
Wah, semua pelayan bersorak gembira.
"Nona sangat hebat, ia bahkan sangat ramah pada pelayan. " puji yang lain dengan wajah berseri. Hari ini mereka sangat gembira. Ternyata membuat orang lain senang itu mudah, tidak perlu mahal.
Malam harinya. Beberapa pelayan berceloteh dengan riang sambil berjalan. Saat itulah berpapasan dengan Badrul, Sahrul dan Udin, para pengikut keluarga yang suka membuat masalah.
"Sepertinya pelayan itu membawa benda yang menarik. " ujar Badrul. Lalu ketiganya menghampiri para pelayan dan merampas barang di tangan pelayan itu.
"Apa ini. " Udin berhasil mengambil satu.Seorang pelayan menjerit kaget.
"Unik.Wanginya seperti pernah bibir. " Badrul membaui lip balm itu. "dari mana kalian dapat, apa kalian mencurinya. " tanyanya dengan kasar.
"Kami tidak mencuri. Nona membaginya kepada kami. " ujar si pelayan.
"Benda unik ini, biar buatku saja. Besok kau ke rumah, ambil bayarannya. " kata Badrul menyeringai licik. Lalu ketiga lelaki serigala itu pergi.
"Mereka merampasnya. " pelayan itu menangis. "kita bahkan tidak bisa melawan karena mereka bangsawan. "
Di rumah tuan Badrul. Ia di sambut kepala pelayan.
"Selamat datang tuan. " sambut pelayan.
"Sayang, kamu belum tidur. " Badrul menghampiri Irma istrinya.
"Huh, saat aku tidur kau ingin pergi berjudi lagi. " kata Irma dengan wajah jengkel.
"Dia masih marah ya. " pikir Badrul bingung. "oh iya, aku membeli ini karena teringat padamu. " ia menyerahkan lib balm yang ia rampai dari pelayan di rumah utama pada sang istri.
"Ini bukan perona bibir. " kata Irma menatap benda di tangannya itu. "dia membelikan benda kecil seperti ini supaya aku tidak marah lagi. " pikir Irma. "tidurlah sendiri malam ini.Hari ini kamar tidur kita terpisah. " seru wanita itu pada sang suami. Lalu masuk ke kamar dan menutup pintu.
"Sayang." teriak Badrul.
Malam itu terpaksa tuan Badrul tidur di ruang tamu, sendirian dengan udara yang dingin, lelaki itu meratapi nasibnya. Saat bangun pagi hanya dilayani pelayan. Sungguh sedih.
"Aku kesepian. " keluhannya dalam hati. "aku kesepian, aku sangat kesepian. " dasar lebay.
"Sayang." Tiba-tiba Irma Badrul muncul dengan dandanan yang sangat cantik. Badrul melongo melihat perubahan istrinya itu. "Ini benar-benar bagus, warnanya tidak murahan, dan di bibirku sangat lembut. Wanginya enak. " kata Irma sambil tersenyum lebar menunjukkan lib balm dari Badrul.
"Itu kan perona bibir yang ku berikan. " batin Badrul.
__ADS_1
"Karena akan terjadi keributan kalau dikalangan bangsawan nanti meminta, jadi aku memberinya sedikit sedikit. Jadi tinggal sedikit deh. " kata Irma senang.
"Sukurlah kalau kau menyukainya sayangku. " kata Badrul gembira. "sukur deh, ia senang, berarti kami baikan lagi. " batinnya.
"Jadi maksudmu, kau akan membelikan diriku lagi kan. " tanya Irma penuh semangat. Badrul langsung mati kutu.
"Gawat." batinnya. "dari mana aku bisa mendapatkan barang itu. Itukan milik pelayan rumah utama, hadiah nona. "
Keesokan harinya. Badrul datang ke kediaman Garden.
"Lib balm... aku harus mendapatkan benda itu. " Badrul memandang pintu kamar Melody. Lalu muncul Udin dan Sahrul.
"Tuan, ada apa tuan kemari. " tanya pelayan Melody.
"Rapatnya sudah selesai, kenapa tuan Badrul masih di sini. " tanya yang lain.
"Mereka berdua ini, jangan jangan punya maksud yang sama dengan diriku. " pikir Badrul melihat Udin dan Sahrul yang juga berdiri di depan pintu kamar Melody.
"Apa yang kalian lakukan di sini. " Melody datang dari perpustakaan.
"Eh, nona. "ketiga lelaki itu terkejut.
" Udara di luar sangat dingin. Bagaimana dengan kondisi anda. "tanya Sahrul.
" Buku itu nampak berat. Biar saya bantu bawakan. "kata Udin juga.
" Buku ini cuma satu. "kata Melody. Ia sudah tau maksud kedatangan trio perusuh itu. Karena tadi pagi para pelayan sudah menggosip mereka, tentang perampasan lib balm itu. "sepertinya kalian bertiga ada urusan dengan saya ya. "
Ketiganya terkejut.
"Itu, soal perona bibir. " jawab Badrul.
"Oh, maksud anda lib balm. " kata Melody.
"Iya, itu produk yang sangat bagus. Apa masih ada. " tanya Badrul penuh harap. Tapi matanya langsung lesu saat Melody menatap dengan wajah kesal.
"Dia tidak akan memberikan benda itu. " pikir mereka bertiga.
"Benda itu hanya saya berikan kepada pelayan saya saja. Apa anda bertiga merampas dari mereka. " tanya Melody kesal.
__ADS_1
"Tidak nona. Merampas tidak begitu maksud kami. " ujar Udin.
Kalau Melody menghukum mereka sekarang, pasti pengikut yang lain akan bertindak. Kalau Melody meninggikan suara hanya karena masalah perona bibir saja, Melody akan mengalami banyak kerugian dari pada keuntungan.
"Saya sangat kecewa. " kata Melody. Membuat ketiga pengikut itu kaget. "saya membuat benda itu sebagai hadiah untuk para pelayan saya. Kenapa anda malah merampas nya. Terlihat saya begitu sangat kekurangan. "
"Bukan begitu. " bantah Badrul cepat.
"Kalau bukan lalu apa. " tanya Melody. "Hadiah dari ayah atau kakek,sejali pun bisa begitu mudah kalian rampas seperti itu kan. "katanya.Ketiga pengikut langsung panik. " hah panikkan. Ini adalah kesempatan. "batin Melody. " hah, ini pasti terjadi karena saya tidak bekerja dengan baik. Jadi soal rapat yang anda katakan waktu itu, mulai kapan saya akan ikut serta. "tanya Melody.
" Apa. "ketiga pengikut terkejut.
"Anda tidak perlu sampai... " kata Badrul.
"Saya paham. " potong Melody. "Kalian semua masih memandang saya sebagai anak kecil. Tapi karena tahun ini saya akan menjadi wanita dewasa, saya akan mulai melakukan pekerjaan orang dewasa"
Melody bertekat tidak akan lagi berdiam diri dan membiarkan keluarga Garden dikuasai oleh mereka, para pengikut jahanam yang kesetanan.
"Kalau begitu. Sampaikan pada yang lain, mulai minggu depan saya akan ikut berpartisipasi dalam rapat. Terutama pada viscount Dullah. Yang mengawasi jalannya rapat. " ujar Melody dengan riang.
Badrul sudah terbayang bagaimana murkanya viscount Dullah nanti, pasti lelaki tua itu akan memukulinya dengan tongkatnya yang selalu dibawa ke mana mana oleh viscount Dullah.
"Kalian bisa pergi sekarang. " kata Melody tersenyum.
"Nona... lib balm nya. " tanya Badrul.
"Habis." jawab Melody enteng.
"Bukankah sebelumnya anda bilang masih ada. " tanya Badrul keukeuh.
"Saya kan hanya memberikannya pada pelayan yang sudah dirampas. " kata Melody.
"Kalau begitu, kapan anda berencana membuatnya. " tanya Badrul lagi. Sudah terbayang di matanya, Irma sang istri akan memaki dan menghajar dirinya malam ini. Sungguh apes.
"Sepertinya waktu seperti itu lebih baik saya gunakan untuk membaca satu jilid buku. Itukan perkataan yang sering anda katakan kepada saya. " kata Melody. Ketiga pengikut itu langsung trrduduk lemas. Bagaimana mungkin Melody begitu tega pada mereka. Bagaimana mereka kembali nanti.
"Nasib, bakal tidur sendiri lagi malam ini. " gerutu lemas Badrul.
Melody masuk ke dalam kamarnya. Dan mengunci pintu. Tak memperdulikan ketiga lelaki bangsawan yang jadi pengikut keluarga Garden.
__ADS_1
"Mulai sekarang para pengikut sontoloyo itu tidak akan menggangu lagi. " batin Melody.