Menuju Cinta Sejati 2

Menuju Cinta Sejati 2
Kecewa Di Malam Pertama


__ADS_3

Selesai membersihkan tubuhku yang seharian terbalut gaun pengantin. Kini aku bisa kembali mengenakan gamis juga khimar yang biasa aku kenakan. Kubaringkan tubuh lelah ini di atas ranjang yang dihiasi bunga sedemikian rupa selayaknya kamar pengantin.


Tak seelok hiasan kamarku malam ini. Aku justru terlelap lebih dulu meninggalkan Rio, laki-laki yang sudah sah menjadi suamiku yang masih membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi.


Aku bahkan tak menyiapkan apapun untuk mengantar tidurnya. Aku tidak menyiapkan baju ganti untuknya atau mengambilkan air minum.


Aku langsung terlelap karena rasa lelah memintaku cepat tenggelam dalam mimpi. Sebentar terpejam, tiba-tiba sentuhan telapak tangan yang terasa begitu dingin menempel di perutku.


Tubuh Rio terasa begitu dekat dan menempel dengan punggungku. Aku terperanjat, dan langsung bangun dari tempat tidur.


"Kamu mau apa?" tanyaku dengan panik. Rio nampak bingung melihatku yang panik dan langsung menjauh darinya.


"Apa aku mengagetkan kamu? Maaf, aku sudah membuatmu bangun," ucapnya seraya mendekat dan hendak kembali meraih tubuhku yang tengah berdiri kaku.


"Rio, maaf aku belum siap." Untuk pertama kalinya sebagai seorang istri aku menolak keinginan suamiku. Tepat di malam pertama kami sebagai suami istri.

__ADS_1


Aku menepis kedua telapak tangannya yang menangkup di bahuku. Tak kupandang sama sekali wajah rupawannya yang mungkin tengah memasang raut kecewa karena aku menolaknya.


Rio memundurkan selangkah tubuhnya dariku. Kemudian memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku celana piama panjang yang ia kenakan.


Jantungku berdetak begitu cepat menunggu respon penolakanku tadi padanya. Jikapun dia akan memarahiku, maka aku akan siap menerima kata menyakitkan yang akan menghunusku.


"Tidak apa-apa. Aku tidak akan memaksamu jika memang kamu belum siap. Aku paham dan sangat mengerti." Suara lembut itu membuatku berani sedikit mengangkat wajahku. Aku melihatnya mengambil satu bantal. Kemudian dia melangkah menuju sofa dan menaruh bantal itu di sana.


"Aku tidur di sini, kamu silahkan lanjutkan tidurmu. Jangan khawatir, aku tidak akan menyentuhmu lagi tanpa seizinmu. Tidurlah dengan nyenyak, maaf aku mengganggu tidurmu tadi." Selesai dengan kalimat itu, Rio membaringkan tubuhnya yang tinggi di sofa. Bahkan kaki panjangnya sampai harus menggantung karena tak cukup sofa pendek itu menampung tubuhnya.


Cukup lama aku berdiri mematung melihat tubuh suamiku yang terbaring di sofa. Aku bisa merasakan ketidaknyamanan yang Rio rasakan. Tidur di sofa sempit dengan kaki menggantung.


Sebenarnya aku sangat menyadari kesalahanku. Aku telah membuatnya kecewa meski dia tidak menampakkan kekecewaan itu di hadapanku.


Aku telah salah menolak suamiku. Bukankah sudah menjadi kewajibanku melayaninya dengan sepenuh hati? Kenapa aku tidak bisa memaksa setidaknya tubuh ini jika hati sangat tidak mungkin.

__ADS_1


Ya Robb … ampuni aku.


Esok paginya, aku bangun dengan perasaan was-was. Hal pertama yang aku lakukan adalah memeriksa kasur bekas aku tiduri semalam. Adakah hal mencurigakan yang menandakan Rio telah menyentuhku tanpa permisi atau tidak.


Tidak hanya itu, akupun bergegas menuju toilet untuk memeriksa kondisi tubuhku juga. Dengan teliti kulihat jengkal demi jengkal kulitku yang bersih dari pantulan cermin. Tidak ada noda apapun yang aku temui, itu tandanya aku masih aman.


Baru setelahnya aku merasa sedikit lega dan bisa melanjutkan untuk membersihkan tubuhku yang layu akibat tidur semalaman.


Selesai dengan urusanku sendiri, aku keluar kamar tanpa merasa bersalah. Aku mendapati mama yang tengah menyiapkan sarapan di meja makan. Rupanya Rio sudah ada di sana. Dia justru membantu mama memindahkan masakan dari dapur dan di tata rapi di atas meja makan.


Keduanya menyambutku dengan senyuman ketika aku melenggang mendekati mereka tanpa sadar akan kewajibanku sebagai seorang istri di pagi hari, yaitu menyiapkan minuman atau makanan untuk suamiku.


Namun kenyataannya, Rio justru menjadi sosok suami mandiri yang tidak mengharapkan aku melakukan kewajiban itu padanya.


Seminggu pertama setelah menikah dan menetap di rumah mama membuatku tak bisa belajar untuk menjadi seorang istri yang sesungguhnya. Aku tetap berlaku seperti sebelum menikah. Hanya mengurus diriku sendiri tanpa peduli statusku sebagai istri.

__ADS_1


Hingga waktu bersantaiku habis dan Rio membawaku ke rumahnya. Disitulah hidup baruku yang sesungguhnya dimulai.


Sebelum pergi mama banyak menasehatiku. Bagaimana sepantasnya berlaku sebagai seorang istri dan banyak hal lainnya. Yang intinya mama mengingatkanku bahwa statusku kini sudah tidak lajang lagi. Aku adalah seorang istri.


__ADS_2