
Alhamdulillah, terimakasih ya Allah.akhirnya dapat kontrak juga dari novel toon. Setelah belajar sana sini. Diskusi sana sini. Perbaikan sana sini.
Sama seperti kehidupan sebelumnya. Lokasinya, juga tempat duduk Almahira. Padahal ia tidak berbuat salah, tapi kenapa waktu itu ia sangat takut. Almahira bergumam dalam hati.
"Salam kenal, aku sudah banyak mendengar tentangnu dari Hendra. " kata Liana Herawati sambil meneguk tehnya. "Tapi yang ku dengar kau anak yang suka berhemat. "
"Hendra sangat baik kepada saya, tentu ia juga bersikap lebih baik lagi kepada ibu kan. " kata Almahira tersenyum.
"Tentu saja. Dia kan putraku. " kata Liana Herawati tertawa sumbang. "tapi apa kau mahir mengurus rumah tangga. Soalnya putraku harus makan nasi baru setiap pagi. "
Padahal Almahira tau Hendra Setiawan tak pernah sarapan pagi. Huh menggelikan.
"Tentu saja ibu, aku akan bertanggungjawab pada sarapan, makan siang dan makan malam, Hendra. Bahkan bila ia lembur, aku akan menyiapkan bekal untuknya. " ujar Almahira. Hendra Setiawan yang duduk di sebelah Almahira, tersenyum senang mendengarnya.
"Oh bagus itu. Kalau begitu aku akan memasak lauk. Hendra bisa mengambilnya saat akhir pekan. " kata Liana Herawati.
"Tidak perlu. Hendra harus istirahat di akhir pekan. Karena ia sibuk bekerja. Aku akan ke sana di hari biasa, setiap hari. " kata Almahira.
"Oh, bukankah kau bekerja di hari biasa. Aku bukan mertua yang jahat kok. hahaha. " ujar Liana Herawati lagi.
"Apa." Almahira terkejut. "ibu, buat apa aku bekerja, setelah menikah dengan Hendra ,ia menyuruhku berhenti bekerja. Aku akan mengurus rumah dan menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Aku juga ingin melakukan hobby dengan seksama." kata Almahira dengan wajah ceria.
"Apa." pekik Liana Herawati. "bagaimana kau langsung berhenti bekerja begitu saja. "teriaknya." jadi kau hanya ingin menikmati uang hasil kerja keras putraku saja.!!!!. "
"Menikmati???. " Almahira menatap Liana Herawati yang berteriak keras. "Bagaimana saya bisa bekerja kalau harus menyiapkan makan tiga kali sehari. "geram Almahira. Hendra mulai bingung melihat ketegangan kedua wanita itu.
"Orang lain bisa kok. Kenapa kau tidak. Kau pikir uang untuk membesarkan anak itu sedikit. " maki Liana Herawati.
"
Jika aku tidak melahirkan, Hendra cukup membiayai aku saja kan. "kata Almahira enteng.
Heru Setiawan yang diam sejak tadi, menggebrak meja. Ia langsung berteriak memaki Almahira.
"Apa maksudmu???. Kau ingin memutus tali keturunan keluarga ini. Kau harus melahirkan seorang putra. Agar bisa melakukan upacara penghormatan pada lelehur. " teriak lelaki tua itu. "beraninya kau bilang tidak mau melahirkan di depan kami. " kakinya.
Hmmm. Dari tadi si tua gendut itu diam. Sekarang ia mengamuk karena alasan keturunan laki-laki. Ia takut tak ada yang meneruskan nama leluhurnya.
"Ayah ku pun hanya memiliki seorang putri. Tapi ia menerima penghormatan dengan baik. " kata Almahira. Jika di kehidupan yang dulu, ia akan menangis ketakutan. Tidak dengan sekarang. Ia akan melawan mereka.
"Anak perempuan tidak berguna. Hanya bikin malu saja. Tidak bisa meneruskan nama keluarga. " ujar Heru Setiawan dengan wajah marah.
"Kau tentu tau kan. Ayah mu seorang pendosa, yang memiliki anak perempuan. " sahut Liana Herawati.
Pendosa yang memiliki anak perempuan. Geram hati Almahira. Macam anaknya paling betul saja.
"Bibi.Aps kau bilang tadi." Almahira berdiri. Hendra Setiawan terkejut sampai menyemburkan teh di gelasnya. Begitu juga Heru Setiawan dan Liana Herawati. Mereka kaget mendengar Almahira mengubah panggilannya.
"Bibi, kau memanggilku seperti itu. " pekik Liana Herawati .
"Iya bibi, baru saja saya putuskan untuk tidak jadi menikah. Itu berarti saya bisa memanggil anda bibi dan bukan ibu kan. " Almahira menyibak rambutnya.
"Almahira Rengganis, apa maksudmu. " seru Hendra Setiawan terbelalak.
"Kau berani sekali bicara seperti itu pada orang tua. " teriak Heru Setiawan.
"Sudah ku duga. Anak yang tumbuh tanpa orang tua, akan menjadi anak yang buruk. Tidak memiliki sopan santun. " sahut Liana Herawati.
"Andakan juga tidak punya orang tua. Apa bedanya dengan saya. Jadi kenapa anda menghina orang tua saya. " kata Almahira dengan wajah dingin.
__ADS_1
"Astaga Hendra, aku tidak akan merestui pernikahan ini. " ujar Liana Herawati sambil memegang dahinya. Kepalanya mulai berkunang kunang, mendengar balasan Almahira. "dia tidak berpendidikan. Aku tidak mengijinkannya masuk dalam keluarga kita. "
"Sayang sekali. Saya pun tidak ingin jadi sapi perah anda. " ejek Almahira. "kalau begitu, saya permisi. "
"Almahira, tunggu. " teriak Hendra Setiawan. Ia ingin mengejar Almahira, tapi pintu room telah di tutup oleh Liana Herawati dengan keras.
"Maaf, aku tidak bisa menjadi menantu impian kalian. Jika dulu aku akan menerimanya tanpa tau apapun. Tapi sekarang, tidak lagi. " gumam Almahira. Ia keluar dari mega mall. Saat itulah, Sarah Amelia turun dari taksi. Waktunya pas sekali.
Di room privat, restoran Solaria.
"Bisa bisanya kau membawa anak seperti itu kemari, dasar bodoh. " maki Liana Herawati pada Hendra Setiawan. "jangan menikah dengannya, cepat putuskan saja. "
"Tapi bu, Aku mencintainya. " kata Hendra Setiawan. Mencoba menenangkan sang ibu yang marah marah.
"Astaga, Mas Hendra. " seru Sarah Amelia menghampiri mereka.
"Sarah Amelia. " seru Hendra Setiawan.
"kebetulan sekali kita bertemu di sini. Sepertinya kau sedang makan bersama keluarga ya. " tanya Sarah Amelia pura-pura tidak tau. "Hallo, saya Sarah Amelia, junior mas Hendra di kantor. "katanya menyapa Liana Herawati. " mas Hendra tampan, rupanya meniru ayah dan ibu ya. "
"Ah, salam kenal. Hendra memang mirip sekali denganku. " kata Liana Herawati dengan bangga. "semoga gadis ini tidak mendengar yang tadi, bikin malu saja. " batinnya.
"Bukannya kau ada janji. " tanya Hendra Setiawan pada Sarah.
"Tiba-tiba orangtuaku berhalangan hadir. Jadi kami akan makan di rumah saja. Aku kan hobby memasak. " jawab Sarah Amelia.
"Hobby memasak. Benar benar berbeda dari anak yang tadi. " pikir Liana Herawati. "Nak, bagaimana kalau kita makan bersama. Di meja kami ada satu bangku yang kosong. " katanya dengan senyum paling manis pada Sarah Amelia.
"Ibu." Hendra Setiawan menatap ibunya.
"Dengan senang hati. Tapi apa tidak masalah. Ini kan, pertemuan keluarga. " Sarah Amelia tersenyum senang.
"Ck, jauh lebih baik dari yang tadi. " ujar Heru Setiawan. Ia tetap bersikap angkuh, macam anggota dewan saja.
"Ayah, kenapa ikut ikutan. " protes Hendra Setiawan.
"Sudah ku duga. Pertemuan keluarganya gagal. Untung aku cepat datang. " batin Sarah Amelia. Bibirnya menyunggingkan senyum kemenangan.
"Ayo duduk. " ajak Liana Herawati pada Sarah Amelia.
Di jalan. Ponsel Almahira berbunyi tiada henti. Beberapa pesan dan panggilan dari Hendra Setiawan masuk.
Hendra:Almahira kau dimana. Kenapa tidak mengangkat telpon.
Hendra:Orang tuaku memang agak kolot. Kuharap kau mengerti.
Hendra:Aku tidak berharap kau mengerti begitu saja. Tapi pernikahan juga membutuhkan kecocokan.
Hendra:Apa kau akan terus begini.
Almahira tersenyum membaca pesan Hendra Setiawan.
"Kalian memang takdir. Selama sepuluh tahun Sarah begitu menginginkan posisiku. Selamat Sarah Amelia, kali ini impianmu terkabul dengan baikbaik dan cepat. "batin Almahira.
Paginya di kantor Unileveren and drinks. Di luar dugaan, semua berjalan dengan mudah. Lagi lagi Sarah Amelia dan Hendra Setiawan dinas luar. Mereka hanya didorong sedikit oleh Almahira, tapi mereka langsung menempel macam perangko.
" Sekarang aku tinggal mengakhiri takdir yang memuakkan ini. Nikmatilah hidup barumu Almahira Rengganis. "gumam Almahira dalam hati. Ia menatap surat pengunduran diri yang telah ia siapkan . Tapi hatinya masih ada yang mengganjal. Ada keraguan yang ingin ia tepis. "rasanya aku masih ingin di sini sebentar lagi. " pikirnya.
" Bu Almahira. "seru Zahra Fahira. Ia datang bersama Bu Gina Aisyah. "mau minum kopi. " ajak gadis ceria itu.
__ADS_1
"Aku yang traktir. Ayo Almahira. " kata Bu Gina Aisyah.
"Aku memang ingin minum kopi. Ayo. " Almahira berdiri.
"Bapak juga mau segelas. " tawar Zahra pada Elang Samudera yang masih sibuk memeriksa berkas.
"Tidak usah. " jawab Elang Samudera. "pakailah ini untuk membawa minuman kalian bertiga. " katanya sambil menyerahkan kartu pada sang adik.
"Hore.Bapak memang yang terbaik. " ujar Zahra Fahira kegirangan.
"Masih ada waktu sampai jam istirahat selesai. Makanlah makanan yang enak, Almahira Rengganis. "kata Elang Samudera dengan suara pelan.
" Baik, terimakasih. "dengan wajah bersemu, Almahira mengikuti Zahra Fahira dan Bu Gina Aisyah, yang sudah lebih dulu keluar. "aku akan pergi, setelah proyek produk baru ini selesai. " batin Almahira.
Di sebuah hotel. Di kota Tanjung Pinang.
"Sayang, kau mau kemana. "tanya Sarah Amelia sambil menarik selimut, menutupi tubuh polosnya.
"Tentu saja pulang. Kau juga pulanglah. Aku sudah minta pada klien untuk menyamakan jam dinas luar. " ujar Hendra Setiawan sambil memakai dasinya.
"Apa!!! . Bukannya bilang akan menghabiskan hari ini dengan Sarah. " kata Sarah Amelia dengan wajah cemberut.
"Sarah, kau tahu sendirikan, banyak yang harus ku persiapkan untuk pernikahan. " kata Hendra Setiawan.
"Apa maksudmu. Bukannya pernikahan kalian batal. " Sarah Amelia menghampiri Hendra Setiawan, tanpa sadar dengan tubuhnya yang tidak tertutup apa apa.
"Almahira dan ibuku hanya bertengkar kecil. Semuanya akan baik-baik saja jika dibicarakan. " kata Hendra Setiawan.
"Apa kau akan putus denganku. " tanya Sarah mendorong dada Hendra Setiawan.
"Putus????. Kita kan tidak pernah pacaran. Kita cuma bertemu sesaat. " ujar Hendra Setiawan sambil tersenyum.
"Apa." Sarah Amelia terbelalak kaget. Dikiranya selama ini Hendra Setiawan menyukainya. Ternyata lelaki itu menganggapnya hanya selingan. Selingan di saat lelaki itu butuh pelepasan.
"Kenapa menatapku seperti itu. Bukannya kau juga sama. " Hendra Setiawan lalu mengecup kening Sarah Amelia. "sampai jumpa besok malam. " bisiknya. Lalu pergi meninggalkan Sarah Amelia sendiri di kamar hotel itu.
"Jadi, meski mati pun, kau akan tetap menikah dengan Almahira Rengganis. " geram Sarah Amelia penuh kemarahan."Aku tidak akan membiarkannya. "gadis itu langsung meraih ponselnya.
Di kantor. Almahira sedang menerima telpon dari Jesica.
" Apa. "Almahira terkejut. " Sarah Amelia minta nomor telpon Samsul Jadi. "
"Iya.Aku tau dari Monica. Aku nerasa ada yang janggal. Makanya aku menelponmu. " ujar Jesica di sebrang sana.
"Terimakasih sudah mengabariku, Jesica. Nanti aku akan menelponmu. " ujar Almahira. Ia menutup ponselnya. "hmmm, Samsul Hadi, aku ingat. Cara bicara seperti om om. " gumam Almahira.
"Wah, Almahira Rengganis jadi secantik ini. " seru Samsul Hadi waktu reuni kemarin."Kau punya pacar, minta nomormu dong, biar bisa ku hubungi. "kata lelaki bergaya slengean itu sambil tersenyum nakal.
" Itu artinya, sekarang Sarah Amelia punya nomor Samsul Hadi. Aku juga harus bersiap. "batin Almahira. "apa aku harus minta tolong padanya. Entah kenapa aku merasa bisa minta tolong padanya. " Almahira bergegas menemui Kepala Manajer sambil membawa berkas.
"Pak, ini dokumen yang bapak minta tadi. " kata Almahira. Ia menyerahkan dokumen yang ia bawa pada Elang Samudera.
"Terimakasih." kata Elang Samudera. Ia langsung membukanya.
"Eh, anu pak... " Almahira terlihat gugup.
"Almahira Rengganis. Ada apa. " Elang Samudera menatap Almahira.
"Apa saya boleh menggunakan anda sekali lagi, seperti waktu itu. " tanya Almahira.
__ADS_1
"Jika itu berhubungan denganmu, kapanpun boleh. " jawab Elang Samudera sambil tersenyum, dengan wajah yang memerah menahan malu.