
"Apa yang kau lakukan. " bentak paman oplet pada sang istri. Mira oplet yang terkejut karena sikap Melody, kini melongo saat mendengar sang suami membentak nya. Beberapa pengikut berbisik bisik sambil melirik pasangan oplet.
"Aku menggantikan dirinya meminta maaf. Karena pikiran wanita itu pendek. " ujar Paman Oplet memegang bahu Melody.
"Sa... sayang. " jerit Mira Oplet tak percaya.
"Apa kehebatanmu sampai bisa berteriak seperti itu. Cepat minta maaf pada Melody. " seru paman Oplet membentak Mira oplet.
"Memangnya apa kesalahan saya. Memangnya memakai pakaian yang tidak ada pemiliknya itu masalah. " terusk Mira oplet tak terima.
"Aku menyuruhmu bersikap hati hati dihadapkan para pengikut. Dasar tolol. " maki Paman Oplet, di telinga Mira Oplet.
"Sepertinya situasi mereka berdua tidak bagus. " batin Melody. "Paman jangan keterlaluan seperti itu. Bibi hanya melakukan kesalahan. " ujar Melody.
"Wanita ini selalu membuat harga diriku jelek. Pulang ke rumah sekarang juga. " seru Paman Oplet pada sang istri.
"Baiklah."dengan angkuh, Mira Oplet berlalu pergi.
" Lihat wataknya itu. "seru Paman Oplet.
Suasana kediaman keluarga Garden, nampak sibuk merapikan barang barang milik nyonya marquez.
" Membuat kekacauan di waktu yang singkat ini. "kata pelayan. Mereka sibuk merapikan dan menyusun pakaiannya nyonya Gardenia Nada. Susi masuk membawa kotak perhiasan.
" Padahal ini bukan benda lain. Ini semua peninggalan nyonya Gardenia Nada. Ini barang berharga nona. "kata Susi.
" Warnanya seperti mata orang itu. "batin Melody saat menyentuh kalung permata zambrut milik sang ibu. Ia teringat mata Arsen Jacobus.
Lalu Melody melihat keluar. Nampak beberapa pengikut memperhatikan Mira oplet yang naik kereta kuda.
"Wajahnya hari ini sangat merah. " kata Badrul.
"Benar." sahut Sahrul.
"Ngomong ngomong, seperti nya akan banyak hal yang harus dibicarakan pada rapat nanti. "kata Badrul.
" Apa maksud anda. "tanya Udin.
" Soal sikap nona, belakangan ini. "jawab Badrul.
"Katanya ia mengambil cap segel dari nyonya Mira Oplet." kata Udin. "Dia sering pergi keluar dan mulai menemui orang orang. "
__ADS_1
"Kemarin katanya ia minta diajari audit keuangan dan minta diperlihatkan buku kas. " kata Sahrul.
"Kita jadi merasa nggak nyaman, karena sepertinya ia mengetahui sesuatu. " ujar udin.
"Ah mana mungkin anak yang baru berusia dua puluh tahun tau sesuatu hal yang terjadi saat ini. " kata Badrul.
Melody memperhatikan mereka sambil tersenyum. Biarlah, sementara mereka menganggapnya bodoh. Tunggu tanggal mainnya.
Suatu hari, Melody pergi menghadiri pameran lukisan. Ia membawa smartphone miliknya sebagai barang yang praktis, kalau ia menggunakan di dunia ini, tentu tidak jadi masalah. Penyihir bukan hanya Langit Samudera saja. Kalau demikian, barang bumi yang lain juga pasti ada. Karena katanya smartphone ini muncul di sebuah lukisan, Melody harus mengeceknya.
Airmata darah, bangsawan Teguh. Melody menatap lukisan di depannya itu. Memperhatikan dengan diteil tiap sapuan.
"Airmata darah. " batin Melody.
"Permisi." seorang anak kecil mendekati Melody, ia menyodorkan pamflet. "ini harganya hanya satu keppa saja. Apa anda ingin membelinya. "
"Pamflet.Karena rakyat biasa tidak bisa membawa kurator pribadi,seperti para bangsawan, jadi mereka membuat ini. " batin Melody. Ia memperhatikan anak yang berjualan pamflet itu. Masih banyak di tas Cangklong nya. Melody mengisyaratkan Ani agar memberi uang lebih pada anak itu. Ani mengangguk.
"Loh." anak itu heran saat Ani memberinya sepuluh keppa. "saya tidak meminta minta. Ini saya berikan sembilan lagi. " katanya sambil menyerahkan sembilan lembar pamflet pada Melody. "terimakasih." ia melambai dan pergi.
"Ia sangat tulus. " kata Ani.
"Benar, ia sangat manis. " ujar Melody.
"Nona, karya Putra ada di galeri tengah. " kata Ani, sambil membaca petunjuk di pamflet.
"Ayo." ajak Melody. Mereka segera ke galeri tengah. Ternyata di sana sangat ramai. Banyak para bangsawan yang melihat lukisan. Ntah mereka paham seni atau tidak, atau hanya ikut ikutan agar status sosial mereka makin tinggi.
"Di sini banyak orang, nona. " ujar Ani.
"Aku tidak mencuri. " teriak seseorang.
"Astaga." Melody dan Ani terkejut.
"Hei ternyata kamu berpura pura tidak tau ya. Cepat lepas semuanya. Aku mau lihat. " teriak seseorang.
"Saya kan sudah bilang, saya tidak mencurinya. " teriak anak itu.
"Kau... " lelaki bangsawan itu langsung memukul si anak. Dan mendorongnya hingga jatuh.
"Hentikan." teriak Melody.
__ADS_1
"Nona, jangan ikut campur. " cegah Ani. "sepertinya anak itu menyentuh barang milik bangsawan, kalau terlibat, anda juga akan repot. "
"Tapi anak itu tidak mungkin mencuri. " ujar Melody. "Kalau tidak demi uang yang ia dapat, anak itu tidak mungkin mencuri. " batin Melody. "hentikan, setan. Apa kau tidak malu dengan badan dan gelar bangsawan mu. " teriak Melody. Membuat orang orang terkejut dan menatap Melody.
"Jahannam itu, ternyata count Amir. " Melody menatap count Amir yang ingin memukuli si anak lagi. Count Amir yang diketahui Melody dulu, sebelum lahir kembali, adalah lelaki bajingan, pemarah dan kurang ajar, ia dulu mendekati dan menghasut Julius Aldrik, untuk berjudi, mabuk mabuk-mabukan,dan main perempuan. Bangsawan tak tau diri.
"Kau tidak apa apa. " Melody membantu anak itu bangun.
"Siapa dia, penampilan seperti bangsawan, sepertinya ia banyak duit." count Amir menatap Melody. "tapi aku tidak pernah melihat bangsawan ini, pasti ia berasal dari desa terpencil. "batin count Amir. " siapa kamu, beraninya ikut campur. "teriaknya pada Melody.
" Apapun alasannya, anda tetap tidak boleh melakukan kekerasan pada anak anak. "teriak Melody tak kenal takut.
" Huh, anak itu sudah mencuri uangku. "teriak count Amir.
" TIDAK. "teriak anak itu membantah tuduhan count Amir. " Anda menuduh saya, karena saya bilang lukisan itu palsu. Anda takut lukisan itu tak terjual karena saya. "
"Palsu, maksudnya lukisan yang itu. " Melody menatap bungkusan besar yang dipeluk erat oleh seorang lelaki, sepertinya orang suruhan count Amir.
"Kau setan kecil. " teriak count Amir penuh kemarahan. "Aku adalah keturunan Sagal, orang yang disayang oleh Kaisar terdahulu. Aku tidak pantas mendengar hal sampah dari mulut kotor sepertimu. "
"Keturunan Sagal, penjudi, pemabuk, dan sekarang penipu. " ejek Melody. "percuma kesayangan Kaisar terdahulu, penipu ya tetap penipu. "
"Perempuan setan. " maki count Amir Sagal.
Dari pada marah karena uangnya tercuri, sepertinya amarahnya tersulut karena mendengar lukisan itu palsu.
"Lukisan yang ingin dijual tuan itu adalah lukisan " salam Ibu" karya Miranda. Tapi lukisan itu berbeda dari yang saya lihat dulu. "kata abak itu pada Melody.
" Memangnya bagaimana caramu lihat lukisan mahal seperti itu. "teriak count Amir.
"Karena kakek saya seorang pelukis, ia dapat sokongan dari seorang bangsawan, dan lukisan salam ibu ada pada bangsawan itu. " jawab si anak tanpa takut.
"Siapa bangsawan itu, di mana kakekmu. " masih dengan berteriak teriak kayak setan gagal kawin, count Amir terus membuat onar.
"Kakek saya sudah meninggal setahun yang lalu. " jawab anak itu.
"Siapa bangsawan penyokong itu... "
"Itu rahasia. " jawab si anak cepat.
Jangan lupa, tengok karya kami ya. Mata dewa(wadak part 3)
__ADS_1
terimakasih semua.