
Sarah Amelia asik duduk bermain game. Ia hanya menjawab sekenanya pertanyaan orang orang yang mampir.
"Waw... aku memecahkan rekor combo lagi. " kata Sarah Amelia senang sambil terus bermain.
"Lihat, sepertinya itu enak. " tunjuk seorang ibu. "permisi, apakah ini untuk dicoba. " tanya ibu itu pada Sarah Amelia yang duduk di samping stand sambil terus bermain.
"Ya, silahkan. Tempelkan stiker untuk yang enak. " kata Sarah tanpa peduli. "ini bagus, tanpa melakukan apapun, sample produknya habis karena gratis. Stikernya juga bertambah. Ini bagus. " gumam Sarah Amelia senang. Masa bodoh orang mau minum seberapa banyak itu sample produk, tak jadi masalah.
"Tidak ada campuran gula tambahan di dalamnyakan. " tanya seorang ibu. Ia memegang botol minuman berwarna oranye.
"Ya, ya." Jawab Sarah Amelia acuh. Tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.
"Sepertinya ini minuman baru dari unileveren and drinks. Kau juga harus coba. " kata ibu itu pada suaminya.
"Hmmm, segar. " kata sang suami. Tapi... Tiba-tiba lelaki berumur itu mengalami ruam yang menjalar cepat dari wajah keseluruhan tubuhnya. Sesak nafas pun mulai dirasakan olehnya. "tunggu,... apa ini. " melihat tangannya mulai melepuh. Sang istri panik.
"Sayang, kau kenapa. " ibu itu langsung memapah suaminya.
"Sepertinya aku elergi gula tambahan. " sang suami menjawab dengan susah payah.
"Hei nona. " teriak si ibu pada Sarah Amelia yang cuek bebek.
"Kenapa sih kalian ribut. Tak lihat aku ini sibuk. " bentak Sarah Amelia pada ibu itu.
"Tadi kau bilang tak ada gula tambahan. Kau lihat keadaan suamiku. Dia elergi gula tambahan. " teriak ibu itu berang sambil menunjuk wajah Sarah Amelia dengan geramnya.
"Jadi kau mau apa sekarang. " balas Sarah Amelia tak kalah garang.
"Kau bilang tak ada gula tambahan di dalam minuman itu. Tapi sekarang bagaimana kau bertanggungjawab. " maki ibu itu. "kau mau membunuh orang ya. "
"Gula tambahan, kenapa aku harus tau tentang hal itu. " gumam Sarah Amelia sambil menutup ponselnya. "lalu anda mau saya bagaimana bibik. " katanya tersenyum mengejek kepada sepasang suami-istri itu. "bukankah itu salah anda yang memakan apa saja selagi itu gratis, ya kan. "
"Apa kau sudah selesai bicara. " bentak ibu itu. Dengan wajah panik bercampur amarah.
"Kalau sakit jangan hanya berdiam di sini. Pergilah ke rumah sakit. " teriak Sarah Amelia. Saat itu nampak Hendra Setiawan baru datang. Ia bermaksud mengecek respon dari para castemer baru tentang produk sample dari unileveren and drinks.
"Cepat panggil manajer toko ini. Bisa bisanya mereka melatih pegawainya seperti ini. " teriak ibu itu.
"Ada apa ini Sarah Amelia. " tanya Hendra Setiawan, lelaki itu nampak panik melihat keributan Sarah Amelia dan ibu itu tadi.
"Apa kau manajernya!!!. Wanita ini bilang, di minuman itu tak ada gula tambahan. Tapi lihat kekacauan ini. " bentak si ibu pada Hendra Setiawan. "padahal keadaan suami saya seperti ini, tapi apa? ?? dia menyalahkan orang lain. "
"Maafkan saya, saya akan segera mengantarkan anda ke rumah sakit. " kata Hendra Setiawan. "sialan, baru juga sampai, sudah kena marah. " gumamnya dalam hati. Sementara si biang kerok, berlindung di belakang Hendra Setiawan dengan wajah penuh ketakutan.
"Asisten Manajer Hendra Setiawan, ahh... Sarah takut. " bisiknya. Hendra Setiawan menoleh.
"Aku akan mengantar mereka ke rumah sakit. Kau naiklah taksi, dan ikuti aku dari belakang. " suruh Hendra Setiawan pada gadis itu.
"Baik." Sarah Amelia mengangguk patuh. "sialan Gina Aisyah, ia pasti sengaja menyuruhku melakukan ini untuk mempermalukan ku. " geram hati Sarah Amelia.
Mereka pun segera membawa suami istri itu ke rumah sakit.
"Apa, " seru Hendra Setiawan terkejut mendengar cerita Sarah Amelia.Mereka berdua ada di tempat parkir kendaraan di rumah sakit."padahal diproduk sample ada bahan minuman yang bisa menyebabkan elergi. Tapi Almahira tidak menjelaskan hal sepenting ini. "
__ADS_1
"Ah mungkin ia ada mengatakannya, tapi aku lupa, maafkan aku asisten manajer Hendra. " isak Sarah Amelia.
"Aku ingin menutupi kesalahan Almahira, tapi kalau ketahuan, sudah pasti aku akan di hukum atau dipotong gaji. Padahal kami akan menikah, jadi uang kami tak boleh berhenti. " pikir Hendra Setiawan. "kemungkinan terburuknya kau harus mengundurkan diri atau memberi konfensasi, Sarah. " kata lelaki itu pada Sarah. "jadi begini saja. Masalah ini hanya kita berdua yang tau, tapi jangan sampai pelanggan memberikan keluhan ke toko. Jadi ayo kita monya maaf bersama, sampai kemarahannya hilang. " ajak Hendra Setiawan sambil memegang bahu Sarah Amelia.
"Benarkah, benarkah kau akan melakukannya. " Sarah Amelia menatap Hendra Setiawan dengan mata berkaca kaca.
"Tentu saja. Kau bisa melakukannya kan. " kata Hendra Setiawan.
"Terimakasih kak. " Sarah Amelia langsung memeluk Hendra Setiawan. Lelaki itu nampak terkejut. "huuu huuu huuu. Padahal aku tidak masalah kalau dipecat, karena aku hanya karyawan kontrak. Tapi kalau Almahira kan, dia sudah lama bekerja di sana. Aku sangat mencemaskan Almahira. " isak Sarah Amelia. Hendra Setiawan lalu memeluk Sarah dan menenangkan gadis imut itu.
"Almahira benar benar punya temen yang baik.Kau tidak salah Sarah. Jangan cemas, dan percayalah padaku. " kata Hendra Setiawan. Ia mengusap airmata Sarah Amelia.
"Ya, kak. " jawab Sarah Amelia. "sudah ku duga, ia tidak bisa dibandingkan dengan Manajer Jaka Burhanuddin.Aku ingin memiliki pria ini. " batinnya.
Di kantor. Almahira sedang bekerja di depan komputer.
"Apa Sarah bekerja dengan baik. Aku bahkan mengirim Hendra Setiawan agar semuanya lancar. " gumam Almahira. Ponsel di meja berdering."ya Hendra. "jawabnya.
"Kenapa kau tak mengatakan pada Sarah, kalau di sample produk nomor tida ada gula tambahannya. Untung aku sudah mengurusnya tepat waktu. Ini bisa menjadi masalah besar.!!!. " teriak Hendra Setiawan dari sebrang sana.
"Apa maksudmu. " tanya Almahira. Ia ingat sekali kalau tadi sudah memberitahu pada Sarah Amelia. Tapi Sarah Amelia sibuk dengan ponselnya.
"Di sample produk nomor tiga terdapat gula tambahan, jadi pastikan kau memasang tanda peringatan elergi. " kata Almahira waktu itu pada Sarah Amelia.
"Apa dia bilang aku tidak mengatakannya. " geram hati Almahira.Ponsel masih tersambung.
"Masalah ini hanya kita bertiga yang tau, jadi kita simpan saja diam diam. Kau kan tidak boleh terkena masalah. " ujar Hendra Setiawan di sebrang sana.
Di rumah bu Gina Aisyah.
"Raisa, ibu pulang, apa kau baik baik saja bersama nenek dan kakek. " bu Gina membuka pintu. Ia di sambut putri kecilnya yang sedang di pangku sang nenek. "ibu, apa Raisa tidak nakal. "
"Tentu saja. Cucu nenek inikan sangat baik. " kata sang ibu sambil tersenyum senang.
"Putriku, kau sudah pulang ya. Kau pasti laporkan, karena lembur.Cepatlah mandi lalu makan. " Kata sang Ayah dari dapur. "aku sudah memasak sup jamur bersama suamimu. "
"Ya, aku akan segera mandi dan keluar. " ujar bu Gina Aisyah dengan wajah berseri. Ia segera mandi.
"Ah senangnya, sudah lama sekali aku tidak mandi senyaman ini. " batinnya. Air hangat membasahi tubuhnya yang letih. Mengendorkan otot-otot yang tegang. "untung aku mengikuti saran Almahira tadi. " Ia terbayang perbincangannya dengan Almahira siang tadi di pantry.
"Suamiku bahkan tidak mau menggantikan popok anakku. Dan aku juga sudah kesulitan untuk membayar pinjaman, jadi tidak mungkin mencari pengasuh. " keluh Bu Gina Aisyah pada Almahira. "mertuaku juga tidak bisa memeluk Raisa dengan baik karena punggungnya sakit. "
"Bagaimana kalau kakak bicara pada orang tua kakak. Karena untuk selanjutnya, kakak akan sangat sibuk. " kata Almahira.
"Orang tuaku, mereka mengira aku hidup dengan bahagia. " kata Bu Gina Aisyah. "Mereka tidak tau kalau suamimu berhenti bekerja. Aku tidak bisa mengatakannya karena takut mereka khawatir. "
"Ah, saya paham. " ujar Almahira. "tapi sayangnya, perusahaan tidak akan memahami perasaan itu. Kakak sudah melihat banyak wanita mengundurkan diri karena tidak bisa fokus bekerja setelah menikahkan. "
"Iya, benar. Aku juga merasa lega karena meja ku masih ada di kantor. " kata Bu Gina Aisyah dengan wajah lesu. Almahira tersenyum.
"Orang tua kakak, pasti akan melakukan apa saja untuk membantu kak Gina. " kata Almahira kemudian. "itu karena kakak adalah pegawai yang hebat asisten manajer Gina Aisyah. Bagaimana kalau anda meminta bantuan mereka dengan jujur. " lanjut gadis itu. Bu Gina Aisyah terbelalak.
"Ya, aku tidak bisa menyerah dengan proyek kali ini. Kalau dapat promosi, aku tidak akan dipermalukan lagi oleh manajer Burhan. Dan semua keluargaku bisa hidup dengan lebih bahagia. " Bu Gina Aisyah dengan senyum cerah keluar dari kamar mandi,sambil mengeringkan rambut pendeknya dengan handuk.
__ADS_1
"Gina Aisyah. Apa maksudnya ini. " seru Beni Simanjuntak menghadang Bu Gina Aisyah. "apa kau memberi tahu orang tuamu kalau aku sudah berhenti bekerja, dan akhirnya memanggil mereka ke sini. Apa kau sudah gila. " bentuknya. Bu Gina menatap lelaki itu heran.
"Aku sudah bilang padamu kan, kalau orang tuaku akan datang. Kau sendiri yang bilang tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah kan. " kata Bu Gina dengan cuek sambil terus mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Kalau begitu kau bisa berangkat subuh dan pulang lebih cepat. " kata Beni Simanjuntak.
"Aku sudah bilang berkali kali. Kalau aku harus lembur bersama tim, jadi aku tidak bisa. " kata Bu Gina marah. "kalau kau sangat membencinya, kau keluar saja dari rumah. "
"Apa kau sudah selesai bicara. " bentak Beni Simanjuntak.
"Rumah ini atas namaku, pinjaman dan biaya sehari-hari aku juga yang bayar. " kata Bu Gina.
"Kau bahkan membawa bawa masalah uang. " geram Beni Simanjuntak. "sialan aku tidak bisa berteriak membalasnya karena di luar ada orang tua kami. " batinnya kesal.
"Beni Simanjuntak, pergilah keluar mencari uang. Atau rawat Raisa dengan tenang, lakukan salah satu dengan benar, kalau kau tidak ingin di usir dari rumah ini. " kata Bu Gina Aisyah dengan wajah penuh kekesalan. Beni Simanjuntak langsung menciut.
Pagi harinya di kantor.
"Sukurlah, Bu Gina Aisyah. Suami anda sudah menurut, jadi anda bisa sedikit tenang sekarang. " kata Almahira berjalan sambil berbicara di telpon.
"Benar, aku sangat senang menuruti nasehatmu asisten Almahira Rengganis. Terima kasih banyak. "kata Bu Gina Aisyah di sebrang sana.
"Saya juga senang kalau anda senang. Sampai jumpa di kantor Bu Gina. " kata Almahira mengakhiri panggilan.
"Apa kau sudah selesai bicara dengan asisten manajer Gina. " tanya kepala manajer Elang Samudera yang tiba-tiba berdiri di samping Almahira.
"Hah, Kepala Manajer. Bukannya ia ada perjalanan bisnis hari ini, kenapa bisa ada di sini. " celetuk Almahira terkejut. "ya.. Maaf Kepala Manajer, bukankah anda ada perjalanan bisnis hari ini. " tanya Almahira sambil berusaha bersikap santai.
"Penerbangan siang. " kata Kepala Manajer Elang Samudera sambil melihat arloji di tangannya. "sebelum itu ada sesuatu yang harus kukatakan padamu Almahira Rengganis. Jadi aku mampir sebentar. Ini masih belum jam kerja. Apa kau punya waktu sebentar. " tanyanya menatap Almahira dengan matanya yang tajam.
"Ya, sekarang.Okelah." Almahira mengangguk. "Apa yang ingin dibicarakan oleh Kepala Manajer ,kenapa sampai kemari, dihari keberangkatannya. " batin Almahira. Mereka memasuki sebuah cafe dekat perusahaan. The All, nama cafenya.
Sepertinya pekerjaan renovasi di kafe lantai satu sudah selesai. Saya baru pertama kali ke sini. Apa anda pernah kemari Kepala Manajer. "tanya Almahira.
"Tidak, aku juga baru pertama kali datang ke sini. " Jawab Elang Samudera.
"Seharusnya aku tidak menutup telpon dengan kak Gina, ini sangat canggung. " batin Almahira, ia berdiri di belakang Elang Samudera.
"Aku yang traktir, kau minum apa. " Elang Samudera menoleh ke belakang.
"Eh.... es americano. " jawab Almahira.
"Es americano dia. Dan roti Joni satu. Banyakkan kejunya. " kata Elang Samudera .
"Oh, saya kenal kalian. Roti Joni nya gratis, sebagai bonus. " ujar suara seseorang.
"Hah, " Almahira terkejut mendengar suara Adityawarman.
"Hai Almahira. " Adityawarman melambai pada Almahira.
"Tidak perlu. Tolong hitung apa adanya. " ujar Elang Samudera menyodorkan kartu hitamnya.
"Adityawarman... kenapa kau ada di sini. " Almahira menatap lelaki itu.
__ADS_1