang.


"Nona memanggil saya. " Ani tersenyum ke arah Melody.


"Ani, kemarilah. " panggil Melody. Ia meraih tangan sang pengasuh yang baik hati itu. "ini hadiah untuk mu. " kata Melody sambil memberikan satu buah lib balm pada Ani. "aku berterimakasih karena sudah bersamaku sampai saat ini. Maaf kau harus terbunuh menggantikan diriku dulu. " batin Melody. "Ini lib balm, produk ini seperti pernah bibir, cukup dioleskan. " kata Melody.


"Tapi... pernah bibir itu hanya dipakai wanita penghibur saja kan. " kata Ani gugup.


"Jangan seperti itu. " Melody lalu mengoleskan lib balm di bibir Ani.


"Wah, cantiknya. " puji beberapa pelayan.


"Terlihat sangat mewah. " kata Susi.


Seorang pelayan membawa cermin besar di hadapan Ani. Wanita itu terkejut senang melihat perubahan wajahnya.


"Astaga, bibir saya yang pecah pecah tidak perih lagi. " seru Ani kegirangan.


"Baguslah, aku akan membagikannya pada semua pelayan. " kata Melody dengan gembira.

__ADS_1


__ADS_2