Menikahkan Suamiku

Menikahkan Suamiku
bab 42


__ADS_3

Siang itu. Di rumah Hendra Setiawan. Lelaki itu baru bangun, saat bunyi bell mengejutkan dirinya.


DING dong, DING dong. Bel berbunyi.


"Paket." teriak kurir. Meletakkan amplop coklat besar di depan pintu. Hendra Setiawan membuka pintu. Ia meraih amplop besar yang tergeletak di dekat kakinya. Sepertinya penting. Tapi apa.


"Apa ini. " lalu ia pun masuk ke rumah kembali. Di ruang tamu Hendra Setiawan membuka paket itu. Banyak sekali kertas yang berisi percakapan SMS.


"Sarah Amelia. Dia ini. " geram Hendra Setiawan. "sebenarnya apa yang dia lakukan. " matanya terbelalak membaca lembaran berisi foto percakapan Sarah Amelia dengan seseorang.


Hei apa hubunganmu dengan Hendra Setiawan. Kau minum dengan suamiku hingga dini hari. Kau cari mati ya.


Sepertinya ia berselingkuh dengan temanku. Tapi itu cuma perasaan. Aku hampir gila. Tapi aku tak punya bukti.


Setiap menelpon dia hanya membicarakan masalah keluarganya Terus bagaimana kalau aku tidak bisa hamil.


Memeriksa. Sepertinya ia tidak mau melakukannya.


Tring. Ponsel Hendra Setiawan berbunyi. Sebuah pesan masuk.


Pengirim Gadis J:sudah Terima paketnya. Awalnya aku kasihan pada wanita itu. Tapi aku tidak bisa membiarkan masalah ini berlarut.


"Hah, dia. " Hendra Setiawan terkejut.


Pengirim Gadis J:Aku sudah tau semuanya. Jadi kita tidak usah berkontak lagi.


"Dia bekerja sama dengan Sarah Amelia untuk mempermainkan diriku. Mereka berdua sudah gila ya. " batin Hendra Setiawan kesal. Ia berpikir kalau Gadis J adalah teman Sarah Amelia. Dan Sarah Amelia menyuruh Gadis J berpura-pura mendekatinya, agar ia bisa mengawasi Hendra Setiawan. Benar benar licik. Batin Hendra Setiawan. Lalu ia lanjut memeriksa lembaran kertas itu.


Ibu mertuaku pingsan, hahaha. Ia selalu marah marah. Sudah ku duga hal ini akan terjadi.

__ADS_1


Ku harap, ibu mertuaku cepat mati.


"Ku harap, ibu mertuaku cepat mati. " ulang Hendra Setiawan membaca kertas itu. "Sarah Amelia memang gila. Padahal ibuku sudah sangat baik padanya. Orang tidak tau balas budi. Bikin aku merinding." batinnya, Ia sungguh baru tau dan menyadari kalau Sarah Amelia sangat jahat. "Dia pantas mati." pikir Hendra Setiawan."Baiklah, aku akan membalaskan dendam ibuku. Ayo kita jalan jalan ke neraka, Sarah Amelia. "senyum ibl*s tersungging di bibir Hendra Setiawan.


Siang itu Hendra Setiawan mengutak atik mobilnya. Ia berencana merusak sendiri rem mobil. Tentu saja dengan maksud untuk mencelakai sang istri, Sarah Amelia. Dengan begitu, bila wanita itu mati, maka ia yang akan menerima uang santunan dan polis asuransi sebesar lima ratus juta rupiah.


"Ahhkkk, selesai. " katanya dengan senang. "ayo kita lihat. " Hendra Setiawan masuk ke dalam mobil dan mencobanya. "bagus, sempurna. " senyum kepuasan tersungging. Lalu lelaki itu keluar dan menyalakan sebatang rokok. "besok semuanya akan berakhir. Sarah Amelia yang membuatku muak. Juga hutang hutang itu. Yang akan ku dapatkan adalah empati dari orang orang karena ditinggal mati istri, dan uang asuransi sebesar lima ratus juta rupiah. " batinnya. "kau sudah bekerja keras mobil jelek. Dah, hahaha. " Hendra Setiawan tertawa puas, ia melemparkan mancis ke tempat duduk. Tapi mancis itu malah jatuh ke bawah. Tepat didekat rem mobil.


Di rumah Almahira. Gadis itu baru menerima pesan dari Sarah Amelia.


Pengirim Sarah Amelia:besok aku akan pergi berlibur. Suamiku sudah menyiapkan semuanya. Katanya ia kasihan, aku sudah bekerja keras.


"Aku tidak paham. Kenapa... " Almahira menatap layar ponselnya. "padahal ia pasti sudah melihat dokumen yang aku kirimkan. Tapi ia malah mau berlibur dengan Sarah Amelia. " batin Almahira. "Hendra Setiawan, sebenarnya apa yang kau pikirkan. "


Dikehidupan terdahulu, setelah menikah dengan Hendra Setiawan, Almahira hidup menderita sebagai menantu. Dan sekarang, dikehidupan ini, Sarah Amelia yang mengalaminyamengalaminya semuanya.


"Tentu saja setelah asuransi nya cair, kita langsung beli rumah. " ujar Hendra Setiawan waktu itu.


"Emang berapa nilai asuransinya. " tanya Sarah Amelia sambil cekikikan.


"Lima ratus juta rupiah. " jawab Hendra Setiawan.


Almahira tiba-tiba tersentak. Jangan jangan Hendra Setiawan berniat mencelakai sang istri, agar dapat uang asuransi itu.


Tiba-tiba ponselnya bergetar. Tanda ada pesan masuk. Dengan cepat ia membaca pesan di layar.


"Astaga."mata Almahira terbelalak. Membaca berita duka itu.


Bulan xx, tanggal xx, tahun duaribu sembilan.

__ADS_1


Beberapa jam sebelumnya. Hendra Setiawan sedang asik minim alkohol dan bermain judi di komputernya.


" Sebentar lagi. Aku akan punya uang lima ratus juta rupiah. "gumamnya sendirian. " jangan macam macam. "


Mendadak ponselnya berdering.


"Sialan, mengganggu suasana saja. " geram Hendra Setiawan. "hallo, siapa ini sialan, kenapa menelpon. " makinya.


"HEI ANAK SIALAN, CEPAT KE RUMAH SAKIT. " bentak suara di sebrang sana.


"Ayah." Hendra Setiawan terkejut.


"IBUMU... IBUMU MENINGGAL. DASAR ANAK TIDAK BERBAKTI. " umpat Heru Setiawan.


Secepat kilat Hendra berlari turun ke bawah. Memacu mobilnya ke arah rumah sakit. Wajahnya begitu panik.


"Ibu tidak mungkin benar benar mati kan. Tidak mungkin. " gumamnya. Pikiran berkecamuk. Ia terus memacu mobil dengan kecepatan tinggi. "HEI LAMBAT SEKALI. " umpatnya pada mobil truk di depan. Jalanan Tiban memang terkenal berliku dan banyak tanjakan. Sudah ratusan kecelakaan terjadi sepanjang jalan Tiban. Makanya orang banyak yang hati hati. Biar lambat asal selamat. Tapi Hendra Setiawan melupakan itu. Ia menginjak rem. Tapi.... Ia tersentak. Rem mobil kan sudah ia rusak. "kenapa rem nya. " batin Hendra Setiawan panik. Astaga, bukannya kemarin Hendra Setiawan sendiri yang merusaknya.


Dengan susah payah dan kepanikan luar biasa, Hendra Setiawan yang tidak bisa mengendalikan laju mobil, berusaha sebisanya melaju. Lampu merah simpang empat arah Tiban di terobos. Terjadilah kemacetan dan kecelakaan akibat ada yang melanggar rambu rambu. Mobil itu terus memasuki Sei Ladi. Jembatan yang berada di atas waduk, penghubung Tiban dan Baloi.


Brak Brak Brak. Lalu mobil itu berhenti setelah menabrak pagar pembatas. Hendra Setiawan terkulai dengan kepala berdarah.


"Setidaknya aku masih hidup. " gumamnya. "Aku harus cepat menemui ibu. " ia berusaha berdiri. Tapi api yang sudah keluar, Tiba-tiba menyambar mancis di dekat kaki Hendra Setiawan. Ledakan dahsyat terjadi.


"Tidak!!!!!!!, Tolong!!!!!! Panas. " teriaknya. Tubuh Hendra Setiawan di lahap api. Lelaki itu menceburkan diri ke danau.


"Tidak, aku tidak ingin berakhir seperti ini. Aku ingin beli mobil. Uang lima ratus juta ku. " batin Hendra Setiawan saat air terus membawa tubuhnya meluncur ke kedalaman air waduk.Kadang aneh juga manusia, saat maut di ujung lidah pun, bukan kata taubat dan penyesalan yang keluar, tetap saja dunia yang diingat.


Selamat pagi sahabat semua, semoga hari ini penuh berkah untuk kita semua. aamiin.

__ADS_1


__ADS_2