
Esok harinya. Di kediaman keluarga Garden.
"Nona." Susi berlari menuju dapur. Mendatangi Melody yang sedang bicara dengan Ani. "katalog dari toko tekstil telah datang. " kata Susi sambil mengangkat sebuah amplop putih.
Kini di sinilah Melody. Betty menyambutnya, dan mengantar putri bangsawan itu ke sebuah ruangan. Di sana telah menunggu duke Jacobus.
Para pengikut dan orang orang yang tidak memiliki gelar di benua ini. Sejujurnya orang orang yang mengusik Melody seperti bukan masalah besar. Kalau ingin mengubah hidup dan cepat kembali ke bumi, Melody harus mencari cara penyelesaian paling dasar. Melody harus bertemu dengan empat sekawan itu. Melalui pria yang belum diketahui pasti identitasnya ini oleh Melody.
"Apa anda sudah menemukan tujuan empat sekawan itu. " tanya Melody.
"Silahkan duduk dulu. " Duke Jacobus tersenyum melihat Melody.
"Dia akan memberikan informasi... apa maksud dari perkataannya itu. " batin Melody. Duke Jacobus pasti tidak berpikir Melody orang yang berbahaya. Tapi orang ini, Melody masih meragukan identitas lelaki yang duduk tenang di depannya ini. Lebih dari itu, Melody ingin tau lokasi keberadaan sang kakak, Damian Opal.
"Dari ekspresi nya, terlihat jelas, ia tertekan. " batin Duke Jacobus melirik Melody. "nah ini isi yang Anda inginkan. " ia menyodorkan amplop di atas meja.
"Maaf karena saya tidak sabaran. Saya tau kalau ini hanyalah dalih. Saya juga tidak berharap anda memaklumi nya. Saya hanya ingin menyampaikan permintaan maaf saya, saya telah berbuat kurang sopan karena berani menggali tujuan mereka. "kata Melody, ia tak jadi mengambil amplop di meja itu.
" Rupanya ini yang ingin ia bicarakan tadi. "batin Duke Jacobus, lelaki berwajah tampan itu tersenyum. "tapi anda tidak membatalkan permohonan andalan. " tanyanya pada Melody.
"Saya juga minta maaf soal itu. " kata Melody.
"Benar benar, wanita ini tebal muka. " pikir Duke Jacobus sambil tersenyum. "dia spontan minta maaf dengan harga dirinya sebagai bangsawan. Biarpun begitu, dia meminta informasi dengan mata yang bersinar. Sekarang pun ia sedang gugup , apakah aku tersinggung atas perkataannya,dan khawatir aku tidak mengabulkan permohonan nyanya tentang memberi informasi itu. " Duke Jacobus senang melihat kejujuran Melody. Ia berpikir tidak sulit menyakinkan putri bangsawan ini. Tapi. .. "jangan khawatir, toh saya berpikiran untuk memberikan informasi itu, karena anda cantik. " godanya. Ya Tuhan, Duke edan.
"Memangnya apa hubungannya dengan cantik. " tanya Melody.
"Kami mengutamakan kecantikan baik itu penampilan maupun hati." ujar Duke Jacobus sambil tertawa.
__ADS_1
"Dia mesum. " batin Melody dengan wajah khawatir.
"Bukan hati yang seperti itu, duh benar benar deh. "tawa Duke Jacobus makin keras. " hati yang baik itu maksudnya, kami tidak menerima permintaan dengan maksud tidak baik. Kalau tentang penampilan, cuma bercanda saja, "ujar Duke Jacobus. "nah coba anda baca ini. " ia membuka amplop di meja.
Melody membacanya.
"Ini, sebuah cek. " kata Melody melihat kertas itu adalah cek senilai lima juta keppa.
"Ternyata anda telah mengirim uang depositnya. "kata Duke Jacobus.
" Iya, memang benar. Tapi kenapa ini. "tanya Melody.
" Karena itu permohonan yang tidak sepantasnya. Jadi saya kembalikan. "jawab Duke Jacobus. "anda tidak perlu menyelidikinya sendiri. Karena empat sekawan itu ada di ibu kota. Anda akan segera bertemu dengan mereka. " katanya.
"Anda kan tau, bukan seperti itu maksud saya. " kata Melody. "aku butuh titik penghubung empat sekawan. " batinnya. Selain itu hal yang membuat ku penasaran adalah... Melody menatap wajah Duke Jacobus. Seketika itu juga ia tau siapa lelaki di hadapan nya itu. Jadi begitu, meskipun ia memberitahu tujuan nya, ia juga menyembunyikan identitas dirinya. Kalau begitu, lebih baik Melody tidak menanyakan hal itu.
"Iya." Melody mengangguk. Benar, Melody merasa beruntung. Meskipun Melody tidak bisa mengosongkan ibu kota kerena ia adalah putri bangsawan Garden. Tapi karena mereka semua ada di ibu kota, Melody harus memikirkan bagaimana caranya supaya mereka punya ikatan takdir bersama.
"Anu, biarpun begitu, tolong terimalah ini, andakan sudah bersusah payah. "kata Melody mengembalikan cek itu.
" Ini pilihan yang sulit. Karena informasi yang anda minta bisa saya dapatkan dengan mudah. Jadi saya tidak bisa menerima uang sebanyak ini. "kata Duke Jacobus.
"Tapi, saya ingin berikan ini sebagai tanda ucapan terimakasih. " kata Melody.
"Kalau begitu, bagaimana kalau putri juga membantu saya. " kata Duke Jacobus tersenyum.
"Membantu." tanya Melody heran.
__ADS_1
"Anda juga harus membantu saya jika saya dalam kesulitan. pokoknya harus. " ujar Duke Jacobus.
Hal ini juga pasti bisa menjadi titik penghubung empat sekawan. Bagus, pasti seperti itu. Semoga Melody berhasil.
"Baiklah, suatu hari nanti saya pasti akan membantu Anda. " kata Melody tersenyum.
"Bagus." Duke Jacobus mengangguk puas.
Lalu Duke Jacobus mengantar Melody keluar dari ruangan itu. Di bawah Betty sedang menemani Ani yang menunggu dengan setia.
"Mereka membicarakan apa ya. " batin Ani, melihat Duke Jacobus dan Melody tertawa bersama.
Sementara di rumah keluarga Oplet. Mira oplet sedang menghadap cermin dengan gaun tipis menerawang. Seperti wanita penghibur yang siap dipanggil untuk melayani lelaki hidung belang.
Mira Oplet, adalah nyonya keluarga opletoplet adalah bangsawan daerah yang tersisa. Karena kedua orang tuanya cerdik dalam bicara dan menipu orang, nyonya Oplet tidak sampai kelaparan. Tapi biarpun begitu, itu bukanlah hidup yang menyenangkan. Di gudang rumah tidak ada harta benda yang berlimpah. Meski Mira terlihat menonjol, di desanya,Mira merasa tidak bisa dibandingkan dengan para wanita cantik di ibu kota. Mira berharap, semua orang menundukkan kepala di hadapan dirinya. Cara untuk mewujudkan mimpi itu hanyalah dengan menikah. Tapi pada akhirnya, Mira menikah dengan anak kedua keluarga viscount, yang mana keadaan keuangan mereka lebih baik daripada keluarga nya.
Dia menikah diumur delapan belas tahun. Di tahun berikutnya, ia melahirkan seorang putri. Seperti itulah, dia hidup dengan pria itu selama dua puluh tahun. Suaminya hanya besar suara saja.
"Tuan akan terlambat pulang. " kata pelayan melaporkan pada Mira tentang sang suami.
Hidup yang memuakkan dan membosankan. Di tengah waktu itu, para pelayan melaporkan, pasangan keluarga Garden telah meninggal akibat kecelakaan. Pasangan suami istri dari kakak suaminya telah meninggal. Harta warisan yang di wariskan pada gadis kecil yang merupakan keponakan mereka itu sangat luar biasa. Dan bisa membuat sedikit kesenangan pada wanita serakah itu.
"Hahhh, kalau pria ini suamiku, aku pasti sangat bahagia, dia tau cara menyenangkan perempuan, ditambah lagi dia tampan. " batin Mira Oplet, sambil mengusap dada telanjang Erick. Prajurit bayaran yang telah lama menjadi kekasih gelapnya.
"Wanita itu nggak cepat dewasa. " kata viscount Oplet waktu itu tentang Melody yang memang masih berusia enam tahun.
"Huh, padahal ia sering bermain wanita dibelakang ku. " batin Mira mengingat sang suami.
__ADS_1
Sementara Erick, sang kekasih, juga sedang berkelana dengan pikiran liciknya.