Menikahkan Suamiku

Menikahkan Suamiku
bab 76


__ADS_3

"Putri." teriak Melody. "dia mau kemana. " batinnya melihat Juwita Bahar berlari cepat. "karena ia sedang lapar, pasti ia mencari tempat yang ada bau makanannya. " pikir Melody."itu dia. "nampak Juwita sedang meraba teko air panas. " putri jangan. "teriak Melody cepat, ia langsung memeluk Juwita Bahar. Putri Bahar menjerit karena terkejut.


" Jangan mendekat. "teriak Melody. Para pelayan kebingungan.


"Benar mundurlsh. " kata Mahmud pada para pelayan.


"Tapi... " mereka juga takut melihat putri Bahar yang histeris.


"Nggak mau, nggak mau, jahat. " teriak putri Bahar dalam pelukan Melody, sambil menangis. Melody tersentak, lalu ia menepuk nepuk bahu putri Bahar, mencoba menenangkan dengan lembut. Putri Bahar pun berhenti histeris.


"Pasti anda kaget karena saya berteriak. " kata Melody lembut.


"Jahat." kata putri Bahar terisak.


"Maaf, saya seperti itu karena takut anda terluka, apa anda mau memaafkan saya. " tanya Melody.


"Iya." putri Bahar mengangguk. Kini ia sudah tenang dan berhenti menangis.


"Dia benar-benar hebat, bisa mengendalikan gadis kecil yang naif itu. " batin Mahmud. "dia orang yang hangat dan tenang, aku jadi malu sendiri karena sudah berpikir subjektif padanya. " Mahmud menatap interaksi Melody dan putri Bahar.


"Paman, aku mau ini. " kata Juwita Bahar pada Mahmud.


"Apa maksud anda. " tanya Mahmud. "apa maksudnya anda mau memasak. "


"Tolong sampaikan kepada lord. Saya meminjam dapurnya. Karena sepertinya, putri merasa gelisah karena ini tempat asing baginya. Jadi sebaiknya kita melakukan apa yang dia inginkan dulu. " kata Melody dengan lembut pada Mahmud.


Bukannya Mahmud tidak memahami situasinya, tapi para putri yang memasak di dapur Duke Jacobus ini, adalah tamu tamu penting. Tapi mau bagaimana lagi. Akhirnya, Mahmud pun setuju.


"Ya, baiklah. " kata Mahmud.


"Selain itu, apa goneise sponge cake nya sudah di siapkan, sepertinya tadi saya lihat disajikan sebagai camilan. " bisik Melody pada koki.


"Iya ada. " jawab koki.


"Cream cheese dan bubuk coklat. "kata Melody.


"Apa ini akan baik baik saja. " batin Mahmud galau.

__ADS_1


Alex Morgan dan Sir Bahar bingun dengan kedatangan Mahmud yang berwajah kusut.


"Kedua putri tersebut sedang memasak di dapur. Maafkan saya. " kata Mahmud.


"Saya akan ke sana. " kata Sir Bahar.


"Saya juga ikut. " kata Duke Jacobus.


Kedua bangsawan itu pun segera ke dapur istana Duke Jacobus.


"Suasana dapur pasti berantakan.


Gara-gara ada Juwita, seharusnya aku menjaga Juwita dengan baik. " batin sir Bahar dengan wajah tak baik.


"Kamu tak perlu terlalu khawatir. " ujar Duke Jacobus sambil tersenyum menenangkan.


"Apa." sir Bahar menatap Duke Jacobus. Mereka sampai di dapur. Tapi...


"Aku juga mau tambahkan di sini. " kata Juwita dengan semangat.


"Juwita, apa apaan ini. " tanya sir Bahar melihat Juwita yang memegang dua gelas cake. Tak seperti pikiran mereka, dapur tetap bersih, dan tak ada kekacauan.


"Apa yang anda lakukan. " tanya Alex Morgan.


"Katanya putri ingin membuat cake, jadi kami membuat cake bersama sama tanpa perlu menggunakan oven. " kata Melody.


"Aku tak tau bagaimana caranya ia membuat cake. Tapi yang aku tau, cake tidak bisa dibuat tanpa menggunakan oven. " batin Alex Morgan.


"Wah, enak. " seru Albert kirkas yang tau tau sudah ada di situ dan duduk manis mencicipi kue di piring.


"Albert, Albert, kau. " Alex Morgan kaget.


"Ini apa. " tanya Albert pada Melody.


"Tiramisu." jawab Melody.


"Mau lagi. " pinta Albert.

__ADS_1


"Entah kenapa, aku merasa kemampuan anak ini berkembang pesat. " batin Mahmud menatap interaksi antara Albert kirkas dan Melody.


"Jangan seperti itu, apa kalian semua mau mencicipi nya. " tanya Melody. Ia membagikan piring kecil berisi sepotong tiramisu.


"Di taruh di cabgkir, ini seperti cake biasa. Biarpun begitu, karena orang yang telah memeluk adikku yang membuatnya, aku tidak boleh membuatnya kecewa. " batin Sir Bahar.


"Kalau rasanya tidak enak, aku akan bilang enak, karena membuat malu ladi, bukanlah seorang pria. " batin Alex Morgan.


Tapi saat kedua pria itu menyuap sedikit cake ke dalam mulut mereka, seketika mereka terkejut oleh rasa enak yang menyentuh lidah. Begitu juga saat Duke Jacobus mencicipi tiramisu itu.


"Tentu saja, ini rasa yang disukai anak kecil seperti Albert dan Sir Bahar. " batin Duke Jacobus. Lelaki tampan itu tersenyum. Ia ingat, saat pertama memperkenalkan Alex Morgan dan Albert kirkas beberapa hari yang lalu, Melody juga membawa cake. Dan saat penolakan Melody yang canggung saat Lucas Sibil minta diperkenalkan pada pembuat cake itu, karena Melody membuatnya sendiri. Dia benar benar wanita yang sangat menarik.


"Huaaaa, itu punyaku, huaaa punyaku. " teriak putri Bahar sambil menangis, menunjuk pada Albert yang memegang piring berisi potongan tiramisu. Albert kaget dengan wajah cengo.


"Albert." terus Alex Morgan.


"Katanya ia ingin melihat tiramisu bikinan putri, karena sangat cantik. Iya kan. " kata Melody, sambil melirik Albert.


"Iya." Albert mengangguk cepat.


"Hijs, hiks, orang jahat. " adu putri Bahar pada Melody, gadis itu menenangkan putri Bahar dengan lembut.


"Benar, orang yang mengambil cake itu, orang jahat. " batun Duke Jacobus. Ia tersenyum puas ke arah Melody.


Putri Bahar yang kelelahan, tertidur sambil bersandar di tangan Melody.


"Padahal selama ini, aku yang dicarinya. Pasti ia merasa nyaman dengan orang sehangat putri Garden. " batin sir Bahar. "apa yang sedang ku pikirkan sih. " sir Bahar kaget saat melihat Melody sedang menatapnya.


"Pasti lelah ya. " kata Melody. "merasa lelah itu sesuatu yang wajar kok. Hanya dengan tidak menyerah saja itu patut untuk di puji. "


"Anda sudah dengar tentang kelahiran saya di tempat pesta tadi kan. Meski itu gosip yang salah, tapi benar saya adalah anak di luar nikah. Saat ibu saya mengandung dari laki-laki yang gugur di medan perang, dia menikah dengan ayah. " ujar Sir Bahar.


Apa dia sedang mengaku kalau ia anak di luar nikah. Padahal tempat saat berkumpulnya orang penting ini sangat tidak nyaman.Duke Jacobus dan Alex Morgan terdiam menatap Sir Bahar. Lelaki yang usianya masih sangat muda itu nampak nyaman bercerita dengan Melody.


"Pada hakekatnya penerus keluarga Bahar adalah Juwita. " kata sir Bahar sambil tersenyum.


"Tapi putri Bahar. " Alex Morgan memotong ucapan sir Bahar.

__ADS_1


"Iya, karena itu, saya yang tidak ada hubungan darah dengan ayah, menggantikannya mendapatkan pendidikan pewaris. " ujar sir Bahar.


Karena berkewajiban melindungi perbatasan, keluarga Bahar pun tidak membatasi jumlah pasukan prajurit di istana. Dengan kata lain, berada di bawah jenderal saja, sir Bahar sudah sudah bisa memiliki kekuatan yang luar biasa. Pewaris inkompoten dari keluarga yang membanggakan kekuatan besar militernya, terlebih ia akan menjadi wali dari pewaris itu. Sungguh sumber keuntungan. Mulai sekarang, orang yang memperebutkan hati mereka semakin bertambah. Selain itu, Gardenia Melody, rupanya ia sudah menggenggam tali kuat itu hanya dengan beberapa patah kata saja. Kecerdasan dan kemampuannya membangun situasi nyaman yang bisa menarik rahasia orang lain dengan mudah. Tidak ada satupun yang kurang dari dirinya.


__ADS_2