
"Tuh kan, lihat, anak itu berbohong. " ujar count Amir.
"Mari kita lihat lukisan itu. " kata Melody.
"Kenapa aku harus memperlihatkan lukisan itu, memangnya kau tau apa tentang lukisan itu. " umpat count Amir.
"Galeri seni ini adalah salah satu tempat dibawah naungan istana. Saya sebagai salah satu penduduk negeri ini tidak akan tinggal diam kalau ada orang yang berniat menipu yang mulia Kaisar. " ujar Melody tegas.
"Hei, benar benar meyebalkan ya. " seru orang orang.
"Kenapa anda tidak berani memperlihatkan lukisan itu, kalau anda seberani itu, tentu tak ada masalah. " ejek Melody.
"BAIK, NIH LIHAT. " teriak count Amir dengan marah, ia meraih lukisan di tangan orang suruhan, lalu merobek bungkusnya.
"Tuan." orang suruhan itu terkejut dan nampak panik.
Kalau memang lukisan itu asli, count Amir tidak akan mungkin bersikap seperti itu. Melody yakin lukisan itu palsu.
"Pergi, dan panggil petugas keamanan. " suruh Melody pada anak itu.
"Wanita ini. " geram count Amir, ia menarik tangan Melody.
"Lepaskan, "teriak Melody."bisa bisanya seorang bangsawan tak menganggap rakyat biasa saudaranya dan malah menuduhnya. "
"Dasar kau. " geram count Amir. Ia mengangkat tangan bermaksud memukul Melody. Tapi sebelum tangan itu menyentuh Melody, suara derap langkah menghentikan kegilaan count Amir.
"Hentikan." seru seseorang. Semua yang ada di situ terbelalak kaget, melihat siapa yang datang. Prajurit putih adalah prajuritnya Duke Jacobus.
"Lucas." batin Melody menatap Duke Jacobus.
"Duke Jacobus. " batin count Amir ketakutan. Duke Jacobus, Satu-satunya Duke di Kaisar Sendayu, beliau adalah putra Kaisar terdahulu.
__ADS_1
"Rasanya ada yang aneh, mereka seperti melihat Kaisar saja. " batin Melody. "Apa karena Lucas pelayan setia Duke Jacobus ya. Tapi sepertinya hubungan mereka berdua tudak dipublikasikan. " pikirnya.
"Ada apa. " tanya Duke Jacobus pada Melody.
"Sepertinya lukisan yang ingin ia jual itu palsu. " jawab Melody.
"Palsu." Duke Jacobus menatap count Amir. "ini galeri seni yang ku kelola. Aku tak ingin ada kekacauan yang lebih besar lagi, kau mengerti maksudku. " kata Duke Jacobus pada count Amir pelan. "mari berbincang di kantor. " ajaknya.
"Nona, saya khawatir. Apakah anda akan direpotkan oleh para pengikut karena masalah ini. " ujar Ani dengan wajah cemas. Bagaimana Ani sangat menyayangi Melody, karena mereka telah bersama sejak kecil.
"Jangan khawatir, sekarang aku tidak akan bersikap patuh lagi, seperti anak anjing. " kata Melody menenangkan pengasuhnya itu.
Mereka lalu masuk ke kantor galeri seni.
"Saya benar benar kesal. Anak itu telah mencuri uang saya.Saya berniat menyerahkannya pada petugas keamanan, tapi pengemis itu terus saja berbohong. "kata count Amir berapi api. "Lukisan itu katanya palsu. Sungguh tidak masuk akal. "
"Wajah merahnya saat berdalih itu sangat konyol. " batin Melody.
"Kalau anda memberikan saya sedikit waktu, saya akan membuktikan perkataan saya. " jawab Melody.
Duke Jacobus menatap putri bangsawan itu. Ia yakin saat kejadian itu, Melody hanya melihat lukisan itu beberapa detik. Tapi bagaimana Melody bisa begitu yakin, kalau benda itu palsu. Itu yang membuat bingung Duke Jacobus.
"Sepertinya cukup satu jam saja bagi saya untuk membuktikan lukisan itu palsu atau tidak. " kata Melody. Count Amir terkejut. Sementara Duke Jacobus, menunggu dengan tenang.
Melody mengeluarkan smartphone miliknya. Dan mulai mengutak atik benda itu.
"Itu benda sihir. " batin count Amir, ia mulai cemas.
"Itu barang yang ia beli di pelelangan barang sihir belum lama ini. " batin Duke Jacobus. Benda sihir yang mengeluarkan cahaya itu, tidak mungkin dibuat setipis itu kalau harus dimasukkan batu sihir.
Akan ada suara yang keluar setiap kali menyentuhnya permukaannya,dan ada beberapa cara saat menggunakannya. Dan Duke Jacobus sama sekali belum pernah melihat benda sihir seperti itu. Selain itu, Melody adalah wanita yang menggunakan benda sihir itu dengan bebas.
__ADS_1
"Apa dia benar-benar seorang penyihir. " batin Duke Jacobus.
"Cat minyak, zat warna , pewarna berbagai zaman. Cara mengidentifikasi lukisan palsu. " Melody membaca penjelasan di ponsel miliknya. "sudah ku duga, menyelusuran di sini sangat cepat. Tapi sekarang informasi tentang lukisan aali masih kurang. Jadi ini tidak begitu membantu. Aku nggak bisa secara langsung menyelusuri . Kalau begini aku harus memenangkan dengan logika. Itu tidak apa apa. Karena aku tau seperti apa count Amir ini. "batin Melody. "kalau begitu, saya akan mengatakan alasan mengapa lukisan ini palsu. "Melody berdiri. Lalu mendekati lukisan Salam ibu. " pertama, sebagian besar lukisan Miranda adalah lukisan tempera. Di jaman dia hidup, di mana cat minyak sangat terkenal. Tapi ia melukis ini demi mengekspresikan kelembutan. Tapi lihat di sini. Meskipun lukisan cat minyak sudah dikembangkan, sentuhan berantakan dibanding menggunakan tempera. "kata Melody.
" Itu karena saat mengerjakan lukisan itu, Miranda merasa lelah. Jadi mungkin saja itu terjadi. "ujar count Amir gugup.
"Miranda menjadi idola para pelukis karena beliau tidak keras kepala soal lukisan. " kata Melody dengan tenang."tapi anda bilang, ia mengacaukan sendiri lukisan miliknya karena kelelahan, sungguh suatu pendapat yang konyol. "
"Dia seorang ahli. " batun count Amir. Ia kebingungan, bagaimana keluar dari situasi ini."kalau dipikir pikir dari awal ia sudah berani. Ia bisa mengenali barang palsu dengan sekali lihat saja. Padahal dia bilang, bisa membuktikan dalam satu jam. Sialan, kalau aku terus terusan berada di sini, duku Jacobus bisa membunuhku. "gundah gulana pikiran count Amir. " Tiba-tiba saya ingin ke kamar mandi. "count Amir bangun dan langsung ngacir, meninggalkan kantor itu.
" Count. "teriak duke Jacobus. Tapi terlambat, pintu sudah di banting dan lelaki kasar itu sudah menghilang. " sepertinya ia tidak akan kembali. Ia akan membayar semua perbuatan yang ia lakukan tadi. "
"Iya, mohon bantuan anda. " kata Melody.
"Saya tidak mengira, putri mempunyai pengetahuan soal seni. " kata duke Jacobus tersenyum.
"Huhuhu, saya merangkai nya. " kata Melody tertawa kecil.
"Apa, jadi intinya, karena pihak terkait melarikan diri, jadi sudah pasti lukisan itu barang yang palsu. " kata duke Jacobus tertawa juga. "sudah ku duga, ia bukan wanita biasa. " batinnya, sambil menatap Melody yang duduk di seberang sana.
"Tapi.... " Melody mengurungkan niatnya untuk bicara.
"Dia ragu ragu memanggilku, mungkin karena di hadapan orang orang. " pikir duke Jacobus.
"Apa kalian bisa keluar sebentar. " suruh duke Jacobus pada ketiga orang itu, anak kecil penjual pamflet, Ani, dan seorang prajurit keamanan.
"Apa kira yang mereka bicarakan ya. " batin Ani, setelah berada di luar kantor.
Di dalam kantor galeri seni. Tinggallah duke Jacobus dan Melody. Ada segudang pertanyaan yang ingin Melody sampaikan bila bertemu dengan lelaki ini. Soal keberadaan kakaknya Damian yang tidak sempat ia tanyakan waktu di tempat pelelangan barang sihir. Dan kenapa sampai sekarang belum ada kabar tentang empat sekawan, dan... kenapa count Amir sangat ketakutan pada saat melihat lelaki ini.
"Anda menipu saya. " tanya Melody pada duke Jacobus. Membuat lelaki berwajah tampan itu terkejut, jelas bukan itu yang dipikirkan duke Jacobus, kok bisa bisanya Melody bilang ia penipu. Ampun deh.
__ADS_1
"Menarik juga. " batin duke Jacobus. "saya menipu putri. " tanya duke Jacobus. "Aku bukan menipu. Aku hanya bicara soal adanya, bukankah kamu yang sudah menduga aku adalah Lucas. " pikir duke Jacobus.