
Almahira berjalan ke arah pentry. Pikirannya melayang pada layar komputer Hendra Setiawan. Kata jual menjadi keheranan gadis itu.
"Apa yang terjadi? . Kenapa Hendra menjual semua sahamnya di Farmasi Kimia Perdana? . Bukankah bulan depan mereka dapat pengakuan dari badan BPOM Amerika dan saham mereka naik lima kali lipat?.Dan Hendra juga sudah mulai mendapatkan sedikit keuntungan? . Kenapa ia menjual semuanya. " Almahira menyeduh kopinya. Lalu kembali ke kubelik.
Hendra menatap Almahira yang sedang membuat laporan. Lelaki itu melirik ke arah Sarah Amelia yang sama sama sedang sibuk.
"Almahira.Apa akhir pekan ini kau sibuk. " tanya Hendra. Ia mendekatkan kursinya di sebelah Almahira.
"Aku belum tau. " jawab Almahira.
"Kita sudah lama tidak berkencan." kata Hendra.
"Kapan kapan saja Hendra. Kantor sedang banyak kerjaan. Oya, ada kabar tentang farmasi kimia perdana. Kabarnya sahamnya naik. " kata Almahira.
"Iya, aku tahu. Aku sudah mendapat sedikit keuntungan dari Farmasi kimia perdana. Tapi kau tahu Bokdam Ltd. " tanya Hendra Setiawan tersenyum. "mereka cukup menjanjikan.Dan banyak yang berinvestasi di sana. Jadi aku menjual semua sahamku di Farmasi kimia perdana. Dan beralih pada Bokdam Ltd.Kau diam diam saja ya. Ini info rahasia. "
Almahira mengangguk. Ia ingat Bokdam Ltd. Sebuah perusahaan perkapalan besar. Bulan depan banyak yang berinvestasi di Bokdam Ltd.Tapi, bulan depan juga manajernya membawa lari uang para investor. Hingga banyak orang yang rugi dan kehilangan uang mereka. Tapi kenapa Fir'aun ini malah berinvestasi di situ.
"Aku ingin merubah takdirku. Membalas perlakuan Hendra Setiawan dan Sarah Amelia.Mereka psikopat. " gumamnya dalam hati.Almahira menatap Hendra Setiawan yang nampak tersenyum senang melihat layar komputer.
"Hendra Setiawan, apa kau sudah makan. " tanya Almahira tersenyum manis.
"Eh, belum. " jawab Hendra tersenyum malu. Jam di atas pintu menunjukkan pukul 12.07.Waktu istirahat siang.
"Ayo kita lunch. " ajak Almahira. Hendra Setiawan mengangguk. Senyumnya merekah. Karena tak biasanya Almahira mengajaknya makan bersama. Gadis itu takut ketahuan oleh rekan lain kalau punya hubungan dengan sesama rekan kantor.
Sambil menunggu lift naik. Mereka mendengar celotehan Sarah Amelia.
"Aku senang banget, akhirnya kita bisa makan bertiga. " Kata gadis cantik itu sambil tertawa. "Almahira, bajumu cantik banget. Kapan kau membelinya."
Almahira menatap Sarah Amelia. Ia ingat dulu baju ini tersiram kuah kepiting saos pedas oleh Sarah Amelia.Dan Hendra memarahinya karena hampir semua orang melihat mereka. Sedang Sarah malah berlindung pada Hendra Setiawan.
"Ini hadiah dari Hendra. " jawab Almahira.
"Hah, mas Hendra menghadiahkan baju cantik ini untukmu. " Sarah terbelalak.
"Iya." kini Hendra Setiawan yang menjawab. "aku membeli baju itu dengan bonus yang ku dapat. Dan Almahira menghadiahiku dengan kemeja ini. Keren kan. "
__ADS_1
"I... iya. Keren. " Sarah tau kemeja itu. Mahal dan bermerek. Harganya di atas satu juta. Sedang baju model kaos lengan panjang yang dipakai Almahira itu adalah merek terkenal juga.
Lift terbuka. Ketiganya masuk. Di kantin perusahaan, ramai sekali. Di papan ada pengumuman menu.
Menu hari ini:
Kepiting saos pedas
Sop ayam jamur
Tahu/tempe goreng
Mereka antri memesan.Hendra duluan dengan nasi, sop ayam jamur, kepiting saos pedas dan tempe goreng.
"Ah, beri aku kepiting saos pedasnya yang banyak. Aku juga minta tempe goreng. " kata Sarah Amelia. "nasi sedikit. "
"Aku biasa saja. Nasi dan sop ayam di banyakin. Tahu goreng dan sambal bajaknya." kata Almahira. Ia tersenyum melihat saos kepiting pedas di nampan Sarah. Ia sudah dapat menebak, kemana perginya saos itu nanti. Sambil tersenyum senang, Almahira menerima pesanannya.
Setelah membayar, mereka mencari tempat duduk.
"Eh, Almahira, bagaimana kalau kita duduk di sana. " kaya Sarah Amelia. Ia memutar badan sambil mengangkat nampan. Almahira dengan gesit menghindar ke samping. Saos kepiting pedas tepat mengenai dada Hendra Setiawan. Sarah Amelia terbelalak. Kenapa harus Hendra. Bukannya Almahira yang berdiri di belakang Sarah tadi.
"Kau kenapa Sarah. Cepat ambil tissu sana. " suruh Almahira.
"Ke.. kenapa harus aku. " tanya Sarah dengan bengong.
"Lah, yang menumpahkan kan kamu. " ujar Almahira kesal. Hampir seluruh bagian depan kemeja Hendra terkena saos merah.
"Iya, aku ambil tissu dulu. " Sarah Amelia bergegas pergi. Dengan wajah kesal ia ke toilet, "seharusnya Almahira yang melakukan ini, kenapa harus aku. " omelnya sambil menarik beberapa lembar tissu di samping mesin pengering tangan.
"Kau tidak apa apa. " tanya Almahira pada Hendra.
"Tidak.Tapi baju kesayangan ini.Ini hadiah darimu. " kekuh Hendra. Almahira tau maksudnya. Hendra minta belikan yang baru.Ihhh dasar ibl*s."Tapi kau tak marahkan. Kasihan Sarah, dia sampai gemeteran. "
"Ngapain juga marah. Kan dia nggak sengaja. Kau pergilah ke toilet. Nanti saos merah itu kering.Makin susah dibersihkan. " suruh Almahira. "emang kau mau balik ke kantor dengan noda dan bau itu. "
"Oh, iya. " Hendra Setiawan tertawa. Iya bergegas pergi. Saat itulah Sarah Amelia kembali dengan tissu di genggaman.
__ADS_1
"Loh, mas Hendra mana. " tanya Sarah.
"Ke toilet. Aku mau cuci tangan dulu. " kata Almahira.Ia berjalan meninggalkan Sarah Amelia yang melongo kayak orang beg*.Di toilet, Almahira segera mencuci tangan. Tapi terdengar suara dari salah satu toilet yang tertutup.
"Permisi nona. Hallo. " terdengar suara wanita yang seperti putus asa.
"Ya.Apa kau memanggilku. " Almahira menoleh.
"Iya, nona. Tolong aku. Tadi ada yang datang. Tapi ia malah terus mengomel dan membanting pintu. " jawab wanita itu dari dalam.
"Apa kau butuh pembalut." tanya Almahira. Ia lalu pergi keluar.
"Iya, nona, tolong aku. " jawab wanita itu. Tak lama Almahira kembali membawa kresek hitam.
"Ini yang kau butuhkan, ada pentis sekali pakai dan jaket. Aku meletakkannya di bawah ya. " Almahira menyodorkan kresek hitam itu lewat bawah pintu toilet.
"Terimakasih nona. " suara senang wanita itu dari dalam. Almahira melanjutkan mencuci tangannya.
"Ya Tuhan. Bu Almahira Rengganis." seru seseorang begitu keluar dari pintu toilet. "jadi... jadi anda yang menolong saya. Terimakasih bu. " dengan mata berkaca kaca wanita menghampiri Almahira. Ternyata wanita itu adalah Zahra Fahira. Anggota tim magang yang masuk bareng Sarah Amelia. Usia Zahra baru 23 tahun. Ia gadis yang ceria dan humoris. Cekatan dan cerdas.
"Zahra.Jadi kau yang di dalam tadi. " Almahira juga terkejut. Tapi ia jadi tersenyum melihat Zahra.
"Iya bu. Aku sungguh tidak sadar akan dapat hari ini. " Zahra mengusap matanya yang berair. "Kalo tidak ada bu Rengganis, gimana saya. Saya sudah tidak sempat makan. Tadi ada yang kesini. Tapi ia hanya berlalu. Untung ibu datang. " cerocos Zahra tiada henti.
"Jadi tadi sudah ada orang ke sini. "tanya Almahira.
" Iya bu. Tapi ia pergi begitu saja. "jawab Zahra.
" Ya sudah. Nggak usah kau pikirkan. Yuk makan siang bareng kami. "ajak Almahira. Zahra Fahira mengangguk setuju.
Di kantin. Sarah Amelia sedang menikmati makanan dengan Hendra Setiawan sambil bercerita.
" Aku sungguh tidak bisa melihat orang kesusahan. Hatiku ingin selalu menolong. Sejak sekolah Almahira tidak begitu dekat dengan teman temannya. Jadi aku merawat Almahira dari kecil. "kata Sarah sambil tersenyum.
" Iya, aku sudah mendengar cerita itu. "kata Hendra Setiawan.Membalas senyum manis Sarah Amelia.
" Tadi ada yang minta tolong waktu di toilet. Aku menolongnya dengan senang hati. Ia mengucapkan terimakasih tiada henti. "kata Sarah tertawa. Ia berusaha mengambil kesan baik pada Hendra agar melupakan kejadian tadi. Padahal sepuluh menit yang lalu di toilet. Seseorang meminta tolong padanya. Tapi Sarah malah meninggalkan dengan cueknya.
__ADS_1
Almahira datang dengan Zahra Fahira di belakang. Zahra membawa nampan makanan.
" Maaf aku ke toilet tadi."Almahira menarik kursi. Zahra duduk di sebelah Hendra berhadapan dengan Almahira. Sedangkan Hendra berhadapan dengan Sarah yang duduk di sebelah Almahira. "apa yang kalian bicarakan. " Almahira tersenyum menatap Sarah yang terkejut.